Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Bukti
Sam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat istrinya yang tertawa sampai bersimbah air mata di atas karpet. Senyum maklum terukir manis di wajah tegap sang mantan pawang buaya. Bagaimanapun juga, Sam sangat memaklumi keraguan Tia. Mana ada staf admin biasa yang bisa langsung percaya kalau 'suami kredit'-nya yang biasa menggaruk punggung buaya dan makan tempe orek kasbonan, mendadak berubah jadi pimpinan tertinggi konglomerat bernilai triliunan rupiah dalam waktu semalam?
"Ketawa terus, Mbak... Puas-puasin dulu ketawanya," ledek Sam santai sambil bersedekap dada, mengamati Tia yang masih menyeka air mata giginya.
"Aduh, Mas Sam... habisnya kamu melawaknya kebangetan!" kekeh Tia seraya mendudukkan dirinya kembali, menepuk-nepuk pipinya yang kaku. "Arah halusinasi kamu itu lho, ketinggian! Masa direktur Norman Corp?! Nia saja baru diterima jadi staf biasa di sana sudah sujud syukur, ini kamu malah ngaku-ngaku jadi bos besarnya!"
"Aku tidak halusinasi, Mbak," ujar Sam dengan nada suara yang mendadak berubah sangat tenang, dalam, dan berwibawa. Pandangan matanya begitu lurus menatap Tia. "Aku mengerti ini sulit dipercaya karena semuanya terjadi begitu cepat. Tapi aku beneran tidak bohong. Dan malam ini juga, aku bakal buktikan ke Mbak Tia."
Tia menghentikan sisa tawa kecilnya, mengerutkan dahi melihat raut wajah Sam yang mendadak berubah begitu serius. Ada aura kewibawaan yang sangat asing namun begitu menekan terpancar dari tubuh tegap suami sewaannya itu.
"Buktikan?" tantang Tia sambil mengangkat sebelah alisnya, mencoba mempertahankan keraguan walau dadanya mulai berdesir aneh. "Boleh! Coba buktikan sekarang! Gimana cara Mas CEO membuktikannya?!"
Sam tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan gerakan tenang dan elegan, ia meraba saku kaus oblong abu-abunya, mengeluarkan ponsel canggih terenkripsi khusus yang diberikan oleh Hendra. Sam menggeser layarnya, lalu menekan tombol panggil cepat. Ia sengaja mengaktifkan mode speakerphone agar Tia bisa mendengar setiap detail pembicaraan.
Hanya dalam satu detik, panggilan itu diangkat.
"Selamat malam, Mas Sam," suara Hendra terdengar sangat jernih, tegap, dan penuh penghormatan di ujung telepon. "Ada instruksi darurat untuk operasional holding malam ini?"
Tia yang mendengar suara berwibawa dari pria yang dikenalnya sebagai 'Paman Hendra' itu sempat tertegun kecil.
"Malam, Mas Hendra," sahut Sam santai namun tegas. "Tolong siapkan rumah pribadi milik Papa yang sudah dibalik nama atas namaku. Aku mau move-in malam ini juga bersama istriku."
Di ujung telepon, Hendra sama sekali tidak mempertanyakan keputusan mendadak sang bos muda. "Baik, Mas Sam. Kediaman utama di kawasan perumahan elite Menteng Indah sudah dalam kondisi siap huni. Kunci master, tim kebersihan, dan pengamanan pribadi sudah disiagakan. Ada hal lain?"
"Tolong jemput aku dan Mbak Tia di kontrakan sekarang juga pakai mobil dinas," lanjut Sam, melirik Tia yang mulai mengedipkan matanya kaku. "Satu lagi, Mas Hendra... aku sudah jujur sama Mbak Tia soal statusku sebagai CEO Norman Corp. Tapi sekarang istriku lagi tidak percaya dan mengira aku halusinasi. Jadi tolong bawa bukti otentik berkas kepemilikan saham dan balik nama asetnya sekalian."
Di ujung saluran, Hendra terkekeh pelan. "Sangat dipahami, Mas Sam. Tim pengawalan dan armada mobil dinas akan tiba di kontrakan dalam waktu sepuluh menit. Berkas kepemilikan aset resmi atas nama Samsudin Norman sudah saya bawa di dalam koper."
"Terima kasih, Mas Hendra."
Tut... tut... tut...
Panggilan terputus. Sam meletakkan ponselnya kembali ke atas meja lipat, lalu menatap Tia dengan senyuman paling manis. "Nah, pembuktian bagian pertama selesai. Sekarang kita tunggu lima menit lagi, Mbak."
Tia yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa menahan tawa giginya dengan wajah merona canggung. Hatinya bertarung hebat antara rasa tidak percaya dan kebingungan tingkat dewa.
'I-ini Samsudin beneran lagi akting telepon-teleponan sama Paman Hendra, atau mereka berdua lagi bikin Prank YouTube?!' batin Tia menjerit histeris.
"Mas Sam... kamu niat banget ya bikin dramanya," kekeh Tia sambil bersedekap dada, berusaha menutupi desiran halus di dadanya. "Pakai minta jemput mobil dinas segala! Awas ya kalau yang datang malah angkot carteran Pak Ujang!"
"Lihat saja nanti, Mbak Tia," jawab Sam terkekeh penuh misteri.
Tepat tujuh menit kemudian, keheningan gang sempit kontrakan mereka mendadak pecah. Suara deru mesin mobil berkapasitas silinder raksasa yang sangat halus namun bergema berat membelah malam. Lampu sorot putih yang begitu terang menerobos masuk dari sela-sela tirai jendela rumah kontrakan Tia.
Suara kasak-kusuk tetangga dan teriakan heboh emak-emak gang mendadak riuh di luar.
"Aduh! Mobil siapa itu gede banget?!"
"Gila! Itu mobil Rolls-Royce Phantom bukan sih?! Harganya belasan miliar itu!"
"Masa berhenti di depan rumah kontrakan Si Tia?!"
Tia yang mendengar celotehan tetangganya seketika membatu. Keningnya berkerut dalam-dalam. Dengan rasa penasaran yang membuncah, Tia berdiri dan berjalan ragu menuju jendela, lalu menyibak tirainya sedikit.
Deg!
Mata Tia membelalak selebar-lebarnya. Mulutnya menganga kaku.
Di depan halaman rumah kontrakannya yang sempit dan berdebu, terparkir sebuah mobil sedan super mewah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam berkilat yang begitu anggun. Di belakangnya, dua mobil SUV hitam berplat nomor khusus mengawal ketat.
Pintu mobil Rolls-Royce itu terbuka. Hendra, yang kini mengenakan setelan jas tebal bernilai puluhan juta rupiah lengkap dengan pin emas Norman Corp di dadanya, turun seraya memegang sebuah koper kulit hitam tebal. Empat orang pengawal pribadi berbadan tegap dengan kacamata hitam dan earpiece melangkah sigap membentuk barisan pengawalan di halaman kontrakan.
Hendra melangkah tegap menuju pintu rumah Tia, lalu mengetuknya dengan penuh rasa hormat.
Tok! Tok! Tok!
"Selamat malam, Mas Sam, Mbak Tia," suara Hendra terdengar dari luar. "Penjemputan dan berkas aset sudah siap."
Tia mematung bagaikan patung garam di balik jendela. Jantungnya berdegup begitu kencang bagaikan mau meledak menembus dadanya. Seluruh persendian di tubuhnya terasa melorot lemas.
Ia menoleh perlahan ke arah Samsudin yang sedang berdiri santai di belakangnya. Pria berotot tegap itu hanya tersenyum polos seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Nah, Mbak Tia..." ujar Sam lembut, mengulurkan telapak tangannya yang hangat ke hadapan istrinya. "Mobil dinasnya sudah sampai. Mau pembuktian selanjutnya di rumah baru kita?"
adiknya memuji suami,
penasaran ntar as acara perkenalan sang CEO, hebohnya gimana tuh 😄