Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Ekspedisi Musim Dingin

Angin badai musim dingin pertama menyapu Pegunungan Solaria, membawa serpihan salju yang setajam silet. Suhu turun hingga menembus titik beku, namun hawa dingin itu tidak menyurutkan semangat ratusan ksatria elit dan murid kelas unggulan yang berkumpul di lereng gunung.

Di hadapan kami, tertanam di dalam tebing es raksasa, berdiri Gerbang Pahlawan Pertama. Pintunya terbuat dari batu pualam putih berkilau, dihiasi ukiran malaikat bersayap enam dan rune suci yang memancarkan pendaran emas kehangatan di tengah badai salju.

Ini adalah Makam Suci. Tempat peristirahatan terakhir sang pendiri kekaisaran, sekaligus brankas penyimpanan artefak Aegis of the Sun.

Aku berdiri di barisan paling belakang rombongan akademi, merapatkan mantel musim dinginku. Tentu saja, mantel ini terlihat seperti seragam tebal standar dari luar, namun di lapisan dalamnya, Kain Kafan Malam Tak Bintang memeluk tubuhku layaknya kulit kedua, menyerap setiap fluktuasi sihir suci yang menguar dari gerbang makam.

Di depanku, berdiri sang bintang utama pertunjukan hari ini.

Leon.

Hanya dalam waktu dua minggu, pemuda yang tulang rusuknya kuremukkan di arena itu kini berdiri tegap tanpa tongkat penyangga. Tubuhnya terlihat sedikit lebih kekar, posturnya memancarkan kepercayaan diri absolut. Namun yang paling mencolok adalah aura yang mengelilinginya. Bahkan tanpa menggunakan Mata Kausalitas, aku bisa melihat pendaran cahaya keemasan tipis yang menyelimuti kulitnya.

"Dunia ini benar-benar tidak tahu malu," bisik Nox, yang bersembunyi di dalam bayangan tudung mantelku agar tidak terbakar oleh aura suci di sekitar kami. "Melihat si Pahlawan Api itu sekarang rasanya seperti melihat lampu gantung berjalan. Sistem memaksakan terlalu banyak buff suci ke dalam tubuhnya."

"Biarkan saja," balasku datar, menghembuskan kabut napas ke udara dingin. "Semakin terang lampunya, semakin mudah dia menarik perhatian monster di dalam sana."

Pangeran Julian, yang mengenakan zirah perak berhiaskan bulu serigala putih, melangkah naik ke atas mimbar es di depan gerbang. Wajahnya kembali memancarkan keangkuhan dan kharisma sang Putra Mahkota. Kehadiran Leon yang telah 'diberkati' tampaknya mengembalikan kepercayaan diri Julian yang sempat kuhancurkan.

"Rekan-rekan Ksatria dan Murid Solaria!" seru Julian, suaranya menggema menembus badai. "Di balik gerbang ini, terbaring sejarah dan kekuatan sejati Kekaisaran kita. Makam ini dipenuhi oleh ujian suci. Udara di dalamnya akan memurnikan jiwa kalian, namun juga akan membakar siapa pun yang memiliki niat jahat atau elemen sihir kotor di dalam darahnya!"

Julian dengan sengaja mengarahkan tatapan tajamnya kepadaku saat mengucapkan kalimat terakhir. Beberapa murid unggulan, termasuk teman-teman Leon, ikut menoleh dan menatapku dengan seringai mengejek.

Mereka semua tahu, atau setidaknya berasumsi, bahwa mutasi fisikku berhubungan dengan sihir kegelapan. Dan Makam Suci ini adalah anti-tesis dari elemen tersebut. Hawa murni di dalamnya dirancang untuk mendidihkan darah siapa pun yang memiliki setitik saja elemen iblis. Mereka berharap melihatku memuntahkan darah begitu gerbang itu dibuka.

Aku hanya membalas tatapan Julian dengan senyum tipis, lalu pura-pura merapikan syal di leherku. Teruslah bermimpi, Pangeran.

Di barisan depan, Cecilia von Arnault melirikku sekilas. Mata zamrudnya menyiratkan peringatan dan kecemasan. Sebagai Ketua Komite Kedisiplinan, ia wajib ikut, tapi aku tahu ia diam-diam berharap aku tidak melakukan tindakan bunuh diri. Kuberikan kedipan mata yang sangat singkat padanya, yang langsung membuatnya memalingkan wajah dengan pipi sedikit merona karena kesal.

"Uskup Agung! Buka gerbangnya!" perintah Julian.

Tiga orang pria tua berjubah putih dari Kuil Cahaya melangkah maju. Mereka merapal mantra panjang dalam bahasa kuno. Tongkat mereka memancarkan sinar laser keemasan yang menghantam titik tengah gerbang pualam tersebut.

GGRRRMMMM...

Bumi bergetar. Tebing es di sekitar kami retak. Gerbang pualam raksasa itu perlahan terbelah ke dalam, melepaskan gelombang udara yang sangat kencang.

Bukan angin dingin yang keluar, melainkan badai cahaya suci.

WUUUSSSHH!

Gelombang energi keemasan itu menyapu seluruh rombongan seperti tsunami. Beberapa murid yang memiliki niat buruk atau sering menggunakan sihir manipulasi tingkat rendah langsung jatuh berlutut, memegangi dada mereka yang terasa sesak dan panas.

Leon, sebaliknya, merentangkan tangannya. Badai cahaya itu seolah menyambutnya, membuat aura emas di tubuhnya berpendar semakin terang. Ia tampak seperti dewa muda yang turun dari langit.

"Luar biasa..." gumam para ksatria yang terpesona melihat sang Pahlawan.

Julian menoleh ke belakang, matanya mencari-cari sosok berambut putih di barisan belakang, sangat menantikan pemandangan Tuan Muda Pendelton yang berguling-guling kesakitan.

Namun, senyum Julian seketika membeku.

Aku masih berdiri tegak di tempatku. Kedua tanganku santai di dalam saku mantel. Badai cahaya suci yang seharusnya membakar inti sihir gelapku itu menerpaku dengan deras... dan lenyap begitu saja saat menyentuh kulitku.

Di balik mantelku, Kain Kafan Malam Tak Bintang bekerja dengan kegilaan absolut. Kain itu menyedot setiap partikel cahaya suci yang mencoba menembusku, mengubahnya menjadi energi netral, yang kemudian langsung ditelan bulat-bulat oleh pusaran Vespera di jantungku. Rasanya tidak panas atau menyakitkan. Rasanya seperti meminum secangkir cokelat panas di tengah badai salju. Sangat nyaman.

Aku menatap Julian yang memucat, lalu mengangkat tanganku dan memberikan lambaian kecil yang sangat bersahabat.

Wajah sang Pangeran berkedut menahan amarah dan kebingungan. Bagaimana mungkin? pikirnya. Bahkan iblis tingkat tinggi pun akan melepuh jika terkena gelombang pembuka Makam Suci!

"Masuk!" teriak Julian akhirnya, mengalihkan pandangannya dengan kasar. "Ekspedisi dimulai! Tetap dalam formasi!"

Leon memimpin di depan bersama Julian dan regu ksatria elit pembuka jalan. Mereka melangkah masuk ke dalam lorong makam yang dindingnya terbuat dari emas putih. Obor-obor suci menyala otomatis di sepanjang lorong, menghilangkan segala bentuk bayangan.

Aku berjalan santai mengikuti rombongan dari belakang.

Begitu melewati ambang pintu makam, aku mengaktifkan Mata Kausalitas.

Cincin emas di pupilku berputar. Seketika, struktur makam suci ini terbongkar dalam bentuk data di kepalaku. Aku tidak hanya melihat lorong panjang yang sedang dilewati oleh Julian dan Leon. Aku melihat jaringan labirin tiga dimensi yang sangat rumit, dipenuhi oleh ratusan jebakan sihir, ruangan rahasia, dan monster-monster suci penjaga makam.

"Mereka mengambil Rute Utama," bisikku pada Nox. "Rute yang dipenuhi oleh Guardian of Light, teka-teki moralitas, dan jebakan ilusi. Rute yang dirancang khusus untuk menguji kelayakan seorang pahlawan."

"Dan kau?" Nox mengintip dari balik bahuku.

Mataku tertuju pada sebuah dinding polos di sebelah kiri lorong masuk, sekitar lima puluh meter dari posisiku. Dinding itu terlihat seperti emas putih biasa bagi orang lain, namun Mata Kausalitas menunjukkan ada celah spasial di sana. Jalur ventilasi sihir yang menghubungkan pintu masuk langsung menuju ke sistem katakombe bawah tanah—jalur yang biasa digunakan oleh para pelayan makam kuno.

"Aku bukan pahlawan, Nox. Aku tidak punya waktu untuk mengisi kuis moralitas," senyum predator mengembang di wajahku.

Aku menarik kerudung mantel Kain Kafan Malam hingga menutupi kepalaku. Sifat kedua dari artefak primordial ini pun aktif: Absolut Stealth.

Keberadaanku, mulai dari suhu tubuh, suara langkah kaki, hingga fluktuasi sihir, seketika terhapus dari dunia nyata. Bagi siapa pun di sekitarku, aku hanyalah udara kosong.

Aku memisahkan diri dari barisan belakang rombongan tanpa ada satu pun murid atau ksatria penjaga yang menyadarinya. Berjalan menyamping ke arah dinding polos itu, aku menekan sebuah bata emas yang sedikit menonjol sesuai instruksi dari Mata Kausalitas.

Dinding itu bergeser tanpa suara, membuka celah yang hanya cukup untuk dilewati satu orang. Begitu aku melangkah masuk, dinding itu menutup kembali, meninggalkanku di dalam sebuah lorong sempit yang sangat gelap dan menurun tajam ke perut bumi.

Tidak ada cahaya suci di sini. Hanya kegelapan pekat yang basah dan bau lumut kuno. Tempat asliku.

"Ah, ini baru rute yang cocok untuk kita," Nox terbang keluar dari mantelku, kembali ke wujud hantu utuhnya, matanya bersinar keemasan di dalam gelap. "Jalan pintas menuju perbendaharaan?"

"Lebih dari sekadar jalan pintas, Nox," jawabku, mencabut Taring Abyss dari sarungnya. Pedang hitam itu berdengung merespons kegelapan di sekitarnya. "Sistem mengunci Aegis of the Sun di lantai dasar. Tapi dengan rute peretas ini, kita akan tiba di sana dua jam lebih cepat daripada Julian dan Leon."

Aku mulai berlari menuruni tangga batu yang licin.

1
ZAHRANI
upnya lama banget,padahal cuman buat 1 novel doang😮‍💨
Nappzz: di usahakan up secepatnya ya ka🙏🏻
total 1 replies
ZAHRANI
5 bab lah thor😭
Nappzz: segera ditunggu ya ka
total 1 replies
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!