Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 — Perburuan Zhou Han
Berita tentang pelarian Zhou Han menyebar ke seluruh istana dalam hitungan jam, meski versi resmi yang diumumkan jauh lebih halus: "Pangeran Kedelapan sedang menjalani penyelidikan lebih lanjut di luar ibu kota." Namun setiap orang yang hadir di ruang sidang tahu kebenarannya Zhou Han telah menjadi buronan dari kerajaannya sendiri.
Raja Zhou Tian memberi Zhou Chen wewenang penuh untuk memimpin pencarian, sebuah kepercayaan yang beberapa bulan lalu mustahil dibayangkan oleh siapa pun di istana.
"Dia tidak akan lari jauh dalam waktu singkat," kata Zhou Ming, menyusun peta kerajaan di kediaman Zhou Chen bersama seluruh kelompok inti. "Tapi dia juga bukan orang bodoh. Dia pasti sudah punya rencana pelarian yang disiapkan jauh-jauh hari, mengingat kecepatannya menghilang dari istana."
"Zhou Yan," gumam Zhou Chen. "Kalau dia benar-benar bibi Ayahanda yang bersembunyi puluhan tahun, dia pasti punya jaringan persembunyian yang jauh lebih luas dari yang bisa kita bayangkan. Zhou Han mungkin sedang menuju salah satu tempat itu sekarang."
Zhao Kai menunjuk pada beberapa titik di peta desa-desa kecil dan pos perbatasan yang jarang diawasi ketat. "Kalau hamba jadi dia, hamba akan menghindari jalur utama sepenuhnya. Terlalu berisiko tertangkap. Rute yang paling masuk akal adalah melalui hutan di perbatasan barat daya sulit dilacak, jarang dipatroli."
Sementara persiapan pencarian disusun, Xiao Hei yang kini sudah pulih sepenuhnya berkat seminggu penuh istirahat sesuai anjuran Paman Guo kembali bergabung dengan kelompok, meski Zhou Chen masih melihatnya dengan sedikit kekhawatiran.
"Kau yakin sudah cukup kuat untuk misi ini?" tanya Zhou Chen.
"Retakan di meridian hamba sudah pulih sepenuhnya, Yang Mulia," jawab Xiao Hei mantap, meski ia sendiri tahu bahwa "pulih sepenuhnya" tidak berarti tanpa bekas sama sekali ada titik lemah kecil yang tersisa, yang menurut Paman Guo mungkin baru benar-benar hilang setelah ia mencapai tingkat kultivasi berikutnya. "Hamba tidak akan membiarkan Yang Mulia menghadapi ini tanpa hamba."
Zhou Chen mengangguk, meski catatan kecil tentang titik lemah itu tetap tersimpan di benaknya sesuatu yang harus terus ia perhatikan, bukan dilupakan begitu saja.
Rombongan kecil itu Zhou Chen, Zhao Kai, Xiao Hei, Yue Er, dan sepasukan kecil pengawal kerajaan yang kini dipercayakan langsung oleh Raja berangkat menuju hutan perbatasan barat daya sehari kemudian, mengikuti jejak yang berhasil dilacak Zhou Ming dari beberapa saksi di sepanjang jalur yang dicurigai.
Perjalanan tiga hari melalui medan yang semakin sulit membawa mereka ke tepi sebuah hutan lebat yang jarang dijamah manusia bukan Hutan Terlarang tetapi tempat kematian Zhou Li yang asli, namun cukup mirip suasananya untuk membuat Zhou Chen merasakan getaran familiar yang membuat tidak nyaman.
"Jejak kuda berhenti di sini," lapor salah satu pelacak yang dibawa dari pasukan kerajaan. "Setelah ini, sepertinya mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, kemungkinan untuk menghindari deteksi."
Zhou Chen mengarahkan Mata Dewa ke sekeliling hutan, mencoba menangkap petunjuk apa pun yang mungkin tersembunyi dari mata biasa.
Area hutan beberapa jejak kaki manusia terdeteksi menuju arah timur laut, sekitar dua hingga tiga hari lebih dulu dari rombongan saat ini. Pola langkah menunjukkan kelelahan dan kewaspadaan tinggi, konsisten dengan seseorang yang sedang melarikan diri sambil terus mengawasi kemungkinan dikejar.
"Timur laut," katanya, menunjuk arah yang dimaksud. "Dan mereka terburu-buru."
Namun perburuan itu tidak berjalan semulus yang diharapkan. Menjelang senja hari ketiga, saat rombongan kecil itu beristirahat sejenak di tepi sungai kecil untuk mengisi ulang perbekalan air, sebuah jebakan yang telah lama dipersiapkan akhirnya terungkap.
"Yang Mulia, awas!" Yue Er, dengan indra pengamatannya yang tajam, adalah yang pertama menyadari ada sesuatu tidak beres dengan dedaunan yang bergerak tidak wajar di sekitar mereka, meski tidak ada angin yang cukup kencang untuk menyebabkannya bergoyang.
Panah-panah dari berbagai arah tiba-tiba melesat dari balik semak-semak, memaksa seluruh rombongan berpencar mencari perlindungan. Ini bukan serangan Gagak Hitam yang terorganisir seperti di istana ini terasa lebih personal, lebih putus asa.
"Zhou Han sudah tahu kita akan mengejarnya," seru Zhao Kai, menangkis dua anak panah sekaligus dengan pedangnya sambil melindungi Zhou Chen di baliknya. "Dia meninggalkan jebakan untuk memperlambat kita!"
Xiao Hei, dengan kekuatan barunya yang kini jauh lebih terkendali, maju menghadapi beberapa penyerang bayaran yang mulai muncul dari persembunyian mereka bukan pasukan Gagak Hitam yang terlatih, melainkan bandit lokal yang tampaknya disewa mendadak dengan bayaran besar.
Pertarungan singkat namun sengit itu berakhir dengan kekalahan telak bagi para penyerang, yang jumlahnya kalah jauh dibanding pasukan kerajaan yang menyertai rombongan. Stategi Zhou Han berhasil dengan memperlambat pasukan Zhou Chen, dan yang lebih penting, jejak Zhou Han kini semakin sulit dilacak karena hujan yang mulai turun deras menghapus sisa-sisa petunjuk yang tersisa.
________________________________________
"Dia semakin licik," gumam Zhou Chen, frustrasi mulai terlihat jelas di wajahnya saat mereka terpaksa berhenti menunggu hujan reda. "Setiap langkah kita, dia sudah mengantisipasinya."
"Atau," kata Zhao Kai pelan, sesuatu dalam nada suaranya membuat Zhou Chen menoleh, "seseorang memberitahunya persis rute yang kita ambil."
Kecurigaan itu menggantung berat di udara. Sejak awal perjalanan, hanya lingkaran kecil yang tahu rute pasti yang mereka ambil dan pikiran bahwa salah satu dari mereka, atau seseorang dekat dengan mereka, mungkin membocorkan informasi ini kepada pihak Zhou Han, terasa seperti pukulan baru di tengah kelelahan yang sudah menumpuk.
Zhou Chen menggelengkan kepala, menolak untuk membiarkan kecurigaan itu meracuni kepercayaannya terhadap orang-orang yang telah membuktikan kesetiaan mereka berkali-kali. "Aku tidak percaya itu. Lebih mungkin, Zhou Yan memiliki jaringan mata-mata yang jauh lebih luas dari yang kita duga cukup luas untuk mengawasi pergerakan pasukan kerajaan sekalipun."Namun di dalam hatinya, benih keraguan kecil itu tetap tertanam.
Malam itu, di tengah hutan yang basah oleh hujan, Zhou Chen duduk sendirian sejenak jauh dari api unggun kecil yang dinyalakan rombongan, menatap ke arah timur laut tempat jejak Zhou Han menghilang.
Kau membunuh Zhou Li yang asli atau setidaknya, kau bagian dari orang-orang yang membunuhnya, pikirnya, rahangnya mengeras menahan amarah yang telah lama ia pendam sejak menemukan dokumen penyelundupan lama, dan sekarang kau lari bersembunyi di balik seseorang yang bahkan lebih licik darimu.
Ia menatap tangannya sendiri tangan yang bukan miliknya, namun kini telah menjadi bagian dari dirinya sepenuhnya setelah berbulan-bulan menjalani hidup ini.
Aku tidak akan berhenti sampai kebenaran ini benar-benar terungkap, batinnya bertekad. Bukan hanya demi diriku, atau demi Zhou Li yang asli. Tapi demi semua orang yang telah menjadi korban sepanjang jalan ini Pejabat Zhang, Lin Feng yang hampir mati disiksa, menteri junior yang tewas dalam serangan di istana. Mereka semua berhak atas keadilan yang sesungguhnya.
Di kejauhan, guntur bergemuruh pelan, seolah menjadi saksi bisu atas tekad baru yang semakin mengeras dalam diri seorang pangeran yang dulu dianggap paling tidak berbahaya di seluruh Kerajaan Zhou.