Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Menagih yang Pernah Dirampas
Laras tidak mendatangi Bu Marni dengan tangan kosong.
Malam setelah pemeriksaan bencana, ia membuka koper lama yang dibawa dari rumah Kusnadi. Di dasar koper tersimpan salinan kuitansi penjualan motor milik ibunya, bukti transfer pembeli, dan foto perhiasan yang pernah diserahkan saat pernikahan.
Motor itu terjual beberapa bulan sebelum Laras pindah ke NTT. Uangnya masuk ke rekening Bu Marni karena saat itu Laras belum membuka rekening baru di kota. Bu Marni berjanji menyerahkannya setelah biaya perjalanan selesai. Janji itu tidak pernah dipenuhi.
Perhiasan lebih sederhana, tetapi nilainya jauh lebih pribadi: gelang emas tipis, sepasang anting, dan cincin milik ibu Laras. Saat perceraian, Bu Marni menyebut semuanya sebagai bagian dari harta keluarga Kusnadi.
"Ini bukan seserahan dari mereka," kata Rina ketika melihat foto. "Aku ada waktu ibumu menyerahkan gelang itu sebelum meninggal."
"Karena itu aku ingin kamu ikut sebagai saksi. Bukan untuk bertengkar."
Rina mengangguk. Mereka membuat daftar barang, nilai uang, tanggal penyerahan, serta bukti yang tersedia. Laras mengirim permintaan tertulis kepada Bu Marni dan memberi waktu sampai siang berikutnya untuk menjawab.
Jawaban datang singkat.
Tidak ada utang. Semua sudah dipakai untuk rumah tangga kalian.
Laras menyimpan pesan itu.
Keesokan sore, ia dan Rina mendatangi rumah Bu Marni. Beberapa tetangga sedang berkumpul di warung depan untuk membahas bantuan pascabadai. Laras sebenarnya ingin menyelesaikan urusan di dalam rumah, tetapi Bu Marni sengaja berdiri di teras dan meninggikan suara.
"Kamu datang menagih setelah kami kena bencana? Tidak punya hati!"
Orang-orang di warung menoleh.
"Saya sudah meminta penyelesaian tertulis," jawab Laras. "Ibu memilih menolak. Saya datang untuk mengambil uang penjualan motor milik ibu saya serta tiga perhiasan warisan yang Ibu tahan."
"Itu biaya kamu tinggal di rumahku selama dua tahun!"
Laras membuka map. "Selama dua tahun, gaji Rendra masuk ke kebutuhan rumah tangga. Saya juga menyerahkan penghasilan sambilan sebelum berhenti bekerja. Kalau Ibu ingin menghitung biaya, tunjukkan catatan dan dasar persetujuannya. Warisan pribadi tidak otomatis menjadi milik mertua."
Bu Marni tertawa keras. "Siapa yang percaya gelang itu milik ibumu?"
Rina melangkah maju. "Saya. Saya melihat almarhumah memberikannya. Foto tanggal itu juga ada. Motornya dibeli memakai uang keluarga Laras sebelum dia menikah."
Laras menunjukkan kuitansi dengan nomor rangka, nama pemilik lama, harga jual, dan rekening penerima. Jumlah yang masuk sama dengan transfer ke rekening Bu Marni tiga hari setelah transaksi.
Ia juga membawa cetakan mutasi rekening yang diperoleh melalui bank. Tidak ada penarikan untuk tiket atau biaya pindah pada hari-hari berikutnya seperti yang diklaim Bu Marni. Sebaliknya, sebagian uang berpindah ke toko perhiasan dan sisanya ditarik tunai oleh pemilik rekening.
"Saya tidak menuduh berdasarkan ingatan," kata Laras. "Ini aliran uangnya. Kalau Ibu punya bukti bahwa saya menyetujui pemakaian tersebut, tunjukkan sekarang."
Bu Marni membolak-balik salinan itu meski jelas tidak menemukan tanda tangan Laras. Rina lalu menyerahkan daftar percakapan lama ketika Bu Marni berjanji mengembalikan uang setelah perjalanan. Nomor dan tanggalnya cocok dengan transaksi.
"Saya tidak meminta lebih," kata Laras. "Kembalikan nilai transfer dan barang yang masih ada. Kalau sudah dijual, ganti sesuai berat dan bukti pembelian. Bila Ibu tetap menolak, saya membuat laporan dan menempuh jalur perdata."
Kata laporan membuat suara Bu Marni mengecil. Ia mencoba merebut map, tetapi Laras menutupnya dan mundur.
"Jangan menyentuh bukti asli. Salinannya sudah disimpan di tempat lain."
Vania keluar dari dalam rumah. "Mengapa harus membuat masalah di depan tetangga? Kita bisa bicara sebagai keluarga."
"Kita bukan keluarga," jawab Laras. "Dan saya meminta bicara tertulis lebih dulu. Bu Marni yang memilih berteriak di teras."
Tetangga mulai berbisik. Mereka baru melihat Bu Marni memohon pakan kemarin. Sekarang perempuan itu mengaku menahan uang dan perhiasan mantan menantu sebagai biaya tinggal.
"Kalau memang milik ibunya, kembalikan saja," kata seorang perempuan tua. "Barang warisan jangan dibuat main-main."
Bu Marni memelototinya. "Kalian tidak tahu betapa banyak Laras makan di rumahku."
Rina hampir tertawa. "Selama dua tahun dia yang memasak, membersihkan, dan membeli sebagian kebutuhan. Mau sekalian kita hitung upahnya?"
Pintu pagar terbuka. Rendra baru pulang dari rumah sakit. Ia melihat Laras dan segera mengira mendapat kesempatan berbicara.
"Kita selesaikan di dalam. Aku akan mengganti sebagian uangnya. Setelah itu kamu jangan memperpanjang masalah."
"Sebagian?" Laras menunjukkan angka transfer. "Ini jumlah pasti, bukan tawaran."
"Mama memakai uang untuk kebutuhan kita."
"Kalau kamu ingin mengganti dari uangmu, itu urusanmu dengan ibumu. Saya menagih hak saya."
Rendra merendahkan suara. "Jangan mempermalukan keluarga kita."
"Urusan ini antara saya dan Bu Marni. Kamu bukan siapa-siapa lagi. Dan tidak ada keluarga kita."
Kalimat itu terdengar sampai warung. Wajah Rendra menegang.
Bu Marni akhirnya masuk ke kamar. Ia kembali membawa kotak kain. Gelang dan cincin masih ada, tetapi anting telah dijual. Setelah berdebat dengan Rendra, ia mengambil uang tunai dari lemari dan menambahkan nilai anting berdasarkan kuitansi toko yang kebetulan masih tersimpan.
Uang penjualan motor tidak seluruhnya tersedia. Rendra terpaksa membuat transfer bank untuk menutup kekurangannya. Laras meminta keterangan transfer ditulis sebagai pengembalian dana milik Larasati, bukan bantuan keluarga. Dengan begitu, tak seorang pun bisa mengubahnya menjadi hadiah yang dapat ditagih kembali.
Laras tidak langsung menerima. Rina memotret barang, memeriksa berat yang tertulis, dan menghitung uang di depan Bu Marni. Mereka membuat tanda terima dua rangkap yang menyatakan pengembalian, bukan pemberian.
"Tanda tangan di sini," kata Laras.
"Kamu memperlakukan aku seperti penjahat."
"Saya memperlakukan ini sebagai transaksi yang harus selesai."
Bu Marni menandatangani dengan tekanan begitu keras hingga kertas hampir robek. Laras memberikan satu rangkap kepadanya, menyimpan perhiasan, lalu menutup map.
Tidak ada teriakan kemenangan. Ia hanya merasa satu pintu masa lalu akhirnya benar-benar terkunci.
Di ujung jalan, Bram menunggu di mobil tanpa ikut masuk. Laras sengaja meminta menangani urusan itu sendiri, dan Bram menghormatinya. Saat Laras menunjukkan kotak kain dari jendela, ia hanya bertanya, "Lengkap?"
"Hampir. Yang dijual sudah diganti."
"Bagus. Pulang?"
Laras mengangguk dan masuk ke mobil.
Dari teras, Rendra menatap kendaraan mereka pergi. Kegagalannya melindungi Bu Marni berubah menjadi kebencian. Vania berdiri di belakangnya dengan perasaan lebih tajam. Setiap kali Laras datang, perempuan itu pergi membawa kemenangan baru.
Malamnya, Vania menemui Bu Yuni di warung gelap. Ia tidak lagi mengandalkan kejadian yang diingatnya. Kali ini ia memilih senjata lama yang selalu melukai perempuan: nama baik.
"Perempuan seperti Laras paling mudah dijatuhkan lewat cerita tentang lelaki," bisiknya. "Kita hanya perlu membuat orang percaya ada sesuatu antara dia dan atasannya."
Di layar ponsel Bu Yuni, dua foto berbeda mulai dipotong agar tampak seperti satu pertemuan rahasia.