Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 30
Suasana rumah Kevin malam itu begitu sepi, dingin, dan terasa mati. Tidak ada lagi wangi teh melati yang menyambutnya di meja pantry, tidak ada lagi senyum hangat yang menunggunya pulang, dan tidak ada lagi suara lembut yang menyapa penatnya.
Dengan langkah terhuyung dan mata yang sembab, Kevin berjalan menuju kamar utama. Kamar yang lebih sering di tinggali oleh Dialra sendirian, karena dia lebih sering tidur di kamar tamu. Di ujung perpisahan mereka, bahkan Dilara tak mengatakan ucapan yang kasar, begitupun kepada Asha. Malah sebaliknya, seolah-olah Dilara adalah yang merebutnya dari Asha. Namun kenyataannya Asha yang meninggalkannya lebih dahulu, Dilara tak salah. Dialah yang menyeret Dilara dalam pusara pernikahan ini.
KREEEKK...
Kevin mendorong pintu kayu itu pelan. Lampu kamar tidak ia nyalakan. Hanya remang cahaya bulan dari luar jendela yang menerangi ruangan serba bersahaja tersebut.
Kamar itu rapi. Terlalu rapi. Kasur busa sederhana tertutup sprei putih yang licin tanpa kerutan. Di atas meja, tidak ada satu pun botol parfum atau kosmetik yang tertinggal. Dilara benar-benar pergi tanpa menyisa sepatah kata pun, tanpa membawa sepeser pun harta, meninggalkan ruangan ini dalam kepatuhan dan keheningan yang menyiksa.
Kevin melangkah mendekati tempat tidur, meluruhkan tubuhnya yang lelah di tepi kasur. Ia meraba permukaan sprei dingin itu, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Ia membenamkan wajahnya ke bantal bekas Dilara, menghirup dalam-dalam udara di sana. Masih ada sisa-sisa aroma sabun mandi dan minyak zaitun yang lembut, aroma khas Dilara yang dulu selalu ia abaikan. Setelah Dilara pergi, dia memang lebih banyak tidur di sana, di sisi ranjang yang selalu di tempati oleh Dilara.
"Ra..." bisik Kevin parau. Suaranya pecah di dalam kegelapan.
"Kenapa rasanya sepi sekali...?"
Air mata hangat menetes membasahi sarung bantal. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kevin merasa benar-benar hampa. Semua ucapan Elian di depan gerbang, kemarahan ayahnya, dan tangisan ibunya bergema bergantian di dalam tempurung kepalanya. Ia baru menyadari betapa gilanya ia telah menukar ketulusan tak bertepi demi sebuah obsesi masa lalu yang kini berubah menjadi neraka.
DRRRRTTTT
DRRRRTTTT
DRRRRTTTT
Ponsel di saku celananya bergetar keras, merusak keheningan kamar. Kevin menarik ponselnya dengan enggan. Layar menyala terang memancarkan nama: Asha.
Kevin membiarkannya. Panggilan itu mati, namun hanya berselang lima detik, ponsel itu kembali bergetar hebat. Panggilan kedua. Panggilan ketiga. Hingga akhirnya sebuah pesan singkat masuk bertubi-tubi.
Asha: Kevin! Kamu di mana sih?! Kenapa teleponku tidak diangkat?!
Asha: Mama dari tadi menanyakan kepastian mahar itu! Papa juga sudah dengar kalau kamu sempat ragu di resto tadi!
Asha: Kamu jangan bikin aku malu ya, Kev! Balas teleponku sekarang atau aku ke rumahmu malam ini juga!
Kevin menatap deretan pesan itu dengan tatapan hampa dan pupil mata yang bergetar. Tidak ada sedikit pun pertanyaan 'Kamu sudah sampai rumah?' atau 'Kamu sudah makan?'. Yang ada hanyalah tuntutan, ancaman, dan paksaan harta.
DRRRTTTT
DRRRRTTTT
Ponsel itu berdering lagi. Kali ini Kevin menggeser tombol hijau, membiarkan speaker menempel di telinganya tanpa menguapkan sepatah kata pun.
"Kevin! Kamu ini niat menikah atau tidak sih?!" suara Asha menyambar tajam dari ujung telepon, melengking mengalun di kamar sepi itu.
"Kenapa telepon dari tadi diabaikan?! Kamu tahu tidak, Mama sampai darah tinggi gara-gara kelakuanmu di resto tadi!"
"Asha..." panggil Kevin pelan, suaranya sangat serak dan hampa.
"Ini sudah jam sebelas malam."
"Aku tidak peduli mau jam berapa!" potong Asha emosional.
"Aku cuma butuh jawaban singkat malam ini! Kamu sanggup atau tidak menyediakan logam mulia setengah kilo dan unit apartemen di Kemang itu sebelum hari akad?!"
Kevin memejamkan matanya rapat-rapat. Ia meremas sprei kasur Dilara dengan tangan kirinya yang gemetar.
"Kenapa harus apartemen, Sha...?" tanya Kevin lirih, menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Rumah ini... rumah yang kita tempati nanti sudah cukup luas. Kenapa kamu butuh aset atas namamu sendiri bahkan sebelum kita mengucapkan akad?"
Di ujung saluran, Asha terdengar menghembuskan napas kasar penuh kejengkelan. "Kamu masih tanya kenapa?! Kevin, dengar ya! Aku ini mengorbankan masa mudaku buat kamu! Aku menanggung malu karena mau menikah dengan pria yang baru saja menduduki status duda! Itu adalah jaminan harga diri buat aku dan keluargaku! Kamu pikir kalau bisnis kamu bermasalah di kemudian hari, aku harus ikut melarat?!"
JLEB.
Kalimat itu menghantam dada Kevin bagai hantaman godam besi. Kalimat yang begitu jujur, telanjang, dan dingin dari wanita yang dulu amat ia cintai.
"Jadi... kamu cuma memikirkan jaminan hartamu?" bisik Kevin, tawa pahit meluncur dari tenggorokannya.
"Kamu bahkan tidak pernah tanya bagaimana kondisi perusahaanku. Kamu tidak pernah peduli apakah aku harus menjual asetku atau berutang demi menuruti gengsimu..."
"Jangan mulai memutarbalikkan kata-kataku, Kevin!" bentak Asha makin histeris.
"Kamu yang berjanji mau membahagiakan aku! Kamu yang memohon-mohon supaya aku kembali! Sekarang saat aku minta bukti kecil seperti ini, kamu malah memperhitungkannya?! Di mana otak kamu, Kev?!"
"Bukti kecil kamu bilang...?" Kevin terkekeh sumbang, air mata keputusasaan menetes di pipinya.
"Lima ratus gram emas dan apartemen miliaran rupiah kamu sebut bukti kecil...?"
"Bagi pengusaha seperti kamu, itu kecil! Kecuali kalau kamu memang pecundang yang cuma manis di bibir!" desik Asha menohok.
"Dengar ya, Kevin! Mama kasih waktu sampai besok sore! Kalau kamu tidak bisa bawa sertifikat booking apartemen dan bukti pembelian emas itu ke rumahku, jangan harap pernikahan ini berlanjut! Aku bakal cerita ke semua relasi Papa kalau kamu pria tidak bertanggung jawab!"
"Asha, tolong... dengarkan aku dulu..."
"Gak ada yang perlu didengar lagi! Besok sore bawa buktinya atau kita selesai!"
TUT... TUT... TUT...
Panggilan diputus secara sepihak.
Suasana kamar kembali hening mencekam. Kevin perlahan menurunkan ponselnya dari telinga, membiarkan benda pipih itu jatuh terhempas ke lantai karpet.
Dada Kevin naik-turun memburu. Frustrasi, murka pada dirinya sendiri, dan ketakutan luar biasa menyatu menjadi gelombang panik yang membuat napasnya sesak. Ia memegang dadanya yang sakit, mencengkeram kemejanya sendiri seraya menjerit tanpa suara.
"Arghhh!" Kevin memukul permukaan kasur berulang kali.
"Pecundang... Memang benar aku pria pecundang!"
Ia teringat Dilara lagi.
Saat Dilara tinggal di kamar ini, wanita itu tidak pernah bentak-bentak. Saat Dilara diberi uang belanja bulanan yang tersisa, ia selalu mencatat setiap rupiahnya di buku kecil dengan rapi dan mengembalikan sisanya. Dilara tidak pernah menuntut jaminan aset, tidak pernah mengancam akan membeberkan aib, dan selalu menjaga kehormatan Kevin di hadapan siapa pun.
"Maafkan aku, Dilara..." tangis Kevin pecah di tengah kegelapan kamar tamu yang dingin itu. Ia meringkuk di atas kasur bekas mantan istrinya, memeluk bantal itu erat-erat seolah-olah bisa memutar kembali waktu.
"Maafkan aku... Aku salah... Aku sungguh-sungguh salah..."
Namun di kamar sepi itu, hanya ada gema suaranya sendiri yang memantul di dinding, menegaskan kenyataan pahit bahwa tidak ada lagi Dilara yang akan datang untuk mengusap punggungnya dan memaafkan kebodohannya.
waras cobaa ,aneh si Kevin ini,di telan sma asha GK ada gebrakan nya sma skli