Time travel seorang gadis yang terpeleset di acara festival lampion kampus.
Karya Fantasi kedua setelah Petualangan Mayanza, semoga berkenan di baca tiap episode nya... 🤍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 3 Persiapan Festival Kampus
"Angelie lee, aku sudah disiapkan semua" kata Ketua Panitia
"Iya kak, 70% rampung" kataku
Kampus kami memang akan berulang tahun sekaligus di rayakan setiap tahun baru, karena bangunan Kampus adalah bangunan peninggalan sejarah, mengenang dari awal pembangunan dan sejarahnya, kami mengusung tema kuno agar semua mahasiswa bisa mengenang sejarah negara sekaligus bangunan kampus.
Mahasiswa wajib menggunakan pakaian tradisional dan membawa lampion serta lentera masing-masing untuk diperlombakan.
Setelah acara napak tilas akan di umumkan pemenang lentera dan lampion terbaik.
Karena aku mahasiswa jurusan akhir harus banyak terlibat.
"Sudah berapa jam menulis lampion?" tanya teman satu jurusanku.
"Enam jam ini hanya berkutat di kertas merah" kataku sambil memegang kuas dan tertawa,
Yang lainnya juga melakukannya.
Kami menulis dengan tulisan kuno, karena kami dari Jurusan seni menulis kuno.
Yang kami tulis, dimulai Selamat Tahun Baru.
Dengan jumlah seribu lembar yang dibagi berapa kelompok.
Untuk di tempelkan di lampion dan di pohon-pohon yang ada di sekitar kampus.
Tugas ini memang banyak, tapi ini juga menambah nilai akhir mahasiswa, kami tetap bersemangat melakukannya.
**
"Lee..., lenteramu sudah dibuat?" tanya seorang temanku yang juga sibuk menulis di sampingku.
"Ya ampun..belum...bagaimana dengan milikmu?" tanyaku juga dengan tangan yang bolak bailk mencelupkan kuas ke tinta dan menulis di lembar kertas merah.
"Sudah, kuserahkan saja ke ahlinya" katanya melirik keluar.
Dua bulan sebelum kegiatan mudah-mudahan semuanya tepat waktu.
Anak-anak mahasiswa seni lainnya juga sibuk membuat lentera, Jurusan Seni Kriya yang membuat hasil karya dengan tangan.
Selesai menulis lima puluh lembar aku istirahat minum es kopi.
"Maaf menggangu" kataku pada seorang mahasiswa yang sibuk dengan lentera.
Pemuda itu mendongak sebentar karena aku berdiri di sampingnya sambil memegang gelas kopiku.
"Iya ada apa?" tanyanya.
"Boleh minta tolong buatkan aku lentera juga?" tanyaku
"Berapa banyak yang kau mau?" tanyanya sambil memandangku tangannya berhenti merakit benda kotak di depannya.
"Cuma satu, aku butuh bantuanmu membuat lentera bentuknya seperti ini" kataku sambil menyerahkan lembaran kertas kulukis seadanya sesuai dengan lentera yang kuinginkan.
Pemuda itu meraih secarik kertas yang kugambar.
"Baiklah" kata pemuda itu sambil mengangguk mengerti.
"Biayanya?" tanyaku
"Dua Ratus Ribu" katanya sambil sibuk lagi merakit.
"Baik, ini aku bayar lunas" kataku menyerahkan uang.
Pemuda itu terdiam lagi, "Jangan uangnya nanti saja" katanya menolak
"Sudahlah...nanti aku lupa" kataku tersenyum
Pemuda itu mengambil uangnya dan menaruhnya dalam kaleng, "Akan selesai dalam dua minggu, nanti aku antar ke perpustakaan" katanya.
"Baik, terima kasih" kataku.
Dia sudah tau aku dan namaku jadi gampang tidak perlu perkenalan lagi siapa di akmpus ini yang tidak kenal Angelie Lee.
Aku sudah populer sebelum menjadi mahasiswa baru, aku juga pernah menjadi putri kampus, bukannya aku pamer tapi kenyataannya begitu.
Lentera sudah aman, aku kembali ke Perpustakaan untuk melanjutkan menulis lembaran tulisan Tahun Baru.
Aku menyusuri lorong perpustakaan, mencari bangku yang aman untuk berkonsentrasi menulis,
di pojok ruangan yang sepi, menghadap jendela bangku itu baru saja ditinggalkan pembacanya.
Beberapa buku masih tersusun di meja, kebiasaan tidak mengembalikan buku ke tempatnya, akan merepotkan pustakawan menyusun ulang.
Kuletakan peralatanku di meja.
Ada tiga buku yang usang karena tua, aku melihat kode rak di samping bawah buku, menyusuri lorong-lorong itu mengantarkan buku yang diambil, terakhir aku membolak-balik buku tidak kutemukan kode rak.
Kubawa kembali ke meja, ku buka mengetahui tipe buku.
Bacaannya menarik, tentang Sejarah Kerajaan Fang, seorang gadis bernama Xiu Ren dan Pangeran Fang.
Aku menutup buku itu, nanti akan kupinjam saat pulang, aku selesaikan dulu tugas harian menulis.
"hei lee...apa yang kau lakukan disini" kata seorang teman perempuan satu jurusan.
"Menulis" kataku tersenyum.
Tanganku rasanya sampai nyilu, karena aku ketua kelompok untuk tim menulis harus bertanggung jawab.
"Luar biasa, aku sampai harus pergi ke pijat refleksi" kata temanku tertawa.
"Mungkin aku juga perlu pijat refleksi" kataku ikut tertawa.
"Kupikir tadi tidak ada orang, kami sibuk di depan, aku cuma berjalan-jalan kesini" kata temanku.
"Aku juga hampir selesai, setelah ini pulang dulu, sebagian sudah aku masukan di tas" kataku.
"Kami mungkin disini sampai malam" kata temanku.
Aku mengangguk, mengumpulkan barang, pulang ke kost dan membawa buku tua yang akan kupinjam.
Kami berdua ke bagian depan perpustakaan.
Mahasiswa baru sibuk menulis menoleh ke arahku yang datang dengan lembaran yang sudah selesai kering setelah di tulis, aku mengumpulkan ke seorang mahasiswa untuk menghitung jumlah tulisan sampai yang terakhir.
"Sampai sekarang tujuh ratus delapan puluh lima lembar" katanya mengumumkan.
"Ayo, semangat" kataku kepada semuanya
"Siap kak Lee.." kata mereka menyahut hampir serempak.
Ruang perpustakaan menjadi sedikit bersuara.
Aku mengunjungi pustakawan.
"Aku pinjam ini kak" kataku dengan perempuan berkacamata tebal rambut ekor kuda yang tinggi, dari gaya berpakaian yang vintage aku tau dia memang terlihat eksentrik, dengan kuteks warna warni.
"Buku ini boleh di pinjam seminggu" katanya sambil mengetik di komputer
"Dua minggu ya kak..." aku belum sempat baca kalau banyak tugas kataku menawar
Dia mengangkat kacamatanya yang melorot, "Dua minggu lee?" katanya
Aku mengangguk setuju, menunggu dia mengeprint lebar peminjaman.
Selesai tanda tangan nota satunya kubawa, kukembalikan saat pengembalian buku.
**
Aku menyimpan buku itu di meja dekat kasur.
Saat sebelum tidur akan kubaca.
Istirahat, mandi dan makan.
Handphoneku penuh dengan notifikasi,
Pesan "Kapan pulang" kata Kakakku
Beberapa telepon masuk dari rumah.
Seminggu sekali aku pulang, itupun kalau sempat, sejak aku lulus Sekolah Menengah dan masuk ke jurusan seni, kedua orang tuaku menentangku.
Mereka hanya memperhatikan kakak tertuaku yang sekarang seorang lulusan sekolah bisnis.
Kuliahku tidak di biayai penuh oleh orang tua, sejak pilihanku masuk sekolah seni, kartu tabunganku di sita, keuangan yang berasal dari orang tua di stop.
aku membiayai kuliah dengan beasiswa, berkerja part time di cafe dan ikut kontes di kampus, hadiahnya ku tabung untuk membantu membiayai kuliah.
Beruntung aku juga sebagai asissisten dosen sekarang jadi ada penghasilan tambahan untuk membayar uang kost.
Kakakku juga tetap baik kadang dia metraktirku makan kalau ada waktu senggang.
Ibu dan Ayahku sangat sibuk dengan bisnis mereka, setiap aku pulang kerumah mereka tidak pernah muncul.
Dua bulan lagi tahun baru, sepertinya orang tuaku tidak menginginkan aku lagi berada di dekat mereka semenjak aku tidak ingin mewujudkan keinginan mereka.
Aku membaca buku yang kupinjam lalu tertidur
**
Pagi sampai siang aku dan teman-teman satu jurusan sibuk menulis dan mengeringkan tulisan di perpustakaan.
"Angelie Lee...gimana kalau kita istirahat di cafe saja" kata temanku menulis.
Aku mengangguk, sekarang juga mulai mengantuk, karena hari menjelang siang.
"Buku yang kau pinjam kemarin rasanya aku pernah membacanya" kata Temanku sambil menikmati goreng kentang.
"Buku tentang Permaisuri istana?" tanyaku.
"Buku tua yang tulisannya bercampur bahasa kuno itu kan?aku smapai pusing membacanya sambil mengingat arti tulisannya" kata temanku.
"Aku setuju, aku sampai membaca dua lembar langsung mengantuk, bagaimanapun Xiu Ren tampaknya bodoh" kataku tertawa di sambut anggukan temanku dan kedua teman yang lain hanya mendengarkan mungkin tidak tau buku apa yang kami bahas.
"Kak Lee, boleh minta nomormu?" tanya seorang pria yang tiba-tiba bertanya sudah dari tadi duduk di dekat kami.
Aku terdiam sambil meminum green tea boba dengan sedotan.
"Cieeeeee" kata temanku menggoda.
"Aku perlu konsultasi menulis kuno" kata Pemuda itu malu-malu, sepertinya mahasiswa yang kubimbing hanya aku lupa namanya.
Aku menunjukan QR nomor HPku dan dia langsung memindai.
"Terima kasih" kata pemuda itu.
"Sama-sama, tapi kau ikut tim apa sekarang? kalau kau tidak ikut tim lebih baik ikut bergabung bersama kami dalam tim menulis" kataku
"Maaf kak, aku sudah ikut tim menulis lampion" kata pemuda itu.
"Oh, begitu...ya sudah, tidak apa-apa" kataku lagi tersenyum.
"Semua sudah dibagi dan dapat Tim Ketua Lee... hanya saja kelompok kita saja yang terlihat berkerja banyak, yang lain masih bisa bersantai di cafe" kata temanku yang duduk di hadapan.
"Kita juga bersantai" jawabku sambil tersenyum karena aku lihat pemuda yang di samping tidak enak dengan perkataan temanku tentang bersantai.
"Baru kali ini kita bersantai" kata temanku menjawab.
"Besok kita mulai santai, tenang saja, yang bertugas menempel juga bukan kita kan?" tanyaku.
"Kabarnya begitu ketua" jawabnya.
**
Suasana sore sedikit berangin, bangunan kampus tua yang kokoh.
Aku juga seorang yang penakut, apalagi kalau akan hujan suasana kampus menjadi gelap.
Daun-daun di pohon besar bergoyang, aku hanya takut rantingnya patah menimpa orang yang lewat.
Seorang wanita sepertinya bingung berjalan mengitari kampus dengan pakaian sederhana berwarna coklat, atasan coklat muda dan rok panjang coklat tua.
"Bu...ada yang bisa dibantu" kataku mendekat.
Matanya menatapku tanpa berkedip, wanita beruban itu mendekat.
"Aku mencari jalan keluar, sepertinya aku tersesat" katanya.
"Oh.., mari saya antar" kataku.
"Kalian sangat mirip" katanya memandangku sambil menuntun jalannya ke depan.
"Mirip siapa?" tanyaku menoleh ke arahnya.
"Mirip gadis yang ku kenal, siapa namamu?" tanyanya.
"Angelie Lee.." kataku sambil tersenyum.
"Angelie Lee...Angelie Lee" dia menyebut namaku seolah menghapal.
"Panggil saja Lee, di depan gerbang keluar bu" kataku.
"Terima kasih" ucapnya.
Aku menganggukkan kepala, angin bertiup keras ranya badannku hampir terbang, aku menoleh ke samping lagi ibu itu sudah pergi, cepat sekali.
Aku buru-buru kembali ke Perpustakaan untuk menulis.
Bersambung...