Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku Mas Bule

Jodohku Mas Bule

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: mitha

Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.

Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.

Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.

Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Bahagia Selamanya

Satu tahun telah berlalu sejak pernikahan Retna dan Nathan.

Kehidupan mereka berjalan sederhana, tetapi penuh kebahagiaan.

Nathan tetap menjadi pria yang perhatian.

Ia tidak pernah memperlakukan Retna seperti seseorang yang harus membayar kesalahan masa lalu.

Sebaliknya, Nathan selalu membuat Retna merasa bahwa dirinya berharga.

Retna pun perlahan benar-benar melupakan ketakutan yang dulu selalu menghantuinya.

Namun suatu hari, sebuah kabar datang.

Kabar tentang Arman.

Retna sedang duduk bersama Nathan ketika ibunya menelepon.

"Nak, kamu sudah dengar kabar tentang Arman?"

Retna terdiam.

Nama itu sudah lama tidak pernah ia dengar.

"Belum, Bu. Memangnya ada apa?"

Ibunya menarik napas.

"Arman dan Claudia mengalami kecelakaan."

Retna langsung terdiam.

"Kecelakaan?"

"Iya."

"Bagaimana keadaan mereka?"

"Claudia meninggal di tempat."

Retna menutup mulutnya.

Untuk beberapa saat, ia tidak mampu berkata apa-apa.

Kemudian ibunya melanjutkan.

"Arman masih hidup. Tapi kondisinya kritis."

Retna menunduk.

Meskipun Arman pernah menghancurkan hatinya, mendengar seseorang mengalami kecelakaan tetap membuatnya sedih.

Beberapa hari kemudian, kabar berikutnya datang.

Arman berhasil melewati masa kritis.

Namun kecelakaan itu meninggalkan dampak permanen.

Kedua kakinya mengalami kerusakan parah dan membuatnya harus menggunakan kursi roda untuk menjalani sisa hidupnya.

Retna tidak pernah berniat mengunjunginya.

Ia merasa masa lalu seharusnya tetap menjadi masa lalu.

Namun beberapa minggu kemudian, Arman justru meminta bertemu.

Awalnya Retna ragu.

Tetapi setelah berdiskusi dengan Nathan, akhirnya ia bersedia.

"Aku akan menemanimu," kata Nathan.

Retna menggeleng.

"Tidak perlu. Saya ingin menyelesaikannya sendiri."

Nathan mengangguk.

"Baik. Tapi aku akan menunggumu."

Ketika Retna tiba di rumah sakit, ia melihat Arman duduk di atas kursi roda.

Pria yang dulu pernah menjadi suaminya itu terlihat jauh berbeda.

Wajahnya lebih kurus.

Tatapannya tidak lagi penuh kesombongan.

Begitu melihat Retna, Arman menunduk.

"Retna."

Retna berdiri beberapa langkah darinya.

"Bagaimana keadaanmu?"

Arman tersenyum pahit.

"Seperti yang kamu lihat."

Hening.

Kemudian Arman menarik napas panjang.

"Aku ingin meminta maaf."

Retna terdiam.

"Aku tahu permintaan maafku tidak akan mengubah apa pun."

Arman menunduk.

"Dulu aku punya seorang istri yang begitu tulus mencintaiku."

Retna tidak menjawab.

"Aku punya perempuan yang selalu berusaha mempertahankan rumah tangga kami."

Suara Arman bergetar.

"Tapi aku justru menyia-nyiakannya."

Retna menatapnya.

"Aku terlalu sibuk mengejar sesuatu yang kupikir lebih baik."

Arman menelan ludah.

"Aku meninggalkan perempuan yang benar-benar mencintaiku demi seseorang yang ternyata tidak seperti yang kubayangkan."

Retna tetap diam.

"Aku menyesal, Retna."

Untuk pertama kalinya, Retna melihat penyesalan yang benar-benar tulus dari mata pria itu.

Namun ia juga tahu bahwa tidak semua penyesalan harus berakhir dengan kembali bersama.

"Arman..."

"Iya?"

"Saya sudah memaafkanmu."

Arman terdiam.

"Tapi saya tidak bisa kembali."

"Aku tahu."

"Saya sudah menikah."

"Aku juga tahu."

Retna tersenyum tipis.

"Dan saya bahagia."

Arman menunduk.

"Aku senang mendengarnya."

Retna berdiri.

"Semoga kamu juga bisa menemukan kedamaian dalam hidupmu."

Arman mengangguk.

"Terima kasih."

Retna kemudian meninggalkan ruangan itu.

Tidak ada dendam.

Tidak ada keinginan untuk membalas.

Hanya sebuah akhir.

Sesampainya di luar rumah sakit, Nathan sudah menunggunya.

Retna langsung menghampirinya.

"Sudah selesai?"

Retna mengangguk.

"Sudah."

Nathan menggenggam tangannya.

"Bagaimana perasaanmu?"

Retna tersenyum.

"Lega."

Nathan mencium keningnya.

"Kalau begitu, ayo pulang."

Retna mengangguk.

Pulang.

Satu kata itu kembali membuat hatinya hangat.

Beberapa bulan kemudian, kehidupan Retna dan Nathan semakin lengkap.

Pagi itu, rumah mereka dipenuhi suara tangisan bayi.

Nathan berjalan mondar-mandir sambil menggendong seorang bayi laki-laki.

Sementara Retna berada di kamar bersama bayi perempuan mereka.

Ya.

Mereka dikaruniai sepasang anak kembar.

Seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Nathan menatap kedua anaknya dengan mata berkaca-kaca.

"Aku masih tidak percaya kita punya dua anak."

Retna tertawa.

"Mas sendiri yang bilang ingin keluarga kecil."

"Ini bukan kecil lagi."

"Kenapa?"

"Karena mereka dua."

Retna tertawa.

Nathan kemudian duduk di sampingnya.

Ia memandang Retna dengan penuh kasih.

"Terima kasih."

Retna mengerutkan kening.

"Untuk apa?"

"Untuk memilihku."

Retna tersenyum.

"Terima kasih juga karena sudah membuat saya percaya bahwa cinta kedua bisa lebih indah daripada yang pertama."

Nathan menggenggam tangannya.

"Kamu pantas bahagia."

Retna menatap kedua anak mereka.

Dulu ia pernah berpikir bahwa pernikahan hanya akan membawa luka.

Ia pernah takut mempercayai seorang pria lagi.

Ia pernah merasa bahwa masa lalunya akan selalu menjadi bayangan.

Namun hidup membuktikan bahwa seseorang tidak harus selamanya terjebak dalam luka.

Kadang-kadang, setelah kehilangan sesuatu yang salah, Tuhan mempertemukan seseorang dengan hal yang jauh lebih baik.

Nathan bukan penyelamat Retna.

Ia adalah pasangan yang berjalan bersamanya.

Menghargainya.

Mendengarkannya.

Dan mencintainya tanpa menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk merendahkannya.

Retna tersenyum sambil memandang keluarganya.

Nathan duduk di sampingnya.

Putra dan putri mereka tertidur dengan tenang.

Rumah itu sederhana.

Kehidupan mereka juga tidak sempurna.

Tetapi hati Retna terasa penuh.

Sebab setelah semua luka yang pernah ia lalui, akhirnya ia menemukan apa yang selama ini ia cari.

Bukan pernikahan yang sempurna.

Melainkan rumah yang penuh cinta.

Dan kali ini...

Retna tahu, ia tidak akan pernah sendirian lagi.

TAMAT

1
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!