Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman kedua
Akhir pekan yang telah direncanakan Dika dan Reta untuk mempertemukan kembali Baska dan Zia tersebut akhirnya tiba, namun sebelum rencana tersebut sempat terlaksana, sebuah kejadian tak terduga terjadi yang justru memperburuk situasi yang sudah cukup rumit tersebut. Sabtu sore itu, Baska yang masih merasa gelisah dengan hubungannya yang terkatung-katung, memutuskan untuk pergi ke Sport Padel sendirian, berharap bisa sedikit menenangkan pikirannya dengan bermain padel seperti biasa, meski tanpa memberi tahu Zia terlebih dahulu mengenai kedatangannya tersebut.
Namun ketika dia tiba di lokasi tersebut, dia mendapati pemandangan yang sekali lagi membuat hatinya mencelos—Zia sedang duduk berdua dengan Ali di bangku penonton, tempat yang sama di mana Baska pernah menyatakan cintanya kepada Zia beberapa bulan sebelumnya, tempat yang seharusnya menjadi simbol suci dari hubungan mereka berdua.
Sebenarnya, pertemuan tersebut terjadi karena Ali, yang masih merasa bersalah atas kejadian di masa lalu, memaksa Zia untuk mendengarkan penjelasan lengkap mengenai alasan kepergiannya dulu, sebuah penjelasan yang akhirnya diberikan Zia dengan enggan demi menutup babak masa lalu tersebut secara tuntas, berharap dengan begitu Ali akan berhenti terus mengganggu ketenangannya. Namun tanpa mengetahui konteks tersebut, Baska yang melihat mereka berdua duduk berdampingan di bangku yang begitu bermakna baginya tersebut, merasakan kemarahan dan kekecewaan yang begitu meluap.
Tanpa berpikir panjang, Baska berbalik dan pergi meninggalkan lokasi tersebut tanpa menyapa Zia sama sekali, hatinya dipenuhi berbagai pikiran negatif yang semakin menguatkan kecurigaannya bahwa mungkin Zia memang masih memiliki perasaan tersembunyi terhadap mantan kekasihnya tersebut.
Zia, yang kebetulan menoleh dan melihat sekilas punggung Baska yang menjauh tersebut, segera menyadari bahwa kekasihnya itu baru saja menyaksikan momen yang salah diartikan untuk kedua kalinya. "Itu... itu Baska ya?" gumamnya panik, segera berdiri dan mencoba mengejar meski terlambat beberapa detik.
"Ada apa, Zia?" tanya Ali, bingung dengan perubahan sikap Zia yang tiba-tiba tersebut.
"Aku harus ngejar Baska. Ini bisa jadi salah paham besar," jawab Zia dengan panik, segera berlari menuju area parkir, namun mendapati bahwa motor Baska sudah tidak ada di tempat, menandakan bahwa pemuda tersebut sudah terlanjur pergi dengan perasaan yang begitu terluka.
Zia segera mencoba menghubungi Baska melalui telepon, namun panggilan tersebut tidak diangkat sama sekali, sebuah tanda yang membuat kekhawatirannya semakin bertambah besar. Dia mengirimkan pesan berturut-turut, berusaha menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi, namun tidak ada satu pun balasan yang datang dari pemuda tersebut.
"Mas, itu tadi bukan apa yang kamu pikirin. Ali cuma mau jelasin soal masa lalu, aku denger biar dia berhenti ganggu aku terus," tulis Zia berulang kali, berharap penjelasan tersebut bisa segera sampai dan diterima oleh Baska, meski kenyataannya, pesan-pesan tersebut hanya dibaca tanpa ada balasan sedikit pun dari pemuda yang sedang dilanda kemarahan dan kekecewaan mendalam tersebut.
Malam itu, Baska yang sampai di rumahnya dengan hati yang begitu kacau, memutuskan untuk tidak membalas pesan-pesan Zia tersebut, merasa terlalu terluka dan bingung untuk bisa berpikir jernih mengenai situasi yang baru saja dia saksikan. Dia menghubungi Dika, menceritakan kejadian tersebut dengan nada yang penuh kekecewaan.
"Dik, gue liat Zia lagi duduk berdua sama Ali di bangku yang sama waktu gue nembak dia dulu. Gue nggak tau lagi harus percaya apa," ujar Baska dengan suara yang menunjukkan keputusasaan mendalam.
Dika, yang terkejut mendengar kabar tersebut, mencoba menenangkan sahabatnya meski dia sendiri tidak sepenuhnya memahami konteks lengkap dari kejadian tersebut. "Bas, coba deh dengerin dulu penjelasan Zia. Jangan langsung ambil kesimpulan sebelum tau ceritanya."
Namun kali ini, Baska yang telah mencapai batas kesabarannya, memutuskan untuk mengambil jarak yang lebih tegas, sebuah keputusan yang akan membawa hubungan mereka pada titik terendah yang belum pernah mereka alami sebelumnya, menandai berakhirnya babak penuh kesalahpahaman tersebut dan dimulainya perjuangan yang jauh lebih berat untuk memulihkan kepercayaan yang telah begitu terguncang di antara mereka berdua.
"Dik, gue rasa gue butuh waktu sendiri dulu buat mikirin semua ini. Gue nggak tau lagi harus gimana," ujar Baska dengan nada yang begitu lelah, mengungkapkan keputusasaannya yang semakin dalam menghadapi rangkaian kejadian yang terus berulang tersebut.
"Bas, jangan buru-buru ambil keputusan besar waktu lagi emosi kayak gini. Tenangin diri dulu, tapi jangan sampai lo nutup diri total dari Zia," saran Dika dengan penuh kekhawatiran, mencoba mencegah sahabatnya tersebut mengambil langkah yang mungkin akan disesali di kemudian hari.
Namun kata-kata tersebut tidak sepenuhnya didengarkan oleh Baska yang saat itu masih terlalu dipenuhi emosi, memutuskan untuk mematikan ponselnya malam itu, memilih untuk mengisolasi diri dari segala bentuk komunikasi, termasuk dari Zia yang terus berusaha menghubunginya dengan penuh kekhawatiran, sebuah keputusan yang akan membuat kesalahpahaman di antara mereka semakin dalam sebelum akhirnya ada titik balik yang bisa memperbaiki keadaan tersebut.