Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 30
Zheana melangkah keluar pagar dengan bahu gemetar dan dada yang serasa dihimpit batu besar. Air mata yang membasahi pipinya buru-buru diusap kasar menggunakan ujung kerudungnya. Ia menunduk dalam, mencoba menata napasnya yang patah-patah agar tidak ada seorang pun yang menyadari kerapuhannya.
Namun, begitu ia mendongak menuju tepi jalan raya untuk mencari taksi, langkah kaki Zheana mendadak terhenti seketika.
Di bawah naungan pohon rimbun tak jauh dari gerbang rumah, terparkir sebuah sedan hitam mewah yang sangat familier. Pintu kemudi terbuka, dan sosok tegap berkemeja biru gelap berbalut jas hitam melangkah keluar.
Khadafy berdiri di sana, bersandar pada bodi mobil dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Tatapan matanya yang tajam dan pekat terkunci lurus pada sosok Zheana.
"Mas Khadafy?!" bisik Zheana panik setengah mati. Bagaimana bisa suaminya tahu kalau dia ada di sana.
'Astagfirullah, Zhea lupa meminta izin sama Mas Khadafy...' batin Zhafea.
Jantung Zheana berdegup kencang secara liar. Kepanikan seketika menguasai dirinya. Ia refleks membalikkan badan sejenak, mengusap wajahnya berkali-kali dengan telapak tangan, menepuk-nepuk pipinya, lalu memaksa sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling cerah dan ceria yang bisa ia sunggingkan.
Setelah memastikan penampilannya tak tampak seperti orang habis diamuk rasa sakit, Zheana memutar tubuhnya kembali dan melangkah menghampiri Khadafy dengan raut wajah berbinar palsu.
"Mas Khadafy kok bisa ada di sini?" tanya Zheana dengan nada suara yang diusahakan selincah mungkin, meski ada getaran halus di ujung kalimatnya.
"Mas bukannya lagi ada meeting tadi? Maaf Zhea lupa meminta izin kalau mau ke rumah Mama..."
Khadafy tidak langsung menjawab. Pria itu meneliti setiap inci wajah Zheana, mulai dari kelopak mata istrinya yang agak memerah, jejak basah tipis di sekitar pipi, hingga senyum dipaksa yang tampak begitu kontras dengan binar matanya yang redup.
Khadafy melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya kembali menyelimuti indra penciuman Zheana.
"Rapatnya sudah selesai," ujar Khadafy dengan suara bariton yang dalam dan tenang.
"Pak Bambang bilang kamu izin keluar mendadak karena urusan keluarga. Mas khawatir, jadi Mas menyusul. Lain kali jangan lupa untuk mengatakan kepada Mas kalau kamu mau pergi..."
Zheana menelan ludah dengan susah payah, berusaha menjaga senyum cerianya.
"Iya Mas, Zhea minta maaf... Insyaallah Zhea nggak akan ngulangin lagi... Tadi Zhea hanya mau lihat keadaan Papa saja, kata Mama Papa sedikit tidak enak badan,"
"Begitu?" panggil Khadafy pelan. Tangan kanannya terangkat dari saku celana, lalu jemari kokohnya secara perlahan menyentuh dagu Zheana, mengangkatnya lembut agar mata mereka saling bertatapan langsung.
"Lalu kenapa mata istriku sembab begini?"
Zheana tersentak. Pandangan mata Khadafy begitu tajam, seolah sanggup menembus dinding pertahanan palsu yang susah payah ia bangun sejak tadi.
"Eeh? Ini... tadi pas di taksi kelilipan debu, Mas!" alibi Zheana cepat, tertawa kecil seraya mengibaskan tangannya di udara.
"Mata Zhea kan sensitif. Kena angin dikit aja langsung merah dan berair. Mas Khadafy berlebihan deh!"
Khadafy tidak tertawa. Pria itu justru mengusap pinggiran mata Zheana dengan ibu jarinya, sentuhan yang begitu hangat dan penuh kasih sayang hingga membuat pertahanan Zheana hampir runtuh saat itu juga. Dan kalau saja dia tidak malu dan takut, ingin sekali rasanya dia memeluk dan menangis dalam pelukan suaminya. Karena dia juga tidak bisa lagi menangis di malam hari sambil memeluk guling. Karena ada Khadafy yang bahkan mulai posesif padanya kalau mereka sedang berdua.
"Zhea," bisik Khadafy tajam namun lembut.
"Sejak kapan kamu jago berbohong pada suamimu?"
Zheana membeku. Senyum ceria di bibirnya perlahan luruh, berganti dengan helaan napas berat. Matanya mulai kembali berkaca-kaca.
"Zhea nggak bohong..." cicit Zheana lirih, menundukkan kepalanya, tak sanggup lagi menatap mata suaminya.
Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Khadafy meraih pergelangan tangan Zheana, membukakan pintu penumpang depan, dan membimbing istrinya masuk ke dalam mobil. Khadafy kemudian berjalan mengitari kap mobil dan duduk di kursi kemudi.
Suasana di dalam kabin mobil mendadak hening. Hanya terdengar hembusan air conditioner yang dingin. Khadafy melajukan mobil perlahan meninggalkan area perumahan tersebut.
"Kita mau ke mana, Mas? Kita nggak balik ke kantor?" tanya Zheana pelan, melirik Khadafy yang fokus menatap jalanan di depannya dengan raut wajah tegas tanpa ekspresi.
"Kita makan siang dulu," jawab Khadafy singkat.
"Lalu kamu cerita semuanya padaku."
"Mas, beneran nggak ada apa-apa..."
"Iya, kita makan dulu... Kamu belum makan siang..."
"Mas Khadafy juga belum makan siang kan?" Khadafy hanya membalas dengan senyuman dan mengusap kepala Zheana dengan lembut.
"Maaf, Mas..."
Khadafy sebenarnya sudah mendengar semua semua pembicaraan antara Zheana dan Bu Irma. Karena sebenarnya saat Zheana naik taxi, Khadafy baru saja tiba di kantor dari meetingnya di luar. Dan dia mengikuti taxi yang membawa Zheana. Hanya saja dia memilih tidak memaksa istrinya, dia sedikitnya tahu sifat Zhaana yang memiliki perasaan tidak enakan dan tak mungkin membuka aib dari keluarganya sendiri. Walau ucapan seperti Bu Irma begitu menyakitkan bagi Zheana, seolah dia tak ada artinya di banding dengan Niken. Entah hal buruk apa saja yang sudah dia alami selama ini.
Khadafy memutar kemudinya perlahan, membawa kendaraan mewah itu membelah jalanan kota hingga berhenti di pelataran parkir sebuah restoran privat bernuansa Jepang modern yang tenang. Restoran ini memiliki ruangan-ruangan tatami bersekat yang menjamin privasi penuh bagi para tamunya.
Usai seorang pelayan berpakaian kimono membawakan deretan hidangan makan siang yang hangat dan menutup pintu geser ruangan privat tersebut, keheningan yang intens kembali menyelimuti mereka berdua.
Zheana menunduk, memainkan jemarinya di atas pangkuan. Selera makannya melayang entah ke mana, digantikan oleh gumpalan sesak yang kian membesar di dadanya.
Khadafy tidak langsung menyentuh makanannya. Pria itu menggeser posisi duduknya mendekat, mengambil mangkuk sup miso milik Zheana, lalu meletakkannya tepat di depan istrinya.
"Makan dulu, Zhea," ujar Khadafy halus, suaranya tenang tanpa ada nada menghakimi.
"Mas tidak akan menanyakan apa pun sebelum kamu menghabiskan makan siangmu."
Zheana menyendok sup hangat itu secara perlahan. Kehangatan kuahnya sedikit menenangkan tenggorokannya yang mengering. Khadafy dengan telaten memotongkan steak salmon di piring Zheana dan memindahkannya ke mangkuk nasi gadis itu, memastikan Zheana mendapatkan asupan yang cukup.
Setelah beberapa gigitan dan beberapa tegukan air putih, Zheana meletakkan alat makannya. Ia mendongak, mendapati Khadafy sedang menatapnya lurus dengan binar mata pekat yang diliputi rasa protektif yang begitu mendalam.
"Mas..." bisik Zheana lirih.
"Kenapa Mas Khadafy baik banget sama Zhea? Padahal Zhea udah bikin Mas repot, udah bikin Mas bolos rapat..."
Khadafy menghela napas pendek. Pria itu meraih kedua tangan Zheana yang terasa dingin, menggenggamnya erat di atas meja kayu.
"Mas tidak pernah merasa direpotkan oleh istri Mas sendiri, Zhea," tutur Khadafy mantap. Jemari kokohnya mengusap lembut punggung tangan Zheana.
"Yang membuat Mas marah adalah saat melihat kamu menanggung kesedihan sendirian, pura-pura tersenyum, dan berusaha menyembunyikan air matamu dari Mas."
Airmata yang sejak tadi ditahan Zheana mendadak menetes lagi.
"Zhea... Zhea cuma nggak mau bikin Mas pikiran. Zhea nggak mau membuka aib Mama atau keluarga Zhea di depan Mas..."
"Iya, Mas tahu," potong Khadafy pelan. Senyum tipis yang sarat akan empati terbit di bibirnya.
"Mas sangat tahu bagaimana sifat istri Mas ini. Kamu terlalu perasa, selalu menjaga perasaan orang lain, bahkan orang yang sudah menyakiti hatimu bertahun-tahun."
Zheana tersentak pelan. Matanya membelalak menatap Khadafy.
"Mas..."