Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERBONGKAR
Ratu Alice menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat, air mata wanita paruh baya itu langsung menetes deras melihat putri yang selama belasan tahun ia timang dan besarkan dengan penuh cinta kini bersimpuh mengenaskan di lantai dingin.
"Edelyn..." panggil Ratu Alice dengan suara bergetar parah, nyaris tak terdengar.
"Bagaimana bisa kamu tega meracuni ayahmu sendiri? Bukti-bukti semua kejahatan mu sudah ada, dan kesaksian para pelayan, semuanya sudah sangat jelas. Kenapa kamu berbuat sejauh itu?" tanya Ratu Alice, menangis tersedu gergugu.
"Itu tidak benar, Ibu!" tangis Edelyn histeris, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Ibu tahu aku menyayangi kalian! Aku hanya tersesat! Ada orang-orang yang menghasut ku! Tolong ampuni aku, Ibu, katakan pada Ayah untuk melepaskan ku!" jerit Edelyn, memohon di bawah kaki Ratu Alice.
Penyesalan memang datang di akhir, dan siapapun berhak mendapatkan kesempatan kedua, tapi tidak untuk seorang seperti Edelyn, kesalahan gadis itu benar-benar fatal dan tidak termaafkan, bahkan statusnya sekalipun tidak bisa menyelamatkan nya dari hukuman istana yang tertulis.
Raja Veldora mengepalkan tangan di atas sandaran singgasananya, rahangnya mengeras menahan amarah bercampur rasa kecewa.
"Tersesat kau bilang?" suara Raja Veldora bergetar berat, penuh kemarahan yang tertahan.
"Kamu meracuni ku selama bertahun-tahun, kamu bersekongkol dengan Kerajaan Zafira untuk menghancurkan kerajaan ini, kamu juga yang memberikan sihir hitam kepada ku, dan sekarang kamu masih berani memohon belas kasihan dengan air mata palsu mu itu?!" bentak Raja Veldora, penuh kemarahan.
Semua orang terdiam dan bahkan tidak berani bernafas terlalu kencang, mereka baru kali ini melihat seorang Raja Veldora yang selama ini terkenal tenang dan sangat menyayangi putri Edelyn.
"Ayah... kumohon..." ucap Edelyn menjerit pilu, bersujud.
Hatinya hancur bukan karena menyadari kesalahannya, melainkan karena dia tahu kekuasaan dan statusnya sebagai putri kini benar-benar telah lenyap.
Di sudut ruangan, Kalyca berdiri bersidekap dada, menatap pemandangan itu dengan tatapan dingin tanpa sedikitpun rasa iba.
Dulu, saat pemilik tubuh asli ini di siksa dengan keji oleh Edelyn, tidak ada satu pun air mata penyesalan yang keluar dari mata gadis itu. Sekarang, air mata palsu itu sama sekali tidak ada artinya.
"Sudah cukup sandiwaranya, Edelyn," ucap Erik dingin, memecah tangisan histeris sang putri.
"Berdasarkan hukum tertinggi Kerajaan Veldora, kejahatan berupa percobaan pembunuhan terhadap Raja dan pengkhianatan negara tidak memiliki keringanan hukuman!"
Seorang anggota dewan tua maju ke depan, membuka gulungan perkamen besar dengan tangan bergetar, lalu membacakan putusan resmi.
"Putri Edelyn, atas segala tindak kejahatan pengkhianatan, percobaan pembunuhan terhadap Raja dan persekongkolan dengan musuh, dewan kehormatan istana menjatuhkan vonis hukuman mati sesuai dengan aturan hukum tertinggi kerajaan!"
DUARRRRRRR.
Tamat sudah Edelyn kali ini, gadis gila itu benar-benar akan berakhir di tiang gantung.
Suara vonis itu bagaikan petir di siang bolong bagi Edelyn. Gadis itu langsung terduduk lemas, menatap kosong ke lantai dengan mata melotot lebar.
"Tidak... tidak mungkin..." bisik Edelyn gemetar, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Aku seorang putri! Kalian tidak bisa membunuhku! Ibu, katakan sesuatu, Ibu!" teriak Edelyn, menggeleng kan kepala nya kuat.
Ratu Alice sudah tidak sanggup lagi menahan tangisnya, dia memalingkan wajah nya, memeluk Raja Veldora, dan menangis sejadi-jadinya dalam dekapan suaminya.
Sang Raja sendiri menutup mata rapat-rapat, membiarkan keputusan pengadilan berjalan demi keselamatan seluruh rakyat Veldora.
"Keputusan dewan sudah bulat," tegas Erik tanpa ragu.
"Panglima Joel, bawa dia ke alun-alun utama istana. Laksanakan eksekusi sesuai hukum yang berlaku sebelum matahari terbenam!" perintah Erik tegas.
"Baik, Yang Mulia!" seru Joel lantang.
Dua pengawal istana kembali maju, mencengkeram lengan Edelyn yang sudah terkulai lemas tak berdaya, tidak ada lagi teriakan amarah, yang terdengar hanyalah tangisan pilu dan merintih putus asa dari bibir Edelyn saat tubuhnya diseret menjauh meninggalkan aula utama yang diselimuti oleh keheningan yang menyesakkan dada.
Tapi sebelum dia benar-benar keluar dari aula istana, sudut mata Edelyn melihat sosok gadis yang seharusnya tidak pernah menginjakkan kaki di istana ini, Edelyn mengenali mata itu.
"T-tidak mungkin, bagaimana bisa dia ada disini," gumam Edelyn, melihat Kalyca.
Kalyca yang melihat Edelyn tampak terkejut, hanya menyunggingkan senyum mengejek nya.
"Kenapa aku baru sadar, kalau tabib sialan itu Kalyca," batin Edelyn, emosinya kembali membara.
Kalyca melangkah maju beberapa langkah, berdiri tegak tanpa rasa gentar di hadapan Edelyn, dia perlahan membuka kain penutup wajah atau cadar nya, memperlihatkan wajah cantik nya yang membuat semua orang terpesona termasuk Erik.
Deg
Seketika itu juga, napas Edelyn tertahan. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke arah wajah Kalyca dengan tubuh yang mendadak kaku.
"K-kau...!" cicit Edelyn, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Ada apa, Putri Mahkota?" ucap Kalyca dengan suara dingin yang terdengar jelas di seluruh penjuru aula yang hening.
"Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Kalyca tersenyum miring.
Edelyn mengerang marah, urat-urat di pelipisnya menegang, yang ada di dalam kepalanya saat ini hanya keinginan untuk menghancurkan wanita di hadapannya.
"Bagus! Jadi kau memang sengaja datang untuk merusak semuanya, hah?!" bentak Edelyn histeris, meronta-ronta di antara cengkeraman pengawal.
"Kau pikir dengan wajah sok suci mu itu kau bisa merebut semuanya dariku?! Kau pikir siapa kau berani berdiri di atasku?!" teriak Edelyn, menatap Kalyca tajam.
Erik yang melihat pertengkaran itu semakin mengerutkan keningnya, dia merasa memang ada sesuatu diantara mereka berdua.
"Aku hanya mengambil kembali apa yang memang seharusnya menjadi milikku, Edelyn," jawab Kalyca tenang.
"Atau kamu lupa siapa pemilik asli singgasana dan darah bangsawan yang selama ini kau nikmati," lanjut Kalyca tersenyum miring.
"DIAM!"
"Jangan berani-berani menuduhku! Aku adalah Putri Mahkota yang sah! Aku darah daging Raja Veldora dan Ratu Alice!" bentak Edelyn, dengan nafas memburu.
"Kau yakin?" tanya Kalyca mendengus sinis.
"Apakah ada seorang anak kandung tega meracuni ayahnya sendiri?!" lanjut Kalyca tersenyum dingin.
Wajah Edelyn sudah memerah, dengan dada naik turun, darah nya benar-benar mendidih, dia tidak terima dengan ini semua.
"Kenapa kau diam Putri mahkota yang terhormat, ah apa perlu aku panggilkan Charlotte ke sini untuk menemani mu," ucap Kalyca, tersenyum miring.
"DIAM!!"
Teriak Edelyn, menggeleng kan kepala, tidak menyangka Kalyca sudah tahu sejauh itu.
"Hey tenang saja sayang, ibu kandung mu itu sebentar lagi juga akan menyusul mu, akan aku pastikan itu," bisik Kalyca, semakin membuat Edelyn meradang.
"Tutup mulut kotor mu sialan! Kamu itu tidak pantas ada disini! Bahkan kalaupun aku bukan anak kandung mereka, aku tetaplah satu-satunya putri yang mereka besarkan! Aku yang hidup sebagai bangsawan sementara kau, anak kandung mereka yang sebenarnya, hidup menderita di luar sana!" teriak Edelyn, tertawa seperti orang gila.
Deg