Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku hIdup 30
Senyum Aina terus menghiasi bibir saat menerima tugas dari Rinda. Surat pemecatan untuk Teani, Aina sungguh ingin membuat itu sejak lama.
"Akhirnya Bu Rinda sadar juga. Akhirnya beliau mengambil tindakan tepat. Haaah orang itu memang seharusnya sudah hengkang dari tempat ini sejak dulu kala. Karena kebaikan Bu Rinda saja, dia masih bertahan di sini."
Aina penuh dengan semangat membuat surat pemecatan bagi Teani. Meski berasal dari satu ayah yang sama, semua orang yang mengenal Teani dan Rinda sepakat bahwa sifat keduanya sangat jauh berbeda. Aina bahkan merasa bahwa Tean sama sekali tidak memiliki sifat dari Nadisyah.
Meski hanya bekerja untuk Nadisyah sekitar setahun. Tapi Aina tahu betul bahwa Nadisyah adalah orang yang kompeten, berwibawa dan tentunya juga cerdas.
"Hah peduli apa aku soal itu. Sekarang yang penting Teani sudah pergi dari perusahan ini."
Wajah Aina begtu cerah. Matanya berbinar saat surat PHK itu terlah selesai di cetak.
"Bagus, tingga minta tanda tangan Bu Rinda," ucap Aina.
Ia beranjak dari kursinya, bergegas menuju ke ruangan Rinda. Namun langkahnya terhenti saat melihat Gani ada di depan ruangan Rinda. Pria yang masih masih merupakan suami Rinda itu terlihat berjalan mondar-mandir di depan sana.
Aina mengerutkan alisnya. Dia merogok ponsel yang disimpan di saku blazernya. Wanita berhijab tersebut menepi, menekan nomor Rinda dan berbicara.
"Bu, ada Pak Gani. Sekarang dia ada di depan ruangan Ibu," lapor Aina kepada Rinda.
"Biarkan, aku sedang tidak ada di tempat. Aku keluar dengan Jexen untuk bertemu pengacara."
"Aaah baiklah, Bu."
Rinda mengakhiri panggilannya. Senyumnya mengembang sempurna. Dia tidak ada niat untuk memberitahu tentang keberadaan Rinda, dan memilih untuk kembali ke ruangannya.
Sementara itu, Gani yang sedari mondar-mandir sebenarnya tahu bahwa Rinda tak ada di dalam ruangannya. Namun Gani tak mau pergi. Dia ingin bertahan di sana.
Gani tak ingin gagal seperti tadi malam. Dia yang semalam terpaksa pergi, hari ini dirinya bertekad untuk tetap berada di sini untuk bertemu dengan Rinda.
"Jika perlu bersujud di kakinya, aku akan melakukannya. Siapa yang menduga bahwa dia benar-benar kembali seperti. Rinda sangat mencintaiku, aku yakin dia akan memaafkan ku. Aku membawa semua hal kesukaannya. Kue, bunga, semua yang disukainya. Aku benar-benar tidak bisa kehilangan dia. Dia kembali, maka dia harus berada di sisi ku."
Gani menggenggam erat buket bunga mawar yang dibelinya tadi. Dadanya berdegup kencang, dia berkali-kali melihat ke arah lift, berharap Rinda akan segera muncul dari sana.
Namun hingga tiga jam lamanya, istrinya itu masih belum kunjung datang juga.
Drtzzz
Ponsel Gani berdering. Saat melihat siapa yang menghubunginya, Gani menghembuskan nafasnya kasar.
Awalnya ia membiarkannya. Tapi karena sudah berbunyi untuk beberapa kali, pada akhirnya ia pun menjawabnya meski dengan enggan.
"Ada apa?"
"Gani, kenapa kamu tidak pernah menemui ku. Mau bagaimanapun juga, aku juga istrimu."
"Tidak, aku sedang mengajukan proses pembatalan pernikahan. Kamu bukan lah istriku, istriku yang sesungguhnya hanya Rinda."
Tanpa ragu dan juga lugas, Gani mengabaikan ucapan Teani. Semenjak hari itu, Gani sama sekali tidak mendatangi Teani. Jangankan mendatangi, sekedar pesan atau panggilan telepon tidak.
Alhasil Teani yang berinisiatif untuk melakukannya. Dia menghubungi Gani lebih dulu untuk meminta hak nya sebaik istri.
"Gan, jangan begini Gan. Kita pernah saling memiliki. Kenapa kamu sangat tega kepadaku. Kenapa Gan?"
"Sudahlah Teani. Aku malas debat. Sudah aku katakan kan, bahwa kita memang tidak pas untuk menikah. Aku akan kembali pada Rinda."
Tuuuut
Gani mengakhiri pembicaraan mereka melalui telepon secara sepihak. Rasa enggan yang membelenggunya setiap berbicara dengan Teani itu terasa nyata. Bukan hanya sekedar ingin menghindar, tapi Gani merasa bahwa Teani menjadi sangat menjengkelkan dan menjijikkan.
"Dasar," ucapnya lirih. Dengan cepat ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantor jaket. Matanya berbinar saat melihat Rinda yang akhirnya muncul juga.
"Rinda!" panggilnya. Gani berjalan mendekat ke arah Rinda.
"Aku sudah menunggu mu dari tadi. Sayang, aku bahwa bunga dan kue kesukaanmu. Ini," imbuhnya. Tangannya terulur hendak menyerahkan buket bunga mawar ke pada Rinda.
Jexen maju satu langkah tepat di depan Rinda. Tubuh Jexen yang tinggi dan memiliki dada bidang itu, bisa menutupi tubuh Rinda sepenuhnya dari pandangan Gani.
"Minggir kamu, aku mau bicara sama Rinda," pekik Gani. Keningnya berkerut dengan ulah asisten istrinya.
Jexen menaikkan dua alisnya, bibirnya juga menyeringai.
"Nona ku tidak ingin bertemu dengan mu tuh. Jadi silakan pergi dari sini. Kamu menganggu."
Mata Jexen sedikit melotot, bibirnya tersenyum, tapi cukup untuk membuat Gani bergidik.
"Bagaimana seroang pemuda bisa memiliki aura yang menakutkan seperti ini."
Gani berbicara dalam hatinya. Ia memundurkan tubuhnya sebanyak dua langkah.
Tapi meski sejenak merasa gentar, Gani masih bertahan. Tujuannya adalah berbicara dengan Rinda. Maka dari itu dia tak akan menyiakan kesempatan ini.
"Rinda, suruh asisten mu ini minggir sebentar. Aku ingin bicara kepadamu, Rind," pinta Gani. Wajahnya terlihat memelas.
"Haah, sudah lah. Aku malas. Lagi pula aku juga lelap karena baru saja bertemu dengan klien. Jadi, pergilah," tolak Rinda tegas.
Seperti yang sudah dipikirkannya, bahwa ia tak akan memberi celah sedikit pun kepada pria itu. Sekali tak ingin berurusan dengan Gani, maka seterusnya Rinda akan bersikap demikian.
Bahkan Rinda telah menyerahkan segala urusan perceraian kepada kuasa hukumnya. Jadi nanti, ia tak akan muncul di pengadilan. Rinda hanya akan menunggu sampai putusan cerai itu diberikan.
Beruntung saat menikah dulu, Rinda dan Gani membuat surat perjanjian pra nikah. Jadi Gani tak akan bisa mengusik harta milik Rinda barang sepeserpun.
"Rinda, aku mohon," pinta Gani lagi. Kalo ini dia sampai berlutut di lantai.
"Kamu itu tuli atau bebal sih. Nona sudah bilang bahwa dia capek. Jadi minggir lah," sahut Jexen kesal. Pria muda itu maju satu langkah. Ia juga menunduk sehingga jarak wajahnya dan Gani hanya beberapa senti saja.
"Jangan pernah dekati Rinda lagi. Atau aku patahkan kaki mu sampai kamu tidak bisa berdiri lagi."
Degh!
TBC
Ayo Jexen selidiki lagi