Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh Hari yang Berlalu Begitu Saja
Ujian terakhir selesai jam sebelas siang, mata kuliah Kalkulus, dan begitu aku keluar ruangan, hal pertama yang aku rasakan bukan lega, tapi lapar. Semalam aku begadang sampai jam dua belajar limit fungsi, dan pagi tadi cuma sempat minum air putih karena buru-buru.
"Gimana?" tanya Bimo, sudah menunggu di koridor, wajahnya terlihat sama lelahnya dengan aku.
"Nomor lima aku enggak yakin."
"Sama. Aku jawab asal di situ." Dia meregangkan badan, tulang punggungnya bunyi. "Udah, selesai. Dua minggu penuh siksaan berakhir hari ini."
Aku mengangguk, meski di kepalaku sudah mulai berputar bukan soal nomor lima yang salah, tapi soal sepuluh hari terakhir yang, kalau dipikir-pikir, terasa lebih panjang dari yang seharusnya untuk ukuran masa ujian tengah semester biasa.
Aku duduk di bangku panjang dekat gerbang, tempat yang sama persis dengan hari pertama PKKMB dulu, menunggu Cahaya yang ujiannya baru selesai setengah jam lagi. Angin siang itu cukup enak, tidak terlalu panas, dan aku membiarkan pikiranku mundur ke belakang, menelusuri sepuluh hari yang baru saja berlalu.
Semuanya dimulai dari tugas kelompok mata kuliah Pengantar Sosiologi, yang entah kenapa dosennya membagi kelompok berdasarkan nomor absen, bukan berdasarkan siapa kenal siapa, dan aku kebagian satu kelompok dengan tiga orang dari circle pertemanan Cahaya, orang-orang yang aku kenal namanya tapi belum pernah benar-benar ngobrol.
Hari pertama rapat kelompok, aku duduk paling ujung meja perpustakaan, nyaris tidak bicara sama sekali selama dua puluh menit pertama, sementara tiga orang lainnya, Rani, Deo, dan seorang lagi yang aku lupa namanya, membahas pembagian tugas dengan cepat tanpa benar-benar melibatkan aku.
"Rendy bagian apa nih?" tanya Rani akhirnya, setelah menyadari aku belum dapat porsi.
Aku belum sempat menjawab ketika Cahaya, yang kebetulan lewat mau ke rak buku di dekat sana, berhenti dan menyelipkan diri ke meja kami.
"Dia jago nulis analisis," katanya, seolah sudah tahu persis kemampuanku, padahal kami belum pernah benar-benar bahas soal tugas sosiologi sebelumnya. "Kasih dia bagian bab tiga, yang analisis data. Dia bakal ngerjain lebih detail dari kalian kira."
Entah kenapa kalimat itu cukup untuk mencairkan suasana. Rani mengangguk, memberi aku bagian analisis, dan sisa rapat kelompok berjalan jauh lebih lancar setelah itu, dengan aku akhirnya ikut nimbrung obrolan meski masih dengan porsi yang lebih kecil dari yang lain.
Cahaya sendiri sudah pergi lagi ke rak buku sebelum aku sempat berterima kasih.
Dua hari setelah itu, insiden "kencan" terjadi.
Rani, yang ternyata suka memotret hal-hal random untuk story-nya, memfoto aku dan Cahaya waktu kami berdua mengerjakan bagian gabungan tugas di kantin, duduk berdekatan karena harus berbagi satu laptop, kepala kami cukup dekat karena sedang membaca layar yang sama.
Foto itu, entah bagaimana caranya, berakhir di grup chat angkatan dengan caption "kapan nyusul nikah nih" dari orang yang bahkan aku tidak kenal.
"RENDY," pesan dari Cahaya masuk jam sepuluh malam, dengan huruf kapital semua, "KAMU LIAT ENGGAK GRUP ANGKATAN."
"Belum. Kenapa?"
"BUKA SEKARANG."
Aku membuka, dan menemukan foto itu sudah dikomentari lebih dari tiga puluh kali, sebagian besar berupa emoji dan candaan yang membuat wajahku panas hanya dengan membacanya.
"Ini kapan difoto?" tanyaku.
"Kemarin. Pas kita ngerjain tugas sosiologi. RANI YANG FOTO, AKU BARU TAU SEKARANG DIA UPLOAD."
"Kita harus bales apa di grup?"
"ENGGAK USAH DIBALES. NANTI MAKIN RAME."
Tapi tentu saja tetap rame, karena besoknya, dua hari berturut-turut, ada saja orang di kampus yang menyapa dengan nada menggoda, "eh yang kemarin viral," sampai Cahaya akhirnya membuat status singkat di grup, "BUKAN PACARAN, TEMEN DARI KECIL, TOLONG STOP," yang alih-alih meredakan malah menambah komentar baru soal "teman dari kecil biasanya emang jadi jodoh."
Aku memilih diam sepanjang drama itu, karena setiap kali aku coba bicara, entah kenapa yang keluar justru terdengar lebih mencurigakan daripada diam saja.
Sasa masuk ke gambar tiga hari kemudian, dengan rencana yang, menurutnya sendiri, "brilian."
"Aku kenalin Cahaya ke temen aku," katanya, waktu makan siang, tanpa basa-basi. "Namanya Dimas. Anak Manajemen, lumayan ganteng, sopan, enggak kayak Rendy yang otaknya isi anime doang."
"Aku duduk di sini," protesku.
"Aku tau. Makanya sengaja aku omongin di depan kamu."
Cahaya, yang duduk di sebelahku, menatap Sasa dengan alis terangkat. "Buat apa?"
"Buat liat reaksi orang-orang," jawab Sasa, sambil melirik ke arahku dengan cara yang tidak terlalu halus.
Rencana itu, apapun tujuannya, dieksekusi hari Jumat, ketika Sasa mengajak Dimas makan siang bareng "kebetulan" di meja kami. Dimas ternyata orangnya memang cukup ramah, sopan, dan tidak berlebihan, mengobrol dengan Cahaya soal organisasi kampus yang sama-sama mereka ikuti.
Aku, sepanjang percakapan itu, tetap makan seperti biasa, sesekali ikut nimbrung kalau ditanya langsung, tanpa merasakan apa pun yang bisa disebut "reaksi" dalam artian yang mungkin diharapkan Sasa.
"Gimana?" tanya Sasa, setelah Dimas pamit duluan karena ada kelas.
"Gimana apanya?" tanyaku balik.
"Perasaanmu."
"Biasa aja. Orangnya baik."
Sasa menghela napas panjang, menatap ke langit-langit kantin seperti sedang meminta kesabaran dari suatu kekuatan yang lebih tinggi. "Rencana ini gagal total," gumamnya, lebih ke diri sendiri daripada ke aku.
Cahaya, sepanjang percakapan itu, cuma diam, memainkan sendoknya di piring tanpa benar-benar makan, dan aku baru menyadari itu belakangan, waktu semuanya sudah lewat.
Minggu berikutnya, ada satu insiden kecil yang, waktu itu terjadi, terasa seperti hal biasa, tapi sekarang, dipikir ulang, terasa berbeda.
Aku pulang kuliah bareng seorang teman sekelas, namanya Yoga, sama-sama suka anime, dan kami mengobrol panjang soal season baru yang baru rilis sampai lupa waktu, berdiri di depan gerbang kampus lebih dari dua puluh menit sebelum akhirnya aku ingat Cahaya sudah menunggu di persimpangan biasa.
Waktu aku sampai, dia sudah berdiri sendirian, tanpa earphone, tanpa ponsel di tangan, cuma berdiri menatap jalan.
"Sori, kelamaan," kataku. "Tadi ngobrol sama Yoga soal anime baru."
"Enggak apa-apa," jawabnya, singkat, mulai jalan duluan.
Aku menyusul, dan sepanjang jalan pulang, dia lebih pendiam dari biasa, jawabannya lebih singkat, dan aku, karena tidak tahu harus bagaimana, mengambil kesimpulan yang paling masuk akal di kepalaku: aku sudah bikin dia nunggu kelamaan, dan itu mengganggu.
"Maaf ya bikin nunggu," kataku lagi, di tengah jalan.
"Udah aku bilang enggak apa-apa, Ren."
"Tapi kamu keliatan agak beda."
"Enggak kok." Dia mempercepat langkah sedikit. "Cuma capek."
Aku menerima jawaban itu apa adanya, karena tidak ada alasan untuk tidak percaya, dan sepanjang sisa hari itu aku merasa bersalah, memutuskan untuk lebih tepat waktu ke depannya, tanpa pernah benar-benar mempertimbangkan bahwa "capek" mungkin bukan kata yang tepat untuk apa yang sebenarnya terjadi.
Minggu ujian tengah semester dimulai empat hari setelah itu, dan seperti biasa, aku dan Cahaya belajar bareng, kali ini di ruang tamu rumahnya karena ibunya sedang masak sesuatu yang baunya menggoda sepanjang sore.
"Kamu ngerti enggak soal turunan parsial?" tanyaku, menatap buku catatan yang isinya sudah mulai terasa seperti bahasa asing setelah dua jam belajar tanpa henti.
"Enggak," jawab Cahaya, jujur, meletakkan pensil. "Aku dari tadi cuma pura-pura ngerti biar kamu enggak ngerasa sendirian."
"Itu enggak membantu."
"Tapi setidaknya kamu enggak ngerasa bodoh sendirian, kan?"
Aku menatapnya, dan dia menyeringai, jelas bangga dengan logikanya sendiri, dan aku tidak bisa menahan tawa kecil meski materi di depan kami masih sama tidak jelasnya seperti sepuluh menit lalu.
Kami belajar sampai jam sembilan malam, diselingi candaan, dua kali jeda makan camilan yang disiapkan ibunya, dan satu momen di mana Cahaya tertidur sebentar di sofa sambil masih memegang pulpen, kepala terkulai ke samping, dan aku membiarkannya begitu selama sepuluh menit sebelum akhirnya membangunkannya karena khawatir dia bakal susah tidur malam kalau ketiduran sore.
"Kamu ngeliatin aku tidur?" tanyanya, waktu bangun, suara masih serak.
"Enggak. Aku belajar."
"Bohong. Buku kamu masih kebuka di halaman yang sama kayak sebelum aku tidur."
Aku tidak punya jawaban untuk itu, dan dia tertawa, jelas menikmati momen menang kecil itu, sebelum kami melanjutkan belajar sampai akhirnya masing-masing pulang, dalam kasusku, cuma menyeberang dua rumah.
Insiden yang paling aku sesali terjadi dua hari sebelum ujian pertama.
Kami sudah janji nonton anime bareng malam itu, episode terbaru dari serial yang sedang kami ikuti berdua, sesuatu yang jarang terjadi karena biasanya Cahaya tidak terlalu antusias soal anime musiman, tapi serial ini kebetulan dia ikuti juga karena aku terus-terusan bahas.
Masalahnya, sore itu aku iseng buka game yang baru aku install, dan "iseng" itu berubah jadi tiga jam penuh tanpa aku sadari, sampai ponselku bergetar dengan pesan dari Cahaya yang aku baru lihat jam sembilan malam.
"Ren, jadi nonton kan? Udah mulai nih di rumah aku."
Aku menatap jam, lalu menatap layar game, lalu kembali ke jam, menyadari aku sudah telat satu jam lebih dari yang dijanjikan.
"SORI, AKU LUPA. MAIN GAME."
Balasan tidak datang selama beberapa menit. Kemudian:
"Oh. Ya udah enggak apa-apa."
"Aku ke sana sekarang."
"Enggak usah, aku udah nonton duluan tadi. Kelewat momennya."
Aku buru-buru menyeberang ke rumahnya, tapi dia sudah setengah menyelesaikan episode itu, duduk di ruang tamu dengan laptop di pangkuan, dan waktu aku datang, dia cuma melirik sebentar lalu kembali menatap layar.
"Aku bisa nonton ulang dari awal," tawarku.
"Enggak usah repot. Aku udah tau ceritanya."
"Cahaya."
"Apa?" Dia tidak menoleh, matanya tetap ke layar, dan nadanya datar, terlalu datar untuk terdengar benar-benar baik-baik saja.
"Aku beneran minta maaf."
"Aku bilang enggak apa-apa, Ren. Kenapa kamu ngotot banget minta maaf buat hal sekecil ini?"
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang seharusnya terdengar seperti dia benar-benar tidak masalah, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuatku ragu, meski aku tidak cukup yakin untuk mendesak lebih jauh, dan akhirnya aku duduk di sebelahnya, menonton sisa episode yang sama, dalam diam yang berbeda dari diam kami yang biasa.
Sasa menegurku dua hari setelah itu, langsung, tanpa basa-basi seperti biasanya, waktu kami kebetulan berdua saja di kantin karena Cahaya sedang ke toilet.
"Ren, aku mau ngomong sesuatu, dan aku pengen kamu beneran dengerin, bukan cuma dengerin doang."
"Oke."
"Kamu ini kadang enggak peka banget, tau enggak."
Aku menatapnya, agak defensif. "Peka soal apa?"
"Soal banyak hal." Sasa menghela napas, seperti mengumpulkan tenaga untuk kalimat berikutnya. "Kamu itu orangnya baik, aku enggak bilang kamu jahat. Tapi kamu suka enggak sadar kalau ada orang yang ngerasa sesuatu di deket kamu, karena kamu terlalu sibuk mikirin hal lain."
"Maksudnya sesuatu apa?"
"Ya... perasaan. Reaksi. Hal-hal kecil yang orang tunjukkan tapi enggak diomongin langsung."
Aku berpikir sebentar, mencoba mencerna, dan yang muncul di kepalaku adalah insiden lupa janji nonton beberapa hari lalu. "Ini soal aku lupa janji nonton kemarin ya? Aku udah minta maaf kok."
Sasa menatapku dengan ekspresi yang susah dibaca, campuran antara ingin tertawa dan ingin menyerah. "...Bukan cuma soal itu, Ren."
"Terus soal apa?"
Dia membuka mulut, sepertinya mau menjelaskan lebih jauh, tapi kemudian menutupnya lagi, menggeleng pelan. "Enggak. Lupain aja. Nanti juga kamu ngeh sendiri."
"Kalimat itu udah kedua kalinya kamu bilang ke aku."
"Karena masih relevan sampe sekarang." Dia berdiri, mengambil nampannya. "Aku ke kelas dulu. Semangat ujiannya."
Aku duduk sendirian sebentar, mencoba menguraikan apa yang barusan terjadi, tapi seperti biasa, aku hanya sampai pada kesimpulan bahwa aku memang perlu lebih hati-hati soal janji ke depannya, tanpa benar-benar memahami lapisan yang lebih dalam dari apa yang coba disampaikan Sasa.
Cahaya keluar dari ruang ujian jam sebelas lewat dua puluh, wajahnya terlihat lega meski sedikit lelah, rambutnya sedikit berantakan karena kebiasaannya menggaruk kepala waktu berpikir keras.
"Gimana?" tanyaku, berdiri dari bangku.
"Susah banget nomor terakhir. Tapi udahlah, selesai." Dia meregangkan badan, mirip dengan yang dilakukan Bimo tadi. "Laper enggak? Aku laper banget."
"Laper."
Kami berjalan keluar gerbang kampus, rute yang sama seperti biasa, tapi hari itu lebih santai karena tidak ada kelas atau tugas yang menunggu, cuma dua minggu ujian yang akhirnya selesai dan liburan tengah semester yang tinggal menghitung hari.
"Sepuluh hari terakhir capek juga ya," kataku, di tengah jalan.
"Banget." Cahaya menghela napas panjang, menatap ke langit yang cerah, awan bergerak pelan. "Tugas kelompok, terus foto itu, terus Sasa yang maksa kenalin Dimas, ujian... rasanya kayak sebulan, padahal cuma sepuluh hari."
"Yang bagian Dimas itu emang absurd."
"Aku tau. Sasa kadang punya ide-ide yang enggak masuk akal."
Kami berjalan dalam diam sebentar, melewati warung Bu Marni yang sudah mulai tutup karena siang, jembatan kecil di atas selokan yang airnya lebih deras dari biasa karena hujan semalam.
"Ren," katanya, tiba-tiba, nadanya sedikit berbeda dari obrolan santai sebelumnya.
"Hm?"
"Menurut kamu, kita udah berubah enggak sih, dari SMA ke sekarang?"
Aku memikirkan pertanyaan itu sebentar, karena terasa lebih berat dari yang biasa dia tanyakan di tengah jalan pulang. "Maksudnya berubah gimana?"
"Enggak tau. Cuma kepikiran aja." Dia menatap ke depan, langkahnya melambat sedikit. "Kadang aku ngerasa semuanya masih sama kayak dulu. Kamu masih Rendy yang sama, aku masih Cahaya yang sama. Tapi kadang aku ngerasa... enggak tau, kayak ada yang beda, tapi aku enggak bisa jelasin apanya."
Aku tidak langsung menjawab, karena aku sendiri tidak sepenuhnya yakin apa yang dia maksud, dan aku tidak ingin menjawab asal untuk pertanyaan yang jelas dia pikirkan cukup serius.
"Menurutku kita masih sama," jawabku akhirnya, jujur, karena itu yang aku rasakan. "Cuma tempatnya beda. Sekolahnya beda. Tapi kita masih kayak dulu."
Cahaya menatapku, cukup lama, dengan ekspresi yang tidak bisa aku baca sepenuhnya, campuran antara ingin percaya dan sesuatu yang lain yang lebih sulit dijelaskan.
"Iya kali ya," katanya akhirnya, pelan, lebih ke diri sendiri daripada ke aku, dan kami melanjutkan jalan tanpa membahas topik itu lebih jauh.
Sampai di persimpangan gang, tempat kami biasa berpisah, dia berhenti, menatap ke arah langit sebentar sebelum menatapku lagi.
"Liburan ini kita ngapain?" tanyanya, kembali ke nada ringan seperti biasa.
"Belum kepikiran."
"Aku juga. Tapi kayaknya bakal seru." Dia tersenyum, senyum yang biasa, dan untuk sesaat semua terasa normal lagi, seperti biasanya. "Ya udah, aku pulang dulu. Capek banget rasanya."
"Istirahat yang bener."
"Kamu juga." Dia mulai berjalan ke arah rumahnya, lalu berhenti sebentar, menoleh. "Ren."
"Hm?"
"Makasih ya. Buat sepuluh hari ini."
"Makasih buat apa? Aku enggak ngapa-ngapain."
"Ada kok. Kamu enggak sadar aja." Dia tersenyum lagi, kali ini senyum yang lebih kecil, lebih tenang, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menjauh, kunciran rambutnya bergoyang seperti biasa sampai menghilang di balik tikungan.
Aku berdiri di persimpangan itu sebentar lebih lama dari yang perlu, memikirkan kalimat terakhirnya, yang entah kenapa terasa lebih berat dari yang seharusnya untuk sekadar ucapan terima kasih biasa.
Malam itu, di kamarku, setelah mandi dan makan malam, aku berbaring menatap langit-langit, memikirkan kembali sepuluh hari yang baru saja berlalu.
Tugas kelompok yang canggung di awal tapi berakhir lancar. Foto viral yang bikin heboh grup angkatan selama dua hari. Rencana comblang Sasa yang gagal total. Momen aku pulang telat karena ngobrol soal anime, dan Cahaya yang bilang "capek" meski aku sekarang mulai ragu itu kata yang tepat. Belajar bareng yang diselingi tawa. Janji nonton yang aku lupakan karena keasyikan main game. Teguran Sasa yang tidak pernah selesai dia jelaskan.
Semua itu, satu per satu, terasa seperti kejadian biasa waktu terjadi. Tapi disusun berurutan seperti ini, ada sesuatu yang terasa berbeda, sesuatu yang aku tidak sepenuhnya paham tapi cukup terasa untuk membuatku tidak bisa langsung tidur.
Aku memikirkan pertanyaan Cahaya siang tadi, soal apakah kami sudah berubah. Aku memikirkan caranya berhenti sebentar di persimpangan, mengucapkan terima kasih untuk sesuatu yang menurutku aku bahkan tidak lakukan secara sadar.
Ada perasaan aneh yang menempel di dadaku malam itu, bukan sesuatu yang bisa aku beri nama dengan jelas, lebih mirip seperti melihat langit yang mendung dari kejauhan tanpa tahu apakah akan benar-benar hujan atau berlalu begitu saja.
Aku meraih ponsel, membuka chat dengan Cahaya, dan mendapati dia sudah mengirim pesan lima menit lalu, yang belum sempat aku baca.
"Ren, liburan ini jangan sibuk main game doang ya. Aku pengen kita ngapa-ngapain berdua kayak dulu."
Aku membaca pesan itu dua kali, mencoba mencari nada di baliknya, apakah itu sekadar candaan biasa atau ada sesuatu yang lebih di dalamnya.
"Oke," balasku akhirnya. "Ngapain aja?"
"Belum tau. Yang penting berdua."
"Oke."
Tidak ada balasan lain setelah itu, dan aku meletakkan ponsel, menatap langit-langit lagi, dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya, tidak benar-benar cemas, tapi juga tidak benar-benar tenang.
Liburan dua minggu ke depan terbentang di depan, kosong, belum diisi rencana apa pun, dan entah kenapa, malam itu, aku merasa ada sesuatu yang menunggu di dalamnya, sesuatu yang belum bisa aku lihat bentuknya, tapi cukup terasa kehadirannya untuk membuatku terjaga lebih lama dari biasa sebelum akhirnya tidur.