Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Suasana pagi di gedung baru Zeros Records terasa sangat bising dan kacau.

Ratusan orang berbaris panjang mengular dari pintu kaca utama hingga ke trotoar jalanan di luar.

Kabar bahwa The Zeros sedang mencari anggota baru telah menyebar luas di media sosial sejak semalam.

Clara berdiri di balik meja audisi dengan tumpukan kertas formulir pendaftaran yang sudah menggunung tinggi.

"Kak Stevan, aku tidak menyangka yang datang akan sebanyak ini," ucap Clara sambil memijat bahunya yang pegal.

"Bahkan ada artis dari agensi kecil yang ikut mengantre di luar sana."

Stevan duduk santai di kursi kulit besarnya sambil memegang ponsel di tangan kanannya.

Ia mengetik sebuah balasan singkat dan menunjukkannya kepada Clara.

"Mereka hanya lalat yang mencari tumpangan ketenaran gratis."

"Panggil peserta nomor urut lima puluh sekarang," lanjut tulisan di layar ponsel Stevan.

Clara menghela napas panjang dan memanggil nama peserta berikutnya melalui pengeras suara kecil.

"Peserta nomor lima puluh, silakan masuk!" seru Clara.

Krieeet...

Pintu ruang audisi terbuka dan seorang pemuda tampan dengan gaya rambut kekinian melangkah masuk dengan sangat percaya diri.

Pemuda itu mengenakan jaket kulit mahal dan tersenyum merayu ke arah Clara.

"Halo, namaku Kevin. Aku punya puluhan ribu pengikut di media sosial," ucap Kevin dengan nada bangga.

"Aku yakin wajahku akan sangat cocok untuk menjadi visual utama di Zeros Records."

Clara mengerutkan keningnya mendengar perkenalan yang sama sekali tidak menyinggung soal musik tersebut.

"Silakan tunjukkan kemampuan bernyanyi atau bermain alat musikmu, Kevin," pinta Clara dengan sopan namun tegas.

Kevin tertawa pelan dan mengibaskan rambutnya dengan gaya sok tampan.

"Aku tidak terlalu pandai menyanyi, tapi aku bisa melakukan lip sync dengan sangat gaya," jawab Kevin tanpa rasa malu sedikit pun.

Mata Stevan seketika menatap tajam ke arah pemuda itu dengan pandangan yang sangat dingin dan merendahkan.

Ia menekan sebuah tombol bel kecil di mejanya dengan sangat keras.

Teeet!

"Hei, kenapa kau membunyikan bel itu? Aku belum selesai bicara," protes Kevin dengan wajah kesal.

Stevan mengangkat ponselnya yang sudah berisi kalimat penolakan berukuran besar.

"Studio ini bukan tempat penampungan sampah visual, keluar sekarang," bunyi tulisan di layar ponsel Stevan.

Wajah Kevin langsung memerah padam menahan malu dan amarah.

"Kau pikir kau siapa?! Mentang-mentang sedang viral kau bisa merendahkanku?!" bentak Kevin sambil menunjuk Stevan.

Stevan sama sekali tidak merespons, ia hanya menatap Kevin dengan pandangan kosong seolah menatap dinding.

Dua orang petugas keamanan yang baru saja disewa Stevan pagi ini langsung masuk dan menyeret Kevin keluar ruangan.

"Lepaskan aku! Label kalian pasti akan bangkrut dalam sebulan!" teriak Kevin dari luar pintu.

Clara mengusap wajahnya dengan kedua tangan, merasa sangat lelah dengan tingkah laku para pelamar.

"Ini sudah peserta kelima puluh dan belum ada satu pun yang benar-benar bisa bermusik, Kak," keluh Clara dengan suara parau.

"Mereka semua hanya ingin menjadi artis instan tanpa mau berusaha keras."

Stevan mengetik pesan lagi untuk menenangkan vokalis utamanya itu.

"Mencari berlian di tumpukan batu koral memang butuh kesabaran ekstra."

"Panggil peserta selanjutnya, kita tidak akan berhenti sampai kita menemukan yang asli," ketik Stevan.

Clara mengangguk patuh dan kembali melihat daftar nama di kertas pendaftarannya.

"Peserta nomor lima puluh satu, silakan masuk!" panggil Clara lagi.

Kali ini, pintu terbuka dengan sangat pelan dan ragu-ragu.

Krieeet...

Seorang pemuda kurus dengan rambut sedikit gondrong yang berantakan melangkah masuk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Pemuda itu mengenakan kemeja kotak-kotak yang kebesaran dan celana jeans pudar.

Di punggungnya, ia membawa sebuah tas ransel hitam yang terlihat sangat berat dan penuh.

"A-aku... n-nomor lima puluh satu," ucap pemuda itu dengan suara yang sangat pelan dan tergagap.

Matanya terus bergerak gelisah melihat ke arah lantai, sama sekali tidak berani menatap Stevan maupun Clara.

Clara tersenyum ramah mencoba membuat pemuda itu merasa nyaman.

"Halo, silakan perkenalkan namamu dan apa kemampuan musikmu," ucap Clara lembut.

Pemuda itu meremas ujung kemejanya dengan kedua tangan yang gemetar.

"N-nama... namaku Leo," jawab Leo sambil terus menatap ujung sepatunya sendiri.

"A-aku... aku membuat suara... dari mesin."

Clara saling berpandangan dengan Stevan, sedikit kebingungan dengan cara bicara Leo yang sangat aneh dan patah-patah.

"Maksudmu kau memproduksi musik elektronik?" tanya Clara mencoba menebak.

Leo menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang sangat cepat dan berulang-ulang.

"Y-ya... elektronik... synthesizer," gumam Leo pelan.

Stevan menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap Leo dengan pandangan menilai.

Pemuda di depannya ini jelas memiliki masalah dalam komunikasi sosial, kemungkinan besar ia berada dalam spektrum autisme.

Di industri hiburan yang mengutamakan penampilan dan kemampuan bersosialisasi, orang seperti Leo biasanya akan dibuang sejak tahap pertama.

Namun Stevan bukan mencari seorang bintang iklan, ia mencari seorang monster musik.

Stevan mengetik sebuah instruksi dan memutar ponselnya ke arah Leo.

"Keluarkan senjatamu dan tunjukkan pada kami," baca Leo dari layar ponsel Stevan dengan suara berbisik.

Leo segera meletakkan tas ransel besarnya ke lantai dengan gerakan terburu-buru.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!