Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bentrokan di Atas Kanal Rawa dan Bayangan Masa Lalu
Ledakan bola api yang dilepaskan oleh Feng Lie menyisakan pijaran cahaya merah jingga di langit malam rawa, memantulkan bayangan kobaran api di atas permukaan air kanal yang keruh. Suhu di sekitar kanal mendadak naik secara drastis, mengubah udara lembap malam itu menjadi panas menyengat bagaikan berada di dalam kuali peleburan logam.
Di atas punggung Burung Badai Api yang mengepakkan sayap raksasanya dengan bising, Feng Lie berdiri dengan postur angkuh. Jubah merah menyala bersulam benang emas bergambar matahari terik berkibar hebat diterpa angin kencang. Sorot matanya memancarkan keangkuhan mutlak seorang jenius dari sekte besar wilayah tengah yang terbiasa melihat segala hal bertekuk lutut di hadapannya.
"Gu Yan-Zhi! Keberuntunganmu habis di tempat kumuh ini!" teriak Feng Lie dengan suara menggelegar, memecah kesunyian hutan bakau. Ia mengangkat tangan kanannya, mengalirkan energi elemen api tingkat delapan yang membentuk pusaran api kecil di ujung jari telunjuknya. "Dalam hitungan detik, aku akan meratakan perahu kecilmu beserta seluruh pengikutmu menjadi abu!"
Di dalam perahu, pengayuh bayaran yang dikirim oleh Tuan Mo terkapar lemas tak berdaya, wajahnya pucat pasi akibat tekanan spiritual tingkat delapan yang menekan dada dan organ dalamnya. Gu Chen dengan sigap berdiri di depan Gu Ruoxi, menggenggam tongkat besi erat-erat meskipun otot tangannya bergetar hebat menahan beban aura yang menindih.
Gu Ruoxi menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata sejenak untuk memfokuskan energi spiritualnya, bersiap memberikan peringatan dini jika musuh melancarkan serangan jarak jauh berikutnya.
Namun, Gu Yan-Zhi tetap berdiri tegak di haluan perahu dengan ketenangan mutlak yang luar biasa. Tidak ada secercah pun rasa gentar di wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan sirkulasi energi keemasan dari Kitab Pembalik Langit mengalir lancar ke seluruh jalur meridian tubuhnya, menetralisir gelombang tekanan panas yang dikirimkan oleh Feng Lie.
"Feng Lie, kau terlalu percaya diri dengan kultivasi tahap delapan yang kau peroleh dari sumber daya sekte besar," jawab Gu Yan-Zhi dengan nada suara yang tenang, datar, namun terdengar sangat jelas menembus deru angin dan api. "Kekuatan yang dibangun di atas fondasi kesombongan ibarat istana di atas pasir; sekecil apapun guncangan, seluruh bangunannya akan runtuh berkeping-keping."
Mendengar dirinya direndahkan oleh seorang buronan yang tingkat kultivasinya berada jauh di bawahnya, wajah Feng Lie langsung menggelap menahan amarah yang meledak-ledak. Urat-urat di pelipisnya menegang.
"Bocah kurang ajar! Beraninya kau menceramahiku?!" murka Feng Lie. "Rasakan ini! Tebasan Matahari Pembakar Jiwa!"
Fwhuuu—Syuuuuung!
Feng Lie melompat turun dari punggung burung raksasanya, melesat cepat ke udara bagaikan meteor merah yang menukik tajam ke arah perahu. Ia mengayunkan telapak tangannya yang diselimuti kobaran api dahsyat, menciptakan bilah energi berbentuk bulan sabit raksasa yang meluncur deras membelah udara, mengincar langsung ke arah Gu Yan-Zhi.
Bagi kultivator biasa, serangan tingkat delapan tersebut mustahil ditangkis secara langsung. Daya hancurnya sanggup meratakan seluruh kanal air dan perahu dalam sekali hajar.
Namun, Gu Yan-Zhi sudah membaca pola pergerakan itu sejak detik pertama.
"Yijie, lindungi Gu Chen dan Ruoxi!" perintah Gu Yan-Zhi melalui telepati.
Hu Yijie melompat gesit dari bahu Gu Yan-Zhi, memancarkan perisai energi putih berkilau yang menutupi bagian tengah perahu, melindungi Gu Chen dan Gu Ruoxi dari gelombang panas gelombang kejut.
Pada saat yang bersamaan, Gu Yan-Zhi mengaktifkan Langkah Bayangan Kosmik dikombinasikan dengan Pengendalian Ruang Mikro. Alih-alih menghindar ke samping, Gu Yan-Zhi justru melangkah maju menyambut serangan tersebut. Jari telunjuk kanannya menunjuk lurus ke depan, memicu distorsi spasial di titik pusat bilah api musuh.
Bum—Tranggg!
Sebuah ledakan energi yang luar biasa dahsyat mengguncang permukaan kanal rawa. Air di sekitar perahu terangkat ke udara membentuk kubah air raksasa akibat benturan gelombang panas dan energi keemasan.
Feng Lie mendarat di atas dahan pohon bakau seberang kanal, menatap tajam ke arah pusat ledakan dengan alis berkerut kaget. Ia menyadari bahwa tebasan mutlaknya tidak berhasil merobek tubuh Gu Yan-Zhi, melainkan terbelokkan ke samping dan menghancurkan gugusan pohon bakau hingga tumbang terbakar.
"Apa-apaan itu tadi?!" geram Feng Lie dalam hati, merasakan sensasi aneh di mana serangannya seolah ditelan oleh ruang kosong yang tidak terlihat. "Bagaimana mungkin seorang kultivator tahap tiga bisa menangkis jurus utamaku?!"
Asap tebal dan uap air perlahan-lahan menipis di atas permukaan kanal. Gu Yan-Zhi berdiri di atas haluan perahu tanpa cacat sedikit pun, jubah hitamnya berkibar tenang diterpa angin sisa ledakan.
"Hanya itu kemampuan dari murid jenius Sekte Langit Berkobar?" ucap Gu Yan-Zhi dengan nada mencemooh yang dingin. "Jika tetua di sekte pusat tahu bahwa murid unggulan mereka kesulitan menghadapi seseorang yang berada empat tingkat di bawahnya, mereka pasti akan merasa sangat malu."
Feng Lie mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang membakar jiwanya kini telah mencapai batas puncaknya. Ia menarik napas panjang, membiarkan simbol matahari di jubahnya memancarkan pendar cahaya merah yang menyilaukan mata, bersiap mengeluarkan jurus pamungkas yang jauh lebih mematikan.
Di tengah ketegangan yang kian memuncak di atas air rawa perbatasan itu, fajar perlahan mulai menyingsing di ufuk timur, membawa secercah cahaya pertama yang akan menyaksikan babak penentuan pertarungan antara sang Jenderal Langit dan bayangan masa lalunya.