Indonesia
NovelToon NovelToon
Anomali Sang Pewaris

Anomali Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Rjm10

Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membedah Lautan Jiwa

Kecepatan Kaelen membelah udara menciptakan gelombang kejut sonik yang memekakkan telinga. Ia melesat bagai anak panah hitam yang dilepaskan dari busur raksasa, melintasi jarak sepuluh kilometer dalam hitungan belasan detik. Di depannya, Kubah Ibukota yang memancarkan cahaya keemasan pucat semakin membesar, menampilkan puluhan juta wajah astral yang berputar, menjerit, dan menangis dalam siksaan tanpa akhir.

Sepuluh meter sebelum benturan, Kaelen merentangkan lengan kanannya. Gauntlet obsidiannya menderu, memancarkan pendar ungu yang sangat pekat.

Alih-alih menabrak perisai itu dengan kekuatan destruktif, Kaelen menusukkan cakar bajanya ke permukaan kubah emas. Sensasinya tidak seperti menghantam dinding beton, melainkan seperti memasukkan tangan ke dalam lautan raksa yang mendidih.

Seketika, momentum Kaelen terhenti di udara. Ia tergantung di ketinggian lima puluh meter dari tanah, telapak tangan mekanisnya tertanam di dalam selaput perisai raksasa tersebut.

Lalu, kengerian yang sesungguhnya dimulai.

Kaelen memutar polaritas Inti Leviathan ke tingkat mikro. Ia melumpuhkan fungsi penelan otomatis artefak itu dan mengambil alih kendali secara manual. Ia harus memilah partikel sihir (mana) yang mengikat perisai ini dan memisahkannya dari esensi nyawa (Anima) jutaan manusia di dalamnya.

Satu detik pertama, pertahanan mental Kaelen runtuh total.

Suara-suara itu meledak di dalam tengkoraknya. Bukan suara di telinga fisik, melainkan ribuan kenangan, emosi, dan trauma yang merobek langsung ke dalam kesadarannya. Kaelen merasakan rasa lapar seorang anak pemulung di distrik kumuh ibukota. Ia merasakan keputusasaan seorang ibu yang putrinya diculik oleh Garda Matahari. Ia merasakan rasa sakit tulang punggung ribuan budak pekerja paksa, ketakutan prajurit rendahan, dan kesedihan orang-orang yang dipaksa menyerahkan energi jiwa mereka untuk sang Kaisar.

Jutaan kehidupan mengalir masuk ke dalam otak Kaelen secara bersamaan. Hidung Kaelen langsung memuntahkan darah segar. Pembuluh darah di matanya pecah, membuat pandangannya memerah.

Peringatan. Kelebihan beban kognitif terdeteksi.

Suara mekanis dari Inti Leviathan menggema di alam bawah sadarnya. Gauntlet di lengannya mulai memancarkan warna merah membara.

Menutup empati. Memulai mode pemusnahan total.

"TIDAK!" raung Kaelen, suaranya pecah oleh darah yang memenuhi tenggorokannya.

Jika ia membiarkan mesin itu mengambil alih, Domain Null akan menyapu bersih seluruh kubah ini. Jutaan nyawa itu akan lenyap menjadi debu astral. Kaelen mengertakkan giginya hingga beberapa gigi gerahamnya retak. Ia memaksa kehendak manusianya untuk menundukkan logika absolut dari mesin pemakan dewa tersebut.

Untuk pertama kalinya sejak ia mengenakan logam itu, Kaelen berhenti menekan emosinya. Ia merangkul seluruh rasa sakit jutaan jiwa itu. Ia membiarkan trauma mereka menyatu dengan traumanya sendiri—pengkhianatan pamannya, rasa dingin di klinik Silas, dan keputusasaannya saat ia dibuang.

"Rasa sakit ini..." Kaelen berbisik di sela-sela jeritannya, air mata darah mengalir dari sudut matanya, "...adalah bukti bahwa kita masih hidup!"

Gauntlet obsidian itu merespons kehendak mutlak tuannya. Warna merah peringatan itu perlahan kembali menjadi ungu kelam, namun kali ini jauh lebih terang, menyilaukan seperti bintang yang sekarat.

Kaelen menggunakan Domain Null bukan sebagai palu godam, melainkan sebagai pisau bedah setipis atom.

Dari ujung-ujung cakar metaliknya, jaring ketiadaan menyebar merambat ke seluruh permukaan perisai emas. Alih-alih menghancurkan, jaring ungu Kaelen memutus benang-benang sihir kaisar yang membelenggu jiwa-jiwa tersebut. Kaelen menyedot seluruh racun mana kaisar ke dalam dadanya, menanggung beban energi menjijikkan itu, sementara ia dengan lembut melepaskan ikatan pada jutaan Anima.

Di bawah sana, dari jarak sepuluh kilometer, seluruh pasukan Faksi Ketiadaan menahan napas. Silas menjatuhkan radarnya, berlutut dengan air mata menggenang di balik kacamatanya.

"Dia melakukannya," bisik Silas tak percaya. "Dia membedah jiwa dewa dengan tangan manusia."

Permukaan perisai emas itu mulai retak. Retakannya memancarkan cahaya putih murni, bukan ledakan mematikan. Suara jeritan penderitaan dari wajah-wajah astral di perisai itu berangsur-angsur berubah menjadi desahan lega.

KRAAATAK!

Kubah emas raksasa yang menutupi Ibukota Kekaisaran akhirnya hancur. Namun, kepingannya tidak jatuh untuk menghancurkan kota. Kepingan itu berubah menjadi jutaan cahaya kecil yang melayang turun layaknya hujan kunang-kunang di tengah hari, kembali ke tubuh para warga sipil yang tengah terbaring sekarat di jalanan ibukota. Energi kehidupan mereka telah dikembalikan.

Batas pertahanan absolut Kekaisaran Pusat telah runtuh, bukan oleh sihir besar, melainkan oleh ketiadaannya.

Di udara, tanpa perisai untuk menopang tubuhnya, beban gravitasi dan kelelahan mental yang ekstrem menghantam Kaelen. Kesadarannya nyaris padam. Tubuhnya jatuh bebas dari ketinggian lima puluh meter.

BUM!

Kaelen menghantam bumi di depan Gerbang Emas Ibukota, menciptakan kawah sedalam dua meter yang menerbangkan debu dan batu pualam ke udara.

Hening.

Dari balik gerbang raksasa yang kini tak lagi dilindungi sihir, puluhan ribu pasukan Inkuisisi dan Garda Kekaisaran yang bersiaga di dalam kota hanya bisa menatap ngeri pada debu yang mengepul di luar. Mereka telah menyaksikan dewa kehancuran meruntuhkan perisai tak terkalahkan kaisar mereka sendirian.

Dari kejauhan, raungan armada Behemoth Darat milik Faksi Ketiadaan mulai terdengar. Melihat kubah hancur tanpa ada ledakan jiwa, Jenderal Kael telah memberikan perintah maju dengan kecepatan penuh.

Namun di dalam kawah tempat ia jatuh, Kaelen tidak bergerak. Tubuhnya tertelungkup. Jubahnya hangus. Lengan kirinya patah, dan gauntlet obsidian di lengan kanannya berasap panas, mengeluarkan suara mendesis yang memilukan. Otaknya dipenuhi oleh jutaan suara yang bergema silih berganti. Batas antara realitas dan ilusi mengabur. Ia merasa ingin mencabik-cabik apa pun yang ada di dekatnya untuk menghentikan kebisingan ini.

Apakah aku sudah menjadi monster? batin Kaelen, tangannya yang gemetar meraih tanah berdebu.

Ia memejamkan mata, bersiap membiarkan kegilaan mengambil alih. Namun, sebuah sentuhan dingin menyadarkannya. Pipinya bersentuhan dengan gagang sebuah belati. Kaelen membuka matanya dengan susah payah. Itu bukan belati. Itu hanyalah serpihan besi tajam dari reruntuhan gerbang, namun bentuknya mengingatkannya pada belati yang ia lemparkan ke kaki Lyra sebelum ia melompat.

Jika aku gagal... kalian tahu apa yang harus kalian lakukan.

Kaelen menarik napas panjang. Udara dingin dan berbau logam memenuhi paru-parunya. Suara-suara di kepalanya masih ada, namun ia menguncinya di dalam sebuah ruangan tak kasat mata di sudut pikirannya. Ia menggunakan kehendaknya untuk membungkam kehendak artefak tersebut. Ia tidak akan mati di sini, dan ia tidak akan membiarkan Lyra atau Silas menancapkan pisau ke jantungnya.

Dengan sisa tenaga yang nyaris mustahil dimiliki oleh manusia yang tubuhnya telah remuk, Kaelen menancapkan gauntlet obsidiannya ke tanah dan mendorong tubuhnya naik. Ia memaksakan lututnya untuk lurus. Tulang iga yang retak menjerit protes, namun Kaelen berdiri tegak.

Asap tebal perlahan menipis.

Pasukan Kekaisaran di balik gerbang membelalakkan mata saat melihat sosok siluet kelam itu berdiri dari kawah. Wajah Kaelen dipenuhi darah yang mengering, mata ungunya menyala di tengah debu dengan intensitas yang lebih mengerikan dari sebelumnya. Bukan lagi tatapan mesin yang kosong, melainkan tatapan seorang manusia yang membawa murka jutaan nyawa.

Kaelen menoleh ke belakang, ke arah armada bajanya yang kini hanya berjarak satu kilometer dan terus mendekat dengan raungan mesin uap yang menggetarkan bumi.

Ia mengangkat gauntlet kanannya yang berasap tinggi-tinggi ke udara, mengepalkan cakarnya, memberikan sinyal mutlak yang telah ditunggu oleh lima ribu prajuritnya. Sinyal yang berarti jalan telah terbuka.

Kaelen lalu berbalik, menatap lurus ke arah Istana Matahari di pusat Ibukota, tempat Sang Kaisar bertahta.

"Hari ini," bisik Kaelen, suaranya pelan namun terdengar jelas oleh barisan depan pasukan Kekaisaran, "langit runtuh di atas kepala kalian."

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai outhor salam kenal . mau masuk grup ku gak saling support
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ayo saling folow
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!