Indonesia
NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Angka Tujuh

#

Percikan api merah merayap dari celah bawah pintu baja. Bunyi gerinda menggigit logam, berhenti sebentar, lalu mulai lagi dari sudut lain. Debu dari langit-langit garasi rontok tipis ke atas kap mobil.

Bima berdiri paling dekat dengan pintu. Cahaya oranye itu sampai ke ujung sepatunya, padam, lalu muncul lagi tiga jengkal lebih jauh.

"Bima." Suara Om Gio terdengar dari balik baja, setenang pagi tadi di depan pagar. "Nak, Nona. Jangan bikin ini lebih berat dari yang perlu. Nenek kalian sudah memberitahu semuanya. Termasuk soal Dimas."

Di jok belakang, Dimas berhenti bernapas. Wartini menarik kepala anaknya ke dadanya. Tangannya gemetar sampai selendangnya ikut bergoyang.

Alessia tidak menoleh ke pintu. Ia menatap Carla.

Carla masih duduk tegak. Tangannya tergeletak di pangkuan, dan detonator palsu itu sudah teronggok di jok sebelahnya. Ia memandangi baja yang sebentar lagi terbuka dengan wajah orang yang sedang menunggu giliran dipanggil.

"Nenek yang menelepon dia," kata Alessia.

"Iya."

"Nenek bilang hidup-hidup."

"Iya." Carla mengangkat dagunya sedikit. "Itu bukan untuk kalian. Itu untuk orang yang harus melihat sesuatu sebelum berhenti mengetuk."

"Nenek bilang apa soal Dimas?"

Carla tidak langsung menjawab. Diamnya cukup lama untuk membuat dada Bima terasa panas.

"Dia cucuku juga," katanya akhirnya. Suaranya merendah, tapi tidak pecah. "Satu-satunya cucu laki-laki yang Matteo tinggalkan. Aku sudah kehilangan anakku sekali. Aku tidak mau menunggu sampai Giovanni memutuskan aku harus kehilangan yang kedua."

"Nek..." Dimas menatap perempuan tua itu seperti baru pertama kali melihat wajah neneknya.

"Nona." Om Gio lagi, kali ini lebih dekat ke celah pintu. "Terus terang, aku sudah tidak terlalu membutuhkanmu. Ada anak Matteo lain yang lebih mudah diatur. Keluarlah bersama suamimu, dan Dimas tidak akan disentuh."

"Dia bohong," bisik Bima. "Soal semuanya."

"Aku tahu."

"Terus Mbak percaya dia soal Dimas?"

"Tidak." Alessia menjawab tanpa berpikir. "Yang aku ingin tahu, dia takut apa."

Dimas sudah berdiri. Tidak ada yang melihatnya bergerak sampai bahunya menempel di pintu mobil.

"Aku aja yang keluar." Suaranya pecah di tengah. "Mereka cuma mau anak Matteo, kan? Aku anaknya. Kalau aku keluar, Mas bisa kabur sama Ibu."

"Duduk."

"Mas..."

"Aku bilang duduk, Dimas!"

Bentakan itu membuat Wartini tersentak. Dimas juga. Bima hampir tidak pernah membentak adiknya, bahkan waktu Dimas mengambil uang laci warung atau pulang dengan wajah babak belur karena berkelahi.

Bima meraih kerah jaket adiknya dan menariknya sampai lutut Dimas membentur jok. "Kamu nggak keluar ke mana-mana."

"Mas bisa mati!"

"Kamu adikku." Kali ini suaranya lebih rendah, dan justru itu membuat Dimas diam. "Sama kayak kemarin. Sama kayak tadi malam. Nggak ada surat yang bisa ubah itu."

Dimas menangis tanpa suara. Ia tidak melawan lagi.

Alessia memperhatikan dari samping. Rahangnya mengeras. Bima melihat ia menahan sesuatu di mulutnya, sesuatu yang tidak boleh keluar di depan anak itu.

"Nyonya." Marta bicara dari balik tiang, suaranya rendah dan datar. "Saluran air di sudut, di balik tumpukan ban. Tutupnya besi bundar. Tuan Matteo dulu pakai jalur itu kalau harus keluar tanpa diketahui siapa pun."

"Aku tahu," kata Alessia.

"Dari mana Nyonya tahu?"

"Aku pernah dibawa lewat sana." Ia bicara datar, seperti menyebut jadwal kereta. "Mataku ditutup. Waktu aku tidak ingat apa-apa."

Bima menoleh cepat. Ia ingin bertanya lebih banyak, tapi bunyi gerinda di pintu tiba-tiba berhenti. Hening yang datang sesudahnya jauh lebih menakutkan.

Carla berdiri pelan-pelan. Tongkat peraknya diambil dari sisi jok dan diketukkan sekali ke lantai beton, bunyinya seperti palu hakim. Ia merogoh ke balik blusnya, menarik seutas rantai tipis, dan di ujungnya tergantung kunci kuningan sebesar kuku jari.

"Gudang Empat," katanya. "Ruang kantor di bawah lantai. Ayahmu menyimpan sesuatu di sana untukmu. Dia bilang, kalau suatu hari namamu dipanggil di rumah ini, aku harus memberikan kunci ini."

"Nenek tahu isinya?"

"Tidak." Carla menaruh kunci itu di telapak tangan Alessia. Jarinya dingin. "Aku tidak pernah sempat membukanya. Dan aku tidak tahu apakah Giovanni sudah tahu aku masih menyimpannya."

"Nenek ikut kami."

"Kakiku sudah seperti kayu tua, Alessia. Di air aku hanya memperlambat kalian." Carla tersenyum tipis. "Kalau aku ikut, Giovanni akan mengejar lewat jalur itu dengan lampu dan anjing. Kalau aku tinggal, dia cuma akan bicara denganku."

"Nenek..."

"Pergi, Cucuku."

Baja itu akhirnya menyerah.

Bunyi logam robek panjang, lalu benturan keras. Pintu garasi ambruk ke dalam separuhnya, mengangkat debu dan asap. Sinar senter menyapu garasi, dan teriakan bersahutan dari segala arah.

"Angkat tangan! Semua angkat tangan!"

Rico sudah berlutut di balik mobil. Pistolnya menyalak dua kali, dan seseorang di pintu jatuh sambil memegangi lengannya. Dari balik tiang, Marta menembak tanpa banyak suara. Peredam pistolnya hanya menghasilkan bunyi seperti tepukan pendek. Kaca depan mobil pecah, serpihannya hujan di atas kepala Wartini, yang langsung merunduk menutupi Dimas.

Carla berdiri di depan pintu mobil, tongkatnya terangkat sedikit, dagunya terangkat lebih tinggi. Untuk beberapa detik, tidak ada yang menembak. Dua orang berjas memperlambat langkah, menatap perempuan tua itu, lalu saling menatap.

Om Gio masuk melewati asap. Jasnya masih rapi. Ia tersenyum seperti sedang menyapa tamu di acara pernikahan.

"Carla," katanya. "Kamu sudah bekerja dengan sangat baik."

"Aku tidak bekerja untukmu, Giovanni."

"Kamu tidak punya pilihan lain." Ia meraih siku Carla dengan dua jari, sangat sopan. "Ayo. Kamu tidak perlu melihat ini."

Carla tidak melawan. Sekali ia menoleh ke jok belakang, ke Dimas yang menatapnya dengan mata merah. Lalu tongkatnya berbunyi di lantai, satu ketukan, dua ketukan, makin menjauh.

"Sekarang!" teriak Alessia.

Bima menarik Dimas keluar dari mobil. Ia membungkuk, mengangkat ibunya ke punggung. Lengan kirinya yang terluka menahan kaki Wartini, dan lututnya nyaris menyerah di bawah beban itu. Selendang ibunya jatuh dan terseret di lantai.

Marta masih di sudut, menahan dua orang yang mencoba masuk dari sisi lain. Peluru menghantam tiang di sebelahnya, serpihan beton melompat ke pipinya. Ia tidak mundur.

"Nyonya! Jangan tunggu saya!"

"Marta!"

"Jalan!" Napasnya tersengal, tapi ia masih sempat tertawa pendek. "Saya janji ke ibu Nyonya. Jangan bikin saya bohong."

Di balik tumpukan ban bekas, tutup besi bundar tergeletak miring. Rico menariknya dengan satu tangan, lalu mengarahkan Dimas turun. Tangga besi berderit. Air dingin menelan kaki Bima sampai betis.

Rico berhenti di mulut lubang. "Jalan terus. Jangan balik."

"Kamu?" tanya Alessia.

"Aku kunci dari atas." Rico menggeser tutup itu. Dari celah sempit, wajahnya masih terlihat, berkeringat, pelipisnya berdarah. "Jalurnya nyambung ke bawah Gudang Empat. Ada tangga di ujung. Aku nyusul."

Tutup itu jatuh kembali ke tempatnya dengan bunyi besi bertemu besi. Dari atas terdengar rantai ditarik. Lalu dua tembakan, teredam.

"Rico!" teriak Alessia.

"Jalan!" Suara Rico jauh dan serak. "Mbak, percaya saya sekali lagi!"

---

Terowongan itu sempit. Dindingnya ditumbuhi lumut, dan dari dasarnya menguar bau air laut yang bercampur solar. Bima menyalakan senter ponsel tua pemberian Alessia. Cahayanya hanya cukup untuk memperlihatkan air hitam yang bergerak pelan, dan jari-jari adiknya yang mencengkeram jaketnya dari belakang.

"Mas, aku nggak bisa lihat apa-apa."

"Pegang bajuku."

"Mas juga pakai baju."

"Ya udah. Pegang bajuku sampai kita keluar."

Di belakang mereka, cahaya senter lain muncul dari lubang tangga. Teriakan. Sepatu berderap di besi. Sebutir peluru menghantam dinding di atas kepala Alessia, dan debu semen rontok ke rambutnya.

Alessia tersandung. Bahu kirinya membentur dinding, dan ia menahan jeritan dengan gigi yang mengatup rapat. Bima meraih lengannya.

"Pegang tanganku," katanya, napasnya pendek. "Jangan bajuku."

Bima menoleh sebentar. "Tadi kamu bilang tangan harus bebas."

"Sekarang nggak."

Ia menyelipkan tangannya ke tangan Alessia. Jari perempuan itu dingin dan basah, tapi begitu Bima menggenggam, jari-jari itu mengunci lebih kuat dari yang ia kira.

"Jangan bilang kamu takut," kata Alessia.

"Aku takut."

"Bohong."

"Kamu gemetar."

"Dingin."

"Air ini nggak sedingin omonganmu," kata Bima.

Alessia tertawa. Pendek, hampir tanpa suara, tapi itu tawa pertama yang Bima dengar sejak semalam.

Cahaya senter bergerak di dinding, makin dekat. Bima menarik Alessia ke sebuah celah di sisi terowongan, tempat pipa besi tua melintang. Mereka menekan tubuh ke belakang pipa, air sebatas paha. Bima merapatkan dirinya ke depan perempuan itu, melindunginya dengan lengan yang masih sehat.

Cahaya senter lewat, berhenti sebentar di pipa, lalu turun ke permukaan air.

Alessia menahan napas. Napasnya menyentuh leher Bima, hangat meski air di sekeliling mereka menggigit.

"Jangan gerak," bisiknya.

"Aku nggak gerak."

"Jantungmu berisik."

"Jantung Mbak juga."

Diam. Lalu suara laki-laki dari ujung terowongan, kesal dan terengah. "Kosong! Kejar yang anak itu!"

Langkah kaki menjauh, bergema, lalu hilang. Bima mengembuskan napas panjang. Alessia belum juga bergerak. Keningnya nyaris menyentuh tulang selangka Bima, dan untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.

Lalu Alessia mundur setengah langkah. Wajahnya tidak terlihat dalam gelap, tapi suaranya terlalu datar untuk orang yang baru saja bernapas lega.

"Ayo."

---

Tangga besi di ujung terowongan menempel di dinding beton. Bima naik lebih dulu untuk mendorong papan kayu yang sudah lapuk. Dimas membantu ibunya naik dari bawah, sementara Alessia menahan tangga dengan satu lengan.

Cahaya abu-abu masuk lewat atap seng yang bolong. Hujan tipis menabuh bubungan. Bau karat, debu, dan minyak tua memenuhi ruangan panjang yang penuh rak rebah dan kerangka kontainer.

Gudang Empat. Bima sudah pernah ke sini, tapi tidak pernah dengan napas sememburu ini.

Di ujung ruangan ada kantor kecil dengan jendela pecah. Dimas jatuh terduduk di atas peti kayu. Wartini ikut duduk di sebelahnya dan menyentuh pipi anaknya berulang kali, seolah ingin memastikan anak itu benar-benar ada.

Rico datang lima menit kemudian. Ia naik lewat papan itu dengan napas putus-putus, bajunya basah sampai dada. Ia menutup papan dengan kakinya, lalu berdiri di dekat jendela, memunggungi mereka. Ponsel di saku celananya bergetar sekali. Ia mengeluarkannya, menatap layar sebentar, lalu memasukkannya lagi tanpa menjawab.

"Mereka butuh lima belas menit buat bongkar rantai," katanya tanpa menoleh.

"Kamu kena?" tanya Alessia.

"Cuma lecet." Rico menoleh, dan senyumnya tidak sampai ke mata. "Mbak duduk. Bahu Mbak berdarah lagi."

Bima menuntun Alessia ke meja kayu. Ia menyobek bagian bawah kausnya dengan gigi dan tangan kanan, lalu melipat kain itu berlapis-lapis dan menekannya ke bahu Alessia. Perempuan itu mendesis, dan tangannya langsung mencengkeram lengan kaus Bima.

"Tahan," kata Bima.

"Kamu cerewet."

"Yang gemetar itu tangan kamu."

"Dingin."

"Kamu sudah bilang itu tiga kali malam ini."

"Berarti benar."

"Atau kamu bohong tiga kali."

Alessia mendongak. Jarak wajah mereka hanya sejengkal. Air menetes dari rambut Bima ke pipi perempuan itu, dan ia tidak menghapusnya. Bima juga tidak. Sesaat mereka hanya saling menatap, dan Bima lupa bahwa di belakang mereka ada adiknya dan seorang penjaga yang sedang menatap jendela.

"Jangan lihat aku begitu," kata Alessia pelan.

"Aku lihat lukamu."

"Kamu lihat yang lain."

"Itu juga bukan urusanmu."

Dari peti kayu, suara Dimas terdengar kecil. "Mas."

"Apa?"

"Aku takut."

"Aku juga."

Dimas menoleh, matanya bengkak. "Mas nggak pernah ngaku takut."

"Sekarang aku ngaku."

Dimas tertawa basah, lalu menangis lagi, dan Wartini memeluk kepalanya.

Alessia melepaskan tangannya dari lengan Bima. Ia berjalan ke sisi meja, berlutut, dan menyentuh laci terkunci di bawah meja kantor. Kunci kuningan dari Carla masuk ke lubangnya dengan bunyi kecil. Ia memutarnya, dan laci itu terbuka dengan derit tipis.

Di dalamnya ada map hijau lusuh, diikat klip logam yang sudah berkarat.

Alessia membukanya di atas meja. Bima berdiri di sebelahnya, cukup dekat sampai bahunya menyentuh lengan perempuan itu. Dimas ikut mendekat. Rico tetap di jendela.

Halaman pertama ditulis dengan tinta biru yang sudah memudar.

*PELEPASAN, PELABUHAN UTARA.*

*Matteo Vieri. Selesai. 14 Maret.*

*Hadi Ardhana. Ditahan. Jangan dilepas sebelum buku terbuka.*

*Dimas, anak Matteo. Diambil hidup-hidup.*

Dimas membaca barisnya sendiri. Tidak ada suara, tapi bibirnya bergerak, dan Bima melihat pundak adiknya perlahan turun.

Di bawah daftar itu ada satu baris baru. Tintanya lebih gelap dari baris-baris di atasnya, seperti baru ditulis.

*Bima Ardhana. Suami kontrak. Dilepas subuh, setelah halaman terakhir dibaca.*

Lantai di bawah kaki Bima seolah bergeser. Ia membaca ulang, lalu sekali lagi, dan kata *kontrak* terasa seperti pukulan yang datang terlambat.

Di sudut bawah halaman ada tanda tangan. Dua huruf, A dan V. Di sebelahnya, sebuah angka tujuh dengan garis tegak menyilang di tengahnya, ditarik sedikit miring.

Bima menatap angka itu lama. Di tangga ruang bawah tanah, di antara goresan tanda hitung, ia pernah melihat angka yang sama.

Di bawah tanda tangan, dengan pensil yang lebih baru: *Pelaksana: R.* Dan satu baris kecil yang hampir tidak terbaca. *Subuh ini.*

"Itu tulisanmu," kata Bima.

Alessia tidak menjawab. Tangannya menyentuh kertas itu, dan ujung-ujung jarinya gemetar.

"Itu bukan..."

"Angka tujuhmu." Suara Bima datar, dan itu membuatnya sendiri kaget. "Kamu bikin garis di tengah. Kamu bilang ayahmu suka mengejekmu. Aku lihat sendiri di dinding."

Alessia tidak membantah. Matanya bergerak ke tanggal kecil di pojok kertas. Ia membacanya dua kali, dan Bima melihat bibirnya menghitung sesuatu.

"Seminggu lalu," katanya pelan.

"Ilaria bilang kamu pulang telat seminggu."

"Aku tidak tahu aku ada di mana minggu itu."

"Tapi kamu tahu tanda tangan itu."

Alessia memejamkan mata. Tubuhnya diam, tapi jari-jarinya menekan tepi meja sampai memutih.

Di balik kelopak matanya, sesuatu muncul. Ruangan putih. Lampu yang terlalu terang. Pena yang terasa berat di tangannya, dan jari lain yang menggenggam jarinya dari belakang, hangat, tidak memberi ruang untuk menolak. Suara laki-laki berbisik dekat telinganya, pelan dan sabar.

*Bagus, Lia. Sekarang yang terakhir.*

Alessia membuka mata. "Aku ingat pena itu," katanya. Suaranya nyaris tidak keluar. "Dia memanggilku Lia. Cuma Ayah yang memanggilku begitu."

Bima menurunkan pandangan ke tangan perempuan itu. Tangan itu masih gemetar, dan kali ini ia tahu bukan karena dingin.

"Di ruang tamu Pak Darto, kamu bilang kontrak ini nggak ada yang nyata," kata Bima. "Padahal seminggu sebelum itu, kamu sudah tanda tangan buat matiin aku."

"Bima..."

"Jawab."

"Aku nggak ingat!"

Teriakan itu pecah, keras, dan untuk pertama kalinya sejak Bima mengenalnya, Alessia kehilangan kendali atas suaranya sendiri.

"Mas..." Dimas berdiri dari peti kayu, membaca baris pertama dari balik bahu kakaknya. "Itu namaku."

"Nggak ada yang nyentuh kamu," kata Bima, tanpa menoleh.

Dari seberang pelabuhan, suara azan subuh terdengar. Mula-mula pelan, lalu naik, melewati atap seng dan permukaan air. Di dalam gudang yang sunyi, suara itu terdengar begitu jauh dari semua yang baru saja terjadi.

Lalu suara Rico, dari dekat jendela. Tenang dan pelan.

Bima menoleh.

Rico sudah tidak memunggungi mereka. Ia berdiri di tengah ruangan dengan pistol terangkat, lurus ke dada Bima.

"Bim," katanya. "Maaf. Subuh sudah masuk."

Alessia bergerak sebelum Bima sempat bernapas. Ia melangkah ke depan Bima, bahu kirinya yang berdarah menghadap Rico, satu tangan terbuka ke samping.

"Rico," katanya. "Tanda tangan itu tanganku. Kalau kamu mau tembak dia, kamu harus lewat aku dulu."

"Saya tahu, Mbak." Suara Rico pecah di tengah kalimat. "Makanya saya takut."

Dan untuk pertama kalinya sejak Bima mengenalnya, tangan Rico sama sekali tidak gemetar.

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!