Indonesia
NovelToon NovelToon
JATUH CINTA PADA SEORANG GANGSTER

JATUH CINTA PADA SEORANG GANGSTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Ketos
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ruka_21

Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Shayen & Kay

"Jangan makan mie terus, kalau mama tahu bisa dimarahin!"

Di tengah sunyi ruang dapur di jam 2 pagi, suara bernada berat itu menginterupsi. Terdengar begitu familiar, sesaat sukses membuat Kay Morgan langsung mengeraskan rahang, pertanda tidak suka mendengar suara itu lagi.

Kay Morgan yang semula menikmati mie kuahnya dengan khidmat, terpaksa menghentikan pergerakannya kala derap langkah seseorang mendekat detik selanjutnya. Tanpa berniat menoleh, Kay Morgan langsung meneguk habis air minum di gelasnya sebelum beranjak dari tempatnya.

"Kita perlu ngomong!" Kay Morgan langsung menepis tangan milik Shayen Morgan yang berusaha menahan dirinya dengan kasar.

"Kita perlu ngomong, kay!" bujuk Shayen Morgan dengan suara yang masih lembut.

"Bokap bilang lo baru keluar dari penjara. Itu bener?"

"Kay?!" panggil Shayen Morgan mulai meninggikan suaranya.

Kay Morgan menaikkan pandangnya, menatap tanpa minat lawan bicaranya itu. "Nggak ada urusannya sama lo!" sanggah Kay Morgan, nyolot ke arah Shayen Morgan.

"Sejak kapan lo jadi rusak gini?" tanya Shayen Morgan, lagi.

Kay Morgan mendengus malas. "Bacot!"

Shayen Morgan cukup terkejut mendengar kalimat kasar itu ternyata bisa meluncur dari bibir Kay Morgan—saudaranya, yang notabenenya adalah adiknya.

Ketika Kay Morgan hendak menyingkir dari hadapan Shayen Morgan, kakaknya itu sudah dulu menahan kedua pundaknya, mendorongnya pelan untuk kembali duduk di tempat. "Gue tau lo masih marah sama gue, tapi kita perlu ngomong."

Kay Morgan masih diam ketika Shayen Morgan menarik kursi di dekatnya.

"Kita kasih tahu mama secepatnya. Gue udah yakin bisa nanggung biaya hidup kita kalau mereka cerai. Gue pastiin bakal lulus tahun ini. Biar bisa langsung dapet kerja dan nanggung biaya sekolah lo, minimal sampe lulus."

"Gue akan nunda S1, biar lo kuliah dulu. Kita usahain dapet uang bareng. Gimana?"

Tiba-tiba saja Kay Morgan mendesis tajam, seulas senyum miring menghiasi wajah tampannya saat ini. "Apa cuma ini yang lo pikirin?" tanya Kay Morgan tanpa sadar, membuat Shayen Morgan menatapnya penuh tanda tanya.

"Apa?"

Kay Morgan menoleh. "Duit? Masa depan? Apa lagi? Kenapa nggak sekalian aja lo nunggu sampe bokap mati, terus ngasih hartanya ke lo... baru lo kasih tahu nyokap."

"Jaga omongan lo!" balas Shayen Morgan memperingati.

"Apa lo sekali pun nggak mikir perasaan mama, kalau dia tau anak-anaknya nyembunyiin hal kayak gini dari dia?" tanya Kay Morgan menatap sosok di hadapannya dengan sorot mata tidak percaya.

"Selama 2 Tahun! Dan lo masih belum berubah! Lo itu egois sejak awal, dan sekarang lo bahas tanggung jawab ke gue?" Kay Morgan berucap pelan. Cowok itu berusaha mengatur suaranya agar tidak sampai ke kamar orang tuanya.

"Basi, anjing!" Kay Morgan hendak berdiri dan kembali ke kamarnya, namun sebelah tangannya langsung dicekal oleh Shayen Morgan.

Sekarang Kay Morgan bisa merasakan seluruh atensi milik Shayen Morgan tertuju kepadanya. Dari tatapannya, saudaranya itu jelas bersungguh-sungguh menyesal. Tapi sayangnya Kay Morgan terlalu buta akan hal itu.

"Gue tau lo marah sama gue. Gue minta maaf, Kay."

"Gue minta maaf, gue janji bakal bikin keadaan kita lebih baik," bisik Shayen Morgan menggenggam erat jemari adiknya itu.

"Gimana caranya? Lo mau ngaku ke nyokap gitu aja? Kalau sampai nyokap tanya, kita tahu dari mana dan kapan, lo mau jawab apa? Mau bohongin dia lagi?" Kay Morgan kembali menuntut jawaban dari Shayen Morgan, namun sayangnya cowok itu hanya terdiam.

Sungguh, Kay Morgan ingin memukul wajah kakaknya saat ini.

"Sekarang mikir, kemana aja lo satu tahun ini?!" tuntut Kay Morgan seraya melempar tatapan sengit kepada Shayen Morgan.

"Lo gila-gilaan belajar biar pergi gitu aja, ke Boston! Kenapa?! Ada apa di sana?!" Suara Kay Morgan semakin tidak terkontrol. Beruntung orang tua mereka tidak sampai mendengarnya.

"Ada masa depan kita, Kay! Gue yang bakal nanggung beban keluarga kita kalau orang tua kita cerai! Lo pikir siapa yang bakal kerja nantinya kalau bukan gue?" jawab Shayen Morgan yang nyatanya hanya terdengar seperti omong kosong bagi Kay Morgan.

"Oh ya?! Bukannya lo pergi karena muak ada di rumah ini?!"

"Lo pasti tahu, kalau dulu kita kasih tahu yang sebenernya ke nyokap, keadaan kita lebih baik dari sekarang! Kita nggak pernah butuh duit, itu cuma alibi biar lo bisa kabur dari masalah kita!"

Skakmat!

Balasan tajam milik Kay Morgan berhasil membuat bibir Shayen Morgan terkatup kaku.

"Lo nggak pernah peduli, gimana keadaan gue sama nyokap di sini," gumam Kay Morgan menatap lamat sosok di hadapannya.

Perlahan, tanpa sadar tatapan Kay Morgan berubah sendu. Menatap figur yang nyatanya pernah menjadi sosok yang paling dirinya kagumi. Tapi itu dulu, karena sekarang tidak ada yang tersisa kecuali rasa sakit dan kebencian terhadap saudaranya itu.

"Bokap pernah bawa selingkuhannya ke rumah."

Kay Morgan tanpa mengalihkan pandang. Mantap lurus wajah milik saudaranya itu. Kedua tangan Kay Morgan terkepal kuat, berusaha menahan sesak ketika mengucapkan satu kalimat itu dengan lantang.

"Bokap selalu mikir, anaknya yang nggak berguna ini nggak ada di rumah. Selalu ngelayap sampe nggak tau waktu. Oh! Mungkin juga dia lupa, kalau dia masih punya satu anak yang nggak berguna di rumah! Makannya dia sampe berani bawa selingkuhannya ke sini," lanjut Kay Morgan dengan bibir mulai bergetar.

Di tempatnya, pandangan Shayen Morgan berubah kosong. Terlihat jelas, jika cowok itu terkejut sekarang. Menangkap itu, Kay Morgan tersenyum miring.

"Kenapa, kaget?" ejeknya sebelum menarik nafas dalam berkali-kali. Kay Morgan mengalihkan pandang—menghindari tatapan milik Shayen Morgan yang nyatanya sukses membuat kedua bola matanya memanas.

"See? Lo bohong. Dia nggak berubah." Kay Morgan tertawa miris, merasa begitu bodoh dan menyedihkan. "Gue bener-bener bego karena percaya sama lo, dulunya."

"Seharusnya dulu gue sadar, kalau lo sama sekali nggak tau apa-apa karena terlalu sibuk sama masa depan lo."

"Oh! Lo tahu, tapi nggak peduli," lanjut Kay Morgan meralat ucapannya dengan suara lemah.

Dengan sekali gerakan, Kay Morgan menarik tangannya yang masih berada di genggaman Shayen Morgan. Cowok itu mengusap wajahnya kasar. Merasa frustasi dengan keadaan.

"Gue minta maaf." Suara itu kembali lolos dari bibir Shayen Morgan untuk kesekian kali.

Shayen Morgan merasa sangat menyesal telah meninggalkan keluarganya begitu saja. Pastilah sulit berada di posisi Kay Morgan, bersandiwara seolah tidak tahu apapun di hadapan mamanya. Seolah cowok itu baik-baik saja. Semua orang beranggapan ketika Shayen Morgan memutuskan pergi ke Boston, Kay Morgan adalah orang yang paling tidak peduli dengan hal itu.

Mereka salah, nyatanya Kay Morgan adalah orang yang paling hancur ketika Shayen Morgan memilih pergi dari tanah air. Ya... pergi begitu saja, meninggalkannya tanpa rasa bersalah setelah menempatkan dirinya pada posisi tersulit.

Sungguh brengsek!

"Lo pernah mikir nggak, gimana perasaan gue setiap liat mama?" lirih Kay Morgan tiba-tiba.

"Asal lo tau, gue bahkan nggak berani makan bareng dia, duduk bareng dia! Karena setiap natap mata dia aja, gue ngerasa kayak anak durhaka!"

"Lo yang buat gue kayak gitu ke mama, dan sekarang lo balik cuma mau bahas jaminan masa depan dan duit ke gue?"

Menoleh, Kay Morgan menatap hampa sosok Shayen Morgan di hadapannya. "Asli, lo jahat banget kak."

Detik selanjutnya, merasa sudah tidak tahan berlama-lama berada di satu atmosfer dengan Shayen Morgan, figur jangkung Kay Morgan beranjak. Melangkahkan kakinya meninggalkan Shayen Morgan untuk kembali ke kamarnya.

Sungguh, menyakitkan ketika harus berbicara dengan Shayen Morgan setelah 1 tahun lamanya. Tapi nyatanya keduanya sama-sama sakit. Tidak ada yang baik-baik saja di rumah itu ketika Shayen Morgan memilih pergi Di tempatnya Shayen Morgan tertunduk, cowok itu menahan tangisnya sekarang. Merasa sangat menyesal dan sesak setelah mendengarkan curahan hati dari Kay Morgan. Ini tidak berjalan sesuai rencananya. Seharusnya keadaan tidak bertambah buruk seperti saat ini.

Lalu bagaimana dengan perasaan Anastasya, nantinya?

Flasback 19 November 2019

Kay Morgan. Bocah 15 tahun itu saat ini tengah berdiri di depan gerbang sekolahnya. Menunggu kehadiran seseorang dengan tidak sabar. Tak lama setelahnya, seulas senyum menghiasi wajah tampannya, ketika sosok yang dinantikannya datang.

Shayen Morgan, cowok dengan seragam putih abu-abu itu datang dengan kendaraannya. "Lama banget!" keluh Kay Morgan mendekat ke arah kakaknya.

"Macet," seperti biasa, kakaknya itu hanya menjawab dengan singkat.

Dasar es batu!

"Lo udah beli hadiahnya?" tanya Kay Morgan antusias dan dibalas anggukan oleh Shayen Morgan.

"Udah di tas, ayo naik." Kay Morgan yang saat itu masih mengenakan celana sekolah biru tua mengangguk lantas membonceng di belakang Shayen Morgan. Melingkarkan kedua tangannya di perut sang kakak.

"Nggak usah peluk!"

"Kalau gue jatuh gimana?" sewot Kay Morgan yang sukses membuat Shayen Morgan tersenyum kecil diam-diam. Keduanya lantas melaju untuk membelah hiruk pikuk jalanan kota Jakarta dengan kecepatan sedang.

Tidak memakan waktu lama, mereka sampai ke tempat tujuan. Dua saudara itu sekarang sudah berdiri di depan bangunan besar yang menjulang tinggi. Kantor pengacara swasta milik Freddy Morgan papa mereka.

"Kita kasih kejutannya kalau di rumah aja, ya?" Kay Morgan menggeleng sebelum berjalan mendahului kakaknya untuk masuk ke dalam.

Hari ini ulang tahun papanya, Kay Morgan sangat antusias untuk memberi kejutan di hari spesial untuk papanya itu. Bukan apa-apa, hanya saja mama mereka sedang sibuk ke luar kota untuk menjenguk nenek mereka yang baru saja selesai operasi. Pasti lah papa mereka senang mendapat kejutan kecil dari kedua putranya.

"Ayo, kak!" seru Kay Morgan menoleh ke arah Shayen Morgan yang masih berdiri di samping motornya.

Duh! Kakaknya itu emang kayak orang mageran sejak dulu, dari tadi pengen pulang. Untung aja Kay Morgan paksa sampai doi mau. Jelas lah Shayen Morgan bakal luluh dan nurutin semua keinginan adiknya kalau udah gitu.

Setelah meminta izin untuk menemui Freddy Morgan kepada penjaga resepsionis, akhirnya mereka masuk ke kantor sang papa. Maklum, yang punya perusahaan aja papa mereka sendiri, ya bebas keluar masuk mereka.

"Bokap lagi ada urusan, kita pulang aja." Lagi-lagi suara Shayen Morgan kembali membujuk.

"Bentar doang, elah! Katanya juga bentar lagi selesai," sanggah Kay Morgan seraya menyalakan pemantik api, untuk menghidupkan lilin diatas kue ulang tahun mini yang mereka beli.

Oh! Mereka juga membawakan sebuah hadiah untuk Freddy, yang dibeli dengan uang jajan mereka. Yeah pastilah Shayen Morgan yang berkontribusi lebih banyak untuk menuruti permintaan adiknya itu.

Kay Morgan mengangkat wajahnya, menatap ruangan berdominasi abu-abu itu dengan tatapan menilai. "Eh! Kita sembunyi di sana. Kalau bokap dateng kita keluar, terus nyanyi lagu selamat ulang tahun," ujar Kay Morgan seraya mengangkat kue ulang tahun dengan kedua tangannya.

"Nggak," tolak Shayen Morgan merasa geli membayangkan reka adegan yang Kay Morgan katakan.

Mendengar tolokan itu, Kay Morgan berdecak. "Nggak apa-apa, setahun sekali." Ya gimana dong, nasib punya kakak yang gengsinya tinggi, terus sebelas dua belas sama kulkas ya harus ekstra kalau maksa.

"Nggak mau, gue! Lo aja yang nyanyi."

"Nyanyi bareng lah, kak."

"Nggak mau, Kay. Gue balik kalau lo maksa."

"Ck! Iya-iya," dengus Kay Morgan seraya mendorong kakaknya untuk bersembunyi di salah satu ruangan kecil di sana. Keduanya sudah memposisikan diri di tempat paling aman.

Papa mereka—Freddy Morgan jelas tidak akan menyangka akan mendapat kejutan dari mereka. Kay Morgan tersenyum senang diam-diam.

Keduanya masih bersembunyi, sampai suara derap langkah terdengar mendekat. Langsung saja Kay Morgan menoleh, memberi kode melalui tatapannya kepada Shayen Morgan untuk bersiap-siap. Cowok SMA itu hanya mengangkat jempolnya.

Namun kehadiran sosok lain setelah papa mereka membuat langkah keduanya terhenti. Dia adalah Miranda, sekretaris Freddy Morgan. Perempuan itu tidak lah asing untuk Kay Morgan dan Shayen Morgan, karena ketika mereka menyempatkan mampir ke kantor—ia selalu ada di ruangan papa mereka.

Kay Morgan menoleh lagi, memberi isyarat untuk menundanya sampai sosok Miranda pergi.

"Selamat ulang tahun, mas. Kita jadi dinner bareng kan?"

Kay Morgan mengernyit, itu jelas bukan kalimat yang semestinya diucapkan kepada sesama rekan kerja.

Kay Morgan berjinjit untuk mencapai kaca tembus pandang di atas, karena tingginya saat itu belum seberapa jika dibandingkan sekarang.

"Makasih, sayang. Jadi dong, aku udah pesan hotel untuk kita nanti."

"Aku harus kabarin anak-anak dulu kalau nggak bisa pulang. Soalnya Anastasya masih di Bandung. Mereka sendirian di rumah."

Mendengar hal itu kedua mata Kay Morgan mengerjap, linglung.

Tiba-tiba saja Kay Morgan merasakan tubuhnya ditarik ke belakang dengan pelan oleh seseorang. Shayen Morgan secara mendadak menarik tubuhnya ke dalam dekapan cowok itu, menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan tangan besarnya.

Tapi percuma, Kay Morgan masih bisa mendengar percakapan dari luar sana dengan sangat jelas.

"Mereka nggak apa-apa ditinggal, mas?"

"Nggak masalah. Di rumah ada pelayan. Hari ini aku cuma mau habisin waktu bareng kamu aja."

Kay Morgan bisa merasakan tubuh Shayen Morgan ikut menegang di tempat. Mencoba mencerna keadaan, Kay Morgan berontak untuk melepaskan diri dari dekapan Shayen Morgan. Dirinya ingin melihat lebih banyak, apa yang Freddy Morgan lakukan bersama sekretarisnya.

"Shtttt... " bisik Shayen Morgan masih menahan Kay Morgan untuk tetap diam di tempat dan tidak mengeluarkan suara.

"Kita berangkat sekarang ya, aku udah kabarin anak-anak kalau lagi banyak kerjaan." Kay Morgan terperangah, cekalan pada kue ulang tahun untuk papa mereka perlahan melemah. Bibirnya terasa kering dan kaku.

Detik itu juga, Kay Morgan berniat keluar dari sana. Berteriak untuk memastikan keadaan kepada papa mereka—namun Shayen Morgan masih setia menahannya. Kakaknya itu pastilah gila, lantaran hanya diam saja mendapati papa mereka selingkuh dengan wanita lain.

Kay Morgan memberontak, namun tenaganya tidak sebanding dengan Shayen Morgan yang dua tahun lebih tua darinya. Kakaknya itu baru mau melepaskannya setelah Freddy Morgan dan Miranda keluar dari ruangan itu.

"Kenapa nahan gue?!" Kay Morgan langsung mendorong tubuh kakaknya itu. Membuang kue ulang tahun dari tangannya sebelum mengejar langkah papa mereka.

"Kay! Lo mau kemana?" Kay Morgan menoleh ketika Shayen Morgan mencekal lengannya.

"Nyamperin papa lah! Dia selingkuh! Kita harus kasih tahu mama, kak!" teriak Kay Morgan yang sudah tersulut emosinya.

"Terus apa?" tanya Shayen Morgan yang sukses membuat Kay Morgan kesal. Sial! Freddy Morgan bisa lolos jika Shayen Morgan terus menahannya.

"Terus apa, gimana maksud lo?!" balas Kay Morgan tidak suka dengan respon kakaknya.

Shayen Morgan masih diam ketika tatapan Kay Morgan menghujamnya. Mencoba menuntut sebuah jawaban. "Kita langsung balik!" Hanya kalimat itu yang lolos dari bibir Shayen Morgan.

Kay Morgan terdiam, bingung melihat respon tak berarti dari Shayen Morgan. Jelas-jelas papa mereka selingkuh dan yang dilakukan Shayen Morgan sebagai anak tertua hanya diam seraya memungut kue ulang tahun yang telah Kay Morgan buang?

"Shayen?!" seru Kay Morgan mendekat untuk menarik seragam kakaknya itu. "Kita kejar bokap, sekarang!" titah Kay Morgan ke arah Shayen Morgan.

Biasanya kakaknya itu akan langsung menurutinya. Tapi kali ini berbeda, sosok jangkung itu mengabaikannya.

Tubuh Kay Morgan bergeming, menatap kosong ke arah kakaknya yang kembali membereskan kue ulang tahun yang sudah tergeletak di lantai. Tak lama desisan tajam dari bibir Kay Morgan lolos.

Cowok itu terperangah di tempatnya. Nyaris tak percaya. "Lo udah tahu?" bisik Kay Morgan hati-hati ke arah kakaknya.

Namun lagi, seolah bisu—Shayen Morgan hanya bungkam.

Jantung Kay Morgan terpacu, amarahnya sudah tidak terbendung. Mendekat, cowok itu menendang kue di hadapan kakaknya. Mencoba menarik atensi cowok itu untuk mendongak ke arahnya.

"Jawab gue! Lo udah tahu kan?!"

"Ini urusan orang dewasa, kita nggak perlu ikut campur." Langsung saja Kay Morgan menarik kerah seragam Shayen Morgan.

"Udah berapa lama bokap kayak gitu?! Jawab, kenapa lo diem aja?! Harusnya lo kasih tahu ke nyokap!"

Shayen Morgan mencoba menyingkirkan cekalan Kay Morgan pada kerah seragamnya. "Emang kenapa kalau bokap selingkuh, asalkan nyokap nggak tahu—"

BUGH!

Tanpa berpikir panjang Kay Morgan memukul wajah kakaknya. Itu kali pertama untuk Kay Morgan memukul wajah seseorang. Tangannya langsung terasa sakit dan kebas, namun amarahnya terhadap reaksi kakaknya tak terbendung.

Kedua mata Kay Morgan mulai memanas, cowok itu merasakan dadanya mulai sesak. Rasanya sakit—baik hati dan tangannya terasa mati rasa sekarang.

"Kok lo gitu sih, kak!" seru Kay Morgan dengan bibir bergetar.

"Terus gue harus gimana?! Nangis kayak lo, terus laporin ke nyokap?!"

"Biar mereka cerai, hah?!" balas Shayen Morgan seraya menyeka darah segar yang keluar dari ujung bibirnya.

"Iya! Gue mau mereka cerai!" sanggah Kay Morgan penuh emosi. Tatapannya berapi-api menyorot lawan bicaranya. "Gue nggak mau mama punya suami bejat kayak dia!"

"Lo masih kecil, Kay! Belum tahu apa-apa soal kayak gini. Kalau mereka cerai nggak ada yang nafkahin mama. Kita masih butuh duit papa buat bisa sekolah."

"Lo pikir mama bisa cari duit sendiri?! Gue masih mau kuliah dan lo juga harus kuliah! Jadi anggep aja lo nggak liat kejadian ini!" teriakan milik Shayen Morgan terdengar ke penjuru ruangan.

Beruntung ruangan itu kedap suara.

Suasana hening menyelimuti keduanya.

Di tempatnya Kay Morgan masih menangis tanpa suara. Pandangannya mengabur menatap sosok tinggi Shayen Morgan yang saat ini mendekat ke arahnya. Kay Morgan mencoba melangkah mundur, namun dengan cekatan Shayen Morgan menahan kedua pundaknya. Kakaknya itu merendahkan tubuh untuk mensejajarkan tinggi mereka.

Ditatapnya kedua mata Kay Morgan sungguh-sungguh. Cekalan pada kedua pundaknya pun terasa semakin erat. "Gue janji, papa bakal berubah. Semua baik-baik aja. Jangan kasih tahu mama soal ini!" bisik Shayen Morgan lembut, sukses membuat Kay Morgan semakin terisak di tempatnya.

Anak malang, di umurnya yang masih 15 tahun—Kay Morgan harus menanggung sesuatu yang tidak seharusnya.

Shayen Morgan masih mencoba mengirimkan impuls melalui tatapannya. Seolah menghipnotis Kay Morgan untuk mengangguk dan menuruti ucapannya. "Sebelumnya gue selalu turutin semua ucapan lo, sekarang gantian."

Kay Morgan menggeleng keras, cowok itu mencoba melepaskan cekalan milik Shayen Morgan darinya. Namun gagal. "Turutin ucapan gue, sekali ini aja."

"Janji ke gue, Kay!" Saat meminta itu—Shayen Morgan pastilah tidak sadar, kalau dirinya telah memancing kebencian yang begitu besar dari adiknya.

Perlu kalian ketahui, kalau hari itu, Kay Morgan telah menjumpai dua orang jahat yang ternyata ikut andil dalam kehidupannya. Dan orang-orang jahat itu adalah papa dan kakaknya sendiri.

Flasback off…

Kay Morgan membanting pintu kamarnya, cowok itu kehilangan kendali. Pertahanannya runtuh saat ini. Apakah kalian tahu, kalau saat ini Kay Morgan tengah menangis?

Ya, benar-benar menangis, seolah merasa tidak adil mendapati hanya dirinya yang peduli sementara kakaknya tidak. Padahal Shayen Morgan lah yang membuat Kay Morgan berada dalam posisi saat ini. Mengatur napasnya berkali-kali, Kay Morgan mengusap air kedua matanya yang basah dengan kasar.

Sial! Nyatanya Kay Morgan masih menjadi cowok cengeng ketika berhadapan dengan kakaknya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Guys bagusnya tetap update 1 bab atau 2 bab komen dong...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
falea sezi
🤣 harusnya Rora di buat jago beladiri🤣🤣 ini menye menye bgt 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Prettygirls: Hmm belum tau aja,masih polos2 itu
total 1 replies
Prettygirls
Serius yahh udah ku update 🤣
falea sezi
lanjut q kirim bunga🤣
Prettygirls
Hi kak falae bantu like yah biar semangat terus nulisnya🙏
falea sezi
🤣🤣🤣🤣kau bkin baper semua tau🤭
Enz99
bagus
Prettygirls: Terima kasih kak jangan lupa baca buku yg cinta terlarang diantara kita saudara tiri🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!