'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Aneka.
...~•Happy Reading•~...
Beberapa waktu kemudian, Nelson, Angga dan Monce tiba di sebuah restoran mewah di kota. Mereka diantar pelayan ke meja yang telah direservasi Angga.
"Emang duit bisa membawa seseorang ke tempat yang aduhai nikmat. Thanks Angga." Nelson memegang kuat pundak Angga sebagai rasa terima kasih, sudah mentraktir mereka di hari bahagianya.
"Aku setuju denganmu, Son. Aku baru pernah makan di resto yang beginian. Beda kalau punya duit. Thanks Angga." Monce tidak malu mengakui.
Angga menautkan kepalan tangannya kepada Monce dan Nelson dengan senang hati, bisa membahagiakan mereka. "Pesan menu sesuka kalian. Aku yang ini, ini, ini..." Angga menunjuk daftar menu.
"Angga, kita pesan menu berbeda saja, nanti share." Usul Nelson yang melihat berbagai jenis menu lezat di daftar menu.
"Good." Monce mengangkat jempol, karena ingin mencicipi berbagai rasa menu yang disediakan.
"Emang beda summa cumlaude." Angga mengangkat jempol, setuju.
"Begitu saja, isi otak dibawa-bawa." Nelson melempar tinju ke arah Angga.
"Sebelum kunya, kau mau teruskan ke mana? Mau langsung kuliah, atau kerja?" Tanya Angga kepada Nelson yang sudah lulus.
"Mmmm... Aku rencana kuliah lagi, karna mau jadi dosen..." Nelson menjelaskan rencananya.
"Berarti kita sama. Aku juga berencana kuliah di luar daerah untuk ambil S2. Insyaallah aku lulus ujian." Nelson dan Monce mengaminkan harapan Angga.
"Lalu gimana denganmu, Ce. Mau lanjut ke mana?" Tanya Angga.
"Aku gak lanjut. Balik ke kampung ngurusin usaha orang tua. Aku rasa cukup, kalau lulus..." Monce menjelaskan rencananya. "Nanti ijazahku dilaminating, gantung di punggung buat dilihat ikan." Ucapan Monce membuat mereka tertawa.
"Ya, semoga kita sukses dengan rencana dan pilihan karier kita." Nelson mengangkat gelas air mineral dan menyentuh pinggiran gelas Angga dan Monce yang juga diangkat.
Mereka membuat harapan bagi masa depan masing-masing, sebelum pelayan menyajikan menu.
~••
Setelah makan siang, Angga mengantar Nelson pulang. "Son, aku gak antar ke dalam, ya. Kami berdua mau bertemu dosen pembimbing." Ucap Angga, saat tiba di depan komplek perumahan Nelson.
"Iya. Aku turun di tepi jalan saja. Kalau di dalam, nanti kalian harus turun." Nelson setuju, agar orang tuanya tidak meminta Angga dan Monce turun dan membuat mereka terlambat.
Ketika tiba di rumah, Nelson terkejut melihat Papanya ada di rumah. "Papa gak masuk kerja?"
"Papa sengaja cuti buat menunggu kau ujian. Papa gak bisa konsentrasi kerja."
Nelson memeluk Papanya, disusul oleh Mamanya yang mendekat dengan air mata berlinang. "Terima kasih, Pa, Ma." Hati Nelson jadi penuh melihat mata Papanya juga ikut berkaca-kaca atas keberhasilannya.
"Jadi kau masih jadi Asdos?" Pak Esra ingin tahu.
"Iya, Pa. Itu rencananya." Nelson menjawab setelah melepaskan pelukan Mama Papanya.
"Kalau Nel mau kuliah lagi, Papa Mama sudah siapkan kebutuhanmu untuk kuliah di luar." Pak Esra mengatakan dengan bangga, berharap Nelson jadi dosen.
"Makasih, Pa, Ma. Semoga aku bisa dapat beasiswa, supaya gak terlalu memberatkan Papa Mama..." Nelson menceritakan yang sudah dilakukan, mencari sponsor untuk beasiswa.
"Baik. Mari kita berdoa untuk yang kau peroleh hari ini dan buat rencana kuliah selanjutnya." Pak Esra mengajak bersyukur.
~•~
Beberapa waktu kemudian, setelah lulus ujian, Nelson makin sibuk mengajar sebagai asisten dosen dan juga membantu Angga dan Monce menyelesaikan skripsi. Hingga tidak terasa tiga minggu telah berlalu.
Hari ini Nelson kembali mengajar sebagai asisten dosen. Mahasiswa yang mengikuti kuliah tidak ada yang bolos, karena sangat senang dengan cara mengajar Nelson yang memiliki pengetahuan luas.
Respon mahasiswa membuat Nelson makin bersemangat dan tidak sabar tunggu wisuda, agar dia bisa melanjutkan kuliah untuk memperoleh gelar S2 sebagai syarat menjadi dosen.
Ketika selesai mengajar dia berjalan cepat ke tempat parkir motor. Agar tidak tertahan oleh mahasiswa yang kadang mengajak bicara pribadi setelah berada di luar ruangan kuliah.
"Kak Nelson, sudah mau pulang?" Tanya Alena yang tiba-tiba mendekati dia sebelum naik motor.
"Iya. Kau baru selesai kuliah?" Nelson heran melihat Alena sendiri di tempat parkir tanpa teman-temannya.
"Tidak, Kak. Tadi agak lama diperpus. Pas mau pulang, lihat Kak Nelson. Aku belum ngucapin selamat, atas kelulusannya." Alena mengulurkan tangan menyalami.
"Terima kasih." Nelson menyalami, walau bingung melihat sikap Alena makin ramah, manis dan sopan. Sehingga dia tidak tega membiarkan Alena sendiri.
Nelson melihat sekitar yang mulai sepi. "Kau belum mau pulang?" Tanya Nelson, karena dia mau pulang.
"Mau pulang, Kak. Tapi aku masih mau minta bantuan Kak Nelson."
"Bantuan apa?" Nelson meletakan helm di atas jok motor.
"Beberapa waktu ini, judul skripsiku, selalu minta diganti. Begitu juga dengan tempat penelitian..." Alena menjelaskan dengan wajah sedih.
"Aku sudah bikin beberapa judul dan konsepnya. Kak Nelson tolong lihat, ya." Alena memohon.
"Mana aku lihat." Nelson merasa tidak enak, karena Alena sudah minta bantuan kedua kali dan dia baru lulus ujian dengan prestasi sangat baik. Nanti dikira sombong.
"Aku gak bawa, Kak. Aku gak nyangka akan bertemu Kak Nelson di sini."
"Kalau begitu nanti saja, dua hari lagi aku ngajar..." Nelson mengatakan jadwal mengajar sebagai asisten dosen.
"Apa Kak Nelson gak bisa lihat sekarang? Aku tinggal di sana." Alena menunjuk ke arah belakang perumahan dosen.
"Baik. Aku lihat sekalian pulang. Tapi aku gak bawa helm lain." Nelson memperlakukan Alena seperti kepada Evie, Angga dan Monce yang sering berdiskusi dengannya.
"Di sini gak pa'pa, Kak." Alena langsung mendekati motor, agar Nelson tidak berubah pikiran.
"Baik. Silahkan naik." Nelson mempersilahkan Alena. "Kasih tahu jalannya." Ucap Nelson sambil jalan pelan keluar dari halaman kampus.
Ketika tiba di tempat tujuan, Nelson melihat lingkungan tempat tinggal Alena dengan dahi berkerut. "Keluargamu belum pulang?" Nelson mengira Alena tinggal dengan orang tuanya, karena tidak ada tulisan tempat kost.
"Belum, Kak. Masuk saja. Gak pa'pa." Alena membuka pintu dan mempersilahkan Nelson masuk sebelum Nelson bertanya lebih lanjut.
Nelson memarkir motor lalu ikut masuk. Dia terkejut melihat dalam ruangan ada tempat tidur. 'Ini bukan ruang tamu, tapi kamar.' Nelson membatin dan ragu melangkah.
"Itu laptopnya di sana, Kak." Alena menutup pintu dan menyalakan AC, lalu membuka laptop.
"Kenapa ke sini? Mengapa tidak di ruang tamu saja?" Nelson protes.
"Di sini saja, Kak. Jadi gak ganggu yang lain." Alena menarik tangan Nelson ke meja belajarnya.
Walau bingung dengan rumah Alena, Nelson segera periksa yang dimaksudkan Alena agar lekas selesai. "Alena, semua judul ini bagus. Tapi hati-hati pilih tempat penelitiannya, karna kau wanita."
"Jangan terlalu jauh ke daerah seperti ini, sangat riskan. Ada tempat yang lebih dekat dan lingkungannya lebih ramah." Nelson fokus dan menunjuk layar laptop.
"Yang mana, Kak?" Alena bertanya sambil memeluk leher Nelson dari belakang.
"Alena, menjauh !" Bentak Nelson yang membeku. Dia merasakan tangan Alena mulai turun mengelus dada sambil bibir giat mencium lehernya.
...~•••~...
...~•○♡○•~...