Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30.ini kencan?

Suasana di mansion Diksara pasca insiden "map merah berisi foto kuliner pinggir jalan". Udara di dalam rumah mewah itu mendengung kaku, dingin, dan dipenuhi ketegangan tak kasat mata. Di sayap utara mansion, Mamah Ratna dikabarkan memilih mengurung diri di kamarnya sepanjang hari, menolak makan siang, dan masih meradang hebat karena merasa dipermalukan oleh anak kandungnya sendiri demi membela seorang menantu pilihan yang dianggap tidak selevel.

Sementara itu, di kamar utama lantai atas, situasi justru berbanding 180 derajat.

Naya sama sekali tidak terbebani oleh amukan sang mertua. Setelah insiden pagi tadi selesai dan Damar kembali sibuk dengan urusan pekerjaan di ruang kerjanya, Naya malah memanfaatkan waktu luang itu untuk bersantai di atas ranjang king size empuk sambil menikmati sekotak donat kentang tabur gula halus yang diam-diam ia stok di dalam laci nakas kamarnya.

Kriuk... nyam!

"Wah, gila sih. Drama mertua galak pagi-pagi gini bener-bener menguras kalori," gumam Naya seorang diri di tengah kamar sambil mengunyah donat dengan penuh penghayatan, kakinya bergoyang-goyang santai di udara. "Untung si Mas Kulkas tadi pasang badan dengan gaya sok pahlawan kesiangan. Kalau enggak, bisa-bisa rambut aku dijambak Clara si Mbak Lampir."

Naya terkikik geli sendiri mengingat bagaimana wajah pucat pasi Clara saat diusir keluar dari kamar utama oleh Damar. Di dalam dunia novel yang ia masuki ini, memiliki suami yang punya tingkat gengsi setinggi langit tapi mendadak jadi pelindung dadakan ternyata memberikan sensasi komedi tersendiri yang cukup menghibur.

Namun, di balik sikap santainya, Naya tetap mengingat hitungan mundur kontrak pernikahan mereka. Sisa waktu tinggal kurang dari empat bulan lagi, batin Naya mengingatkan dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk remah donat di tangannya. Aku nggak boleh baper, nggak boleh terlena sama kenyamanan mansion mewah ini. Ingat target utama: bertahan sampai kontrak habis, ambil cek dua miliar, cabut, lalu bangun kafe kue pancong impian sebagai janda kaya raya yang mandiri!

Tepat saat Naya sedang asyik merajut angan-angan indahnya sebagai pengusaha sukses di masa depan, pintu penghubung antara kamar utama dan ruang kerja pribadi Damar tiba-tiba terbuka perlahan.

Ceklek.

Sosok Damar Diksara muncul dari balik pintu. Pria itu sudah menanggalkan jaket kasualnya, kini hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang yang sedikit digulung sampai siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Wajahnya tampak lelah setelah berjam-jam berkutat dengan panggilan konferensi internasional bersama para pemegang saham, tetapi sorot mata tajamnya langsung mendarat tepat pada Naya yang sedang belepotan serbuk gula halus di sekitar bibirnya.

Damar menghentikan langkahnya sejenak, mengamati pemandangan di hadapannya dengan sebelah alis terangkat.

"Kamu ini..." suara bariton Damar memecah keheningan kamar, terdengar lelah namun terselip nada geli yang tipis. "...sejak kapan hobi menimbun makanan manis di dalam kamar? Ini kamar tidur utama mansion mewah, Naya, bukan gudang logistik tenda pengungsian."

Naya buru-buru menelan donat di mulutnya, lalu menyeka bibirnya dengan punggung tangan secara asal-asalan. Ia menatap suaminya dengan dagu diangkat menantang.

"Dih, protes mulu dari tadi! Suka-suka saya dong mau nyetok makanan apa! Daripada stres mikirin saham perusahaan anjlok gara-gara muka kamu ditekuk terus kayak cucian belum disetrika," balas Naya sewot, lalu menyodorkan sekotak donat ke arah Damar. "Nih, mau nggak? Biar kadar gula darah kamu naik, jadi hormon juteknya agak mereda sedikit."

Damar melirik sekilas ke arah kotak donat berbalut gula bubuk itu, lalu mendengkus pelan. Pria itu berjalan mendekat, melangkah ke sisi tempat tidur, dan berdiri tepat di hadapan Naya yang masih duduk bersila.

"Saya tidak butuh makanan manis untuk meredakan stres," jawab Damar dingin dengan nada angkuhnya yang khas, sengaja memasang kembali topeng kulkas dua pintu miliknya. "Saya hanya butuh ketenangan. Sesuatu yang sangat langka sejak kamu resmi menginjakkan kaki di rumah ini."

Naya memutar bola matanya jengah, mendengus keras. "Yee, dibilangin baik-baik malah songong! Kalau nggak butuh, sana balik lagi ke ruang kerja! Ngapain juga ngeliatin saya makan di sini? Mau minta jatah?"

Damar tidak langsung menjawab. Pria itu justru menundukkan sedikit tubuhnya, mempersempit jarak di antara mereka. Tatapan matanya yang tajam mengunci pergerakan Naya, membuat sang gadis spontan menelan ludah meski berusaha tetap pasang badan tegar.

"Malam ini," bisik Damar dengan suara rendah yang terdengar begitu berwibawa namun sarat akan keintiman, "ikut saya."

Naya mengerjap kaget, menghentikan gerakan mengunyahnya. "Ha? Ikut ke mana? Mau diajak ronda malam keliling komplek perumahan boncengan bertiga sama satpam?"

Damar mendengkus geli, nyaris tersenyum sebelum berhasil mengontrol kembali ekspresi datarnya. "Bukan ronda. Temani saya menghadiri acara jamuan makan malam amal di hotel bintang lima pusat kota. Acara formal perusahaan."

Mendengar kata "acara formal" dan "hotel bintang lima", seketika itu juga ekspresi Naya berubah total menjadi ngeri. Ia langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak mentah-mentah ajakan tersebut.

"Ogah! Ogah banget!" seru Naya histeris sambil melambaikan kedua tangannya di depan dada. "Kamu tahu kan saya nggak punya gaun bergemerlapan ala sosialita elit? Lagian, kalau saya datang ke sana, yang ada saya keselek makan kaviar atau nginjak gaun sendiri terus bikin malu keluarga Diksara di depan para investor! Cari partner lain aja gih, sana ajak Clara si Mbak Lampir tuh, dia kan paling jago pasang senyum palsu di karpet merah!"

Mendengar nama Clara disebut-sebut, rahang Damar kembali mengeras seketika. Kilatan tidak suka melintas di sorot mata tajam pria itu.

"Jangan pernah sebut nama perempuan itu di depan saya," ujar Damar dingin, suaranya naik satu tingkat dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah. "Dan mengenai pakaian... kamu tidak perlu pusing memikirkannya. Semuanya sudah saya urus."

Sebelum Naya sempat melayangkan protes protes jilid kedua, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu utama kamar mereka.

Tok, tok, tok.

"Masuk," titah Damar tanpa mengalihkan pandangannya dari Naya.

Pintu kamar terbuka, dan seorang pelayan senior wanita melangkah masuk dengan hati-hati sambil membawa sebuah gaun malam panjang berukuran besar yang dibungkus rapi dalam balutan pelindung pakaian eksklusif, disusul oleh kotak sepatu senada di tangannya.

Naya terperangah, menatap gaun yang diletakkan di atas sofa kamar utama dengan mata mengerjap tak percaya. Gaun berpotongan A-line elegan berwarna emerald green dengan detail bordir permata halus di bagian kerah dan bahu tampak begitu mewah, memancarkan kesan anggun namun tetap berkelas tinggi.

"Gaun ini..." cicit Naya pelan, kehilangan kata-kata untuk sesaat.

Damar menegakkan kembali tubuhnya, merapikan lengan kemejanya dengan gerakan santai. Pria itu melirik sekilas ke arah gaun tersebut, lalu kembali menatap Naya dengan sorot mata yang menyembunyikan rasa kagum di balik sikap angkuhnya.

"Saya sudah meminta penata busana pribadi keluarga untuk menyiapkannya khusus sesuai ukuran kamu kemarin sore," kata Damar datar, seolah-olah membelikan gaun mewah seharga ratusan juta rupiah adalah hal yang sangat sepele baginya. "Jadi, tidak ada alasan bagi kamu untuk menolak, Naya. Jam delapan malam kita berangkat. Jangan membuat saya menunggu."

Naya mendengkus kesal, melotot tajam ke arah suaminya. "Dih, main paksa aja! Ini namanya diktator berkedok suami kontrak! Kalau nanti di sana kaki saya pegal karena pakai sepatu hak tinggi, awas ya kamu harus gendong saya pulang!"

Sudut bibir Damar akhirnya tertarik membentuk senyuman miring yang begitu memesona, meski ia berusaha menutupinya dengan berbalik badan melangkah kembali ke ruang kerjanya.

"Buktikan saja nanti malam, apakah kamu cukup kuat bertahan di samping seorang CEO Diksara Group, atau justru pingsan karena terpesona," balas Damar santai sebelum menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat.

Naya mendengus sebal, melayangkan tinju angin ke udara ke arah pintu yang sudah tertutup. "Sinting! Pria kulkas itu lama-lama makin nyebelin aja!" gerutunya pelan. Namun, jauh di lubuk hatinya, debaran jantung Naya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Tepat pukul delapan malam, transformasi besar terjadi di mansion Diksara.

Di dalam mobil SUV hitam mewah yang membelah jalanan kota menuju gedung ballroom hotel bintang lima, Naya duduk gelisah di kursi penumpang sebelah pengemudi. Ia mengenakan gaun emerald green pilihan Damar, dengan rambut panjangnya yang disanggul modern rapi oleh penata rias profesional tadi sore, menyisakan beberapa helai anak rambut ikal yang membingkai wajah cantiknya secara sempurna.

Damar, yang duduk di balik kemudi dengan balutan setelan jas formal hitam pas badan berdasi senada, sempat tertegun selama beberapa detik saat pertama kali melihat Naya keluar dari kamar utama tadi. Pria itu kehilangan kata-kata, menyadari bahwa istrinya yang biasanya berkaos oblong dan celana training kini tampak begitu luar biasa menakjubkan, anggun, dan memancarkan pesona alami yang langsung meruntuhkan pertahanan dinginnya.

Namun, demi menjaga gengsi tingkat dewanya, Damar hanya berdehem pelan saat itu, lalu berkata datar, "Lumayan. Setidaknya tidak membuat keluarga Diksara malu di depan publik."

Dasar kulkas bermulut pedas! batin Naya saat itu mendengkus sebal.

Kini, setibanya mereka di pelataran lobi hotel megah yang dipenuhi lampu kristal berkilau dan kilatan kamera wartawan infotainment, ketegangan Naya mencapai puncaknya. Begitu mobil berhenti dan pintu dibukakan oleh petugas valet, lampu kilat kamera langsung menyilaukan mata.

Naya menelan ludah kesusahan. Ia tidak terbiasa disorot oleh begitu banyak kamera media.

Melihat keraguan di wajah istrinya, Damar tanpa ragu mengulurkan tangan kanannya, menawarkan lengan kokohnya untuk digandeng.

Naya menoleh kaget, menatap tangan Damar lalu beralih menatap wajah suaminya. "Mas..." cicit Naya ragu.

"Pegangan yang erat," bisik Damar rendah dengan suara bariton yang menenangkan, menatap lurus ke depan dengan sorot mata penuh wibawa. "Di hadapan mereka semua, kamu adalah nyonya besar Diksara. Tidak ada yang boleh meremehkan kamu, paham?"

Kalimat itu meluncur begitu tulus, menghantam telak sanubari Naya. Tanpa banyak berpikir lagi, Naya akhirnya melingkarkan tangannya erat-erat pada lengan bidang Damar.

Bersama-sama, sang CEO dingin dan sang istri "janda kaya masa depan" melangkah mantap memasuki ballroom megah, siap menghadapi badai sosialita dan para petinggi bisnis elit yang sudah menunggu di dalam sana.

_bersambung

1
Runa fatia
rada ngakakkk ngebayangin wajah damar🤣🤣🤣 apa ga malu kali tuh
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!