Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Keheningan yang sarat akan ketegangan di dalam ruang kelas itu akhirnya terpecah ketika Hazel secara perlahan menarik jemarinya dari genggaman hangat Jameson.
Gadis itu tidak memberikan jawaban verbal atas pernyataan serius sang dosen.
Tanpa mengumbar kata-kata yang bisa memiringkan benteng pertahanannya, Hazel merapikan tas bahunya, berbalik, dan melangkah keluar melewati pintu kayu ganda yang terbuka lebar.
Jameson hanya berdiri membisu di balik podium, menatap punggung ramping mahasiswinya yang menghilang di belokan lorong dengan pendar mata yang amat pekat.
Namun, begitu Hazel dan Jameson melangkah keluar menuju area terbuka Fakultas Seni dan Desain yang berdekatan dengan gedung utama, suasana kampus sudah berubah total dari biasanya.
Lautan mahasiswa tampak menyemut di area pelataran, berbisik-bisik histeris dengan wajah penuh kepanikan.
Garis polisi berwarna kuning mencolok telah terpasang membentang melingkupi area belakang Gedung Seni—lokasi tepat di mana sesosok mayat pria ditemukan tak bernyawa beberapa hari lalu.
Atmosfer kampus yang semula hangat mendadak berubah menjadi mencekam dengan kehadiran rombongan kepolisian.
Sekitar enam orang personel polisi berpakaian dinas tampak mengamankan TKP dan mengatur arus lalu lintas mahasiswa, sementara tiga orang pria berpakaian sipil—para penyidik dan detektif spesialis kasus kejahatan berat—tampak memegang papan jalan serta berkas laporan, mulai menginterogasi para mahasiswa Fakultas Seni satu per satu.
Kematian tragis seorang mahasiswa seni tingkat akhir bernama Derek di balik dinding Gedung Seni telah memicu badai spekulasi.
Tim forensik dan penyidik yang diterjunkan ke lokasi sejak pagi tadi dibuat frustrasi setengah mati.
Pasalnya, dari hasil olah TKP awal dan pemeriksaan fisik luar jasad korban, kepolisian sama sekali tidak menemukan barang bukti, jejak kaki yang mencurigakan, sidik jari asing, atau pun tanda-tanda kekerasan fisik yang menonjol.
Pelaku pembunuhan itu bekerja dengan sangat bersih, presisi, dan terencana—seperti sebuah eksekusi rapi tanpa cela.
Di tengah lingkaran interogasi di pelataran gedung, seorang mahasiswi seni berpakaian serba hitam mendadak terisak histeris di hadapan dua orang penyidik senior.
"Aku... aku tidak tahu kalau dia akan senekat ini!" tangis gadis itu pecah, mengusap air matanya yang terus meleleh dengan saputangan.
"Beberapa hari lalu... dia menyatakan cintanya padaku. Tapi aku menolaknya secara halus karena aku sudah punya kekasih! Apakah... apakah mungkin dia frustrasi dan memilih bunuh diri dengan meminum racun semacamnya?! Ya Tuhan... ini semua salahku! Aku menyesal sekali!"
Dua penyidik senior itu mencatat pengakuan sang mahasiswi dengan dahi berkerut dalam.
Hipotesis bunuh diri mulai berembus di antara para petugas, mengingat ketiadaan bukti kekerasan atau perlawanan di lokasi kejadian.
Bagi kepolisian awam, teori seorang mahasiswa yang depresi lalu meminum racun kimia di area sepi adalah penjelasan yang paling masuk akal untuk menutup kasus ini dengan cepat.
Namun, di saat semua orang tenggelam dalam drama histeris dan simpati palsu untuk sang korban, ada satu sosok pria muda di antara tim penyidik yang sama sekali tidak terpancing oleh tangisan mahasiswi tersebut.
Pria muda itu berdiri beberapa meter di belakang garis polisi, mengenakan kemeja kasual berlapis mantel cokelat tanah yang kancingnya dibiarkan terbuka.
Usianya diperkirakan baru menginjak akhir dua puluhan, namun pendar matanya yang tajam bagai elang memancarkan intuisi analisis yang amat sangat luar biasa.
Alistair Reed.
Penyidik muda berbakat yang baru saja dipindahkan ke Divisi Kriminal Khusus Los Angeles itu sejak tadi berdiri membisu, memutar-mutar pena di jemarinya.
Sepasang mata kelabunya yang jeli sejak tadi tidak menatap ke arah garis polisi atau gadis yang sedang menangis histeris.
Pandangannya justru terkunci rapat pada satu sosok gadis yang baru saja berjalan melintasi kerumunan dengan langkah yang amat sangat anggun, santai, dan tenang.
Hazel Rosemary Brooks.
Alistair Reed memperhatikan Hazel sejak gadis itu muncul dari koridor gedung utama.
Bukan... Reed memperhatikan Hazel bukan karena paras porselennya yang memikat atau aura aristokratik yang membalut tubuh ramping mahasiswi itu.
Reed memperhatikannya karena ekspresi wajah Hazel yang teramat sangat tidak wajar dalam situasi seperti ini.
Di saat puluhan mahasiswa di sekelilingnya menunjukkan raut wajah cemas, takut, sedih, atau setidaknya penasaran atas kematian tragis teman sekampus mereka...
Hazel justru memamerkan ekspresi yang benar-benar acuh tak acuh.
Raut wajah gadis itu begitu datar, dingin, dan hampa—seolah-olah garis polisi, kedatangan sembilan orang aparat keamanan, dan kematian seorang manusia di balik gedung seni hanyalah sebuah gangguan kecil yang menyita waktu berharganya untuk berjalan ke perpustakaan.
Alistair Reed menyipitkan matanya tajam.
Intuisi pemburunya yang terlatih mendadak berdenyut kencang.
Pria muda itu melangkah maju, membelah kerumunan mahasiswa, dan secara langsung menghadang jalur jalan Hazel di tengah pelataran.
"Permisi, Miss," panggil Alistair Reed dengan suara berat dan tenang, menunjukkan lencana penyidiknya secara singkat.
Hazel menghentikan langkah kakinya.
Gadis itu tidak tersentak, tidak menunjukkan gestur terkejut, dan sama sekali tidak memperlihatkan kecanggungan saat berhadapan langsung dengan seorang penyidik.
Ia hanya menatap Alistair dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pendar mata yang dingin.
"Ya?" sahut Hazel singkat, suaranya halus namun sekeras es.
Alistair menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap lurus ke dalam pupil mata Hazel dengan pandangan menyelidik yang mendalam.
"Apa kau tidak merasa kehilangan?" tanya Alistair Reed langsung pada intinya, tanpa basa-basi diplomatik.
"Bukankah korban adalah rekan satu fakultasmu di area Kesenian ini? Kau sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati atau duka sedikit pun sejak melangkah keluar dari koridor tadi."
Sebuah pertanyaan yang bernada provokatif dan menjebak.
Siapa pun mahasiswa biasa yang ditanya seperti itu oleh seorang penyidik pasti akan merasa terintimidasi atau setidaknya berusaha membela diri dengan ucapan santun.
Namun, Hazel Rosemary Brooks bukanlah mahasiswa biasa.
Gadis itu menyunggingkan senyum tipis—sebuah kurva bibir yang amat sangat dingin dan meremehkan.
Hazel memiringkan kepalanya sedikit, menatap penyidik muda di hadapannya tanpa berkedip sedikit pun.
"Aku seorang mahasiswi baru di kampus ini," ungkap Hazel dengan artikulasi yang amat sangat jelas, tenang, dan tanpa nada ragu. "Dan aku bahkan tidak mengenal atau berteman dengan si korban selama hidupnya."
Hazel jeda sejenak, memperbaiki posisi tali tas di bahunya, lalu menambahkan dengan nada suara yang teramat sangat datar.
"Dan aku tidak punya memori khusus untuk bersedih atau meratapi jasad seseorang yang tidak pernah ada dalam hidupku."
Jawaban yang begitu dingin, rasional, dan tanpa empati itu membuat Alistair Reed tersentak kaget.
Dahi penyidik muda itu berkerut kian dalam.
Sepanjang kariernya menginterogasi belasan saksi dalam kasus pembunuhan, ia jarang sekali menemukan seorang mahasiswi muda yang mampu melontarkan kalimat sejelas dan sedingin itu di hadapan petugas kepolisian tanpa riak kecemasan sedikit pun.
Beberapa mahasiswa Seni yang berdiri di sekitar mereka dan mendengar jawaban Hazel langsung berbisik-bisik dengan nada mencemooh.
"Dengar kan, Pak Penyidik?" seru seorang mahasiswi dari kelas Kesenian dengan nada sinis.
"Gadis itu memang selalu seperti itu! Dia merasa dirinya paling tinggi dan tidak sudi bergaul dengan siapa pun di fakultas kita! Abaikan saja gadis sombong dan tidak punya hati seperti dia!"
"Benar! Jangan buang waktu bertanya pada mahasiswi pansos seperti dia!" timpal mahasiswa lainnya dari barisan belakang.
Alistair Reed mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar para mahasiswa di sekitarnya diam.
Sepasang mata kelabu sang penyidik muda tetap terkunci rapat pada wajah Hazel.
Cemoohan orang-orang di sekitar mereka tidak memicu reaksi emosional apa pun di wajah porselen Hazel.
Gadis itu tetap berdiri tegap dengan keanggunan yang mengerikan, menatap Alistair seolah-olah pria di hadapannya hanyalah kerikil kecil di tengah jalan.
Namun, justru di situlah letak kejanggalannya bagi Alistair Reed.
Sebagai seorang penyidik berpengalaman yang terbiasa menangani profil kejahatan psikopat dan pembunuh berdarah dingin, Alistair Reed seakan menangkap sesuatu yang sangat berbahaya di balik ketenangan sempurna Hazel.
Ketenangan gadis ini bukan sekadar bentuk kesombongan seorang mahasiswi berkelas dari keluarga kaya.
Ini adalah kontrol emosi mutlak—sebuah perisai psikologis yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang terbiasa berhadapan dengan kematian tanpa mengedipkan mata.
Alistair Reed menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan intrik, memiringkan tubuhnya untuk memberi jalan bagi Hazel.
"Terima kasih atas waktumu, Miss," kata Alistair Reed pelan, suaranya turun satu oktav saat Hazel mulai melangkah melewatinya.
"Tapi ingatlah satu hal... di dunia penyelidikan kriminal, orang yang paling tidak memiliki emosi di lokasi kejadian... biasanya adalah orang yang paling tahu bagaimana kematian itu terjadi."
Hazel menghentikan langkahnya tepat di samping bahu Alistair.
Tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun, Hazel menyunggingkan senyum miring yang teramat sangat tipis dan berdarah dingin.
"Kalau begitu..." bisik Hazel dengan suara yang sangat halus, hanya sanggup didengar oleh Alistair Reed, "...pastikan kau punya bukti yang cukup sebelum melemparkan tuduhan konyolmu itu, Detektif."
Hazel kembali melangkah santai, membelah kerumunan mahasiswa dan meninggalkan pelataran Gedung Seni dengan keanggunan yang beracun.
Sementara di belakangnya, Alistair Reed berdiri membisu, menatap punggung Hazel yang kian menjauh dengan intuisi yang makin meyakini satu hal: gadis muda berwajah porselen itu menyimpan rahasia besar yang sangat berdarah.
...----------------...
Happy reading 🦋