Indonesia
NovelToon NovelToon
Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Lari Saat Hamil / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nova sari

Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.

Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.

Sejak itu Lorenzo mengurungnya.

"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."

Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adik Baru Leon Luna Lahir

Mansion De Luca jam 02.13 pagi.

Semua lampu menyala terang.

Elena terbangun dengan perut mules hebat. Bukan mules biasa karena kebanyakan makan rendang. Ini mules yang beda, perutnya kenceng-kenceng tiap 5 menit.

"Pa... Pa... bangun Pa..." panggil Elena pelan, tahan sakit.

Lorenzo yang tidur di sebelahnya langsung lompat. Jas tidurnya berantakan, rambutnya berantakan, tapi matanya langsung siaga mode bos mafia.

"Sayang? Mau lahiran? Sekarang?" tanya Lorenzo, panik.

Elena angguk sambil pegang perut. "Kayaknya... iya... airnya..."

Lorenzo tidak tunggu lagi. Dia teriak sekeras mungkin, sampai satu mansion dengar.

"THOMAS! DOKTER LISA! SEMUA BANGUN! ELENA MAU LAHIRAN!"

Dalam 2 menit, mansion De Luca kayak markas perang.

Thomas lari pakai piyama, bawa kunci mobil. 10 bodyguard berdiri di depan kamar dengan kotak P3K. Dokter Lisa yang memang sudah standby di mansion selama seminggu terakhir, lari bawa tas dokter.

Dan di kamar sebelah, Leon dan Luna terbangun karena teriakan Papa mereka.

Luna keluar kamar pakai piyama pink, mahkota tidurnya masih nempel miring, bawa boneka beruang.

"Mama kenapa? Mama sakit lagi?" tanya Luna, mau nangis.

Leon menyusul, lebih tenang, tapi wajahnya pucat. Dia langsung pegang tangan Luna.

"Mama mau lahiran adeknya," kata Leon, coba jadi dewasa, padahal suaranya gemetar.

Elena yang di kasur, lihat Leon dan Luna, langsung senyum meskipun sakit.

"Leon, Luna, sini sayang..." panggil Elena.

Leon dan Luna lari ke kasur, peluk Elena dari samping.

"Mama kuat ya, Mama hebat," kata Luna, elus perut Elena yang besar.

"Mama, Leon jagain Luna di sini. Papa bawa Mama ke rumah sakit ya," kata Leon, matanya berkaca-kaca.

Lorenzo sudah gendong Elena. Gendong ala bridal, hati-hati banget. Elena hamil 9 bulan, tapi Lorenzo gendong kayak Elena ringan.

"Thomas! Mobil! Rumah sakit De Luca sekarang!" teriak Lorenzo sambil turun tangga.

Leon dan Luna mau ikut, tapi Thomas tahan.

"Leon, Luna, kalian di rumah dulu sama Ms. Clara. Nanti Thomas jemput kalau adeknya sudah lahir. Oke?" kata Thomas.

Ms. Clara, guru SD mereka yang memang diminta Elena nginep seminggu ini, sudah menunggu di ruang tamu.

Leon angguk, meskipun mau ikut. "Thomas, jaga Mama ya. Jangan sampai Mama kenapa-kenapa."

Lorenzo bawa Elena masuk mobil Rolls Royce. Dokter Lisa ikut.

Mobil melaju kencang jam 2 pagi, dikawal 3 mobil bodyguard.

Di rumah, Leon dan Luna tidak bisa tidur lagi.

Jam 02.30, Luna duduk di sofa ruang tamu, peluk boneka, pin ketua kelasnya masih dia pakai di piyama.

"Leon, adeknya cewek atau cowok ya?" tanya Luna.

Leon mikir. "Leon mau adeknya cewek lagi, biar Luna ada temen main boneka. Tapi kalau cowok juga gak apa-apa, biar Leon ada temen main bola."

Ms. Clara bikinin susu hangat buat mereka berdua.

"Leon, Luna, Mama kalian pasti kuat. Adeknya pasti sehat. Kita berdoa ya," kata Ms. Clara.

Leon dan Luna angguk, berdoa bareng di sofa.

Di Rumah Sakit De Luca International, ruang VIP 1.

Elena sudah di ruang bersalin. Dokter Lisa dan 3 suster sudah siap.

Lorenzo tidak boleh masuk ruang bersalin karena aturan rumah sakit, tapi Lorenzo dobrak aturan itu.

"Saya suaminya! Saya harus di dalam!" kata Lorenzo.

Dokter Lisa akhirnya kasih izin, karena kalau tidak, Lorenzo bisa beli rumah sakitnya.

Di dalam, Elena pegang tangan Lorenzo erat banget. Sampai tangan Lorenzo memutih.

"Pa... sakit... sakit banget..." kata Elena, nangis.

Lorenzo yang biasanya tidak pernah nangis, bahkan waktu ditembak dulu, sekarang matanya merah.

"Sayang, Papa di sini. Papa gak kemana-mana. Kamu hebat, kamu kuat. Ingat Leon dan Luna nunggu adeknya," kata Lorenzo, bisik di telinga Elena, elus rambut Elena.

Jam 03.00, 04.00, 05.00.

Elena masih berjuang. Dokter Lisa bilang, "Nyonya, tarik napas, dorong lagi!"

Lorenzo terus bisikin, "Kamu bisa sayang, kamu bisa..."

Di mansion, Leon dan Luna masih melek. Jam 05.15, Luna sudah ketiduran di sofa sambil peluk Leon.

Leon masih melek, lihat jam dinding terus.

Jam 05.47 pagi.

Di rumah sakit, suara tangisan bayi pecah.

"Oek... oek... oek..."

Elena lemes, keringetan, tapi senyum.

Dokter Lisa angkat bayi kecil, merah, rambutnya hitam kayak Lorenzo.

"Selamat Tuan Lorenzo, Nyonya Elena! Bayinya perempuan! Sehat! Berat 3,2 kg!" kata Dokter Lisa bahagia.

Lorenzo nangis. Bos mafia paling ditakuti di Italia, nangis lihat anak ketiganya lahir.

"Sayang... anak kita perempuan lagi... mirip kamu..." kata Lorenzo ke Elena.

Elena nangis juga, peluk bayinya. "Cantik banget..."

Lorenzo langsung video call Thomas.

Thomas angkat cepat. "Tuan! Bagaimana?"

"Lahir! Perempuan! Sehat! Bawa Leon dan Luna ke sini sekarang!" teriak Lorenzo, suaranya gemetar bahagia.

Di mansion, Thomas langsung bangunin Leon dan Luna.

"Leon! Luna! Adeknya lahir! Perempuan!"

Luna yang masih ngantuk langsung loncat. "Adek perempuan! Adek perempuan! Leon, kita punya adek cewek!"

Leon yang dari tadi tahan ngantuk, langsung segar. "Ayo ke rumah sakit!"

Jam 06.30 pagi, Leon dan Luna sampai di rumah sakit, masih pakai piyama, lari ke ruang VIP.

Elena sudah rapi, duduk di kasur, gendong bayi kecil yang dibungkus selimut pink.

Lorenzo berdiri di sebelah Elena, senyumnya lebar banget, gak pernah senyum selebar ini.

"Mama!" teriak Luna dan Leon bareng.

Elena lambaikan tangan. "Sini sayang, lihat adeknya."

Leon dan Luna pelan-pelan dekatin kasur. Mereka lihat bayi kecil di gendongan Elena.

Bayinya tidur, mukanya merah, tangannya kecil.

"Cantik banget..." kata Luna, pelan, takut bayinya bangun.

"Namanya siapa Ma?" tanya Leon.

Elena dan Lorenzo saling lihat. Mereka sudah siapin nama semalam.

Elena jawab, "Namanya... Sofia. Sofia De Luca."

"Sofia..." Luna ulang, senyum. "Hai Sofia, aku kakak Luna! Aku ketua kelas!"

Leon juga senyum. "Hai Sofia, aku kakak Leon, bodyguard kamu juga nanti."

Sofia yang tidur, kayak dengar, tangannya gerak kecil.

Luna langsung peluk Elena hati-hati. "Mama hebat! Mama kuat!"

Leon peluk juga. "Mama makasih sudah lahirin Sofia."

Lorenzo lihat pemandangan itu: Elena gendong Sofia, Leon dan Luna peluk Elena. Keluarga lengkap.

Lorenzo foto diam-diam. Foto itu langsung dia jadiin wallpaper HP.

Siang itu, Instagram keluarga De Luca update foto baru: Elena gendong Sofia, Leon dan Luna di samping, Lorenzo di belakang.

Caption-nya Elena: "Selamat datang Sofia De Luca. Kakak Leon dan Luna sudah siap jadi bodyguard dan ketua kelas buat kamu."

Komentar langsung banjir 10 ribu dalam 1 jam. Semua bilang selamat.

Dan di mansion, stok stik keju pink sekarang ditambah 10 kardus lagi. Karena Luna bilang, "Sofia nanti kalau sudah besar juga pasti suka stik keju pink kayak Luna!"

Apakah Sofia bakal se-manis Luna atau se-berani Leon?

*BERSAMBUNG*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!