Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ada Jalan Kembali
Sudut Pandang Rebecca
Semalaman aku hampir tak tidur. Lagi.
Tapi kali ini bukan sekadar takut. Ini keputusan. Dan ketika kau memutuskan sesuatu seperti ini… tak ada jalan untuk mundur lagi.
Aku bangun pagi-pagi, bahkan sebelum anak-anak. Beberapa menit lamanya aku terpaku di kamar, menatap langit-langit, mencoba menenangkan degupan yang terasa terlalu cepat.
"Pasti berhasil…" bisikku. Tapi bahkan aku sendiri tak begitu percaya.
Aku bangkit. Langsung menuju map tempatku menyimpan semuanya. Dokumen. Akta. Segala yang bisa membuktikan… apa yang hendak kukatakan.
Tanganku sedikit gemetar saat menata semuanya ke dalam tas. Ini nyata. Aku benar-benar melakukannya. Melanggar janji.
Sesaat aku memejamkan mata. "Maafkan aku…" gumamku, teringat pada kakakku.
Tapi aku tak punya pilihan. Tidak lagi.
"Kita berangkat hari ini?"
Suara Henrique datang dari ambang pintu. Aku mengangguk. "Hari ini."
Ia masuk ke kamar. Sudah terbangun. Gelisah. Selalu begitu.
"Bagaimana kalau dia tak percaya?"
Aku menarik napas dalam. "Kita buat dia percaya."
Heitor muncul tak lama kemudian di belakangnya. Bersandar ke dinding. Diam. Mengamati. Berbeda. Sangat berbeda dari saudaranya.
"Ayo cepat," hanya itu ucapannya. Terlalu tenang. Dan itu… membuatku cemas. Karena ketika Heitor jadi seperti ini, artinya ia sedang berpikir terlalu keras.
Perjalanan ke sana berlangsung sunyi. Kami naik Uber. Aku duduk di depan, mereka di belakang. Sopirnya tak banyak bicara, dan itu bagus, karena kepalaku sudah terlalu bising.
Bagaimana kalau dia tak percaya? Bagaimana kalau dia menyuruh kami pergi? Bagaimana kalau dia lebih buruk dari yang kubayangkan?
Aku melirik ke kaca spion. Mereka berdua ada di sana. Begitu berbeda, tapi begitu serupa pada saat yang sama. Pirang. Mata cerah. Garis wajah lembut… yang begitu mengingatkanku pada ibu mereka hingga terasa menyakitkan. Dadaku menyesak.
"Kalian baik-baik saja?" tanyaku, berusaha terdengar tegar.
"Iya," jawab Henrique seketika. Bohong. Kelihatan jelas. Kakinya tak berhenti bergerak, jari-jarinya gelisah.
Sementara Heitor… diam. Menatap ke luar jendela. Seolah sedang menganalisis segalanya.
"Semua akan baik-baik saja," ucapku, lebih untuk diriku sendiri ketimbang untuk mereka.
Saat mobil berhenti, jantungku berpacu. Ini tempatnya. Besar. Megah. Penjaga di setiap sudut. Diskret, tapi terlihat jelas.
Kubayar sopir, lalu turun. Mereka turun tepat di belakangku. Aku menarik napas dalam. "Tetap di dekatku."
Mereka mengangguk. Kami berjalan menuju gerbang.
Tak lama, dua pria muncul. Bersenjata. Berwajah keras.
"Ada perlu apa?" Suara itu tegas.
Aku menelan ludah. Tapi tak mundur. "Aku perlu bicara dengan Dante."
Pria itu menelitiku, lalu memandang anak-anak. "Soal apa?"
Aku menarik napas dalam. "Pribadi."
Ia tampak tak yakin. "Dia tak ada di sini."
Jantungku mencelos. "Aku bisa menunggu."
Sebelum ia menjawab, pria lain muncul. Lebih tua. Sikapnya mantap. Tatapannya awas. Ia meneliti kami lebih saksama, terutama anak-anak.
"Bicara denganku," katanya.
Sesaat kulipat tanganku. Ragu. Tapi tak ada pilihan. "Aku perlu bicara dengan Dante."
Ia sedikit memiringkan kepala. "Akan kusampaikan pesannya."
Aku bimbang. Ini pertaruhan segalanya. Aku menarik napas dalam. Lalu berkata, "Dia ayah mereka."
Hening. Berat.
Tatapan pria itu berubah seketika. Ia memandangku, lalu ke anak-anak, sekali lagi. Lebih awas. Lebih… serius.
"Ulangi."
"Mereka anak-anaknya." Suaraku kali ini keluar tegas. Tanpa gemetar. Tanpa keraguan.
Ia terdiam beberapa detik. Berpikir. Menimbang. Lalu menoleh ke penjaga satunya. "Singkirkan mobil dari depan gerbang."
Kemudian ia berbalik lagi padaku. "Kalian ikut denganku."
Henrique langsung melangkah mundur. "Tidak," katanya. Tegas. "Kami bahkan tak kenal kau."
Pria itu tak bergeming. "Namaku Jason." Ia bicara dengan tenang. "Aku tangan kanan Dante."
Aku menatapnya, mencoba membaca apakah itu benar.
"Dia sedang tak di kota," Jason melanjutkan, "tapi sudah diberitahu."
Jantungku berpacu. "Dia tahu?"
"Tahu."
Henrique menyilangkan tangan. "Dan dia mau kami ikut kau begitu saja? Tanpa penjelasan apa pun?"
"Aku mau kalian aman." Jawaban itu langsung. "Dan di sini tidak aman."
Ucapan itu membuat perutku bergolak.
"Aku akan membawa kalian ke salah satu properti Dante," ia menambahkan. "Sampai dia tiba."
Henrique membuka mulut hendak membantah, tapi Heitor meletakkan tangan di bahunya. "Sudah," ucapnya pelan.
Henrique menoleh padanya. "Kau gila?"
"Tidak." Heitor menjawab sambil menatap lurus ke arah Jason. "Kita tak punya pilihan."
Keheningan turun di antara kami. Dan ia benar. Aku tahu itu.
Aku menarik napas dalam. Sesaat memejamkan mata. Lalu mengangguk. "Kami ikut."
Jason cuma mengangguk. Mobil didatangkan. Pintu terbuka. Semua serba cepat. Terlalu tertata. Terlalu terkendali.
Aku masuk lebih dulu. Anak-anak menyusul. Dan ketika pintu tertutup… aku merasakannya. Tak ada jalan kembali lagi.
Sekarang… tinggal menunggu. Dan berharap pria paling berbahaya yang pernah kudengar itu… memutuskan untuk tidak menghancurkan kami.