Indonesia
NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Ritual Pembatas Batin

Pukul tiga dini hari. Gerimis telah reda, menyisakan aroma embun basah dan udara dingin yang menusuk tulang.

Di halaman samping rumah Farhan, di bawah rindangnya pohon mangga, sebuah tungku tanah liat kecil menyala redup oleh bara kayu jati. Asap tipis membumbung tinggi membawa aroma kayu manis dan daun pandan kering yang dibakar.

Farhan duduk di kursi kayu seraya melipat tangannya, sementara Arya duduk bersila di atas tikar pandan di hadapan tungku tersebut.

"Ini bukan ritual klenik," ujar Farhan seraya melemparkan sepotong kayu manis lagi ke dalam bara. "Sebut saja ini latihan fokus psikologis. Dulu almarhum kakekku seorang pemburu di hutan Sumatra. Dia selalu bilang, kalau kamu mau membawa barang dari tempat gelap, kamu harus tahu kapan harus meletakkannya kembali sebelum pundakmu patah."

Arya menatap pendar api di dalam tungku. Wajahnya yang pucat kini mulai dialiri warna kehidupan kembali.

"Apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanya Arya.

"Setiap kali kamu selesai memandikan jenazah di IKKJ," pimpin Farhan dengan suara berwibawa dan tenang, "kamu harus membuat batas yang jelas di dalam pikiranmu. Sentuhanmu adalah jembatan untuk mencari keadilan, bukan rumah untuk kenangan mereka. Setelah tugasmu selesai dan jenazah itu dikafani atau dimasukkan ke peti, kamu harus 'memutus' jembatan itu."

Farhan merogoh sebuah wadah kuningan berisi air bersih yang dicampur potongan daun jeruk purut, lalu meletakkannya di antara mereka.

"Bilas tanganmu di sini setiap kali kamu selesai bertugas," lanjut Farhan. "Bukan cuma untuk membersihkan kuman fisik, tapi sebagai simbol dalam otakmu bahwa tugas emosionalmu untuk orang itu telah berakhir. Biarkan sisa rasa sakit mereka larut bersama air."

Arya mengulurkan kedua telapak tangannya ke atas wadah kuningan tersebut. Ia memasukkan jarinya ke dalam air yang dingin bersuasana harum jeruk purut itu.

Saat air menyapu kulit jarinya, Arya memejamkan mata. Kali ini, ia tidak mencoba mencari penglihatan atau memanggil memori. Sebaliknya, ia membayangkan wajah Pak Bambang, Maya Kartika, dan belasan orang lainnya yang pernah ia bantu. Di dalam batinnya, Arya tersenyum pada mereka dan berbisik pelan:

'Tugas saya sudah selesai untuk kalian. Istirahatlah dengan tenang... biarkan saya melanjutkan hidup saya.'

SZZZT...

Sebuah sensasi hangat yang sangat lembut terpancar dari pusat dadanya, mengalir turun menuju kedua tangannya dan terlepas bersama riak air di dalam wadah kuningan tersebut!

Arya membuka matanya.

Beban berat berukuran ton yang selama berbulan-bulan menekan dadanya hingga sesak... mendadak menguap sepenuhnya! Paru-parunya kembali mengembang lega, ia lalu mengirup udara malam yang segar tanpa rasa tercekik lagi.

Farhan yang memperhatikan perubahan aura pada Arya mengangguk puas. "Bagaimana rasanya?"

Arya menatap tangannya yang basah, lalu menatap Farhan dengan mata yang kembali jernih dan berbinar.

"Enteng, Pak," jawab Arya dengan senyum tulus yang sudah sangat lama tidak terkembang di wajahnya. "Kepala saya terasa sangat kosong dan tenang."

"Bagus," kata Farhan seraya berdiri dan menepuk bahu Arya. "Berarti besok kamu sudah siap kerja lagi. Kasus di luar sana tidak akan menunggu sampai otakmu siap."

Arya tertawa pelan, sebuah tawa kecil yang terdengar sangat lepas dan bebas.

**

Dua hari kemudian. Udara pagi di IKKJ RSUD Bina Husada terasa berbeda bagi Arya.

Ia melangkah menelusuri koridor berlantai keramik bersih dengan langkah kaki yang mantap. Tidak ada lagi lingkar hitam pekat di bawah matanya, dan koordinasi geraknya kembali gesit.

Teguh yang sedang menyiapkan larutan disinfektan menoleh dan terperanjat melihat penampilan adiknya.

"Wah! Ini baru Arya yang saya kenal!" puji Teguh gembira. "Dua hari cuti di rumah Pak Farhan langsung segar bugar begitu. Kasih jamu apa kamu sama Pak Polisi itu?"

Arya tertawa seraya mengenakan apron plastik kedap airnya. "Cuma jamu tidur nyenyak sama kopi pahit, Mas."

Pintu geser otomatis terbuka. Dua petugas ambulans mendorong masuk sebuah brankar besi yang membawa jenazah baru yang terbungkus kain penutup hijau.

Dokter Aris melangkah masuk di belakang mereka seraya membawa berkas laporan awal.

"Ada kiriman baru dari Polsek Kota," kata dr. Aris seraya menarik sarung tangan medisnya. "Seorang pria paruh baya tanpa identitas, ditemukan meninggal mendadak di atas bangku taman kota sejam lalu. Tidak ada tanda-tanda kekerasan luar yang mencolok, tapi wajahnya membiru kaku."

Teguh dan Arya segera mengambil posisi di samping meja periksa.

Farhan yang baru saja tiba melangkah mendekat, dan berdiri agak jauh di sudut ruangan, seraya menatap Arya dengan tatapan penuh pengawasan dan dukungan. Ini adalah ujian pertama bagi Arya setelah melalui krisis mentalnya.

Arya menghembuskan napas pelan melalui hidung, untuk menetralkan detak jantungnya. Ia lalu menarik kain penutup hijau tersebut.

Di atas meja terbaring jasad seorang pria berusia sekitar lima puluhan dengan pakaian yang rapi namun kumal. Wajahnya membiru tegang, dan bibirnya sedikit mengering.

Arya mematikan keran air pembersih sejenak. Ia menarik sarung tangan lateksnya, menarik napas dalam-dalam, lalu menempelkan jari telanjang kanan tepat di atas denyut nadi leher jenazah tersebut.

SZZZZT!

Penglihatan magis itu datang kembali!

Dunia di sekitar Arya bergeser ke sebuah taman kota yang sepi di bawah terik matahari siang.

Pria tua itu sedang duduk di bangku kayu, sambil memegangi dadanya yang mendadak sakit luar biasa. Napasnya tersengal-sengal, mukanya memerah lalu membiru saat serangan jantung dahsyat menghantam pembuluh darah utamanya.

Pria itu tersungkur ke samping, tangannya yang gemetaran merogoh saku jasnya untuk mengambil botol obat kecil, namun botol itu terjatuh dan menggelinding ke dalam semak-semak sebelum ia sempat membukanya. Beberapa detik kemudian, kesadarannya padam dalam kedamaian malam.

SWUUSH!

Penglihatan itu berakhir!

Arya menarik tangannya dari leher jenazah tersebut.

Begitu penglihatan itu selesai, Arya tidak merasa pusing, tidak ada rintihan bisikan yang tertinggal, dan tidak ada rasa sakit yang menempel di dadanya. Penglihatan itu terisolasi dengan rapi di dalam otaknya sebagai informasi murni, bukan lagi sebagai trauma emosional.

Arya menoleh ke arah Farhan dan dr. Aris dengan tenang.

"Dokter Aris," ujar Arya penuh percaya diri. "Tolong periksa semak-semak di sekitar TKP taman kota. Pria ini mengalami serangan jantung koroner akut. Obat nitrogliserin miliknya terjatuh ke dalam semak saat ia mencoba menyelamatkan diri."

Dokter Aris membelalak kaget. "Serangan jantung? Kamu bisa tahu dari warna kebiruan di wajahnya?"

Arya tersenyum tipis tanpa menjelaskan lebih lanjut. "Cuma duga klinis biasa, Dok. Tapi pemeriksaan toksikologi dan jantung pasti akan membuktikannya."

Farhan yang berdiri di sudut ruangan menyunggingkan senyum bangga yang sangat tipis. Ia mengangguk kecil ke arah Arya, sebuah kode pemahaman antara dua mitra yang kini telah melampaui batas-batas ketakutan mereka sendiri.

Malam harinya, setelah seluruh tugas pemulasaraan selesai dan ruang IKKJ telah dibersihkan hingga steril, Arya duduk sendirian di bangku taman depan gedung pemulasaraan.

Udara malam berembus dingin membawa aroma bunga sedap malam yang ditanam di sekitar area rumah sakit. Di tangannya ada secangkir teh hangat yang asapnya membumbung tipis.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Arya merasakan apa artinya hidup di dalam masa kini. Ia tidak lagi dihantui oleh bayang-bayang masa lalu orang mati, tidak lagi cemas saat kegelapan malam menjelang, dan tidak lagi takut pada kemampuan unik yang dimilikinya.

Tap tap tap!

Langkah kaki tegap terdengar mendekat. Farhan melangkah menghampiri, lalu duduk di bangku kayu di samping Arya tanpa bersuara. Ia menyalakan sebatang rokok, dan membiarkan asapnya terbuang ke udara malam.

"Gimana perasaanmu hari ini?" tanya Farhan pelan.

"Sangat baik, Pak Farhan," jawab Arya tulus seraya menyesap tehnya. "Saya akhirnya sadar... kekuatan ini bukan kutukan yang harus saya takuti, tapi juga bukan hal yang boleh menguasai hidup saya. Ini cuma alat."

Farhan tersenyum miring. "Alat yang sangat berguna buat polisi malas seperti aku."

Arya terkekeh pelan. "Bapak kan memang suka memanfaatkan saya."

"Tapi kita tim yang bagus, kan?" balas Farhan seraya menepuk bahu Arya dengan ramah. "Kamu yang menemukan pintu rahasianya, aku yang menendang pintunya sampai roboh."

Ha ha ha...

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!