Indonesia
NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Arhan terlihat gugup.

Gugup yang tidak ia sembunyikan, yang terlihat jelas di cara ia memegang kertas di tangannya. Kertas rincian itu ada di tangan Arhan, dua lembar yang diberikan pegawai rumah sakit tadi. Di lembar itu tertera biaya kamar, tindakan semalam, obat, dan konsultasi. Matanya menatap angka di bawah, total keseluruhannya.

Dia tidak sadar. Tabungannya sudah habis. Ia tidak memeriksa selama beberapa hari ini. Pikirannya penuh dengan Anya, dengan rasa sakitnya, dengan angka tiga puluh hari yang masih terngiang. Ia lupa bahwa rekeningnya sudah menipis, bahwa ia sudah lama tidak menerima pemasukan.

Lalu dia pun menjawab, suaranya pelan, ia menatap pegawai di balik kaca.

"Maaf, totalnya berapa?" tanya Arhan. Pertanyaan itu keluar meski kertasnya sudah di tangannya, karena matanya masih belum percaya pada angka yang ia lihat.

Lalu pegawai rumah sakit itu pun menjawab, dengan suara yang tenang, sambil menunjuk ke bagian bawah kertas.

"Ini Pak rinciannya," kata pegawai itu. "Totalnya di sini, Pak."

Arhan melihat total keseluruhannya. Ia menunduk, menatap angka itu sekali lagi. Angka yang membuat dadanya terasa sesak. Ia menelan ludah.

Dalam hatinya, uang di dalam dompetnya bisa untuk menutupi kekurangan itu. Ia masih ingat, di dompetnya ada beberapa lembar uang tunai. Tidak banyak, tapi mungkin cukup jika digabung dengan sisa di rekening. Ia menghitung cepat di dalam kepala.

"Tunggu sebentar ya," kata Arhan. Suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

Arhan memeriksa isi dompetnya. Ia membukanya di samping loket, jarinya menyentuh lembaran uang di dalamnya. Ia menghitung, satu, dua, tiga lembar. Uangnya tidak tebal, tapi masih ada.

Lalu membuka ponselnya, melihat sisa rekeningnya di m-banking. Layar ponsel menyala, menampilkan sisa saldo yang tidak banyak. Beberapa ratus ribu, angka yang kecil.

Nafasnya sedikit lega. Lega yang tipis, bukan karena banyak, tapi karena jika digabung, uang yang berada di dompetnya dan sisa saldo yang ada di rekeningnya, cukup untuk melunasi biaya rumah sakit itu. Cukup untuk hari ini, untuk membawa Anya pulang.

"Maaf, ini saya bayar dengan uang tunai, sisanya ada di kartu debit saya," ucap Arhan memberikan sejumlah uang. Dan kartu rekeningnya. Ia meletakkan uang di atas meja kaca, lalu kartu di sampingnya.

Pembayarannya pun diproses, tidak lama, proses pembayaran pun selesai. Pegawai itu menghitung uang, menggesek kartu, mesin berbunyi panjang, tanda berhasil. Struk keluar dari mesin.

"Sudah Pak Arhan. Terimakasih, dan untuk resep obat, silahkan beli saja di apotek," kata pegawai itu, menyerahkan struk dan resep obat.

Arhan mengangguk. Ia mengambil struk dan resep itu, melipatnya pelan.

"Baik, terimakasih," jawab Arhan.

Arhan kembali menuju ruangan Anya dirawat.

Langkahnya pelan. Setiap langkah terasa berat, seperti ada beban yang menggantung di kakinya. Ia melihat perawat yang lewat, melihat keluarga pasien lain yang tertawa kecil, dan ia merasa jarak antara dirinya dan mereka sangat jauh.

Koridor pagi itu ramai dengan perawat yang lalu lalang. Di tangannya ada resep obat, di sakunya ada dompet yang kini kosong. Pikirannya masih berkutat dengan keuangannya. Biaya rumah sakit sudah lunas, tapi masih ada obat yang harus dibeli, masih ada biaya pulang.

Di koridor itu, cahaya pagi jatuh miring dari jendela besar. Debu-debu halus terlihat beterbangan di dalam cahaya itu. Arhan melihatnya, tapi pikirannya tidak di sana. Pikirannya ada di angka-angka di kertas rincian, di sisa saldo di ponselnya, di wajah Anya yang pucat menunggu di dalam.

Ia merasakan dompetnya yang kini tipis di saku. Beratnya hilang. Biasanya dompet itu terasa berisi, kini terasa ringan, seperti tidak ada apa-apa di dalamnya. Tangannya meremas resep obat itu sedikit lebih erat.

Di depan ruangan Anya dirawat, Arhan tidak langsung masuk. Ia berhenti di depan pintu, tangannya tidak memegang gagang pintu. Ia duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan, menghela nafas panjang. Nafas itu keluar pelan, seperti ingin membuang sesuatu dari dalam dada.

Dan bergumam, suaranya pelan, hanya untuk dirinya sendiri.

"Gimana Anya pulangnya? Belum, ada obat yang harus dibeli," gumamnya.

Di dalam ruangan, Anya masih menunggu, duduk di tepi ranjang, menatap ke arah pintu.

Saat lamunan panjang itu, di antara suara langkah perawat dan suara roda troli, Arhan teringat kepada seseorang. Nama itu muncul begitu saja di kepalanya.

"Tuan Ronald," bisiknya. Suaranya pelan, hampir hilang.

Nama itu adalah nama yang sudah lama tidak ia hubungi, tapi masih ada di daftar kontaknya.

Arhan membuka ponsel lalu menghubungi kontak yang bernama Ronald. Ia menekan nama itu, lalu menekan tombol panggil. Arhan berdiri, dan sedikit menjauh dari ruangan itu, berjalan ke ujung koridor dekat jendela, agar suaranya tidak terdengar sampai ke dalam kamar Anya.

Telepon itu berdering. Sekali, dua kali. Di luar jendela, matahari pagi sudah tinggi.

Tidak lama, panggilan itu diangkat. Suara di seberang terdengar jelas.

"Selamat pagi Tuan Arhan, ada apa Tuan? Apakah anda baik-baik saja?" ucap seseorang itu di balik telepon. Suara Ronald, dan berwibawa.

Lalu Arhan menjawab, suaranya pelan.

"Maaf Pak Ronald, aku butuh bantuan," kata Arhan.

Lalu Ronald pun menjawab, suaranya tetap terdengar tenang.

"Silahkan Tuan, silahkan katakan kepada saya, apa yang ingin saya bantu?" kata Ronald.

Arhan menghela nafas, ia menatap ke luar jendela, ke arah parkiran rumah sakit.

"Aku ingin pinjam uang Pak Ronald. Aku janji, aku pasti bayar," kata Arhan. Kalimat itu keluar pelan, tapi jelas.

Tanpa ragu, Ronald pun berkata,"Maaf, untuk apa Tuan? Apakah ada masalah?"

Arhan menjawab, suaranya sedikit bergetar, "Aku kehabisan uang Pak. Aku sekarang lagi di rumah sakit, istriku sakit lagi."

"Ah, maaf Tuan. Saya turut prihatin. Silahkan, berapa yang anda butuhkan?" tanya Ronald.

Arhan menghela nafas dan ragu, tapi dia membutuhkan uang itu untuk kehidupannya bersama Anya. Uang itu bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk beberapa hari ke depan, untuk memastikan Anya bisa minum obat, bisa pulang, bisa beristirahat di rumah tanpa harus memikirkan biaya.

Tangannya yang memegang ponsel sedikit bergetar. Resep obat di tangan kirinya ia genggam erat.

Arhan pun menjawab, suaranya pelan, tapi setiap katanya jelas.

"Saya pinjam dua puluh lima juta Pak," kata Arhan.

Di koridor rumah sakit yang terang oleh cahaya pagi, suara Arhan menggantung setelah mengucapkan angka itu. Di dalam kamar, Anya masih menunggu di tepi ranjang, menatap pintu yang belum terbuka. Dan di ujung telepon, Ronald terdiam sejenak setelah mendengar angka dua puluh lima juta, membiarkan angka itu tinggal di antara napas Arhan yang berat dan suara monitor dari ruangan lain yang berdetak pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!