Indonesia
NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Zaira, setengah berbaring di sofa kulit hitam, nyaris tak mengangkat kepalanya saat mendengar pintu tertutup dengan derit lirih yang diredam karpet tebal. Dengung pelan pendingin ruangan berbaur dengan aroma kamar itu: wiski tua, tembakau mahal, dan wangi kayu yang dalam.

Kelopak matanya terasa berat, tetapi ia masih bisa menangkap siluet seorang pria yang melangkah ke arahnya dengan langkah mantap dan penuh percaya diri, seolah seluruh dunia adalah miliknya. Udara mengencang, pekat, sarat listrik. Bulu kuduknya meremang, sensasi dingin merambati punggungnya.

Yang pertama tiba adalah aromanya: campuran liar cedar, vetiver, kulit samak... sesuatu yang purba dan maskulin, menghantam ulu hatinya bagai tinju lembut. Tanpa sadar Zaira menghirupnya dalam-dalam, membiarkan wangi itu tertancap dalam ingatannya.

Leonardo Santos.

Tinggi, berwibawa, setelan gelapnya merangkul kekuatan tubuh yang masih atletis meski dimakan usia. Rambut hitam legamnya bergaris-garis perak yang berkilau di bawah cahaya temaram, seolah waktu telah menyentuhnya dengan penuh hormat. Jenggot terpangkas rapi membingkai rahangnya yang keras. Namun yang benar-benar memerangkap Zaira adalah tatapannya: sepasang mata kelabu logam, sedingin baja, yang seakan menembus pakaiannya, menembus kulitnya... hingga ke jiwanya.

Zaira mengerjap, jantungnya mulai menabuh tulang rusuknya.

"Siapa...?" ia tergagap, suaranya pecah, sia-sia berusaha menegakkan tubuh.

Leonardo tak menjawab. Ia hanya membiarkan jarak di antara mereka menguap.

Sepatu Italianya berbunyi teredam di atas karpet. Setiap langkah bagai pukulan genderang perang. Ketika ia berdiri tepat di hadapan Zaira, gadis itu merasakan bayangan sang taipan jatuh menaungi tubuhnya. Nalurinya menyuruhnya bangkit dan mundur, tetapi tubuhnya yang hangat dan limbung oleh alkohol menolak menurut.

Pria itu mengamatinya seperti pemburu mempelajari mangsanya.

Lalu, tanpa peringatan, tangannya yang besar dan kokoh mengatup di pinggang Zaira, mengangkatnya dengan kemudahan yang menghinakan. Zaira memekik tertahan, kakinya limbung.

"Lepaskan aku!" rintihnya, suaranya sekadar bisikan putus asa.

Leonardo memiringkan kepala, menatapnya dengan campuran geli yang kejam dan hasrat yang gelap. Sudut bibirnya melengkung dalam senyum yang nyaris tak kentara.

"Jangan berlagak sulit, boneka," bisiknya serak, suaranya mengelus kulit Zaira bagai beludru kasar. "Lihat aku... Matamu memohon untuk kulahap."

Sebelum Zaira sempat membalas, mulut pria itu jatuh menghantam bibirnya.

Ciuman pertama itu bukan sentuhan. Itu sebuah serbuan.

Ia menciumnya dengan kebrutalan pria yang kelaparan, merampas napasnya, menikmati perlawanan Zaira dengan kesabaran yang bengis. Lidahnya menyerbu, menjelajah tanpa meminta izin. Rasa pahit wiski dalam napasnya berbaur dengan manis gemetar sang gadis, menciptakan racun yang Zaira serap di setiap detak.

Zaira meninju dada pria itu dengan lemah, kepalannya lenyap tak berarti melawan bidang tubuh yang keras. Ia bisa merasakan tiap otot di balik kain kemeja, tiap detak jantung yang menghentak kuat.

Leonardo menggeram di bibir Zaira, suara serak dari kerongkongan yang mengguncangnya hingga ke sumsum. Tangannya meluncur ke punggung Zaira, meraba, mengklaim, menandainya sebagai miliknya dalam bahasa yang lebih dipahami tubuhnya ketimbang pikirannya.

Zaira mendesah, nada rendah dan patah, saat pria itu mencengkeram tengkuknya, menariknya mendekat. Bibirnya terbuka dalam permohonan bisu, dan Leonardo memanfaatkannya, memperdalam ciuman hingga Zaira lupa namanya sendiri.

Cahaya temaram melemparkan kilau emas ke atas adegan itu. Marmer dingin di dinding seakan membisikkan rahasia terlarang. Tirai beludru biru menyerap tiap erang, tiap embusan napas tertahan.

Leonardo menarik diri, sekadar cukup untuk menatapnya. Pupilnya melebar, nyaris hitam, dan napas beratnya menaikturunkan bidang dadanya yang perkasa. Salah satu tangannya menyusuri garis rahang Zaira, turun ke lehernya yang terbuka, mengikuti denyut liar yang berdetak di bawah kulitnya.

"Malam ini... kau akan jadi segala yang kubutuhkan. Aku suka kau berlagak sulit," gumamnya, suaranya bisikan penuh dosa.

Zaira menelan ludah, terperangkap dalam tatapan itu bagai rusa di hadapan serigala.

Ia merasakan roknya perlahan didorong naik oleh tangan yang terampil. Sentuhan jari-jari Leonardo di pahanya yang telanjang merenggut satu embusan napas dari bibirnya.

Kulitnya meremang di setiap titik yang disentuh pria itu, seolah tiap belaian menyalakan percikan yang membakarnya dari dalam.

"Kau gemetar," ejek Leonardo, meluncurkan mulutnya menyusuri leher Zaira. "Aku suka."

Zaira memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir agar tak terisak. Namun saat bibir pria itu menemukan lengkung sensitif tulang selangkanya, Zaira melengkungkan punggung ke tubuh Leonardo, mencari lebih banyak kegilaan itu, lebih banyak kehancuran manis itu.

Leonardo tak melepaskannya. Ia duduk lebih dulu di sofa lalu menyeret Zaira hingga mengangkangi pangkuannya, seolah gadis itu sebuah piala. Kedua tangannya menguasai wajah Zaira, membelainya dengan kelembutan yang menipu sebelum menghantamkannya kembali ke mulutnya, melahapnya.

Panas gairah pria itu yang berdenyut di balik celananya menekan selangkangan Zaira, merenggut erangan dari kebutuhan yang murni.

Zaira menumpukan tangan di bahu Leonardo, kukunya menancap tipis di kulit pria itu. Benaknya menjerit agar ia berhenti, bahwa ini salah, bahwa ia harus lari...

Tetapi tubuhnya sudah menyerah.

Kemeja Leonardo segera terbuka melayang, menyingkap dada berotot yang tegas, dihiasi tato-tato yang seakan memohon untuk dibelai. Dengan gemetar, Zaira menyusurkan jari di kulit panas itu. Leonardo mengeluarkan geraman puas dan menurunkan tali gaun Zaira, menyingkap dadanya.

Mulut pria itu mengatup di salah satu puncak dada Zaira dalam gerakan lapar, membuatnya mengerang keras.

Ia mengisap, menggigit lembut, sementara tangannya yang lain turun perlahan namun tak terbendung menuju kebasahan yang telah merendam pakaian dalam Zaira.

"Lihat dirimu..." bisik Leonardo, mengangkat tatapannya ke arah Zaira, bibirnya basah. "Kau diciptakan untuk dipuja. Untuk dimiliki."

Zaira terisak, tak tahu apakah itu karena malu atau ekstase.

Tangan cekatan pria itu menyingkap kain, menemukan pusat Zaira yang berdenyut dan basah. Satu sentuhan jarinya sudah cukup membuat gadis itu bergetar, kukunya mencakar bahu Leonardo.

"Nah, begitu..." gumamnya puas. "Lepaskan saja, boneka. Malam ini kau bebas. Malam ini... kau milikku."

Dan tanpa peringatan lagi, Leonardo menyusupkan satu jarinya, lalu jari yang lain, meregangkan, menyiapkan Zaira, sementara mulutnya kembali ke bibir gadis itu untuk membungkam tiap jeritan, tiap permohonan, tiap air mata kenikmatan yang tumpah.

Malam di luar suite masih bergetar oleh musik klub, detak samar dentum bas. Tetapi bagi mereka berdua, dunia telah lenyap.

Yang tersisa hanya kegelapan, hasrat...

1
Enik Ulandari
aku suka ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!