Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Apa Itu?
Hari semakin gelap. Karissa dan Davi sudah menunggu di dalam mobil. Mereka pun sudah menghubungi Karina dan memintanya untuk datang ke pintu masuk gedung.
Setelah dua puluh menit menunggu, Karina tidak kunjung datang. Karissa sangat cemas dengan hal itu. Ia bergegas turun dari dalam mobil, bersiap mencarinya ke dalam.
"Kariss, kau mau pergi ke mana?" tanya Davi ketika Karissa sudah turun dari mobil. "Jangan mencarinya ke dalam! Itu berbahaya!"
Davi segera turun dari mobil dan menghampiri Karissa.
"Jangan, Kariss!" Ia menarik tangan Karissa dan mencegahnya pergi. "Kita tunggu di sini saja! Kakakmu pasti datang!"
Kalau Karina tidak kunjung datang, berarti wanita itu memang berbohong dan ingin menjebak Karissa lagi. Itulah yang Davi pikirkan.
"Kita tidak bisa terus menunggu Karin di sini! Aku harus mencarinya ke dalam, Davi! Lepaskan aku!"
Karissa menghempaskan tangan temannya, bersiap pergi ke kawasan gedung tua yang sudah puluhan tahun tidak digunakan itu untuk mencari kakaknya. Ia menyalakan senter di ponselnya untuk menerangi jalan.
"Kariss!" panggil Davi lagi dengan panik. Ia bersiap mengejarnya.
Namun ketika Davi hendak mengejar Karissa, tiba-tiba dari arah kiri terlihat semak-semak terus bergerak, lalu ada suara rintihan.
"Kariss, suara apa itu? Jangan-jangan hewan buas! Ayo kita pergi, cepat!" teriak Davi sambil menarik ujung pakaian Karissa.
Cahaya dari sorot lampu mobil yang dibiarkan menyala tidak mampu menerangi sesuatu yang ada di balik semak-semak itu.
"Aaauhhhhmm!" Suara rintihan mulai terdengar lagi.
Bunyi ranting kecil yang terinjak terdengar sangat jelas.
"Kariss, ayo!" Davi menarik Karissa semakin kuat.
Ia segera membuka pintu mobilnya dan mendorong Karissa masuk ke dalam.
Davi pun masuk dan duduk di kursi pengemudi.
Dari dalam mobil, mereka masih memperhatikan pergerakan itu. Takut kalau yang muncul adalah hewan buas, Davi mulai menyalakan mesin dan bersiap menginjak pedal gas.
"Dav, lihat ... apa itu?" Karissa menajamkan mata untuk melihat sosok yang keluar dari semak-semak.
"Apa itu hantu?" tebak Davi dengan perasaan takut.
"Lihat saja rambutnya panjang terurai ke depan, jalannya membungkuk, suara raungannya sangat jelas. Kariss, itu pasti hantu! Ayo kita pergi!"
Dengan jantung berdebar, Davi bersiap menginjak pedal gas.
Namun tiba-tiba, Karissa berteriak.
"Karin???"
Davi tidak jadi menginjak pedal gas. Ia segera melihat ke arah pandangan Karissa.
"Apa kau yakin itu Karin?" tanya Davi, masih dengan jantung berdebar karena takut.
"Ya, aku yakin itu Karin!"
Naluri seorang adik tidak akan salah. Karissa segera turun dari mobil dan berlari menghampiri sosok yang disangka hantu oleh Davi.
"Karin!" Langkah Karissa semakin pelan.
Ia melihat bahwa wajah itu benar-benar wajah kakaknya. Ia segera memanggil kakaknya lagi,
"Karin!"
Wanita itu mendongak, menatap Karissa dengan tatapan sayu. Rambut panjangnya terlihat sangat berantakan.
"Karisss!"
Bruk!
Karina ambruk ke tanah. Tangan kanannya berlumuran darah, dengan luka lecet di wajah dan kakinya.
"Karin! Ada apa? Kau kenapa?" teriak Karissa.
Dengan cepat, ia berlari menghampiri wanita itu, lalu berjongkok dan membantu kakaknya bangun.
"Karin, bangun! Karin ... cepat bangun!"
Karissa menggoyangkan tubuh kakaknya. Terlihat banyak darah di tangan ketika Karissa menyentuh lengan Karina. Darah pun mulai mengenai pakaiannya.
"Hah, darah???" lirih Karissa dengan tubuh bergetar.
"Davi, Karin terluka! Bantu aku membawanya ke dalam mobil. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!" teriak Karissa kepada Davi, membuat pria itu berlari ke arahnya.
Melihat kondisi Karina yang menyedihkan, Davi pun tidak tega. Ia segera berjongkok, lalu mengangkat Karina dan membawanya ke dalam mobil.
Mereka segera membawanya ke rumah sakit.
Hari sudah sangat malam. Karissa berdiri di depan ruang rawat dengan perasaan gelisah. Pakaiannya yang berwarna abu-abu muda kini sudah kotor dan tercium bau amis darah.
Saat ini, Karina sedang menjalani pemeriksaan dan mungkin akan segera mendapatkan jahitan pada luka robek yang cukup dalam di tangannya.
"Kariss, sebaiknya kau pulang dulu! Pakaianmu sangat kotor! Tidak enak sampai dilihat orang!" ucap Davi kepada Karissa.
"Biar aku yang menjaga Karin! Kau pulanglah dulu!"
Padahal, pakaian Davi pun sama kotornya dengan pakaian Karissa. Bahkan, darah Karina lebih banyak menempel di pakaiannya daripada di pakaian Karissa. Namun, ia mau Karissa segera pulang dan membersihkan diri. Davi tidak ingin sahabatnya itu terus melamun di depan pintu ruang rawat dengan penampilan seperti itu.
"Tidak!" tolak Karissa. "Aku tidak akan pergi sebelum memastikan Karin baik-baik saja!"
"Kau harus yakin, kakakmu baik-baik saja! Tidak sampai dioperasi berarti kondisinya tidak terlalu parah," ucap Davi meyakinkan.
"Lebih baik sekarang kau pulang dulu! Setelah mandi dan mengganti pakaian, kau bisa kemari lagi," bujuknya.
Karissa mulai mengerti. Ia mempertimbangkan saran dari teman baiknya itu.
"Baiklah!" Akhirnya Karissa setuju. "Aku pulang dulu! Mungkin satu jam lagi aku kembali!"
"Oke! Kau tidak perlu khawatir! Aku akan di sini untuk menunggu Karin!"
"Hem!" Karissa mengangguk. "Aku pergi dulu, ya!"
Ia berbalik badan dan bersiap pergi.
"Eh, tunggu!" Tiba-tiba Davi memanggilnya.
"Nih, pakailah!" Davi memberikan kunci mobilnya kepada Karissa. "Pakai saja mobilku, biar lebih cepat!"
'Benar juga!'
Karissa segera mengambil kunci mobil Davi. "Baiklah, aku pinjam sebentar!"
"Ya, pakailah! Hati-hati di jalan!"
Setelah itu, Karissa segera pergi. Ia pulang ke rumah dengan pakaian yang berlumuran darah.
Pukul sebelas malam, jalanan sudah tidak semacet tadi siang. Karissa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Tuan Lee. Ia menghiraukan pengguna jalan lain yang mungkin terganggu dengan caranya berkendara.
Kalau tidak mengebut, dirinya akan lebih lama untuk sampai ke rumah sakit lagi. Karissa ingin secepat mungkin pulang ke rumah dan segera kembali ke rumah sakit.
Setelah mengendarai mobilnya bak seorang pembalap, akhirnya mobil itu sampai juga di halaman rumah Tuan Lee.
Karissa menatap kursi belakang dan melihat ada noda darah di sana. Ia segera membersihkannya terlebih dahulu. Setelah selesai, barulah ia masuk ke dalam rumah.
Rumah besar dan mewah itu sekarang tampak sepi. Semua orang sudah tidur dan tidak ada lagi aktivitas. Karissa berjalan mengendap-endap menaiki anak tangga. Ia terus melangkahkan kakinya dengan pelan menuju kamar Tuan Lee.
Ketika tangannya hendak menyentuh pegangan pintu, tiba-tiba seseorang menutup mulutnya dan membawanya ke kamar lain. Gerakannya sangat cepat, membuat Karissa tidak bisa melawan atau menolak.
Klik!
Pintu kamar ditutup dengan pelan, lalu dikunci. Orang itu segera melepaskan Karissa.
Terdengar suara dingin dan tajam bertanya kepada Karissa, "Dari mana saja jam sebelas malam baru pulang?"
"Lo-Louis?" Karissa tidak menjawab pertanyaannya.
Ia masih terkejut dengan tindakan pria itu yang tiba-tiba membawanya masuk ke dalam kamar.
"Apa kau pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter itu lagi?" tanyanya dengan penuh kecemburuan. Sorot matanya tajam menatap wanita di depannya.
"Iya, aku dari rumah sakit! Memangnya kenapa?" jawab Karissa dengan lantang.
Ia tidak mau terlihat lemah di depan pria ini. Toh, dirinya memang benar-benar dari rumah sakit. Sama sekali tidak berbohong.
Tangan Louis terkepal erat ketika mendengar jawaban wanita itu.
Namun, seketika ia melihat banyak noda darah di pakaian Karissa.
"Kau kenapa?" tanyanya sambil menyipitkan mata.
Ia menatap noda darah itu dengan penuh kecurigaan.