Indonesia
NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Ada Sabotase!

"Ayo, Zahra, lakuin hukumannya! Jangan curang!" desak Rio sambil menahan tawa.

Zahra mendengus kesal. "Iya, iya, sabar napa!"

Dengan wajah tertekuk menahan malu, Zahra akhirnya mengambil posisi jongkok ala katak di area kafetaria yang cukup ramai itu. Ia mulai melompat-lompat kecil mengitari meja sambil mengeluarkan suara tiruan hewan amfibi tersebut.

"Kwek... kwek... oek, oek!"

"HA-HA-HA! Sumpah, muka lu melas banget, Zah! Lucu banget gila!" tawa Rio meledak sambil memegang perutnya. Putri dan Danu yang melihatnya pun ikut tersenyum geli.

Zahra langsung bangkit berdiri dengan wajah memerah padam. Sekujur tubuhnya seolah diselimuti aura api balas dendam. "Awas lu ya, Rio! Selesai ini, awas kalau lu sampai kalah, gue bantai lu!" ancamnya serius penuh emosi.

"Udah, udah, lanjut lagi nih giliran gue," kata Rio santai.

Ia mengambil ponselnya, mengocok dadanya di aplikasi Ludo, dan mendapatkan angka 6. Rio melangkah maju, dan tepat di kotak depannya, ada bidak milik Putri yang baru saja keluar dari sarang.

Rio langsung memasang wajah melas, menyatukan kedua telapak tangan memohon. "Duh, Putri... jangan dimakan ya? Ampun, mundurlah dikit kalau bisa!"

Namun, sistem permainan berkata lain. Bidak Rio melaju mulus dan dengan telak melahap bidak Putri tanpa ampun.

Plak! (suara virtual di dalam game).

"Ups... maaf ya, Putri, nggak sengaja sumpah!" kata Rio nyengir kuda.

Putri hanya tersenyum tipis menggelengkan kepala. "Hmm... gapapa, santai aja."

Di tengah gelak tawa dan keseruan permainan mereka di sudut kafetaria, tanpa disadari, ada seseorang dengan gerak-gerik mencurigakan mengawasi dari kejauhan. Sosok itu adalah siswa dari kelas X.G.

"Hmm... sepertinya gue bisa mulai melaksakan rencana busuk itu sekarang, hehe..." gumam cowok itu dalam hati. Ia menyeringai licik. "Tapi, diundur sedikit deh. Kayaknya seru juga kalau lihat mereka asyik main-main dulu sebelum semuanya hancur."

Pria misterius itu melangkah mendekat, mengubah ekspresinya menjadi ramah palsu, lalu menghampiri meja tempat squad Rio berkumpul.

"Halo, teman-teman. Lagi seru banget kelihatannya, sedang main apa nih?" sapa siswa kelas X.G itu dengan senyum manis yang terkesan kaku.

Danu mendongak, menatap pemuda asing di hadapannya dengan alis bertaut. "Ouh... kamu siapa ya? Anak kelas mana?" tanya Danu penasaran.

Pemuda itu merapikan kerah bajunya sebentar. "Ah, maaf banget, aku lupa kenalan dulu. Nama aku Gavin Mahendra. Kalau boleh tahu, nama kalian siapa aja?" tanyanya sambil melempar senyum tipis yang dibuat-buat.

"Hmm... nama gue Rio," jawab Rio waspada.

"Gue Zahra."

"Nama aku Danu."

"Kalau aku Putri," sambung Putri singkat.

Gavin mengangguk-angguk pelan, matanya melirik sekilas ke arah tas dan barang-barang bawaan mereka yang tergeletak di kursi. "Oh, begitu... Ngomong-ngomong, aku punya sesuatu yang keren banget nih buat kalian. Dijamin bikin takjub. Mau lihat nggak?"

Danu mengerutkan keningnya, merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik si murid baru kelas X.G ini. "Sesuatu apa itu?" tanyanya hati-hati.

Gavin menyeringai tipis. "Ya... pokoknya ikutan saja dulu ke sana sebentar."

Setibanya di lokasi yang dituju, Gavin malah mengarahkan mereka berhenti di depan area lorong dekat toilet umum museum yang agak sepi.

"Kenapa malah ke toilet? Emangnya ada apa di sini?" tanya Rio mulai curiga.

"Ahahaha, belum waktunya tahu..." jawab Gavin mengelak.

Tiba-tiba, kriing... kriing...!

Ponsel di saku Gavin berdering nyaring. "Eh, sebentar ya, ada telepon masuk. Angkat dulu sebentar," pamitnya.

"Ya," jawab Danu singkat.

Gavin lantas bergeser menjauh beberapa langkah dari mereka, mengangkat telepon dengan suara berbisik-bisik.

"Gimana? Udah dapat kuncinya belum?" tanya seseorang di ujung sambungan, yang ternyata adalah bos besar di balik layar.

"Udah nih, Bos. Tinggal kita bobol sistem brankas pameran itu pakai kode aksesnya," lapor Gavin.

"Oke, baguslah. Jangan sampai gagal!"

Tak lama kemudian, dari ujung koridor, terdengar suara gaduh langkah kaki aparat.

"Bos! Gawat, ada polisi ke sini!" teriak anak buahnya panik dari seberang telepon.

"Sial! Cepat, beresin alatnya!" maki Gavin.

Mendengar suara sirene dan kedatangan polisi yang mendadak, Gavin langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia berbalik dan berlari tergesa-gesa menghampiri Danu dan teman-temannya dengan wajah panik yang dibuat-buat.

"Nih, tolong titip HP aku dulu ya sebentar, penting! Aku mau pergi dulu!" seru Gavin sambil menyodorkan sebuah ponsel pintar secara paksa ke tangan Danu.

"Ouh, oke..." kata Danu kebingungan, menerima ponsel itu begitu saja.

Belum sempat Danu mengembalikan atau bertanya lebih lanjut, Gavin sudah melesat kabur lari terbirit-birit meninggalkan mereka.

Dan sedetik kemudian, dua orang petugas kepolisian langsung berlari menghampiri kelompok mereka dengan napas memburu!

"Berhenti! Jangan bergerak!" teriak polisi itu. Matanya tajam menatap ke arah Danu yang memegang sebuah benda elektronik. "Hmm... adakah dari kalian yang memiliki ponsel jenis Samsung Galaxy S26 ini?!"

Danu mengerjap, melirik ponsel di tangannya, lalu mendapati layar ponsel itu menyala menampilkan aplikasi peretas sistem museum. "Ahh... tunggu, Pak! Ini bukan—"

"Tidak usah mengelak! Bukti digitalnya sudah ada di tanganmu. Kamu ditangkap atas dugaan sabotase sistem museum!" bentak polisi itu sambil menarik lengan Danu.

"Ehh, ehh! Sebentar dulu dong, Pak! Danu nggak ada salah apa-apa!" bela Zahra panik, mencoba menarik tangan Danu.

"Jangan ikut campur! Mau saya bawa juga sebagai komplotannya?!" ancam polisi itu tegas.

"Sialan..." geram Zahra tertahan, tak berdaya melihat Danu dicengkeram petugas.

Sementara itu, di sisi lain kafetaria, suasana masih terasa santai.

"Ouhh... jadi begitu. Lucu juga ya kelakuan Lo waktu kecil," puji Nadia sambil tersenyum kecil menatap Reno.

"Haha... nggak usah dipuji begitu, malu tahu," balas Reno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Di tengah obrolan santai itu, tiba-tiba salah satu anak buah Reno berlari tergopoh-gopoh menghampiri meja mereka dengan napas terengah-engah.

"Bos! Haa... haa... Bos!" teriaknya panik.

Reno mengerutkan kening. "Ada apa sih? Datang-dateng teriak, ngomong yang bener!"

"Itu... teman kamu, Bos! Si Danu... dia dibawa sama polisi ke kantor polisi!" lapor anak buahnya gemetar.

Reno langsung membelalakkan matanya kaget. "APAA?! Kenapa bisa begini?!"

"Aku juga nggak tahu, Bos! Tiba-tiba dia digelandang!"

"Dasar nggak guna!" geram Reno, emosinya langsung naik. Ia berdiri dari kursi dengan cepat.

Nadia mengangguk cepat. "Udah, nggak usah panik. Ayo kita ke tempat mereka sekarang, mungkin mereka belum terlalu jauh," lerainya, langsung mengambil jaketnya.

Tanpa buang waktu lagi, Reno, Nadia, dan anak buahnya langsung berlari kencang menuju tempat kejadian perkara untuk menyelamatkan Danu!

Setibanya di area lorong toilet yang dimaksud oleh anak buahnya, napas Reno dan Nadia terengah-engah. Sayangnya, mereka datang terlambat. Garis pembatas polisi sudah terpasang, dan kerumunan murid mulai bubar dengan perasaan ngeri.

Reno membungkuk sejenak, menetralkan napasnya yang habis. "Hah... hah..." laju napasnya tidak beraturan. Ia mendongak, mendapati Rio, Zahra, dan Putri berdiri lesu di dekat dinding. "Hah? Di mana Danu?!" tanyanya panik.

Rio menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Hmm... dia dibawa polisi," jawab Rio lirih, suaranya nyaris hilang ditelan angin.

Zahra mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dan rasa frustrasi. "Hah... lebih baik kita izin dulu ke guru buat nyusul ke kantor polisi," katanya dengan nada lemas.

Putri menggeleng pelan, wajahnya menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Tapi... sepertinya nggak bakal dibolehin keluar sama guru pendamping, karena aturan sekolah bilang kegiatan study tour ini wajib diikutin sampai selesai..." kata Putri memberitahukan realita pahit yang harus mereka hadapi.

Suasana langsung mendadak hening mencekam. Ancaman besar benar-benar telah datang menghantam kelompok mereka di tengah liburan sekolah yang harusnya menyenangkan.

[Bersambung ke Bab 31]

1
mama Al
semoga Rio bisa jadi teman baik untuk Danu
Wednesday
biasa anak obesitas kebanyakan sensitif
Miu.Nuha
betulah ya... ketika keluarga gk bisa dirasa seperti keluarga, tpi dpt bestie baik gini rasany kek punya sodara ☺
aku juga penasaran sama karya kamu, Danu...
MF015
akhirnya ada juga yang mau temenan sama Danu seperti Rio
ginevra
tuh kan... ada kan yang punya hati baik
ginevra
tidak tidak... jangan berpikiran kayak gitu. banyak kok yang bakalan suka sama kamu. banyak orang yang pikirannya terbuka. cuma kamu belum nemuin aja
ginevra
aku tahu perasaanmu.... cobalah diet dan berolahraga... tapi bukan untuk menjadi lebih kurus tapi lebih sehat aja. karena kamu bersinar dengan caramu sendiri.... love yourself
Siti Aisyah
Danu kamu hebat gendut jangan jadikan masalah untukmu tetap semangat buat kurusin badan ya dan jangan makan mie mulu nu kasian perutmu😆
Maya 摩耶
Kayaknya gk mungkin kau bisa tak terlihat deh nu
Maya 摩耶
emang sebesar apa sih si danu ini?
Hamzah: yang gemuk
total 2 replies
Maya 摩耶
Kayaknya itu bukan karena badanmu deh nu
Hamzah: terus apa dong 😅
total 1 replies
Pencari Cerita
masih ada teman yang nerima kondisi kamu ko Danu, semangat
LUNEYA
🌹🌹☺️ Selalu seperti itu kalau anak laki-laki gemuk, dia akan diejek, Orang-orang sangat iri pada orang gemuk, tetapi mereka memiliki keuntungan. ☺️🌹😎
internona Nerrazurri
semoga Danu dan Rio bisa menjadi teman baik
Fairuz
yang semangat ya danu, semua pasti akan di lewati dengan baik 💪
Myz Pena
ya ampun danu.. please jangan suka merendahkan diri mu sendiri.. semua harus di syukuri dan tetap zmngat dalam menjalani hidup 🤧
Myz Pena
bayu anaknya agak berisi ya badannya ? apakah dia juga dari keluarga yang sederhana ?
Hamzah: iya agak berisi badannya
total 2 replies
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬
Danu kapan mau jadi kurus atuh😄
Hamzah: kapan-kapan 😂
total 1 replies
indah Mayaddah f
Ya Allah Danu 😭 dibuang sama keluarga sendiri dan harus bertahan hidup sendirian di kosan sempit, kebayang sepi dan sakitnya jadi Danu 🥺
Tio Buki
Semangat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!