Indonesia
NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sementara di halaman rumah, kehebohan gelak tawa para tamu menutupi segala tanda-tanda kejanggalan.

Tidak ada seorang pun yang menyadari aksi kabur Melani yang begitu nekat. Semua orang terlalu sibuk dan larut dalam sukacita menyambut kedatangan rombongan keluarga besar Pak Abdullah dan Zavran.

Di meja akad yang dihias hamparan bunga dan kain sutra putih, Pak Penghulu yang mengenakan jas hitam rapi beserta peci senada sudah duduk di sana.

Beliau memeriksa berkas-berkas pernikahan sejenak, lalu mendongak menatap Zavran yang duduk tegap di hadapannya dengan raut wajah kaku.

Pak Penghulu tersenyum ramah, membetulkan letak mikrofon di depannya. "Alhamdulillah, rombongan pengantin pria sudah lengkap dan berkas sudah siap. Tolong dipanggilkan pengantin wanitanya untuk dihadirkan ke meja akad."

Ibu Melani yang berdiri tak jauh dari meja akad langsung tersenyum lebar. Ia melirik sepupu Melani, yaitu Maya yang sedang berdiri memegang buket bunga di dekat pintu utama.

"Maya! Tolong jemput Mbak Melani di kamar atas ya, Nak," bisik Ibu Melani. "Bilang, Pak Penghulu dan Mas Zavran sudah menunggu di meja akad."

"Baik, Tante," sahut Maya ramah seraya tersenyum.

Gadis muda itu berbalik melangkah cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua. Dengan wajah berseri-seri, Maya mengetuk pintu kamar pengantin yang sedikit renggang.

"Mbak Melani? Ayo turun, Mbak... Pak Penghulu sudah panggil," panggil Maya seraya mendorong pintu kamar lebih lebar.

Namun, kalimat Maya terhenti di udara. Matanya membelalak horor, napasnya tertahan seketika.

Di dalam kamar yang luas itu, tidak ada siapa-siapa. Kebaya pengantin tergeletak mengenaskan di atas lantai, berpadu dengan ronce melati yang hancur terinjak.

Jendela samping kamar terbuka lebar, membiarkan tirai tipis melambai-lambai ditiup angin.

"M-Mbak Melani...?" bisik Maya dengan suara bergetar parah.

Dengan tungkai yang gemetar dan jantung yang berdegup kencang, Maya berlari keluar dari kamar.

Ia menuruni anak tangga setengah melayang, tak memedulikan tatapan heran beberapa tamu di ruang tengah. Ia terus menerobos kerumunan hingga sampai di belakang tubuh Ibu Melani yang sedang mengobrol dengan kerabat.

Maya mencengkeram lengan baju Tantenya dari belakang, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Ibu Melani dengan napas memburu.

"T-Tante..." bisik Maya dengan suara gemetar. "Mbak Melani nggak ada di kamar, Tante... Kebaya pengantinnya digeletakin di lantai... Jendelanya terbuka..."

Deg!

Mata Ibu Melani seketika terbelalak lebar. Ia memutar tubuhnya cengkeram bahu Maya kencang.

"Kamu... kamu bicara apa, Maya?!" desis Ibu Melani. "Jangan bercanda di hari seperti ini!"

"Sumpah, Tante! Maya nggak bohong! Mbak Melani nggak ada di kamar!" bisik Maya dengan mata yang mulai berkaca-kaca ketakutan.

Ayah Melani yang berdiri tak jauh dari sana memperhatikan perubahan mimik wajah istrinya yang mendadak kaku dan penuh kepanikan. Beliau melangkah mendekat dengan dahi berkerut heran.

"Ada apa, Bu? Kenapa wajahmu pucat begitu?" tanya Ayah berbisik. "Melani mana? Kenapa belum turun juga?"

"Mas... ikut ke dalam sebentar. Sekarang, Mas!"

"Lho, kenapa harus ke dalam? Ini Pak Penghulu sudah—"

"Mas! Ikut ke dalam sekarang!" potong Ibu.

Ibu lalu berbalik ke arah meja akad, mencoba menyunggingkan senyum ke arah keluarga Pak Abdullah.

"Pak Abdullah...Mohon maaf sebentar ya, saya dan Mas Hendra ke dalam sebentar memeriksa persiapan Melani."

"Silakan, Mbak . Jangan terlalu lama ya, kasihan Pak Penghulu."

Ibu dan Ayah setengah berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Begitu menerobos masuk ke dalam kamar pengantin, Ayah membelalakkan matanya melihat gaun pengantin putih yang tergeletak berantakan di atas lantai.

"Ya Allah... Mana Melani, Bu?!" Tanya Ayah. "Mana anak itu?!"

"Ibu tidak tahu, Yah! Ibu tidak tahu!" tangis Ibu pecah, meremas gaun kebayanya seraya mendekati jendela. "Melani! Melani!"

"Ambil ponselmu! Telepon dia sekarang!" perintah Ayah dengan tangan gemetar menyambar ponsel di atas meja rias.

Ibu dengan cepat merogoh tas kecilnya, menekan nomor Melani dengan jari yang gemetar hebat. Ponsel itu ditempelkan ke telinganya.

Tut... Tut... Tut...

"Tidak diangkat, Mas!" cicit Ibu dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.

"Ponselnya aktif tapi tidak diangkat!"

"Coba lagi! Telepon terus!" bentak Ayah frustrasi, mengacak rambutnya kencang. "Anak kurang ajar! Mau ditaruh di mana muka kita kalau sampai dia kabur?!"

Ibu berulang kali mencoba menekan tombol panggil. Namun, pada percobaan ketiga, suara operator otomatis terdengar dingin,

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”

"Mas... Ponselnya dimatikan..." tangis Ibu pecah sepenuhnya, tubuhnya melemah hingga hampir merosot ke lantai jika Ayah tidak cepat menahannya.

"Gimana ini, Mas?! Semua orang di bawah sudah menunggu!"

Sementara itu di luar, sepuluh menit telah berlalu. Ketegangan yang janggal mulai merayapi udara. Pak Penghulu berulang kali melirik jam tangannya, sementara para tamu undangan mulai berbisik-bisik heran.

Zavran yang duduk di meja akad memiringkan kepalanya. Tatapan matanya yang tajam melirik ke arah tangga dalam rumah yang sepi. Pria itu menyadari ada yang tidak beres dari ekspresi wajah ibu mertuanya tadi.

Zavran berdiri dari kursinya. Pak Abdullah yang melihat putranya berdiri ikut mengerutkan kening.

"Zavran, mau ke mana kamu?" tanya Pak Abdullah pelan.

"Ada yang tidak beres, Yah," sahut Zavran. "Saya mau periksa ke dalam."

Pak Abdullah yang merasa berfirasat buruk ikut berdiri dari duduknya. "Ayah ikut."

Kedua pria tegap berjas itu melangkah masuk menerobos pintu utama rumah, menaiki anak tangga menuju kamar pengantin di lantai dua. Suara langkah sepatu kulit mereka bergema kencang di lorong.

Begitu sampai di depan pintu kamar yang terbuka, Zavran menyilangkan tangannya di dada.

Matanya yang sedingin es langsung mengunci pemandangan di dalam kamar. Ibu mertuanya yang sedang menangis di pelukan Ayah mertuanya, serta kebaya pengantin putih yang tergeletak di lantai.

Pak Abdullah tersentak kaget, melangkah masuk ke dalam kamar. "Hendra! Ada apa ini?!"

Ayah Melani tersentak kaget melihat kehadiran Pak Abdullah dan Zavran di ambang pintu.

Wajah Ayah seketika memerah padam karena rasa malu yang amat sangat, bercampur dengan ketakutan luar biasa yang mencekat lehernya.

"Pak Abdullah... Zavran..." suara Ayah bergetar parah. Beliau tidak sanggup menatap mata calon besan dan calon menantunya.

Zavran melangkah maju, matanya menatap lurus ke arah Ayah Melani dengan tatapan penuh ancaman.

"Mana Melani?" tanya Zavran.

Ayah Melani menyatukan kedua telapak tangannya yang gemetar di depan dada. Air mata seorang pria paruh baya akhirnya menetes membasahi pipinya yang keriput.

"Zavran... Pak Abdullah... Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya..." ratap Ayah dengan suara parau. "Melani... Melani kabur dari rumah..."

Brak!

Pak Abdullah mundur satu langkah karena syok berat. "APA?! Melani kabur?!"

Zavran tidak bergerak sedikit pun. Kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. Kehormatan dan harga diri keluarganya baru saja diinjak-injak di depan ratusan tamu di bawah sana.

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!