Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HANGAT NYA BEKAL MAKAN SIANG

Sinar matahari pagi menyiram area koridor universitas dengan pendar yang cerah. Suasana area kampus mulai ramai oleh laluan mahasiswa yang bergegas menuju kelas masing-masing.

Aku berjalan bersisian dengan Kaito menyusuri selasar gedung kuliah. Setelah sekian lama berada dalam masa-masa suram, berjalan berdampingan di area kampus bersama Kaito terasa bagaikan sebuah lembaran baru yang begitu indah. Tidak ada lagi rasa bersalah atau jarak tegang di antara kami.

Langkah kami terhenti di persimpangan koridor yang memisahkan area gedung Fakultas Hukum tempat Kaito berkuliah dan gedung fakultasku.

Jam kuliah pertama kami akan segera dimulai dalam hitungan menit. Kaito memutar tubuhnya menghadapku, menatapku dengan sorot mata hangat yang selalu berhasil membuat dadaku berdesir.

Aku tersenyum manis, lalu mengangkat kedua tanganku untuk menyampaikan bahasa isyarat:

[Sampai nanti saat jam istirahat ya, Kaito. Aku sudah membuatkan bento kesukaanmu untuk makan siang kita.]

Melihat gerakan jariku dan mendengar janji bekal makan siang itu, senyuman tampan seketika terukir di wajah Kaito. Kedua matanya menyempit hangat, memancarkan rasa bahagia yang amat murni.

Jemari Kaito yang telaten bergerak membalas isyaratku:

[Aku tidak sabar menunggu jam istirahat tiba. Terima kasih, Hana.]

Kaito melambaikan tangannya pelan, mengusap puncak kepalaku secara lembut, lalu berbalik arah melangkah menuju ruang kuliahnya. Aku berdiri sejenak menatap punggungnya yang makin menjauh dengan perasaan lega yang membuncah.

Namun, saat aku berbalik untuk melanjutkan langkah menuju ruang kelasku, sebuah bayangan tubuh mendadak menghadang jalanku.

Langkahku terhenti seketika.

Haruto berdiri tepat di hadapanku. Wajahnya tampak kusut, matanya dipenuhi rasa bersalah dan keputusasaan yang teramat sangat. Tanpa memedulikan sekeliling, Haruto bergerak mendekat dengan gestur tubuh yang panik, berusaha menyenggol atau meraih lenganku.

Melalui gerak bibir dan ekspresi wajahnya yang memohon, aku bisa membaca jelas bahwa Haruto sedang berusaha memberikan berbagai alasan serta penjelasan atas kejadian menyakitkan di toko pakaian hari itu. Ia terlihat sangat berniat membela diri dan meminta kesempatan kedua.

Aku melangkah mundur satu tapak, menegaskan jarak di antara kami. Wajahku datar, dingin, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk rasa iba. Aku menggelengkan kepala perlahan, mengabaikan seluruh kata-kata manis dan alasan yang coba ia lontarkan dari mulutnya.

Karena duniaku sunyi dan aku tak ingin membuang energi untuk berdebat panjang lewat isyarat yang tak akan ia pahami sepenuhnya, aku meraih ponsel dari dalam tas. Dengan cepat, jemariku mengetikkan sebuah pesan tegas di layar ponsel, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Haruto:

"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, Haruto. Semuanya sudah sangat jelas dan seluruh kebohonganmu selama berbulan-bulan ini telah terungkap. Terima kasih untuk semuanya, Haruto."

Haruto mematung membaca deretan kata di layar ponselku. Matanya membelalak, napasnya tertahan saat menyadari kebenaran dingin bahwa aku telah benar-benar menutup pintu hatiku rapat-rapat untuknya. Topengnya runtuh total, menyisakan penyesalan yang terlambat.

Tanpa menunggu responnya lebih jauh, aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas. Aku berjalan melewati Haruto begitu saja, meninggalkannya yang berdiri terpaku sendirian di tengah riuhnya koridor kampus—sebuah sosok masa lalu yang kini tak lagi memiliki arti apa pun dalam hidupku.

Beberapa jam kemudian, bel tanda jam istirahat siang berbunyi.

Aku bergegas berjalan menuju gedung Fakultas Hukum, membawa sebuah tas kain berisi kotak bento hangat yang sudah kusiapkan sejak subuh tadi. Aku berdiri dengan tenang di depan pintu ruang kuliah Kaito, menyandarkan punggungku ke dinding koridor sambil menunggunya keluar.

Sementara itu di dalam kelas, Kaito baru saja merapikan buku-buku hukum tebalnya ke dalam tas.

Ia dengan terburu-buru merogoh saku jaketnya, menarik ponsel untuk memeriksa layar. Tidak ada notifikasi atau pesan masuk dari Hana. Perasaan gelisah tipis mulai menyelinap di dada Kaito—sebuah trauma kecil dari masa lalu yang membuat Kaito selalu cemas jika Hana tiba-tiba menghilang atau meninggalkannya.

Dengan langkah cepat dan raut wajah cemas, Kaito bergegas keluar menyibak pintu ruang kelas.

Namun, tepat saat langkah kakinya menembus ambang pintu... seluruh rasa gelisah di dalam dada Kaito menguap seketika tanpa sisa.

Raut wajah Kaito yang semula tegang berubah kaget luar biasa. Di depannya, berdiri seorang gadis yang teramat ia cintai. Hana sedang berdiri menunggunya, menyambut kehadiran Kaito dengan lambaian tangan kecil dan senyuman hangat yang begitu memikat.

Kaito mengembuskan napas lega yang amat panjang. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat. Ia melangkah cepat menghampiri tempatku berdiri, lalu mengangkat tangannya untuk berisyarat:

[Sudah lama menunggu di sini, Hana?]

Aku menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum manis, jemariku bergerak membalas:

[Tidak, aku baru saja tiba di sini. Ayo kita makan siang bersama.]

Kaito menatapku dengan binar mata penuh kasih sayang. Tanpa ragu, ia meraih jemari tangan kananku, menautkan jarinya di antara jemariku, lalu menggenggamnya dengan amat erat dan protektif.

Ia membimbing langkahku berjalan menyusuri selasar kampus menuju taman belakang gedung kuliah yang rindang untuk menikmati makan siang bersama.

Genggaman tangan Kaito yang begitu erat dan penuh kehangatan membuat hatiku bergetar hebat. Ingatan masa kecilku seketika berputar kembali di dalam kepala.

Sejak kami masih anak-anak—saat aku masih sering merasa takut akan duniaku yang sunyi—Kaito selalu menggenggam tanganku persis seperti ini. Setiap kali menyeberang jalan, setiap kali berada di keramaian, atau setiap kali aku merasa tersesat, jemarinya akan selalu memeluk jemariku dengan hangat, menegaskan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan aku berjalan sendirian.

Dahulu, aku menganggap genggaman tangan itu sebagai hal yang biasa dari seorang sahabat masa kecil. Namun kini, di bawah naungan pohon rindang kampus, aku menyadari bahwa rasa hangat di genggaman Kaito adalah kepastian yang paling indah dalam hidupku sebuah ikatan ketulusan yang tak pernah berubah sejak dulu hingga sekarang.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!