Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke Pantai

“Tuan, kita nggak perlu ke mall. Kita ke pantai saja, gimana?”

Areksa yang sedang fokus menyetir hanya melirik sekilas ke arahnya. “Saya nggak dengar. Bisa kamu ulangi?”

Adira menghela napas pelan. Ia tau laki-laki itu sengaja membuatnya mengulang.

“Mas,” ucapnya sedikit lebih jelas. “Kita ke pantai saja. Boleh?”

Senyum tipis muncul di sudut bibir Areksa. “Baiklah.”

Adira mengerutkan kening. “Kok gampang banget?”

“Memangnya kamu kira saya bakal nolak?”

“Saya kira Mas lebih suka ke mall.”

“Saya memang lebih sering ke mall. Tapi hari ini kan kamu yang pilih.”

Adira terdiam sesaat. “Jadi… nggak masalah?”

“Kenapa harus masalah?”

Adira hanya menggeleng kecil.

Mobil pun terus melaju meninggalkan pusat kota menuju kawasan pantai.

Beberapa saat kemudian, Areksa kembali membuka suara.

“Kamu yakin mau ke pantai? Sekarang jam 2 siang loh. Masih terik."

"Yakin.”

“Panas.”

“Justru biasanya kalau siang begini pantainya lebih sepi. Kita cuma mengitari pantai, bukan berjemur.”

Areksa terkekeh pelan. “Baiklah. Sesuai keinginan kamu.”

Namun, beberapa puluh menit kemudian, ketika mereka akhirnya tiba, perkiraan Adira justru meleset sedikit.

Langit yang sejak tadi terlihat mendung semakin dipenuhi awan kelabu. Angin pantai berembus cukup sejuk dan suasananya jauh dari kata terik.

Adira menatap keluar jendela. “Sepertinya cuacanya berubah.”

Areksa ikut melihat ke langit. “Untung bukan hujan.”

“Kalau hujan bagaimana?”

“Kita cari tempat berteduh.”

“Terus pulang?”

“Kenapa harus langsung pulang?”

Areksa mengangkat bahu. “Kita bisa makan sesuatu sambil menunggu hujan reda.”

Adira tanpa sadar tersenyum kecil.

Mereka kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju pinggir pantai.

Benar saja, tempat itu cukup sepi. Mungkin karena bukan hari libur dan cuacanya juga mendung. Hanya ada beberapa orang yang berjalan di kejauhan.

Adira berdiri beberapa langkah dari bibir pantai. Ia membiarkan angin menerpa wajahnya, lalu menarik napas dalam-dalam.

Areksa berdiri di sampingnya. “Kamu suka pantai?”

Adira menggeleng pelan. “Nggak terlalu.”

“Lalu kenapa pilih pantai?”

“Dibandingkan mall...” Adira melirik ke sekeliling. “Saya lebih suka tempat seperti ini. Nggak banyak orang.”

Areksa mengangguk. “Benar juga.”

Adira kemudian menoleh kepadanya. “Kalau Mas?”

“Saya?”

“Iya. Mas suka pantai?”

“Tidak terlalu.”

“Kenapa?”

“Saya lebih suka naik gunung.”

Adira tampak sedikit terkejut. “Mas suka naik gunung?”

“Dulu.”

“Dulu?”

“Sekarang jarang punya waktu.”

Adira mengangguk-angguk kecil. “Kenapa lebih suka gunung?”

Areksa memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Lebih tenang. Nggak banyak suara. Udara dingin. Dan..."

Areksa berhenti sejenak. “Kadang saya memang butuh tempat yang jauh dari semuanya.”

"Berarti kita sama,” Ucap Adira pelan.

Areksa menoleh. “Sama?”

“Saya juga suka tempat yang membuat saya bisa melupakan semuanya sebentar.”

Areksa tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Adira beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.

“Kalau begitu, hari ini kita sama-sama melupakan semuanya sebentar.”

Adira tersenyum. “Iya.”

Mereka berjalan menyusuri tepian pantai. Awalnya langkah mereka masih berjarak. Adira sesekali menunduk memperhatikan pasir yang basah, sementara Areksa berjalan santai di sampingnya.

Sampai sebuah ombak kecil datang dan membasahi ujung sandal Adira.

“Ah!” Adira spontan mundur.

Areksa tertawa. “Kenapa kaget begitu?”

“Saya nggak menyangka airnya sampai sini.”

“Namanya juga pantai.”

Adira meliriknya kesal. “Mas jangan ketawa.”

“Saya nggak ketawa.”

“Mas ketawa.”

“Buktinya?”

Adira menatap wajahnya yang masih jelas menahan tawa. “Itu.”

Areksa akhirnya tertawa lepas.

Adira menggeleng, tetapi senyum kecil ikut muncul di wajahnya.

Mereka kembali berjalan.

Beberapa langkah kemudian, Areksa berhenti.

“Adira.”

“Iya?”

“Kamu mau main air?”

Adira menoleh ke arah laut, kemudian kembali menatap Areksa. “Main air?”

“Iya.”

“Saya kira kita cuma jalan-jalan.”

“Rencana bisa berubah.”

Adira tertawa kecil. “Mas ini sebenarnya umur berapa?”

“Kenapa?”

“Kayak anak kecil.”

Areksa tersenyum. “Kalau kamu takut basah, bilang saja.”

“Saya nggak takut.”

“Yakin?”

“Yakin.”

Areksa melangkah mendekati air.

Adira masih berdiri di tempat.

“Mas!”

“Apa?”

“Jangan jauh-jauh.”

Areksa menoleh dengan senyum jahil. “Katanya nggak takut?”

“Saya cuma bilang jangan jauh.”

“Baik.”

Ia berjalan kembali mendekat.

Namun saat sebuah ombak kecil datang, Areksa sengaja menendang air ke arah Adira.

Cipratan air mengenai kakinya.

Adira langsung terdiam.

Areksa pura-pura tidak tau. “Kenapa?”

Adira menatapnya tajam. “Mas.”

“Iya?”

“Mas barusan nyipratin saya?”

“Nggak.”

“Bohong.”

“Saya cuma jalan.”

Adira menyipitkan mata. “Baiklah.”

Ia membungkuk sedikit, kemudian dengan ujung kakinya menendang air ke arah Areksa.

Cipratan kecil mengenai celana laki-laki itu.

Areksa menatap celananya. Lalu menatap Adira.

Adira langsung menahan tawa. “Maaf.”

“Adira.”

Adira mundur satu langkah. “Iya?”

“Kamu ngajak perang?”

“Nggak.”

Areksa melangkah mendekat.

Adira langsung mundur lagi. “Mas jangan.”

“Kamu tadi yang mulai.”

“Saya cuma membalas.”

“Berarti mengaku.”

Adira tertawa dan mulai berlari kecil menjauh.

“Adira!”

“Jangan kejar!”

Areksa justru mengejarnya.

Adira berlari menyusuri tepian pantai sambil tertawa. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan Areksa tidak terlalu dekat, tetapi justru membuat langkahnya semakin kacau ketika melihat laki-laki itu semakin mendekat.

“Mas! Jangan!”

“Berhenti dulu!”

“Kalau saya berhenti, Mas bakal nyipratin saya!”

“Ya memang.”

“Nah, kan!”

Adira tertawa lebih keras.

Areksa akhirnya berhasil mendekat dan mencipratkan sedikit air ke arah kakinya.

Adira membalas tanpa ragu. Kini keduanya benar-benar seperti anak kecil yang lupa waktu.

Tidak ada pembicaraan tentang masa lalu.

Tidak ada pembicaraan tentang pernikahan mereka.

Tidak ada pertanyaan tentang apa yang akan terjadi setelah semua ini.

Hanya ada suara ombak, angin pantai, dan tawa Adira yang untuk pertama kalinya terdengar begitu lepas.

Sampai akhirnya Adira berhenti karena kelelahan. Ia membungkuk sedikit sambil mengatur napas, masih tertawa.

“Areksa berhenti beberapa langkah di depannya.

“Capek?”

“Capek.”

“Menyerah?”

Adira mengangkat wajah. “Nggak.”

Areksa terkekeh. “Masih mau lanjut?”

Adira menggeleng sambil tersenyum. “Nanti saja.”

Mereka kemudian berjalan kembali menyusuri pantai dengan langkah lebih pelan.

Sejak mereka pergi dari rumah, Adira tidak lagi merasa sedang berusaha menyesuaikan diri dengan keberadaan Areksa.

Ia hanya menikmati sore itu.

Dan tanpa disadarinya, senyum di wajahnya bertahan cukup lama.

Areksa meliriknya sekilas. “Senang?”

Adira mengangguk. “Iya.”

“Berarti pilihan pantainya nggak salah.”

Adira menatap laut di hadapan mereka. “Terima kasih, Mas.”

Areksa tersenyum kecil. “Sama-sama.”

***

Setelah puas berkejar-kejaran di tepian pantai, Adira akhirnya berhenti sambil mengatur napas. Tawa kecil masih terdengar dari bibirnya.

Namun, belum sempat mereka kembali berjalan, satu tetes air jatuh mengenai pipi Adira.

Ia mendongak.

Tetes kedua menyusul. Lalu semakin banyak.

“Adira, hujan!”

Adira ikut melihat ke langit. “Iya. Berteduh dulu.”

Areksa justru melihat ke arah mobil yang terparkir tidak terlalu jauh.

“Langsung aja ke mobil, Dira. Mumpung masih gerimis.”

“Ya sudah.”

Tanpa banyak bicara, Areksa langsung meraih tangan Adira.

“Ayo.”

Adira refleks menoleh ke tangan mereka yang kini saling menggenggam.

Sesaat ia terdiam.

Entah karena udara yang tiba-tiba terasa dingin atau karena genggaman itu, jantungnya justru berdetak lebih cepat.

Areksa sudah lebih dulu berlari kecil menuju mobil, sementara Adira mengikutinya.

Ia masih memperhatikan tangan mereka.

Aneh. Biasanya ia akan langsung menarik tangannya.

Namun kali ini tidak.

Adira membiarkan Areksa menggenggam tangannya sampai mereka tiba di mobil.

Begitu sampai, Areksa segera membuka pintu untuknya.

“Masuk.”

Adira buru-buru masuk ke dalam mobil. “Terima kasih.”

Areksa menutup pintu Adira, lalu berlari kecil mengitari mobil dan masuk ke kursi pengemudi.

Begitu duduk, ia langsung menoleh kepada Adira.

“Basah.”

Adira menatap bajunya yang memang sudah terkena gerimis cukup banyak.

“Kan tadi saya bilang berteduh dulu.”

Areksa menghela napas. “Ya, neduhnya bisa di mobil.”

Adira mendengus pelan. “Kenapa nggak bilang dari awal?”

“Kalau saya bilang dari awal, kamu mau berhenti main air?”

Adira terdiam. “...Nggak.”

Areksa tertawa kecil. “Nah.”

Ia kemudian memperhatikan pakaian Adira yang terlihat cukup basah. Beberapa bagian kain bahkan mulai menempel karena terkena air.

Areksa langsung membuka kompartemen belakang. “Untung saya selalu bawa jaket sama baju ganti.”

Ia mengambil sebuah jaket dan menyerahkannya kepada Adira. “Pakai jaket saya dulu.”

Adira menerima jaket itu.

“Baju kamu lumayan basah. Dan...” Areksa berhenti sejenak, lalu mengalihkan pandangan. “Itu terlalu terlihat.”

Adira baru menyadari maksudnya. Ia langsung menarik jaket tersebut dan mengenakannya.

“Ah, iya.”

Kemudian ia menoleh. “Mas sendiri pakai apa?”

“Saya ada kemeja ganti.”

Areksa mengambil tas kecil dari bagian belakang mobil.

Tanpa banyak berpikir, ia membuka kemejanya yang basah.

Adira langsung membeku. Pipinya seketika memanas. “Kenapa harus di sini?”

Areksa berhenti sejenak dan menatapnya heran. “Saya cuma ganti baju. Memangnya ada yang salah?”

“Gak tau!”

Adira buru-buru mengalihkan wajah ke arah jendela.

Areksa hanya menggeleng kecil, lalu mengambil kemeja pengganti dari tasnya.

“Kalau begitu, jangan lihat.”

“Saya memang nggak lihat.”

“Dari tadi kamu yang paling heboh.”

“Mas!”

Areksa tertawa pelan.

Adira semakin memalingkan wajahnya, pura-pura sibuk memperhatikan hujan yang mulai turun lebih deras di luar.

Beberapa saat kemudian, suara Areksa terdengar lagi.

“Sudah.”

Adira perlahan menoleh.

Areksa sudah mengenakan kemeja bersih dan sedang merapikan lengan bajunya.

Adira mengembuskan napas lega tanpa sadar.

Areksa menangkap ekspresi itu. “Kamu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

Areksa melirik Adira yang masih memalingkan wajah ke arah jendela.

“Wajah kamu merah.”

Adira spontan menyentuh pipinya. “Ini panas.”

“Panas?”

Areksa menatapnya heran. “Adira, saya bahkan sudah nyalakan AC. Di luar juga hujan. Panas dari mana?”

Adira terdiam beberapa detik. “Ya... pokoknya panas.”

Areksa menahan senyum. “Bilang aja kamu terpesona.”

Adira langsung menoleh. “Tuan!”

“Oh...” Areksa sengaja memperpanjang ucapannya. “Jadi Tuan lagi?”

Adira langsung sadar dirinya keceplosan. “Bukan begitu.”

Areksa justru mematikan mesin mobil sebentar dan sedikit mendekat.

Adira refleks mundur. “Mas—”

“Kenapa?”

Adira menelan ludah, lalu buru-buru membenarkan. “I-iya, maksud saya Mas.”

Areksa tersenyum puas. “Nah. Begitu lebih enak didengar.”

Adira menghela napas panjang. “Sudah, mending kita pulang. Kasihan Aretha.”

Areksa akhirnya kembali duduk tegak di kursinya. “Baiklah.”

Ia menyalakan mesin mobil, lalu terkekeh kecil. “Padahal saya cuma bercanda.”

Adira mendengus sambil kembali menatap jendela. “Saya tau.”

“Tapi kamu panik.”

“Nggak.”

“Panik.”

“Mas...”

“Iya?”

“Diam.”

Areksa tertawa kecil. “Iya, okeee.."

Adira menahan senyum.

Di luar, hujan semakin deras. Namun anehnya, suasana di dalam mobil justru terasa jauh lebih hangat daripada sebelumnya.

1
Syti Sarah
selmat ya Adira 😍😍
sunaryati jarum
Selamat atas kehamilannya Adira, semoga bayi dan kamu sehat.Thoor segera kuak kalau Adira itu Little girl nya Areksa,agar rasa insecure Adira hilang.
Fegajon: iya 2 bab lagi, tenang aja😎
total 1 replies
Syti Sarah
mungkin Adira hamil kli ya
sunaryati jarum
Coba jika kamu tidak mengharapkan dinikahi Areksa,kamu tidak mempermasalahkan pernikahan Adira dan Areksa Felicia,itu juga karena olahmu yang ingin menjebak Areksa.Memang Adira itu mungkin jodoh Areksa setelah Aruna.
anakkeren
rasain lo fel
sunaryati jarum
Kau yang memberi obat perangsang tapi Adira yang digagahi Areksa.Lagia Adira itu orang yang selama ini dicari Areksa.Jepit dan liontin Aruna,itu milik Adira dari Areksa, maka Areksa mengira Aruna little girl nya
Syti Sarah
rasain kamu fel,ktahuan kn akal licik kamu
sunaryati jarum
Jika tahu Adira little girl kamu,kamu menyesal telah membentaknya.Jika kau mencintai Adira kenapa bisa tertarik pada Aruna.Semoga kalian makin dekat dan terungkap bahwa kamu cinta pertama suamimu
Fegajon: sebentar lagi ka
total 1 replies
sunaryati jarum
Areksa padahal barang itu milik Adira sebelum diberikan kepada Aruna
Syti Sarah
waaah,cri Msalah mmang ya kamu reksa
sunaryati jarum
Sedikit demi sedikit little girl nya dekat,pasti nanti sangat bahagia
sunaryati jarum
Mama mertua the best tahu cara membantu putranya untuk dekat dengan istrinya /Good//Heart//Heart/
sunaryati jarum
Memang dia punya magnet untuk menarik kamu Nak Arka
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!