Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
We Meet
Derit pelan terdengar saat Miyura menutup kembali gerbang besi Gereja Shima di belakangnya. Ia kemudian melangkah menyusuri jalan setapak berbatu yang dikelilingi taman terawat, sebelum akhirnya mendorong pintu utama bangunan gereja yang tinggi dan megah.
Suasana di dalam gereja begitu tenang, sejuk, dan dipenuhi aroma lilin lebah yang lembut. Cahaya matahari pagi menyusup melalui jendela kaca patri berwarna-warni, memancarkan pendar keemasan di atas jajaran bangku kayu yang tertata rapi.
Miyura berjalan perlahan dengan langkah tanpa suara, menyusuri lorong tengah hingga ia tiba di barisan bangku paling depan, tepat menghadap altar utama yang suci. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memejamkan mata rapat-rapat untuk memanjatkan doa dalam keheningan yang khidmat.
Setelah beberapa saat tenggelam dalam doanya—memohon ketenangan jiwa, kekuatan untuk menjalani hidup sebagai "Rin", serta keselamatan bagi orang-orang di kedai—Miyura membuka matanya perlahan. Ia bangkit dari bangku dan berjalan menuju sudut ruangan, tempat sebuah bilik kecil bersekat kayu yang biasa digunakan untuk ruang pengakuan dosa berada.
Miyura menarik napas dalam-dalam, menepis sedikit keraguan di hatinya, lalu membuka pintu kecil bilik pengakuan tersebut dan masuk ke dalamnya. Di balik sekat kain kasa yang buram, tampak siluet seorang pastor paroki yang sudah bersiap mendengarkan.
"Selamat datang, anakku," sapa suara pastor yang terdengar tua namun hangat dan menenangkan dari balik sekat. "Duduklah. Apa yang ingin kau adukan dan bagikan di tempat suci ini?"
Miyura menundukkan kepalanya di dalam bilik yang remang-remang. Dengan suara yang bergetar halus, ia mulai membuka percakapan, mencurahkan beban rahasia besar yang selama ini menghimpit dadanya.
"Pastor..." bisik Miyura lirih, memulai pengakuannya. "Aku... aku adalah seseorang yang hidup di bawah bayang-bayang masa lalu yang penuh dosa dan pelarian. Aku berdusta kepada orang-orang baik yang telah menampungku... aku menggunakan nama palsu, dan menyembunyikan identitasku yang sebenarnya dari negeri yang pernah terluka."
Pastor di balik sekat mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak menyela sedikit pun, membiarkan gadis itu menumpahkan beban emosionalnya.
"Apakah... apakah seseorang sepertiku yang membawa masa kelam ini layak mendapatkan awal yang baru?" lanjut Miyura, air matanya perlahan menetes membasahi pipinya di dalam kesunyian bilik pengakuan tersebut.
Pastor di balik sekat kayu itu terdiam sejenak setelah mendengar ratapan lirih Miyura, menyerap setiap kata penuh kepedihan yang diucapkan oleh gadis tersebut. Dengan suara yang tenang, lembut, dan sarat akan kebijaksanaan usia, sang pastor mulai menanggapi.
"Anakku, beban yang kau bawa bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipikul sendirian," ucap Pastor dengan nada penuh pengampunan. "Ketahuilah, tempat ini bukanlah tempat bagi mereka yang merasa suci tanpa cela, melainkan tempat bagi jiwa-jiwa yang lelah dan mencari kedamaian. Kebenaran bahwa kau merasa bersalah menunjukkan bahwa hatimu masih diliputi oleh nurani yang bersih."
Miyura meremas ujung gaunnya erat-erat, menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokannya. "Tapi... aku telah menipu mereka, Pastor. Keluarga Goto menerima diriku dengan begitu tulus, memberikan tempat berlindung, bahkan memperlakukanku seperti darah daging mereka sendiri. Sementara aku... aku menyembunyikan siapa diriku yang sesungguhnya di balik nama 'Rin'."
"Kebohongan untuk melindungi diri dari masa lalu yang kejam bukanlah kejahatan yang tidak bisa dimaafkan, terutama jika niatmu bukanlah untuk mencelakai mereka," balas Pastor menasihati dengan lembut. "Terkadang, masa lalu harus dikubur dalam-dalam agar kita bisa bertahan hidup dan menemukan jalan pulang yang baru. Tuhan melihat niat di dalam hatimu, bukan sekadar nama yang kau gunakan."
Miyura mendengarkan nasihat tersebut dengan seksama. Air matanya perlahan mereda, digantikan oleh kelegaan hangat yang mulai merayap di dadanya.
"Lalu... apa yang harus kulakukan, Pastor? Apakah aku harus jujur kepada mereka?" tanya Miyura dengan suara parau, mencari petunjuk.
Pastor menghela napas pelan di balik sekat. "Waktu yang tepat akan menjawabnya, anakku. Jika kau belum siap membuka luka lama, jalani saja peranmu saat ini dengan ketulusan. Buktikan kasih sayang dan rasa terima kasihmu melalui perbuatan nyata kepada keluarga yang telah menampungmu. Pengampunan sejati dimulai dari bagaimana caramu memaafkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi di masa lalu."
Miyura menundukkan kepalanya semakin dalam, meresapi setiap petuah bijak yang diberikan oleh sang rohaniawan. Perasaan sesak di dadanya kini berangsur-angsur terasa lebih longgar.
"Terima kasih, Pastor..." bisik Miyura penuh rasa syukur. "Aku... aku akan mencoba untuk memaafkan diriku sendiri, dan menjalani hidup baru ini dengan sungguh-sungguh."
"Syukurlah jika hatimu sudah sedikit lebih tenang," ujar Pastor menutup pengakuan tersebut dengan doa berkat. "Pergilah dalam damai, anakku. Pintunya akan selalu terbuka untukmu kapan pun kau membutuhkan tempat untuk bersandar."
Setelah beberapa saat memanjatkan doa dan meredakan gejolak di hatinya, Miyura melangkah keluar dari pintu utama Gereja Shima. Udara segar langsung menyambutnya, membawa ketenangan setelah ia mencurahkan segala bebannya di ruang pengakuan.
Namun, baru saja ia menuruni beberapa anak tangga pelataran gereja, langkah kakinya terhenti seketika.
Di dekat pilar batu halaman gereja, berdiri sesosok wanita berambut putih panjang dengan ikatan ekor kuda rapi, mengenakan kemeja terang berlapis rompi cokelat klasik. Manik mata ungunya menatap lurus ke arah Miyura dengan sorot yang tenang namun menyiratkan kilatan pengenalan. Wanita itu adalah orang yang sama—Liini—yang sempat ia temui di atas kapal dagang saat pertama kali menyebrang ke negeri ini.
Liini perlahan melangkah mendekat, menghentikan jarak mereka hanya beberapa langkah saja.
"Kau..." suara Liini terdengar tenang namun dingin, memecah keheningan pelataran gereja. "Gadis yang waktu itu satu kapal denganku dari pelabuhan, bukan?"
Miyura sedikit tertegun, lalu mengangguk pelan sembari merapikan lipatan gaunnya. "Ah... ya. Benar. Aku tidak menyangka bisa bertemu kembali denganmu di sini."
Liini mengangguk tipis, melirik sekeliling area depan gereja yang mulai sepi sebelum kembali menatap manik mata Miyura dengan saksama. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan, namun tempat terbuka ini bukanlah lokasi yang tepat.
"Baguslah jika kau mengingatnya," ucap Liini dengan nada datar. Ia menunjuk ke arah jalan setapak di sisi samping bangunan utama. "Tempat di sini terlalu terbuka untuk berbicara. Ikut aku ke bagian belakang gereja sebentar; ada hal yang ingin kutanyakan padamu."
Miyura terdiam sejenak, meneliti ekspresi wajah wanita berambut putih itu yang tampak serius namun tidak menunjukkan tanda-tanda ancaman. Mengingat mereka sama-sama pendatang asing yang berbagi nasib serupa di tanah Evelia ini, rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa ragunya.
Miyura mengangguk pelan. "Baiklah..." jawab Miyura singkat.
Tanpa buang waktu, Liini berbalik badan dan mulai berjalan lebih dulu menyusuri jalan setapak yang dikelilingi semak belukar rapi menuju ke area belakang halaman gereja yang jauh dari pandangan orang-orang. Miyura dengan langkah tenang mengekor di belakangnya, bersiap mendengarkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh wanita misterius tersebut.
Suasana di bagian belakang halaman gereja yang tersembunyi itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Bayangan dinding batu gereja menaungi mereka dari terik matahari, menciptakan keheningan yang pekat di antara rimbunnya pepohonan.
Liini berhenti melangkah, lalu berbalik secara perlahan untuk menghadapi Miyura. Manik mata ungunya menatap tajam, menyimpan bara amarah dan kepedihan masa lalu yang selama ini ia pendam rapat-rapat. Tanpa basa-basi, wanita berambut putih itu langsung memotong ke inti permasalahan.
"Kita tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi," ucap Liini dengan suara datar namun penuh penekanan yang menusuk udara dingin. "Aku memintamu ke mari karena aku tahu siapa kau sebenarnya, Miyura."
Mendengar nama aslinya disebut dengan begitu telak di tanah pengasingan ini, darah Miyura mendadak berdesir dingin. Jantungnya berdegup kencang, seolah palu berat baru saja menghantam dadanya. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Liini melangkah maju perlahan, mempersempit jarak di antara mereka, sementara sorot matanya yang dingin memantulkan luka lama yang tak pernah sembuh.
"Kau mungkin menyembunyikan dirimu di balik nama 'Rin', berlindung di balik kebaikan keluarga Goto, dan mencoba memulai hidup baru seolah-olah tidak ada dosa yang pernah kau perbuat," lanjut Liini, nada suaranya mulai bergetar oleh emosi yang meluap-luap. "Tapi kau tidak bisa menipu ingatan orang-orang yang kehilangan segalanya karena keluargamu."
Miyura membuka bibirnya, hendak menyangkal atau mengucapkan sepatah kata, namun suaranya tertahan.
"Kau ingat kota ini, Miyura? Kau ingat kehancuran yang ditinggalkan di sini?" Liini menatap lurus ke dalam manik mata Miyura yang melebar ketakutan. "Di masa lalu, ayahmulah—sang pemimpin pasukan penindas dari negeri kalian—yang memimpin penjajahan keji ke kota ini. Akibat perbuatan ayahmu, rumahku dihancurkan, dan kedua orang tuaku tewas dalam kekacauan hari itu... hingga aku terpaksa kehilangan segalanya dan harus menyebrang melarikan diri ke negeri kalian dalam keputusasaan."
Setiap kalimat yang meluncur dari bibir Liini terasa seperti tusukan belati beracun bagi Miyura. Bayangan kelam tentang kejahatan keluarganya, darah yang tumpah, dan dosa-dosa masa lalu yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam kini bangkit kembali menghantam kesadarannya tanpa belas kasihan.
Miyura berusaha mempertahankan sisa-sisa ketenangannya, mencengkeram erat ujung gaun klasik yang ia kenakan untuk meredam kepanikan yang melanda jiwanya. Namun, pertahanan rapuh itu runtuh seketika. Tubuhnya mulai gemetar hebat, dan sepasang kakinya secara otomatis melangkah mundur perlahan menjauhi sosok Liini.
"A-aku..." cicit Miyura terbata-bata, suaranya nyaris hilang ditelan angin. Air mata penyesalan dan ketakutan mendesak lolos dari pelupuk matanya. "Aku benar-benar... aku tidak tahu..."
"Kata-kata maaf atau ketidaktahuanmu tidak akan pernah bisa mengembalikan apa yang telah direnggut dariku," potong Liini tajam, sorot matanya menatap Miyura yang kini terus gemetar ketakutan di hadapannya.
Langkah kaki Liini berderap mendekat di atas tanah berbatu. Kepalan tangan wanita berambut putih itu teramat erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah yang sudah lama berakar di dalam dadanya.
"Jangan pasang ekspresi polos seperti itu di hadapanku, Miyura!" bentak Liini dengan suara bergetar tajam, menatap manik mata Miyura penuh kebencian. "Aku sangat membencinya. Seolah-olah kau adalah korban yang paling menderita, seolah-olah tanganmu tidak pernah ternoda oleh darah dan kepedihan orang lain!"
Mendengar bentakan itu, pertahanan mental Miyura langsung runtuh berkeping-keping. Ketakutan yang hebat mencengkeram jiwanya, menyeretnya kembali ke dalam ingatan kelam masa lalu—saat di mana seluruh orang bersorak gembira menyaksikan eksekusi pancung saudarinya sendiri. Rasa ngeri itu merayap naik, membuat sekujur tubuhnya gemetar hebat hingga ia terdorong mundur selangkah demi selangkah.
Namun, kalimat berikutnya yang dilontarkan Liini sukses membuat darah Miyura berhenti mengalir.
"Kau pikir dengan kabur ke negeri ini dan bersandiwara sebagai gadis yang baik, dosa-dosamu akan terhapus begitu saja?" cibir Liini, suaranya terdengar dingin dan mematikan. "Aku tahu segalanya, Miyura. Aku tahu betul bahwa kaulah dalang sebenarnya di balik pembunuhan Jesslyn... dan kau dengan pengecutnya membiarkan Aragoto yang menanggung semua hukuman serta kehancuran itu. Sungguh... kau adalah saudari kembar yang sangat buruk."
Tuduhan telak itu menghantam dada Miyura bagaikan hantaman palu godam. Napasnya seketika terenggut, membuat dadanya terasa sesak luar biasa.
Miyura menggelengkan kepalanya dengan panik, air mata penyesalan dan keputusasaan tumpah membasahi pipinya. Tangannya terangkat, gemetar hebat menolak kenyataan pahit yang diungkapkan di hadapannya.
"Tidak... t-tidak!" cicit Miyura terbata-bata, suaranya parau dan nyaris pecah di tengah isak tangisnya. "Bukan... bukan itu yang sebenarnya terjadi! Aku tidak bermaksud... kumohon, jangan katakan itu..."
Plak!
Tamparan keras itu melayang telak mengenai pipi Miyura, memecah kesunyian di balik halaman gereja. Belum sempat Miyura memulihkan keseimbangannya, Liini kembali melayangkan tamparan bertubi-tubi tanpa ampun, melampiaskan seluruh amarah, dendam, dan kepedihan yang telah bertahun-tahun terpendam di dalam dadanya.
"Ini untuk keluargaku yang hancur!" bentak Liini dengan suara bergetar penuh kemarahan, kembali melayangkan tamparan berikutnya hingga pipi putih Miyura berubah merah lebam dan bengkak.
Rasa sakit yang membakar di wajahnya tak sebanding dengan hancurnya pertahanan batin Miyura. Kekuatan di kedua kakinya mendadak hilang, membuat tubuh gadis itu ambruk dan berlutut di atas tanah berbatu. Tanpa memedulikan harga dirinya yang telah hancur berkeping-keping, Miyura merangkak maju, kedua tangannya mencengkeram erat ujung jubah dan sepatu Liini, memohon ampun dengan isak tangis yang memilukan.
"Maafkan aku... kumohon, ampuni aku..." rintih Miyura sesenggukan, air matanya bercampur peluh dan debu di wajahnya yang lebam. "Aku tahu aku berdosa... aku pantas mati... tolong jangan benci aku seperti ini..."
Liini tertegun sejenak melihat kejatuhan sang mantan putri kerajaan di hadapannya. Ia menatap sosok yang kini bersimpuh di kakinya dengan pandangan nanar bercampur keheranan yang mendalam.
"Hei... di mana sifat angkuh dan sombongmu waktu kau masih menjadi putri mahkota Kerajaan Hikari yang diagung-agungkan, hah?!" cibir Liini, suaranya meninggi di tengah napasnya yang memburu. Ia berusaha meronta, mencoba melepaskan kakinya dari cengkeraman erat tangan Miyura yang memohon. "Lepaskan! Jangan kotori sepatuku dengan air mata penyesalanmu yang menjijikkan ini!"
"Tidak... aku mohon, jangan lepaskan aku..." teriak Miyura semakin histeris, mempererat pegangannya seolah-olah Liini adalah satu-satunya jangkar di dunia yang menghukum sekaligus menghidupkannya kembali. "Aku sudah kehilangan segalanya... hukumlah aku sepuasmu, tapi kumohon jangan renggut kesempatan ini dariku..."
"Berhenti bersikap menyedihkan!" seru Liini sambil terus menarik kakinya dengan kasar, mencoba melepaskan diri dari erangan putus asa Miyura di atas tanah.
Dengan sentakan kasar terakhir, Liini akhirnya berhasil menarik kakinya lepas dari cengkeraman Miyura. Gadis berambut putih itu terhuyung ke belakang selangkah, napasnya memburu dengan dada yang naik turun menahan emosi yang meluap-luap.
Pandangan Liini kemudian menangkap sebuah ember kayu tua berisi genangan air hujan keruh yang tergeletak di samping dinding gereja, tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tanpa ragu, ia langsung menyambar ember tersebut.
"Air mata penyesalanmu tidak akan pernah bisa membersihkan darah di tanganmu, Miyura!" seru Liini dengan suara bergetar tajam.
Prat!
Liini langsung menyiramkan seluruh isi genangan air hujan di ember itu tepat ke tubuh dan wajah Miyura. Air dingin bercampur debu seketika mengguyur kepala hingga ujung pakaian gadis itu, membuat gaun klasik yang dipakainya basah kuyup dan kotor seketika.
Miyura terperanjat hebat saat terjangan air dingin itu menghantam tubuhnya. Dinginnya air seolah membekukan kulitnya, namun rasa sakit dan kepedihan di hatinya jauh lebih mendalam. Ia tergeletak lemas di atas tanah basah, tubuhnya menggigil hebat akibat siraman air dan isak tangis yang tak kunjung reda.
Meskipun sekujur tubuhnya basah kuyup dan wajahnya lebam dipenuhi lumpur serta air hujan, Miyura sama sekali tidak melawan. Ia kembali merangkak maju dengan sisa-sisa tenaganya, berusaha meraih ujung kain rok Liini dengan tangan yang bergetar hebat.
"A-aku mohon..." isak Miyura terbata-bata, suaranya parau dan tenggelam dalam deru napasnya yang tersengal-sengal. "Hantam aku sepuasmu... caci maki aku sesukamu, Liini... tapi jangan tinggalkan aku... aku mohon..."
Air mata Miyura bercampur dengan air hujan yang menetes dari ujung rambutnya, membentuk genangan kecil di bawah lututnya yang gemetar. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyerahkan seluruh sisa harga dirinya di bawah kaki wanita yang keluarganya telah ia hancurkan di masa lalu.
"Kau benar... aku adalah saudari yang buruk, aku adalah monster yang membiarkan semuanya hancur..." rintih Miyura pilu, mencengkeram erat tanah berlumpur di bawahnya. "Tapi kumohon... biarkan aku merasakan bagaimana rasanya hidup sekali saja... beri aku kesempatan untuk menebusnya..."
Liini tertegun di tempatnya. Ia menurunkan ember besi di tangannya setengah inci, menatap tajam ke arah Miyura yang kini bersimbah air kotor dan lumpur di atas tanah. Kernyitan tajam menghiasi kening wanita berambut putih itu, mencerminkan kebingungan yang bercampur dengan rasa jijik yang luar biasa.
"Apa maksudmu bicara begitu? Jangan meninggalkanku?" cibir Liini dengan nada sinis, menatap Miyura dari atas kepala hingga ujung kaki. "Jangan bersikap seolah-olah kita memiliki ikatan apa pun, Miyura. Apa benturan tadi membuat kepala dan kewarasanmu mulai rusak, hah?!"
Miyura hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah, air matanya terus meleleh bercampur sisa air hujan di wajahnya yang lebam. "B-bukan begitu... kumohon..." isaknya parau.
Kesabaran Liini benar-benar telah habis. Melihat sosok yang paling dibencinya meratap di hadapannya justru semakin memantik bara amarah di dalam dadanya. Dengan napas yang memburu dan sorot mata penuh kebencian yang meluap, ia mengangkat tinggi-tinggi ember besi di tangannya.
"Cukup omong kosongmu!" bentak Liini dengan suara melengking tajam. "Jika air kotor ini tidak bisa menyadarkanmu, biarkan hantaman benda ini yang mengakhiri kepalsuanmu!"
Tanpa ragu sedikit pun, Liini mengayunkan ember besi itu sekuat tenaga ke arah kepala Miyura.
Miyura menutup matanya rapat-rapat, merapatkan tubuhnya ke tanah pasrah menerima takdir hantaman yang akan datang. Namun, sebelum hantaman besi itu menyentuh kulitnya—
Bugh!
Suara benturan berat menggema di udara sepi halaman belakang gereja.
Miyura membuka matanya perlahan dengan napas tercekat. Ia tidak merasakan sakit hantaman besi di kepalanya. Sebaliknya, ia melihat sesosok pria berbalut jubah hijau petualang dan rompi kulit kokoh telah berdiri tegak tepat di depannya. Pria itu menggunakan punggung bidangnya sebagai perisai, menahan hantaman ember besi yang kini terlepas dari pegangan Liini dan jatuh berdenting ke tanah.
Itu adalah Goto.
Pria itu berdiri dengan napas tersengal-sengal, menolehkan sedikit kepalanya untuk memastikan kondisi Miyura di belakangnya sebelum ia menegakkan posturnya dan menatap tajam ke arah Liini.
Liini terdiam kaku di tempatnya. Buku-buku jarinya yang tadinya mengepal kini lemas, sementara manik mata ungunya melebar menatap pemuda yang baru saja datang melindungi musuh bebuyutannya. Rasa jengkel, terkejut, dan amarah yang tertahan langsung bergemuruh di dada Liini.
"Kau..." suara Liini tercekat, mendesis tertahan penuh kejengkelan saat melihat kehadiran Goto yang merusak rencananya. "Beraninya kau..."
Goto berdiri dengan tegap di hadapan Miyura, merentangkan sebelah tangannya sebagai perisai pelindung sementara napasnya masih terengah-engah setelah berlari kembali ke area gereja. Ia menatap tajam ke arah wanita berambut putih di depannya, lalu mencoba meredam ketegangan dengan suara berat yang dipenuhi permohonan.
"Kumohon... hentikan sampai di sini," ucap Goto tegas namun sarat akan titah seorang penjaga. "Apa pun masalah di antara kalian, penyiksaan ini sudah keterlaluan. Biarkan dia pergi."
Liini mendengus keras, dadanya naik turun karena diliputi amarah yang luar biasa. Ia menunjuk tepat ke arah punggung Goto dengan tatapan tidak percaya.
"Kau bodoh, Goto!" seru Liini dengan suara bergetar tajam, menatap pemuda itu penuh kejengkelan. "Kau tidak tahu siapa yang sedang kau lindungi di belakangmu itu! Wanita yang kau bela mati-matian ini adalah anak dari tiran keji yang dulu menjajah kota kita, orang yang merenggut segalanya dari kita!"
Goto sedikitpun tidak bergeming dari posisinya. Tanpa menoleh ke belakang, ia membalas ucapan itu dengan nada datar namun penuh keyakinan mutlak yang membuat Liini tertegun.
"Lantas kenapa?" tanya Goto tanpa ragu. "Dia datang ke mari setelah kerajaannya dijatuhkan dan keluarganya hancur. Dia sudah tidak punya apa-apa lagi di dunia ini, dan sekarang dia sedang berusaha menjalani hidupnya yang baru."
Mendengar kalimat pembelaan yang begitu mutlak dari pria yang selama ini melindunginya, Miyura merasa dunianya seolah berhenti berputar. Dengan kesadaran yang tersisa, tubuhnya yang lemas gemetar hebat di atas tanah basah. Ia mendongakkan kepalanya secara perlahan, mengedipkan matanya yang basah dan lebam untuk menatap punggung tegap Goto yang berdiri kokoh melindunginya dari amukan dunia luar.
Liini menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa sesak oleh amarah dan kekecewaan yang membuncah. Ia memejamkan matanya sejenak, membiarkan udara dingin malam menghalau gejolak emosi yang hampir meledakkan kepalanya.
Ketika ia membuka matanya kembali, sorot tajam di manik ungunya perlahan meredup, menyisakan kelelahan yang luar biasa. Dengan punggung tangannya, Liini mengusap sisa-sisa air mata yang sempat menetes di pipinya akibat luapan amarah tadi. Ia menatap tajam bergantian ke arah Goto dan Miyura yang masih bersimpuh di tanah basah.
"Cih..." desis Liini pelan dengan nada penuh kepedihan yang disembunyikan. "Melihat kalian berdua... rasanya buang-buang waktu saja."
Liini merapikan letak rompi cokelatnya yang sedikit kusut, lalu membuang muka dengan ekspresi jijik dan kecewa.
"Dengar, mulai sekarang... anggap saja kita tidak pernah bertemu di tempat ini ataupun di kapal waktu itu," ucap Liini dingin, suaranya menggema tegas di halaman belakang gereja yang sepi. Ia kemudian melangkah mundur selangkah, menatap lurus tepat ke manik mata Goto dengan kebencian yang kentara. "Dan untukmu, Goto... aku benar-benar membencimu karena membela monster seperti dia."
Tanpa menunggu balasan atau sepatah kata pun dari keduanya, Liini membalikkan tubuhnya dengan cepat. Langkah kakinya berderap tegas meninggalkan area belakang Gereja Shima, menjauhi mereka berdua hingga sosok berambut putih itu benar-benar lenyap di balik tikungan jalan kota.