Indonesia
NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30.Sandiwara yang belum berakhir.

Li Hua berdiri tenang di sana, di samping Shi Yin yang wajahnya mulai memerah menahan amarah dan keterkejutan. Mereka berdua berdiri berdampingan, berhadapan dengan Tuan Zhang dan Nyonya Zhang yang duduk di kursi utama, menatap mereka bergantian dengan dahi berkerut penuh tanda tanya. Keheningan yang berat menyelimuti aula itu sejenak, hanya terdengar suara napas yang tertahan. Akhirnya Tuan Zhang membuka suara dengan nada yang serius dan dalam.

"Hua'er," panggilnya pelan namun tegas, menatap putri keduanya lekat-lekat seakan ingin memastikan kejujuran di matanya. "Katakan sekali lagi dengan tenang dan jujur. Apa benar kau mendengar para penculik itu berbicara bahwa orang yang menyuruh mereka memiliki dompet dengan sulaman bermotif bunga malam berwarna-warni?"

Li Hua mengangguk perlahan, tatapannya tenang namun mantap, tidak ada keraguan sedikit pun di matanya. "Benar, Ayah. Aku yakin sepenuhnya dengan apa yang aku dengar, saat membicarakan siapa yang menyuruh mereka setengah sadar mereka menyebutkan kalau dua wanita bertudung menyuruh mereka mencuri diriku dan menjualku ke rumah bordil.Salah satu wanita yang menyuruh mereka memiliki dompet dengan bordiran bunga malam berwarna-warni,aku tidak salah dengan mereka menyebutkan ciri-ciri wanita yang menyuruhnya."

Sebenarnya pengakuan itu aku dengar dari anak buah nyonya Li, bukankah itu sama saja, batin Li hua.

Shi Yin langsung melangkah maju, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, suaranya meninggi dengan nada tajam dan gemetar.

"Beraninya kamu! Beraninya kamu memfitnahku di depan Ayah dan Ibu begitu saja tanpa bukti apa pun! Ayah, aku tidak melakukannya! Jangan percaya pada kata-katanya, dia berbohong!,tuduhan ini benar-benar keterlaluan,aku tidak terima dengan tuduhan adik!."

Li Hua menatap kakaknya dengan senyum tipis yang tenang, sama sekali tidak tergoyahkan oleh bentakan itu.

"Siapa yang menuduhmu, Kak? Aku hanya menceritakan apa yang aku dengar. Aku bilang orang yang menyuruh mereka memiliki dompet yang mirip dengan yang dimiliki pelayanmu. Bukan berarti aku menuduhmu secara langsung. Tapi kalau kau merasa tersinggung dan langsung membela diri begitu keras... bukankah itu seolah-olah kau yang sedang menuduh dirimu sendiri?"

"Itu bukan maksudku!" seru Shi Yin, matanya berkilat cemas, dadanya naik turun menahan emosi. "Kamu sengaja memutarbalikkan kata-kataku! Kamu selalu begitu, selalu mencari celah untuk membuatku terlihat buruk di mata Ayah dan Ibu!"

"Kapan aku melakukan itu? Itu perasaan kakak sendiri. "

"Kau!... " Ucap Shi yin kehabisan kata.

Nyonya Zhang menghela napas panjang, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat, menatap putri pertamanya dengan lembut namun tegas.

"Shi Yin, dengarkan Ibu. Adikmu sama sekali tidak menyebut namamu. Dia hanya menyebutkan pelayanmu. Mengapa kau begitu menanggapi ucapan adikmu, seolah-olah dirimu yang dituduh? Jika kau tidak bersalah, kau tidak perlu takut pada pertanyaan sederhana seperti itu."

"Itu sama saja, Ibu!" jawab Shi Yin dengan nada yang sedikit meninggi, matanya berkaca-kaca karena marah. "Dia tahu betul bahwa hanya pelayanku yang memiliki dompet seperti itu! Dia sengaja mengarahkan tuduhan itu kepadaku tanpa bukti yang nyata! Ini tidak adil!"

Tuan Zhang hanya diam, menatap kedua putrinya bergantian dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Di dalam hatinya, pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan satu per satu, menimbulkan keraguan yang dalam dan menyakitkan.

Apakah dari awal aku salah mengambil keputusan? batinnya bergumam, menatap Li Hua dengan pandangan yang penuh penyesalan yang mulai menggerogoti hatinya. Aku membuang putriku yang lain ke desa yang jauh dan sepi hanya karena percaya pada ramalan yang menakutkan dan tidak masuk akal. Lalu aku merawat,memberikan kasih sayang tak terkira pada putri ku yang diramaikan membawa keberuntungan Shi Yin yang ternyata... membawa kehancuran. Selama ini aku melihat kebaikan di mana sebenarnya tidak ada apa-apa, dan menutup mata pada kebenaran yang ada tepat di depan mataku sendiri. Aku ayah yang bodoh...

Dia menarik napas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menegakkan punggungnya. Suaranya terdengar tegas dan berwibawa, menggema di seluruh ruangan, membuat semua orang yang hadir di sana terdiam dan menunduk hormat.

"Cukup. Aku tidak butuh perdebatan lebih lanjut. Aku sudah mengambil keputusan."

Dia menatap lurus ke arah Shi Yin, tatapannya tidak marah, namun dingin dan tak terbantahkan.

"Semua pelayan pribadimu akan dipindahkan ke sayap barat mulai hari ini. Mereka tidak lagi melayanimu. Kau akan pindah ke kamar tamu di sayap timur — ruangan yang lebih sederhana, jauh dari kediaman utama. Dan Ibu akan memilihkan pelayan baru untukmu — orang-orang yang belum terikat pada siapa pun di antara kalian, yang tidak akan takut untuk melaporkan apa pun yang terjadi."

Shi Yin membelalakkan matanya, wajahnya pucat seketika, kakinya terasa lemas. Dia melangkah maju dengan suara yang hampir pecah.

"Ayah! Apa maksud Ayah? Itu... itu tidak adil! Aku tidak melakukan apa-apa dan Ayah menghukumku begitu saja? Semua orang akan menertawakanku!"

"Aku tidak mengatakan kau bersalah," jawab Tuan Zhang tenang namun tegas. "Tapi ini adalah peringatan tegas. Jika benar kau tidak bersalah, maka kau tidak perlu takut pada pelayan baru yang akan datang. Dan jika ada sesuatu yang selama ini kau sembunyikan... semoga ini menjadi kesempatan terakhir bagimu untuk memperbaiki diri sebelum terlambat."

Nyonya Zhang mengangguk pelan, menyetujui keputusan suaminya. "Lakukanlah seperti yang Ayahmu katakan, Shi Yin. Mulai hari ini, semua pelayan di kediaman ini akan diatur ulang. Tidak ada yang boleh melayani satu tuan secara berlebihan lagi. Semua harus adil, semua harus jujur."

Shi Yin membuka mulutnya hendak membantah, namun saat melihat tatapan tegas ayahnya yang tidak bisa ditawar, dia menutup mulutnya kembali dengan perasaan panas yang membara di dadanya. Dia mengepalkan tangannya erat-erat hingga kuku menancap ke telapak tangannya sendiri. Dia tahu betul — jika dia membantah lebih jauh lagi, ayahnya mungkin akan memberikan hukuman yang jauh lebih berat lagi. Dia hanya bisa menunduk dalam, menahan air mata kemarahan dan rasa malu yang ingin meledak, sementara di dalam hatinya, kebencian terhadap Li Hua semakin dalam dan tajam, berakar kuat tak mudah hilang.

Tuan Zhang lalu berbalik perlahan menghadap Li Hua. Ekspresi wajahnya melembut seketika, matanya terlihat berkaca-kaca saat menatap putri keduanya yang dulu ia buang begitu saja karena takut pada ramalan bodoh. Dia melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya dengan gemetar, menyentuh puncak kepala Li Hua dengan penuh kasih sayang dan penyesalan yang mendalam.

"Maafkan Ayah, Hua'er..." ucapnya pelan namun tulus, suaranya bergetar menahan emosi. "Maafkan kami yang dulu membiarkanmu tumbuh sendirian di gubuk kecil itu, jauh dari keluarga, jauh dari kasih sayang, hanya karena sebuah ramalan yang tidak masuk akal. Mulai sekarang, semuanya akan berbeda. Ayah berjanji akan memperlakukanmu lebih baik lagi. Semua kemewahan, perhatian, kedudukan, dan rasa hormat yang selama ini hanya dinikmati oleh Shi Yin... mulai hari ini semuanya juga milikmu. Kau adalah putriku, darah dagingku sendiri, dan kau berhak atas semua ini. Tidak ada yang berani memandang rendahmu lagi di rumah ini."

Nyonya Zhang berjalan mendekat, menggenggam tangan putrinya yang dingin dengan kedua tangannya yang hangat, matanya basah oleh air mata kebahagiaan dan penyesalan.

"Benar kata Ayahmu, Nak. Kau juga putri kami yang sah, sama berharganya dengan kakakmu. Mulai besok, kau pindah ke kamar di sebelah kamarku dan Ayahmu. Ruangan itu luas, menghadap ke taman bunga yang indah, dan jauh lebih nyaman dari tempat tinggalmu sekarang. Kita ingin kau selalu dekat dengan kami, agar tidak pernah terjadi lagi kejadian mengerikan seperti penculikan ini. Kami tidak akan membiarkanmu hilang dari pandangan kami lagi. Ibu sendiri yang akan memastikan keamananmu setiap hari."

Li Hua tersenyum lembut, mata cokelatnya berbinar hangat. Dia menganggukkan kepalanya pelan.

"Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu. Aku tidak meminta kemewahan atau kedudukan yang tinggi. Aku hanya ingin kita semua hidup tenang, damai, dan saling percaya satu sama lain. Itu saja yang aku minta."

"Itu pasti akan kita wujudkan, Nak," jawab ibunya dengan senyum yang tulus, memeluk bahu putrinya erat.

Namun di sudut ruangan yang agak gelap, Shi Yin berdiri mematung. Dia melihat senyum hangat kedua orang tuanya — senyum yang dulu selalu hanya untuknya. Dia melihat perhatian yang kini terbagi dua, bahkan terasa jauh lebih hangat di arah adiknya. Rasa iri, cemburu, dan dengki meluap-luap di dadanya seperti lahar panas yang tak bisa dibendung. Setiap kata lembut yang diucapkan orang tuanya kepada Li Hua terasa seperti tusukan jarum tajam di hatinya. Dia merasa seolah-olah tempatnya di keluarga ini sedang digantikan, perlahan namun pasti, oleh gadis yang baru saja pulang dan dulu dibuang begitu saja.

Ini belum selesai, batinnya mencengkeram erat, kuku menancap ke telapak tangannya, matanya menatap lurus ke arah Li Hua yang tersenyum bahagia di pelukan orang tuanya. Kau pikir dengan senyum manismu kau sudah menang? Kau pikir dengan kata-kata manis kau bisa menggantikan posisiku? Tunggu saja. Aku tidak akan membiarkan kau mengambil semuanya dariku. Tidak peduli apa pun caranya, aku akan membuatmu menyesal pernah kembali ke rumah ini. Aku akan membuatmu kembali ke tempat yang seharusnya kau tempati — di bawah kakiku, bukan di atas takhtaku.

Li Hua seakan merasakan tatapan tajam yang menusuk punggungnya. Dia tidak menoleh, tapi senyum tipis di bibirnya sedikit melebar. Dia tahu ini baru permulaan. Badai yang sesungguhnya belum datang. Tapi kali ini, dia tidak sendirian.Dan tekadnya sudah kuat, memutar balikkan cerita. Hanya dengan mencegah Li yun menjadi raja iblis.

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!