Indonesia
NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 BUKIT BINTANG - GUNUNG KIDUL, YOGYAKARTA

Hari Sabtu akhirnya tiba.

Bagi sebagian besar umat manusia, hari Sabtu adalah hari untuk bersantai, melepas penat setelah lima hari berkutat dengan rutinitas.

Namun bagi Wira, hari Sabtu kali ini adalah hari yang memicu tingkat stres melampaui gabungan UTS Matematika materi Trigonometri, dan Ekonomi materi Neraca Arus Kas Perusahaan sekaligus!

Sejak matahari terbit menyinari atap-atap rumah di Jeron Beteng, tingkah laku pemuda itu sudah sangat di luar nalar.

Lebih tepatnya... ANEH.

Kamar Wira yang biasanya tidak pernah rapi—dengan baju kotor yang sering bergelantungan di balik pintu dan tumpukan komik di atas kasur—kini terlihat seperti baru saja dilewati angin puting beliung kategori lima.

Pintu lemari kayunya terbuka lebar. Hampir seluruh isi pakaiannya telah berpindah ke atas kasur.

Wira berdiri di depan cermin seukuran badan, menatap pantulan dirinya sendiri dengan kening berkerut dalam. Ia sedang mengenakan kaus hitam polos yang dibalut kemeja flanel merah kotak-kotak yang kancingnya dibiarkan terbuka.

"Nggak, nggak! Aneh, aneh banget sumpah! Kelihatan kayak mau nebang pohon di hutan, anjir!" gumam Wira frustrasi.

Ia dengan cepat melepas kemeja flanel itu, melemparnya sembarangan ke tumpukan baju di kasur, lalu mengambil sebuah jaket varsity berwarna biru navy.

Ia memakainya, menata kerahnya, lalu kembali menatap cermin.

"Ini lagi... Malah kayak anak kuliahan mau ospek! Kaku banget, bangke!" rutuknya lagi. Jaket varsity itu pun bernasib sama, terbang ke atas kasur.

Wira mengacak-acak rambut ikalnya yang sebenarnya sudah ia tata menggunakan pomade setengah jam yang lalu. Jantungnya berdebar dengan ritme disko.

Dia, si mantan penguasa jalanan Bogor, jagoan tongkrongan yang tidak pernah takut menghadapi kepalan tangan musuh, kini sedang gemetar panik hanya karena bingung memilih baju untuk pergi nge-date bersama sang Putri Abdi Dalem Keraton Jogja!

"Kalau gue pakai kaus doang, nanti dibilang nggak niat... Kalau pakai kemeja rapi, nanti dikira mau ngelamar kerja... Ah, elaaah... Bangsat-bangsat! Kenapa milih baju lebih susah daripada milih Jokowi-Prabowo-Ganjar, sih?!" omel Wira pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba...

.....

Tok. Tok. Tok. Tok.

.....

Suara ketukan keras di pintu kamarnya membuat Wira terlonjak kaget.

Pintu itu terbuka tanpa persetujuan, dan dari baliknya muncul lah Bude Ning.

Wanita paruh baya itu masih mengenakan celemek memasaknya, memegang sebuah sendok sayur dari kayu di tangan kanannya.

Bude Ning mematung di ambang pintu.

Mulutnya sedikit terbuka melihat kekacauan epik di dalam kamar keponakannya.

Matanya lalu beralih menatap Wira yang berdiri kaku di depan cermin hanya dengan mengenakan kaus dalam putih dan celana jeans hitam.

"Astaghfirullahaladzim, Wira!" pekik Bude Ning, menyentuh dadanya.

"Kamar atau kapal pecah ini? Kamu lagi kerasukan roh tukang loak baju atau bagaimana, Le? Dari pagi Bude dengar kamu gedebak-gedebuk buka tutup lemari, ternyata kamu malah bikin sarang tikus di sini!" kata Bude Ning.

Wira buru-buru menyambar sebuah kaus dari kasur dan menutupi dadanya, salah tingkah.

"E-eh, Bude! Nggak kok, ini Wira lagi... lagi decluttering, Bude! Iya, merapikan baju-baju lama yang udah nggak kepakai. Tren anak muda zaman sekarang gitu, Bude."

Bude Ning menyipitkan matanya yang tajam di balik kacamata.

Beliau melangkah masuk, menggunakan ujung sendok sayurnya untuk menyingkap kemeja mahal yang dilempar Wira ke kasur.

"Alasan saja kamu. Decluttering kok yang dibongkar baju-baju bagus semua," cibir Bude Ning. Beliau lalu berkacak pinggang, memindai wajah Wira yang terlihat agak pucat namun berkeringat.

"Kamu sakit? Atau jangan-jangan kamu mau kabur ke Bogor lagi? Coba jujur sama Bude! Gelagatmu dari sarapan tadi pagi sudah aneh! Makan nasi kuah soto pakai garpu, makan daging ikan pakai ujung pisau, terus senyum-senyum sendiri lihat tembok... Kamu sehat kan, Le?? Kamu nggak gila, kan?? Nggak stress, toh??"

"Sehat walafiat, Bude! Sumpah!" jawab Wira cepat, mengangkat dua jari membentuk huruf V.

"Wira nggak mau kabur. Wira betah kok di sini." tambah Wira.

"Terus kenapa kamu dandan heboh begini? Ini hari Sabtu, sekolah libur! Kamu mau ke mana pakai pomade segala? Baunya sampai ke dapur!" interogasi Bude Ning tanpa ampun.

Otak Wira berputar cepat. Ia tidak mungkin jujur bahwa ia akan mengajak Asmara kencan.

Jika Bude Ning tahu ia mengincar putri dari Abdi Dalem keraton yang sangat dihormatinya, wanita itu pasti akan memberikan ceramah tujuh hari tujuh malam tentang unggah-ungguh bertamu.

"Wira... mau keluar sebentar nanti malam, Bude. Sama teman-teman," kilah Wira, mencoba memasang wajah seyakin mungkin.

"Emmm... Anu... Biasa, anak muda, Bude... Nongkrong! I-iya, nongkrong! Makan malam... Udah lama Wira nggak main keluar, kan?"

Bude Ning mengamati wajah keponakannya dengan saksama.

Insting keibuannya tidak bisa dibohongi.

Wajah pemuda itu terlalu berseri-seri untuk sekadar 'nongkrong biasa'.

Namun, Bude Ning memutuskan untuk tidak mendesaknya lebih jauh.

Beliau diam-diam merasa bersyukur keponakannya sudah mulai memiliki kehidupan sosial yang normal di kota ini.

"Ya sudah... Bude izinkan kamu keluar. Tapi ingat pesannya Bude," Bude Ning menunjuk wajah Wira dengan sendok sayurnya.

"Jangan pulang lewat dari jam sepuluh malam! Atau pintu depan Bude ganti pakai tembok! Jangan ngebut-ngebutan di jalan! Atau motor yang kamu pakai keluar akan Bude bakar! Dan yang paling penting, Bude tidak mau dengar ada laporan dari Pak Anton kalau kamu bikin onar lagi di luar sana! Paham?!"

"Paham seratus persen, Komandan!!" Wira memberi hormat dengan gaya tengilnya.

Bude Ning mendengus geli, menggelengkan kepalanya, lalu berbalik menuju pintu. "Bereskan kamarmu sebelum pergi. Kalau pulang nanti masih berantakan begini, Bude suruh kamu tidur di luar bareng tukang loak! Biarin kamu kelon-kelonan sama dia!"

"Siap, Bude!" jawab Wira.

Sepeninggal Bude Ning, Wira menghela napas lega. Ia kembali menatap tumpukan baju di kasurnya.

Akhirnya, setelah perdebatan batin yang melelahkan, ia menjatuhkan pilihan pada sebuah kaus hitam polos berbahan katun yang pas di badan, dipadukan dengan jaket denim vintage berwarna biru pudar yang menjadi andalannya, serta celana jeans hitam dan sepatu sneakers andalannya.

Sederhana, laki banget lah yaaa...

Tapi tetap terlihat rapi.

😅😅😅😅😅

Urusan pakaian selesai.

Kini, Wira beralih ke urusan yang jauh lebih krusial:

KENDARAAN!

Wira bisa saja meminta Pak Tris untuk mengantarnya menggunakan Kijang kapsul milik Bude Ning.

Eh, tapi...

Tunggu dulu...

Minta antar sama Pak Tris???

Wira langsung membayangkan suasana kencan pertama dengan Asmara, sambil disopiri oleh pria paruh baya yang suka memutar lagu dangdut koplo???!!!

NOOOOOOOO!!!!!!!

BIGGG NOOOOOOOO!!!

Hilang sudah harga dirinya. 🤣🤣🤣🤣🤣

Maka, sekitar pukul empat sore, Wira mengendap-endap keluar dari rumah dan berjalan ke rumah sebelah.

Rumah itu milik Mas Yanto, seorang mahasiswa tingkat akhir yang merupakan kolektor motor tua.

"Mas Yanto! Mas!" panggil Wira dari luar pagar bambu.

Kepalanya mengintip dari atas pagar bambu, lebih mirip maling ayam daripada pemuda yang mau ajak kencan seorang gadis!

Mas Yanto, yang sedang mengelap bodi motor Honda CB 100 berwarna merah klasik di terasnya, menoleh.

"Eh, Wira? Ada apa, Wir? Tumben main ke sini sore-sore."

Wira tersenyum lebar, mengeluarkan jurus negosiasi paling manis yang ia miliki. Ia turun dari pagar, membuka pintu pagar yang ternyata tak dikunci, dan masuk ke halaman.

"Mas, motor CB-nya kinclong banget hari ini. Mesinnya pasti lagi prima-primanya, kan? Hehehe..." basa-basi Wira yang terasa busuk di telinga Mas Yanto.

Mas Yanto tertawa pelan, menghentikan pekerjaannya.

"Wah, kalau kamu udah muji-muji gini, pasti ada maunya nih. Kenapa? Mau pinjam?"

"Hehehe, tahu aja sih Mas Yanto ini," Wira menggaruk tengkuknya.

"Iya, Mas. Malam ini aja. Wira mau... emmm, ada urusan penting banget pokoknya! Kalau pakai motor matic punya Bude Ning kan kurang garang, Mas... Malah mirip tukang sayur keliling kampung... Nah, kalau pakai CB klasik ini, vibes Jogja-nya dapet banget, Mas! Macho... Vintage... pas buat keliling kota!"

Mas Yanto memicingkan mata, tersenyum jahil namun merasa heran.

"Urusan penting apa nih? Mau ngapel anak orang ya kamu?"

"Y-ya begitulah, Mas. Makanya, tolongin Wira dong, Mas... Ya, ya? Nanti Wira isiin bensinnya full tank deh pakai Pertamax! Gimana?" bujuk Wira, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

"Halaaah... Anak muda, anak muda," kekeh Mas Yanto. Ia lalu melemparkan kain lapnya ke atas jok motor.

"Ya udah, boleh... Tapi awas ya, Wir, bawanya pelan-pelan... Ini barang kesayangan Mas! Lecet sedikit, kamu Mas suruh ngelap tiang tugu Alun-alun sebulan penuh."

"Siap, Mas! Wira bawa ini motor kayak bawa guci antik peninggalan dinasti Ming! Aman!" janji Wira antusias.

Pukul 18.55 WIB.

Suara knalpot blar-blar yang khas dari Honda CB 100 itu memecah keheningan gang kecil di kawasan Jeron Beteng.

Wira menghentikan motor klasiknya tepat di depan gapura gang rumah Asmara, persis seperti yang telah mereka sepakati hari Kamis lalu.

Pemuda itu mematikan mesin. Ia melirik jam di pergelangan tangannya.

Lima menit sebelum jam tujuh.

Wira tersenyum puas.

Pantang bagi seorang Wira Aji Pratama untuk melanggar janjinya pada sang tuan putri.

Angin malam berhembus pelan. Wira duduk di atas sadel motor, merapikan kerah jaket denimnya dari kaca spion. Jantungnya kembali berdetak dengan ritme yang tidak wajar. Ia mencoba menarik napas panjang, menenangkan gejolak di dadanya.

Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya...

Suara langkah kaki yang pelan terdengar dari arah dalam gang.

Wira menoleh.

Dan pada detik itu juga...

Waktu di sekeliling pemuda itu seolah...

MEMBEKU TOTAL!

Dari balik bayang-bayang gapura, muncul lah Asmara Putri.

Jika selama ini Wira selalu melihat gadis itu dalam balutan seragam putih abu-abu yang kaku, malam ini Asmara menjelma menjadi sosok yang benar-benar berbeda.

Gadis itu mengenakan sebuah blus katun berwarna krem yang sangat pas di badannya, dipadukan dengan cardigan rajut berwarna soft pink yang manis, dan celana kulot panjang berwarna beige.

Rambut hitam panjangnya yang biasanya selalu dicepol rapi ke atas, malam ini dibiarkan tergerai bebas, jatuh bergelombang dengan sangat indah membingkai wajahnya.

Asmara tidak memakai riasan yang berlebihan. Hanya sapuan bedak tipis dan lip gloss berwarna peach alami.

Namun di mata Wira, gadis itu terlihat lebih terang dan lebih memukau daripada seluruh lampu kota Jogja jika disatukan!

Wira menelan ludah.

Mulutnya sedikit terbuka.

Kehilangan seluruh stok kosakata tengil yang sudah ia siapkan sejak dari rumah.

Melihat Wira yang terpaku seperti orang bodoh, Asmara tertawa pelan.

Ia melangkah mendekati motor klasik tersebut, menyembunyikan rasa gugupnya sendiri di balik senyuman yang sedikit ditahan.

"Kenapa ngelihatinnya gitu banget? Ada yang aneh sama baju gue?" tanya Asmara, secara natural kembali menggunakan bahasa begajulan yang menjadi 'kode' mereka berdua, memecah kecanggungan.

Wira mengerjap cepat, tersentak dari lamunannya.

Ia buru-buru berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang mendadak anjlok.

"Eh? N-nggak. Nggak ada yang aneh," jawab Wira sedikit terbata, sebelum akhirnya ia berhasil menguasai diri dan kembali menyeringai lebar.

"Gue cuma kaget aja. Ternyata kalau lagi nggak pakai seragam OSIS, lo cantik banget ya, Ra. Hampir aja gue nggak ngenalin." goda wira dengan bahasa basa-basi yang... terasa...

AH... SUDAHLAH! 🗿🗿🗿🗿🗿

Asmara mendengus geli, pipinya otomatis merona merah mendengar pujian blak-blakan itu. "Gombal lo basi, Wir! Dan... tumben lo beneran on time? Gue kira lo bakal telat minimal setengah jam kayak tabiat lo waktu dihukum dulu."

Wira menepuk tangki motor CB-nya dengan bangga. "Gue ini laki-laki sejati, Ra. Pantang bikin cewek nunggu. Apalagi kan lo udah ngancam bakal masuk lagi kalau gue telat. Gue nggak mau kehilangan momen balas budi ini."

Asmara tersenyum kian lebar.

Ia menatap motor tua berwarna merah yang dinaiki Wira dengan pandangan takjub.

"Eh? Ini motor siapa? Perasaan... lo ke sekolah nggak pernah bawa motor ini deh. Klasik banget." puji Asmara, menyentuh jok kulit belakang motor dengan ragu-ragu.

"Motor minjem punya tetangga," aku Wira dengan jujur tanpa rasa gengsi. Ia menatap Asmara dengan sorot mata yang hangat.

"Sengaja... Gue pikir, kalau gue bawa lo jalan-jalan pakai Kijang kapsul punya Bude Ning, kita malah kayak rombongan mau ke kondangan! Kalau pakai motor klasik gini, vibes Jogja-nya lebih dapet. Lo suka nggak?"

Kejujuran dan usaha keras Wira untuk membuat kencan ini sempurna menyentuh hati Asmara. "Gue suka kok... Suka banget malah..."

"Bagus deh. Nah, ini, pakai helmnya," Wira menyerahkan sebuah helm bogo retro berwarna krem yang sengaja ia pinjam bersama motor itu.

Asmara menerimanya dan memakainya. Ia mengaitkan tali helm hingga berbunyi klik. "Oke. Terus... malam ini preman Bogor mau bawa gue ke mana nih?"

Wira menyalakan mesin motor, suara blar-blar yang berat kembali menggelegar memecah sunyinya malam. Ia menoleh ke arah Asmara dengan kedipan satu mata andalannya.

"Rahasia! Lo tinggal duduk manis di belakang, nikmatin perjalanannya, dan serahin semuanya sama gue. Naik sekarang, Ra. Pelan-pelan," instruksi Wira.

Dengan sedikit berpegangan pada pundak Wira, Asmara naik ke boncengan motor tersebut. Jok yang cukup sempit membuat tubuh mereka berdua berdekatan.

Asmara bisa mencium aroma citrus yang segar menguar dari jaket denim pemuda itu, bercampur dengan dinginnya udara malam.

"Udah siap?" Wira memastikan, menoleh sedikit ke belakang.

"Udah. Jalan pelan-pelan ya, Wir. Awas lo kalau bawa motornya kayak kesetanan!" ancam Asmara sambil mencubit pelan pinggang Wira dari samping.

"Aduh! Iya, iya, Ratu. Gue janji jalannya santai kayak odong-odong yang tukangnya sakit pinggang. Pegangan ya, hehe..." kekeh Wira.

Motor Honda CB klasik itu pun melaju perlahan meninggalkan kawasan Jeron Beteng, membelah padatnya jalan raya malam Minggu kota Yogyakarta.

.....

.....

Perjalanan malam itu terasa begitu magis bagi keduanya.

Wira menepati janjinya. Ia mengendarai motor tuanya dengan kecepatan sedang, tidak ngebut, membiarkan Asmara menikmati gemerlap lampu jalan, papan reklame, dan hiruk-pikuk kota yang mereka lewati.

Mereka menyusuri Jalan Kusumanegara...

Terus melaju ke arah timur menuju Jalan Wonosari.

"Wir! Ini kita mau ke arah mana sih?! Makin lama jalannya makin nanjak dan sepi gini!" teriak Asmara, suaranya harus melawan deru angin dan suara knalpot motor yang berisik.

Wira menolehkan kepalanya sedikit ke kanan, balas berteriak agar suaranya terdengar. "Sabar dong, Ra! Sebentar lagi juga sampai! Lo takut gue culik ya?!"

"Enak aja! Kalau lo berani macem-macem, gue tendang lo dari motor ini sekarang juga! Hahahaha..." balas Asmara, tawa lepasnya mengikuti kalimat ancamannya. Ia sama sekali tidak merasa takut.

Justru, hembusan angin malam yang menerpa wajahnya memberikan sensasi kebebasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Jalanan Wonosari yang berkelok-kelok dan menanjak membuat udara di sekitar mereka berangsur-angsur berubah menjadi jauh lebih dingin.

Pohon-pohon jati dan semak belukar di sisi kiri dan kanan jalan terlihat gelap, namun aspal yang mereka lintasi cukup terang oleh lampu-lampu penerangan jalan.

"Pegangannya yang kuat, Ra! Tanjakannya mulai curam nih! Entar lo terbang ke belakang kalau cuma pegangan ujung jaket doang!" goda Wira setengah berteriak.

"Modus lo! Bilang aja lo pengen gue peluk kan dari belakang?!" Asmara membalas godaan itu tanpa ragu, pipinya memanas tapi ia tidak mau kalah.

Wira tertawa keras. Tawa yang sangat jujur dan bahagia.

"Ketahuan deh rencana gue! Ya udah kalau nggak mau meluk, pegangan besinya aja! Tapi kalau kedinginan jangan salahin gue ya!"

Asmara tersenyum lebar di balik helmnya.

Meski ia berkata begitu, tangannya yang semula hanya memegang ujung jaket denim Wira, perlahan-lahan bergerak maju.

Ia meremas kain jaket di bagian pinggang pemuda itu dengan lebih erat, menyandarkan dirinya sedikit lebih dekat pada punggung tegap Wira untuk berlindung dari angin malam yang mulai menusuk tulang.

Merasakan tarikan di pinggangnya, senyum Wira kian mengembang sempurna. Ia menurunkan sedikit kecepatan motornya, memperpanjang momen perjalanan yang terasa seperti mimpi indah ini.

Sepanjang jalan yang meliuk itu, mereka terus bertukar canda.

Wira menceritakan hal-hal konyol tentang gengnya di Bogor dulu, dan Asmara membalasnya dengan menceritakan betapa kakunya peraturan masa kecilnya di lingkungan keraton.

Tidak ada lagi jarak.

Tidak ada lagi pura-pura.

Di atas sadel motor tua itu, mereka hanyalah dua remaja belasan tahun yang sedang dimabuk oleh pesona satu sama lain.

Setengah jam perjalanan berlalu...

Wira akhirnya membelokkan motornya ke sebuah pelataran parkir yang cukup luas, terletak tepat di pinggir tebing jalan yang menanjak.

Kawasan itu dipenuhi oleh jejeran warung-warung sederhana berbentuk panggung kayu yang menghadap langsung ke arah bawah bukit.

Wira mematikan mesin motor.

Kesunyian sesaat langsung menyergap telinga mereka, digantikan oleh sayup-sayup suara musik akustik dari warung terdekat dan desiran angin perbukitan.

"Kita udah sampai," ucap Wira pelan, melepas helmnya lalu menoleh ke belakang. Ia membantu Asmara melepaskan helm bogonya.

Asmara turun dari motor sambil merapikan rambutnya yang sedikit kusut. Ia menatap sekeliling.

Tempat ini terasa asing namun memiliki aura yang sangat nyaman. Deretan warung, muda-mudi yang sedang duduk bersantai, dan udara pegunungan yang sangat sejuk.

"Ini... di mana, Wir?" tanya Asmara, matanya menyapu deretan warung kayu tersebut. "Gue nggak pernah main sampai sejauh ini malam-malam."

Wira tersenyum penuh misteri. Ia tidak menjawab.

Sebagai gantinya, pemuda itu meraih pergelangan tangan Asmara dengan lembut.

Sentuhan kulit mereka membuat Asmara sedikit tersentak, namun ia sama sekali tidak menolaknya.

"Ayo, ikut gue. Gue mau tunjukin alasan kenapa gue bawa lo repot-repot ke sini," bisik Wira, suaranya mengalun hangat di tengah dinginnya udara malam.

Wira menuntun Asmara berjalan melewati sela-sela warung, menuju bagian teras panggung kayu yang dibangun menjorok ke arah tebing.

Begitu mereka melangkah keluar ke tepi balkon kayu tersebut...

Sebuah pemandangan yang terhampar di depan mata mereka sukses membuat langkah Asmara terhenti total.

Gadis itu menahan napasnya.

Mulutnya sedikit terbuka, matanya membelalak takjub.

Di bawah sana...

Terhampar seluruh kota Yogyakarta dalam bentuk jutaan titik cahaya yang menyala terang benderang.

Lampu-lampu jalan, rumah penduduk, gedung-gedung, dan pendaran lampu jalan raya terlihat bagaikan lautan bintang yang jatuh dan berserakan di atas hamparan bumi yang gelap.

Pemandangan itu begitu luas, begitu megah, membentang sejauh mata memandang hingga menyatu dengan batas cakrawala yang pekat.

"Selamat datang di Bukit Bintang, Tuan Putri," bisik Wira, berdiri tepat di sebelah Asmara, ikut menatap lautan cahaya di bawah mereka.

"Gimana? Utang budi gue lunas kan kalau pemandangannya kayak gini?" tanya Wira cepat.

Asmara sama sekali tidak bisa langsung menjawab.

Ia terlalu terpesona dengan pemandangan ini.

Angin malam Gunung Kidul berhembus cukup kencang, menerbangkan helaian rambut Asmara ke belakang.

Udara di sini jauh lebih dingin dari kota, namun pemandangan di depan matanya memberikan sensasi kehangatan magis yang tak bisa dijelaskan.

"Ini... ini indah banget, Wir," gumam Asmara akhirnya, suaranya sedikit bergetar karena haru dan takjub. Ia menoleh, menatap Wira dari samping.

"Gue seumur hidup lahir dan tinggal di Jogja, tapi gue nggak pernah tahu ada tempat seindah ini buat ngelihat kota gue sendiri."

Wira memutar wajahnya, membalas tatapan Asmara.

Lampu-lampu remang dari warung di belakang mereka membiaskan bayangan di wajah pemuda itu, membuat rahang tegasnya terlihat semakin maskulin.

Namun, yang paling membuat dada Asmara berdebar adalah...

Sorot mata Wira.

Mata elang itu tidak sedang menatap pemandangan kota di bawah sana; mata itu sepenuhnya terkunci pada wajah Asmara.

"Gue juga baru tahu tempat ini dari Mas Yanto," jawab Wira pelan. Ia menyandarkan sikunya pada pagar pembatas kayu, masih menatap Asmara lekat-lekat.

"Waktu dia nawarin tempat ini buat kencan, gue tadinya agak ragu karena lumayan jauh. Tapi pas ngelihat reaksi lo sekarang... gue tahu perjalanan nanjak tadi sepadan seratus persen."

Mendengar kalimat jujur yang sangat blak-blakan itu, pipi Asmara kembali memanas. Wira selalu punya cara untuk melucuti pertahanannya tanpa perlu menggunakan gombalan murahan.

"Lo emang jago banget ya kalau urusan bikin anak orang speechless," cicit Asmara sambil tersenyum malu, kembali menatap lautan lampu di bawah tebing untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.

Wira terkekeh pelan.

Ia menggeser posisinya sedikit lebih dekat, membiarkan kehangatan tubuhnya memberikan sedikit tameng dari hembusan angin malam Gunung Kidul yang semakin dingin.

Di atas tebing yang tinggi itu...

Di bawah taburan bintang di langit dan jutaan 'bintang' buatan manusia di bumi...

Wira dan Asmara berdiri berdampingan.

Keheningan yang tercipta di antara mereka bukanlah keheningan canggung seperti saat pertama kali Wira dihukum di Ruang Budaya, melainkan sebuah keheningan yang sangat intim, nyaman, dan dipenuhi oleh bahasa tak bersuara yang hanya dipahami oleh hati mereka berdua.

Rencana nge-date pertama ini baru saja dimulai.

Dan Asmara tahu...

Sisa malam ini...

Akan menjadi malam paling berharga...

Yang akan terukir abadi...

Dalam ingatannya.

1
Yurmanitya Fadilah
Terharu aku 🥹
Wanoja
sedih
Wanoja
jadi inget adegan Cinta nyusul rangga di bandara di film aadc
Wanoja
eldeer itu berat
Wanoja
definisi ada senyum ada tangis ada bahagia ada luka
Wanoja
typo dikit nihh
Yurmanitya Fadilah
Sudah kuduga
Yurmanitya Fadilah
Akhirnya ada yang bisa menaklukan dia
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mwehehehe... 😍😍😍
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Gereget banget gue sama ini anak
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Emang badjingan si Wira... 🗿🗿🗿
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Ya Allah Wira Badung nya tuh ngebadung amat ini anak bikin emosi yang baca
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ciri khas bocah nggak mau diatur, Kak... 💪💪💪
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Hahahaaa ngakak🤣
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Hayo Lo Wira, good luck ya menghadapi Bude mu, semoga cepet tobat GK bandel lagi
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Aamiin... 🤭🤭🤭
total 1 replies
Wanoja
ngiri sama kebahagiaan mereka
Yurmanitya Fadilah
Wira Badung banget, bagus lah bapak ibunya bijak, aku setuju dia dipindahin ke Jogja aja 😄🤣
Wanoja
ya kali raka cs juga berubah kayak kmu wira setelah ke jogja terus ketemu dek asmara
Wanoja
seperti lagi dibawa keliling malioboro sama wira dan dek asmara
Wanoja
Bedanya apa ronde sama sekoteng?
Wanoja
😂 raka belum tau jogja sepertinya cuma candi sama naik becak katanya
Wanoja
baca nya esem esem ndewe
Wanoja: bayangin mereka lah
total 2 replies
@ ~arworld author(。・ω・。)
satu bunga untuk kakak nya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih, Kak...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!