Indonesia
NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 — TABIB YANG MENOLAK BICARA

Pukul lima pagi, aku sudah terbangun meskipun tubuhku masih terasa pegal.

Mungkin karena tidur di atas tikar pandan yang tipis selama beberapa hari terakhir, atau mungkin karena pikiranku belum benar-benar beristirahat sejak menemukan jejak sepatu kulit di sawah kemarin. Yang jelas, begitu membuka mata, hal pertama yang kulihat adalah barang-barang bukti yang kami letakkan di atas kain dekat dinding gubuk.

Ada benih palsu yang kami temukan di petak kedua, selembar kertas minyak berisi sisa benih serupa, botol kaca kecil yang diduga pernah digunakan untuk menyimpan serbuk teratai hitam, serta buku catatan kulit kambing dengan gambar jejak sepatu yang kubuat menggunakan arang.

Semua benda itu tampak biasa jika dilihat sekilas.

Namun, bagiku, masing-masing menyimpan pertanyaan yang belum terjawab.

Siapa yang menaburkan benih beracun di sawah penduduk? Mengapa orang itu menggunakan sepatu kulit yang lazim dipakai pejabat istana? Dan mengapa botol serupa dengan botol dari Taman Mawar Putih ditemukan di tempat yang sama dengan sisa benih palsu?

Aku mengusap wajah, lalu duduk sambil merapikan bando mawar yang masih bertengger miring di kepalaku.

Empat hari berada di perbatasan membuat penampilanku jauh dari kata layak seorang permaisuri. Rambutku tidak serapi biasanya, pakaian petaniku kusam, dan kakiku masih menyisakan noda lumpur yang sulit dibersihkan dengan air sumur desa.

Di sampingku, Segara masih terbaring dengan satu lengan menutupi sebagian wajahnya.

Aneh juga melihat seorang kaisar yang biasanya dikelilingi pengawal dan pelayan tidur di gubuk bocor dengan pakaian yang sama selama berhari-hari. Meski begitu, aku tidak berniat membangunkannya hanya untuk mengomentari penampilannya.

Aku lebih memilih memikirkan tujuan kami hari ini.

Rumah tabib perbatasan.

Kemarin, sebelum kembali ke gubuk, Segara sudah memutuskan bahwa kami harus menemui Tabib Marno. Lelaki tua itu pernah mengobati penduduk desa yang jatuh sakit setelah memakan hasil panen yang menghitam. Namun, beberapa hari terakhir ia justru menolak menangani mereka.

Alasannya sederhana, tetapi mengkhawatirkan.

Ia takut.

Aku belum tahu siapa yang membuat seorang tabib yang telah puluhan tahun mengabdi kepada penduduk desa sampai kehilangan keberanian untuk menyalakan tungkunya sendiri.

Tetapi aku berniat mencari tahu.

“Gusti, sudah bangun?” tanyaku ketika melihat Segara menggerakkan tangannya.

Matanya terbuka. Ia menurunkan lengan dari wajah, lalu duduk tanpa banyak bicara.

“Sejak tadi?”

“Baru saja.”

Tatapannya beralih ke barang-barang bukti di dekat dinding.

“Pastikan semuanya dibawa dengan aman. Kita tidak boleh kehilangan apa pun.”

Aku mengangguk.

“Termasuk botolnya?”

“Terutama botol itu. Kita belum tahu apa yang masih menempel di dalamnya. Jangan membukanya atau menyentuh sisanya.”

Aku mengambil kain pembungkus dan menyiapkan barang-barang tersebut secara terpisah. Benih kusimpan dalam wadah kecil, sedangkan botol kaca kubungkus agar tidak mudah pecah.

Sebelum berangkat, aku sempat memandang petak-petak sawah dari celah pintu.

Petak pertama sudah dibersihkan, tetapi petak kedua masih menghitam. Pekerjaan kami belum selesai. Jika benih berbahaya terus ditaburkan, penduduk desa akan semakin sulit menyelamatkan panen mereka.

Namun, pagi ini kami perlu mencari tahu siapa yang berada di balik semua itu.

---

Kami berangkat setelah matahari mulai naik.

Kepala desa berjalan di depan bersama seorang penjaga. Aku dan Segara mengikuti dari belakang, menyusuri jalan tanah yang masih licin akibat hujan semalam.

“Tabib Marno sudah tinggal di perbatasan sejak empat puluh tahun lalu, Gusti,” jelas kepala desa. “Hampir semua warga pernah berobat kepadanya. Kalau ada anak demam, petani terluka, atau orang tua sakit, biasanya mereka datang ke sana.”

“Lalu mengapa ia berhenti mengobati penduduk?” tanyaku.

Kepala desa menghela napas.

“Itulah yang tidak saya ketahui, Gusti Permaisuri. Tiga hari lalu, dia tiba-tiba menolak menerima pasien. Ketika saya bertanya, dia hanya mengatakan bahwa ada urusan yang tidak boleh dicampuri.”

“Apakah dia menyebut nama seseorang?”

“Tidak, Gusti.”

Aku menoleh kepada Segara.

Ia berjalan tanpa mengubah ekspresi, tetapi aku tahu ia mendengarkan setiap perkataan kepala desa.

“Apakah Tabib Marno pernah mengobati warga yang sakit setelah memakan padi hitam?” tanyaku lagi.

“Pernah. Beberapa orang mengeluh mual, muntah, dan demam. Ada yang membaik setelah beristirahat, tetapi ada pula yang kondisinya cukup parah sehingga harus dirawat lebih lama.”

“Apakah tabib pernah mengatakan penyebabnya?”

Kepala desa menggeleng.

“Dia hanya meminta warga berhenti memakan padi yang berubah warna. Setelah itu, dia tidak mau membahasnya lagi.”

Aku terdiam.

Ada banyak kemungkinan yang bisa menjelaskan sikap Tabib Marno. Ia mungkin tidak mengetahui penyebab pasti penyakit itu. Bisa juga ia menemukan sesuatu yang membuatnya takut. Namun, jika ia memang mengetahui sesuatu tentang benih palsu, keheningannya bisa membuat penduduk desa semakin terancam.

Tak lama kemudian, kami tiba di ujung desa.

Rumah Tabib Marno berdiri di dekat jalan menuju Jembatan Batu. Bangunannya sederhana, terbuat dari bambu dengan atap rumbia yang sebagian mulai menghitam karena usia. Di halaman terdapat beberapa pot tanaman obat, sebagian tumbuh subur dan sebagian lainnya layu karena tidak dirawat.

Biasanya, menurut kepala desa, asap tungku akan terlihat sejak pagi.

Namun, pagi itu tidak ada asap.

Pintu rumahnya tertutup rapat.

Segara berhenti di depan pintu dan mengetuknya tiga kali.

“Tabib Marno. Saya ingin berbicara.”

Tidak ada jawaban.

Ia menunggu sebentar, kemudian mengetuk lagi.

“Tabib Marno, saya datang bukan untuk menghukummu.”

Dari dalam terdengar suara batuk.

Setelah beberapa saat, pintu terbuka sedikit. Sepasang mata tua mengintip dari celahnya.

Begitu melihat Segara, lelaki itu langsung pucat.

“Gusti Kaisar?”

Tatapannya kemudian berpindah kepadaku.

“Gusti Permaisuri…”

Ia segera menundukkan kepala.

“Ampun, Gusti. Saya tidak bisa membantu apa-apa. Sebaiknya Gusti kembali saja.”

Aku memperhatikan wajahnya. Rambut putihnya tampak kusut, sementara lingkaran gelap di bawah matanya menunjukkan bahwa ia mungkin sudah beberapa malam tidak tidur dengan tenang.

“Tabib, kami hanya ingin bertanya,” kataku selembut mungkin. “Kami tidak datang untuk menyalahkanmu.”

“Tidak, Gusti. Saya benar-benar tidak tahu apa-apa.”

Jawabannya terlalu cepat.

Belum sempat aku melanjutkan, pandangannya jatuh pada wadah benih yang kubawa. Ketika melihat butiran hitam di dalamnya, tubuhnya mendadak menegang.

“Jangan bawa itu masuk!”

Ia buru-buru menarik pintu, tetapi Segara menahan daun pintu dengan telapak tangannya.

“Tabib Marno.”

Suara Segara tetap rendah. Namun, ada ketegasan yang membuat lelaki tua itu berhenti bergerak.

“Apa yang kau ketahui tentang benih ini?”

Tabib Marno menatap wadah tersebut dengan ketakutan yang sulit disembunyikan.

“Itu… itu bukan benih biasa, Gusti.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Kalau begitu, apa isinya?” tanyaku.

Tabib Marno tidak menjawab. Ia justru menoleh ke jalan di belakang kami, memastikan tidak ada orang yang mendekat.

Gerakannya membuatku semakin yakin bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu.

Segara memperhatikan hal yang sama.

“Kita masuk dan berbicara di dalam,” katanya. “Tidak seorang pun akan memaksamu memberikan jawaban sebelum kau siap. Tetapi aku perlu tahu mengapa penduduk desa jatuh sakit.”

Tabib Marno tampak bimbang cukup lama sebelum akhirnya membuka pintu lebih lebar.

“Silakan, Gusti. Tetapi… tolong, jangan sebut nama saya kepada orang lain.”

Aku dan Segara saling bertukar pandang.

Permintaan itu terdengar seperti permintaan seseorang yang takut rahasianya terbongkar.

Atau seseorang yang takut kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada dirinya sendiri.

---

Bagian dalam rumah Tabib Marno dipenuhi botol kaca, ikatan daun kering, akar tanaman, serta beberapa kotak kayu yang tersusun di dekat dinding. Sebuah tungku kecil berdiri di sudut ruangan. Abu di dalamnya sudah lama tidak diaduk.

Aroma kunyit dan jahe masih tertinggal, tetapi tidak sekuat yang kuingat dari dapur Mbok.

Tabib Marno mempersilakan kami duduk di atas tikar lusuh. Ia sendiri tetap berdiri dekat tungku, seolah ingin memastikan ada sesuatu yang bisa dipegang jika ketakutannya kembali menguasai diri.

Aku meletakkan wadah benih di lantai, lalu membuka penutupnya sedikit agar ia dapat melihat isinya tanpa harus mendekat.

“Tabib, apakah kau pernah melihat benih seperti ini sebelumnya?”

Ia menelan ludah.

“Pernah.”

“Di mana?”

“Di sawah.”

“Apakah kau tahu mengapa benih itu membuat penduduk sakit?”

Tabib Marno mengusap kedua telapak tangannya yang gemetar.

“Ada sesuatu yang dicampurkan ke dalamnya. Saya tidak mengetahui seluruh prosesnya, tetapi saya pernah memeriksa sisa bahan yang ditemukan di antara padi hitam.”

Ia berhenti sejenak, seolah menimbang apakah ia harus melanjutkan.

“Bahan itu menyerupai serbuk teratai hitam.”

Aku langsung menegakkan punggung.

Nama itu membuat pikiranku kembali ke Taman Mawar Putih, ke tubuh asli Kahiyang yang hampir kehilangan nyawa sebelum aku terbangun di dalamnya.

Segara tidak mengalihkan pandangan dari tabib.

“Apakah kau yakin?”

“Saya mengenali ciri-cirinya, Gusti. Tetapi saya tidak berani memastikan kandungan setiap benih hanya dari penampilan. Untuk memastikannya, diperlukan pemeriksaan yang lebih teliti.”

Jawaban itu terdengar lebih berhati-hati daripada yang kuduga. Aku menghargainya. Tabib Marno mungkin telah melihat bahan tersebut sebelumnya, tetapi itu tidak berarti ia bisa mengetahui seluruh isinya hanya dengan sekali pandang.

Aku mengambil botol kaca yang sudah dibungkus kain, lalu meletakkannya di atas meja kecil.

“Bagaimana dengan botol ini? Kami menemukannya di hutan bambu, tidak jauh dari bekas api unggun dan sisa benih palsu.”

Tabib Marno memandangnya.

Wajahnya berubah pucat sekali lagi.

Ia mundur selangkah, kemudian mencengkeram sisi meja.

“Botol itu…”

“Apa yang kau ketahui?” tanya Segara.

Tabib Marno menutup mata sejenak.

“Bentuknya mirip dengan botol yang pernah saya lihat. Botol kecil dengan tutup kayu. Orang yang datang kepada saya membawa botol seperti itu.”

Aku merasakan tengkukku meremang.

“Orang yang datang tiga hari lalu?”

Ia mengangguk.

“Ya, Gusti Permaisuri.”

Segara melangkah mendekat.

“Ceritakan semuanya dari awal.”

Tabib Marno terdiam cukup lama. Aku hampir mengira ia akan kembali menolak bicara, tetapi akhirnya ia duduk di lantai, tepat di dekat tungku yang dingin.

“Tiga malam lalu, seseorang datang ketika saya hendak menutup pintu. Dia mengenakan pakaian hitam dan menutupi sebagian wajahnya. Saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.”

“Apakah dia datang sendirian?” tanyaku.

“Sejauh yang saya lihat, ya. Saya tidak mendengar orang lain.”

“Lalu apa yang dia inginkan?”

Tabib Marno meremas ujung bajunya.

“Dia melarang saya mengobati petani yang sakit setelah memakan padi hitam. Dia juga melarang saya memberi tahu siapa pun bahwa saya pernah menemukan bahan yang menyerupai serbuk teratai hitam.”

Aku menatap Segara.

Rahangnya mengeras.

“Siapa orang itu?” tanyanya.

“Saya tidak tahu namanya, Gusti.”

“Apakah dia mengaku sebagai pejabat istana?”

“Tidak. Tetapi pakaiannya bagus, dan sepatunya terbuat dari kulit. Saya belum pernah melihat orang desa memakai sepatu seperti itu.”

Jejak di sawah.

Sepatu bersol keras yang mengarah ke Jembatan Batu.

Aku merasa semua petunjuk itu mulai membentuk jalur yang sama, meskipun belum cukup untuk menunjukkan siapa yang berada di ujungnya.

“Apakah dia mengancammu?” tanyaku pelan.

Tabib Marno menunduk.

“Dia tahu saya mempunyai keluarga di Desa Lereng Gunung. Dia menyebut nama cucu saya. Katanya, jika saya tetap mengobati para petani dan membuka mulut tentang padi hitam, keluarga saya akan dibawa ke Jembatan Batu.”

Suaranya mulai bergetar.

“Dia berkata tidak akan ada yang bisa menemukan mereka jika saya tidak menuruti perintahnya.”

Lelaki tua itu mengusap wajahnya. Air mata mengalir dari sudut matanya, jatuh ke kerutan pipinya.

“Saya sudah tua, Gusti. Saya tidak takut mati. Tetapi cucu saya masih kecil. Anak saya dan keluarganya tinggal di Lereng Gunung. Saya tidak bisa membiarkan mereka menjadi korban hanya karena saya ingin mengatakan kebenaran.”

Aku terdiam.

Kini aku mengerti mengapa ia menutup pintu dan membiarkan tungkunya dingin selama tiga hari. Bukan karena ia tidak peduli pada penduduk desa, melainkan karena seseorang telah membuatnya memilih antara menyelamatkan pasien dan melindungi keluarganya.

Aku pernah melihat ketakutan semacam itu dalam kehidupan lamaku. Orang-orang yang sebenarnya ingin membantu, tetapi terpaksa diam karena tidak memiliki kuasa untuk melawan.

“Tabib,” kataku, “kami tidak bisa menjanjikan bahwa keluargamu langsung aman hari ini. Tetapi kami bisa membantu mencari tahu siapa yang mengancam mereka.”

Ia mengangkat wajah, menatapku dengan mata merah.

“Benarkah, Gusti?”

“Aku tidak ingin memberimu janji kosong. Namun, kalau kita terus diam, orang itu akan semakin leluasa melakukan apa yang diinginkannya.”

Segara menoleh kepadaku sebentar. Ia tidak menyela, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia memahami maksudku.

Kemudian ia kembali menghadapi Tabib Marno.

“Apakah orang itu meninggalkan sesuatu di sini?”

Tabib Marno ragu-ragu.

“Tidak banyak, Gusti. Dia membawa botol dan selembar kain. Setelah berbicara, dia pergi. Saya tidak berani mengikutinya.”

“Apakah kau melihat cincin atau tanda tertentu?”

Tabib Marno terdiam.

Kali ini, jedanya lebih panjang daripada sebelumnya.

Aku menunggu tanpa mendesaknya.

Akhirnya, ia mengangguk perlahan.

“Saya melihat sebuah cincin di tangannya. Cincin emas besar dengan batu merah.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit.

Segara tidak bergerak, tetapi perubahan pada wajahnya begitu jelas hingga aku dapat melihatnya meski cahaya dari jendela sangat redup.

“Batu merah?” ulangnya.

“Ya, Gusti. Warnanya merah tua. Saya tidak bisa melihat ukiran pada cincinnya karena dia segera menutupi tangannya.”

Aku membuka buku catatan kulit kambing dan menuliskan keterangan itu.

Cincin emas besar.

Batu merah.

Pakaian hitam.

Sepatu kulit.

Ancaman terhadap keluarga Tabib Marno.

Aku teringat surat perintah palsu dan catatan yang kami temukan di lumbung. Semua petunjuk itu berasal dari tempat berbeda, tetapi tampaknya ada seseorang yang bergerak dengan tujuan tertentu di balik kerusakan sawah.

“Apakah kau mengenali cincin itu?” tanyaku kepada Segara.

Ia tidak segera menjawab.

“Belum,” katanya akhirnya. “Aku perlu memeriksa siapa saja yang menggunakan lambang semacam itu sebelum menarik kesimpulan.”

Jawabannya membuatku sedikit lega.

Aku tidak ingin kami gegabah menuduh Patih Agung atau pejabat lain hanya karena jejak sepatu dan cincin yang belum teridentifikasi. Jika orang yang kami cari memang memiliki kedudukan tinggi, kesalahan kecil bisa membuat penyelidikan ini berbalik menyerang kami.

Namun, satu hal kini tidak dapat diabaikan.

Pelaku mengetahui cara mengintimidasi orang-orang yang mungkin bisa mengungkap rahasianya.

Dan ia tidak ragu menggunakan keluarga sebagai alat untuk membungkam mereka.

---

Menjelang tengah hari, Mbok datang membawa rantang makanan.

Ia berhenti di ambang pintu begitu melihat kami masih duduk di lantai bersama Tabib Marno. Di sekeliling kami, botol-botol kaca dan daun kering memenuhi hampir seluruh ruangan.

“Gusti Permaisuri, Gusti Kaisar, dari pagi belum makan?”

Aku tersenyum kecil.

“Sebentar lagi, Mbok.”

“Sebentar lagi, sebentar lagi. Dari kemarin juga begitu. Kalau terus begini, nanti semua orang sakit karena tidak makan teratur.”

Ia meletakkan rantang di sudut yang bersih, lalu memandang Tabib Marno yang masih duduk dengan wajah sembap.

“Tabib, Anda juga harus makan. Menangis terus tidak akan membuat masalah selesai.”

Tabib Marno tampak kikuk mendengar teguran itu.

“Baik, Mbok.”

Kami makan bersama di atas tikar. Mbok membagikan nasi, tempe, dan sambal terasi, sementara Segara meminta agar barang-barang bukti tetap diletakkan di tempat terpisah.

Tidak banyak percakapan selama makan.

Aku sesekali memandang Tabib Marno. Lelaki tua itu makan perlahan, seolah pikirannya masih tertinggal pada ancaman yang diterimanya. Beberapa kali ia menoleh ke pintu, memastikan tidak ada orang yang berdiri di luar.

Aku tidak menyalahkannya.

Ketakutan tidak akan hilang hanya karena seseorang mengatakan bahwa ia akan membantu.

Setelah makan, Segara memanggil kepala desa yang menunggu di halaman. Ia memerintahkan agar keberadaan keluarga Tabib Marno diperiksa melalui orang yang benar-benar dipercaya, tanpa membuat kedatangan mereka menarik perhatian.

“Jangan pergi sendiri ke Desa Lereng Gunung,” pesannya. “Pastikan keadaan mereka terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera kembali dan laporkan kepadaku.”

Kepala desa menunduk.

“Baik, Gusti.”

Aku memandang Segara setelah kepala desa pergi.

“Kau ingin memastikan keluarga tabib aman sebelum meminta keterangannya lebih jauh?”

“Jika ancaman itu benar, keselamatan mereka harus diperhatikan. Tabib Marno tidak akan bisa membantu kita dengan tenang jika keluarganya masih dalam bahaya.”

Ia berhenti sebentar.

“Dan aku tidak akan membiarkan seseorang menggunakan penduduk desa untuk menutupi perbuatannya.”

Nada suaranya tetap dingin, tetapi kali ini kemarahannya tidak ditujukan kepada Tabib Marno.

Aku mulai memahami bahwa di balik sikap kerasnya, Segara selalu berusaha melihat siapa yang sebenarnya bertanggung jawab. Ia tidak mudah percaya, tetapi juga tidak serta-merta menghukum orang yang belum tentu bersalah.

Setidaknya, dalam penyelidikan ini.

---

Sore hari, Tabib Marno akhirnya berdiri di depan tungkunya.

Ia mengumpulkan beberapa bahan yang biasa digunakan untuk merawat penduduk desa. Namun, kali ini ia tidak langsung meracik apa pun sebelum memeriksa kembali catatan dan persediaannya.

“Ada beberapa petani yang masih mengeluh sakit,” katanya kepadaku. “Saya ingin membantu mereka, tetapi saya perlu memastikan bahan yang digunakan aman.”

“Kalau ada yang mengalami muntah atau demam setelah memakan padi hitam, sebaiknya mereka diperiksa terlebih dahulu,” jawabku. “Jangan sampai kita menganggap semua keluhan berasal dari penyebab yang sama tanpa pemeriksaan.”

Tabib Marno mengangguk.

Segara juga meminta agar penduduk berhenti mengonsumsi hasil panen yang dicurigai tercemar sampai pemeriksaan lebih lanjut dilakukan. Bahan yang kami temukan harus disimpan terpisah dan tidak boleh dicampurkan kembali ke benih yang masih layak.

Aku merasa sedikit lega melihat Tabib Marno kembali bergerak. Meski ketakutannya belum hilang, setidaknya ia tidak lagi membiarkan tungkunya mati begitu saja.

Sebelum kami pergi, ia mengambil sebuah kotak kayu kecil dari bawah meja.

“Gusti, saya akan menyimpan catatan mengenai bahan yang pernah saya temukan. Jika ada sesuatu yang serupa datang lagi, saya akan memberi tahu kepala desa.”

“Jangan menyimpan serbuk itu tanpa perlindungan,” kataku. “Dan jangan mencampurkannya dengan bahan obat.”

Tabib Marno mengangguk cepat.

Aku tidak ingin ia mengambil risiko hanya demi membantu penyelidikan. Bukti yang kami miliki sudah cukup untuk membuat kami berhati-hati, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan semua hal tentang serbuk tersebut.

Segara kemudian berkata, “Jika orang itu datang lagi, jangan menghadapinya sendirian. Utamakan keselamatanmu dan keluargamu. Beri tahu kepala desa melalui cara yang sudah kita sepakati.”

Tabib Marno menunduk dalam-dalam.

“Terima kasih, Gusti. Saya akan mengingatnya.”

Ketika kami meninggalkan rumah itu, matahari sudah mulai condong ke barat. Aku menoleh sekali lagi ke arah tungku yang kini menyala. Asap tipis naik dari cerobong kecil, menjadi tanda bahwa Tabib Marno akhirnya berani kembali melakukan pekerjaannya.

Namun, aku tahu keberanian itu masih rapuh.

Selama orang yang mengancamnya belum ditemukan, keluarganya belum sepenuhnya aman.

Kami kembali ke gubuk ketika langit mulai gelap.

Setelah membersihkan kaki dan menyimpan barang-barang bukti, aku membuka buku catatan kulit kambing. Di bawah gambar jejak sepatu, kutulis keterangan baru yang kami peroleh hari ini.

Orang berpakaian hitam.

Sepatu kulit bersol keras.

Membawa botol kecil bertutup kayu.

Memiliki cincin emas dengan batu merah.

Mengancam keluarga Tabib Marno di Desa Lereng Gunung.

Aku membaca ulang catatan itu beberapa kali.

Tidak satu pun keterangan tersebut menyebut nama. Tidak ada wajah yang bisa dikenali. Bahkan cincin batu merah itu belum bisa dihubungkan dengan seseorang secara pasti.

Tetapi sekarang kami memiliki saksi yang pernah bertemu dengan orang tersebut.

Itu lebih berarti daripada sekadar jejak di lumpur.

Segara duduk di seberangku sambil memeriksa surat perintah palsu yang ditemukan di lumbung.

“Menurutmu, apakah dia anggota Dewan Darah Naga?” tanyaku akhirnya.

Segara mengangkat wajah.

“Kenapa kau berpikir begitu?”

“Cincin batu merah itu terdengar seperti lambang kelompok tertentu. Kalau orang itu berani mengancam keluarga tabib dan bergerak di perbatasan tanpa takut tertangkap, mungkin dia bukan orang biasa.”

Segara terdiam cukup lama.

“Dewan Darah Naga memang memiliki pengaruh besar di istana. Tetapi aku tidak akan menghubungkan mereka dengan perkara ini hanya berdasarkan warna batu pada sebuah cincin.”

Aku mengangguk.

“Jadi kita masih perlu bukti lain.”

“Ya. Kita perlu mengetahui siapa yang menggunakan cincin itu, siapa yang membuat surat perintah palsu, dan siapa yang mengirim benih ke perbatasan. Bisa jadi semuanya berhubungan. Bisa juga ada seseorang yang sengaja membuat kita mengira demikian.”

Aku menutup buku catatan.

Jawaban itu tidak memberiku kepastian, tetapi membuat arah penyelidikan menjadi lebih jelas.

Besok, kami harus kembali memikirkan sawah yang belum dibersihkan. Arang yang kami gunakan tidak akan cukup jika benih palsu terus ditaburkan. Kami perlu mencari cara untuk melindungi petak kedua tanpa mengorbankan hasil panen yang masih bisa diselamatkan.

Namun, ada hal lain yang kini tidak bisa kutinggalkan begitu saja.

Seseorang mengetahui tentang serbuk teratai hitam.

Seseorang membawa botol serupa ke perbatasan.

Dan seseorang ingin memastikan tidak ada orang yang berani membicarakannya.

Aku teringat tubuh asli Kahiyang, perempuan yang meninggal sebelum aku terbangun di dalam dirinya.

Selama ini, kematiannya terasa seperti sebuah rahasia yang terkunci rapat di dalam istana. Kini, sedikit demi sedikit, serpihan rahasia itu muncul di tempat yang jauh dari Balairung.

Aku belum tahu apakah semua ini benar-benar saling berkaitan.

Tetapi aku tidak bisa lagi menganggapnya sebagai kebetulan semata.

Malam semakin larut.

Aku berbaring di atas tikar pandan, sementara Segara memeriksa pintu gubuk sebelum akhirnya duduk di tempatnya. Barang-barang bukti sudah tersimpan aman di dekat kami.

Dari luar terdengar suara jangkrik dan sesekali bunyi angin yang menggoyangkan dinding bambu.

“Gusti,” panggilku pelan.

“Hm?”

“Kalau orang yang kita cari memang memiliki kedudukan tinggi di istana, apa yang akan kita lakukan?"

Segara menatap langit-langit gubuk yang bocor.

“Kita cari bukti sebelum bertindak.”

“Bagaimana kalau dia tahu kita sedang menyelidikinya?”

“Kalau dia sudah tahu, kita harus lebih berhati-hati. Bukan berarti kita berhenti.”

Aku terdiam sebentar.

“Aku tidak ingin penduduk desa menjadi korban lagi.”

“Aku juga tidak.”

Jawabannya singkat, tanpa janji besar atau kata-kata yang dibuat untuk menenangkanku.

Anehnya, justru itu yang membuatku percaya bahwa ia bersungguh-sungguh.

Segara kemudian berbaring, membelakangiku seperti malam-malam sebelumnya.

“Besok kita kembali ke sawah. Kita harus mencari cara membersihkan petak kedua tanpa merusak tanah dan benih yang masih bisa diselamatkan.”

Aku menarik selimut sampai ke bahu.

“Dan cincin batu merah?”

“Kita cari tahu siapa pemiliknya setelah ada informasi yang cukup.”

Aku mengangguk meski ia tidak melihatku.

Malam itu, aku belum menemukan nama pelaku. Tabib Marno hanya memberikan gambaran tentang seseorang yang berpakaian hitam, mengenakan sepatu kulit, dan memakai cincin emas dengan batu merah.

Namun, untuk pertama kalinya, kami memiliki saksi yang berani menceritakan ancaman yang diterimanya.

Di luar sana, petak kedua sawah masih menghitam. Sebagian benih telah tercemar, sementara sebagian lainnya mungkin masih bisa diselamatkan.

Penduduk desa menunggu jawaban, dan keluarga Tabib Marno masih berada di bawah bayang-bayang ancaman.

Besok, pekerjaan kami akan kembali berlanjut.

Arang hitam tidak cukup untuk membersihkan seluruh sawah. Kami harus menemukan cara lain sebelum kerusakan semakin meluas.

Dan di balik semua itu, satu pertanyaan terus berputar di kepalaku.

Siapa pemilik cincin batu merah yang begitu berani mengancam seorang tabib demi menjaga rahasia serbuk teratai hitam?

Aku memejamkan mata.

Jawabannya belum ada.

Tetapi kini aku tahu, orang yang kami cari bukan sekadar penyusup yang datang menabur benih di tengah malam.

Ia juga seseorang yang ingin memastikan kebenaran tetap terkubur, bahkan jika harus membuat seluruh perbatasan hidup dalam ketakutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!