Pantas saja dia tak diharapkan dan dibenci oleh keluarganya. Ternyata dia adalah anak yang lahir dari rahim orang ketiga.
Mutiara Anjani, Seorang gadis yang selalu terlihat kuat dihadapan orang lain. Tiada yang tahu bahwa gadis itu menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Semua tertutup oleh sikapnya yang ceria dan terkadang angkuh itu.
Semua orang yang pernah dekat dengannya menjauh perlahan karena hadirnya orang baru termasuk sahabatnya sendiri. Dia menjadi sendiri, Hingga seorang pria hadir menjadi pendukungnya serta satu-satunya pria yang berjanji akan selalu menjaganya sampai nanti.
••••••
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Mutiara Anjani.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti.." Muhammad Al Ghazi Maulana...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selalu Tersisihkan
"Terima kasih telah menolongku dan menemaniku selama aku dirawat dirumah sakit.." Ucap Mutiara pada pria yang baik hati ini. Ghazi tersenyum. Selama dirawat dirumah sakit paskah operasi, Hanya Ghazi yang selalu menemani Mutiara. Tidak ada keluarga yang lainnya.
Sebenarnya Mutiara ingin memberikan kabar ini pada Papanya. Namun Gadis itu takut kalau Papanya khawatir.
"Bukankah manusia memang harus saling tolong menolong Nona.. " Mutiara mengangguk. Matanya tak lepas menatap wajah tampan pria ini. Paras tampan Ghazi seolah tak asing bagi Mutiara. Dia seperti pernah bertemu dengan pria ini, Tapi dimana dan kapan dia lupa.
"Kalau begitu, Aku turun dulu ya. Sekali lagi terima kasih karena telah menolong dan menemani ku saat aku dirumah sakit. Dan sekarang aku minta kau untuk mengantarku pulang, Sungguh aku ini sangat merepotkan.." Kata Mutiara sembari terkekeh. Setetes air mata merembes membasahi pipinya.
Maklum saja, Dia kan anak yang tak pernah diharapkan. Mau separah apapun sakitnya tidak akan ada keluarga yang datang bahkan hanya untuk menjenguk.
Andai ia menghubungi Papanya waktu itu, Mungkin pria paruh baya itu akan datang. Tapi semua itu tidak Mutiara lakukan. Papanya sudah lelah dengan banyak pekerjaan, Mutiara tidak mau pikiran Papanya bertambah hanya karena mendengar dia sakit.
Mutiara juga telah menghubungi Rio, Bodyguardnya yang ditugaskan untuk selalu menjaganya. Mengantar jemput ia pergi kemanapun.
Akan tetapi,Dimulai dari telepon, Mengirim pesan berulang kali. Satupun tak ada yang Rio respon.
Padahal dia sudah mengatakan kalau dia ada dirumah sakit. Dia hanya minta jemput saja namun percuma, Rio seakan tak peduli.
"Nona..
"Ya?
"Nona kan tahu, Kalau saya kekota ini hanya untuk pergi liburan. Kalau boleh tahu, Apakah disini ada lowongan pekerjaan?" Mutiara menatap pria itu aneh. Katanya pergi ke kota ini hanya untuk liburan, Kok tanya pekerjaan segala? Niat pergi liburan atau mencari kerja pikir Mutiara.
"Tunggu? Kau kesini itu, Untuk liburan atau sedang mencari pekerjaan?" Tanya Mutiara kembali memastikan.
"Saya pergi liburan, Tapi saya juga ingin mencari pekerjaan.."
"Jadi kau sekarang butuh pekerjaan?" Ghazi mengangguk. ..
"Benar..
"Tapi ..
"Tapi apa?
"Yakin kau ingin bekerja? Eum, Maksuku.. Aku tidak melihat aura miskin dalam dirimu.." Ucap Mutiara membuat Ghazi kembali terkekeh.
"Ya Allah Nona.. Orang mencari kerja tidak semua berasal dari orang miskin Nona.." Sahut Ghazi. Mutiara terdiam, Benar juga ya...
"Jadi?
"Okey, Saya akan jujur sekarang. Sebenarnya saya ini seorang direktur disalah satu perusahaan. Saya bosan setiap hari duduk dikursi kebesaran. Jadi saya butuh kesibukan.." Kata Ghazi menjelaskan semuanya lebih detail. Mutiara cukup terkejut dengan pengakuan pria itu.
Pantas saja ada aura mahal dalam diri pria itu. Ghazi juga lah yang telah membayar biaya operasinya tanpa minta imbalan apapun. Ternyata ini alasannya. Alasannya karena Ghazi bukan orang biasa melainkan orang yang sangat luar biasa.
Ghazi tidak akan menutupi identitasnya dihadapan Mutiara. Biarkan saja gadis itu tahu siapa dia sebenarnya..
"Bagaimana? Apakah ada pekerjaan?" Mutiara tersenyum. Sepertinya pria ini memang sedang mencari pekerjaan untuk membuang penat.
"Nanti kalau ada akan aku kabari.." Setelah mengatakan itu, Mutiara segera turun dari taksi online yang keduanya tumpangi.
"Kalau begitu, Aku masuk dulu ya? Dan sekali lagi terima kasih..
"Baik Nona, Hati-hati.." Kata Pria itu. Mutiara tersenyum, Taksi yang ditumpangi oleh Ghazi kembali melaju meninggalkan kediaman Wirawan.
"Huuuffft.. " Mutiara menarik nafas panjang sebelum akhirnya masuk kedalam rumah mewah tempat tinggalnya.
Selama beberapa hari dirumah sakit, Mutiara selalu tidur dengan nyenyak. Tapi sekarang ia telah kembali. Apakah dia akan kembali tidur dengan nyaman? Entahlah.. Kemungkinan saja tidak.
Sepertinya Mutiara harus meminum obat lagi agar tidurnya selalu nyenyak dan nyaman.
Begitu ia sampai dihalaman depan, Langkah kakinya terhenti. Sebuah mobil yang sangat Mutiara kenal terparkir disana.
Mobil itu adalah mobil milik calon tunangannya, Yaitu Kendra. Sedang apa dia disini? Dan dengan siapa pria itu datang kemari?
"Nona Tiara.." Mutiara menoleh, Bibi Yani keluar dengan senyum merekah. Wanita paruh baya usia sekitar lima puluh tahunan itu mendekat dan langsung memeluk Nona mudanya.
Nona muda yang sejak kecil ia rawat dan ia asuh selama ini. Tak dapat dipungkiri bahwa Bi Yani sangat menyayangi gadis ini.
"Non.. Nona kemana aja Non? Tuan kemarin nyariin Nona.., Bibi juga bingung. Nona gak bisa dihubungi sama sekali.." Mutiara tersenyum..
"Maaf ya, Bi.. Kemarin Tiara masuk rumah sakit.. Ponsel Tiara aja baru aktif, Makanya gak bisa hubungi siapapun....
"Ya, Allah Non.. Kok bisa Nona masuk rumah sakit? Nona sakit apa?"
"Nanti Tiara cerita ya, Bi.. Sebenarnya Tiara pengen telfon Papa, Tapi aku takut Papa banyak pekerjaan.. Mau hubungi Mama kayaknya gak mungkin.." Mutiara cukup sadar diri saja. Kalau ia menghubungi Mamanya sudah pasti tidak akan dipedulikan oleh wanita itu.
Bibi tersenyum, Sebelah tangan Wanita itu terangkat mengusap kepala sang Nona muda.
"Nona yang sabar ya.. Nona kan tahu sendiri bagaimana sikap Nyonya besar selama ini. Sekarang mending Nona masuk ya, Didalam ada Den Kendra sama Den Fathan..
"Ngapain mereka kesini?
"Mereka di undang sama Nyonya.. Masak bersama dan akan makan-makan ditaman belakang Nona.." Mendengar apa kata Bibi, Mutiara langsung masuk begitu saja.
"Non.. Nona!!.
...****************...
"Yeeeey.. Ikannya udah matang ini.. "
"Iya, Kayaknya enak ya..
"Mumpung sekarang hari libur kan? Gimana kalau setiap minggu kalian datang kesini buat masak dan makan bareng-bareng gini.."
"Boleh Tante.. Asyik kan?
Mutiara melihat orang-orang yang sangat ia kenal itu berada disana semuanya. Mamanya, Atta, Kakaknya. Kendra, Sahabat sekaligus calon tunangannya. Fathan, Paman Kendra yang usianya berdekatan dengan Kendra. Pria itu juga merupakan sahabat baiknya juga.
Dan dua wanita yang paling Mutiara benci. Yaitu, Hazel dan Jelita. Tak lupa, Ada pula Rio bodyguardnya yang ikut bergabung disana.
Lihatlah.. Mereka terlihat sangat bahagia sekali.
Bahkan Rio bodyguardnya ikut bersenang-senang disana. Pria itu mengabaikan pesan darinya demi ikut dalam acara ini. Rio, Pria yang usianya empat tahun diatasnya.
Pria itu adalah anak seorang supir pribadi orangtuanya. Ibunya pergi keluar negeri dan hilang kabar sampai sekarang.
Ketika Rio mulai beranjak remaja, Galih mengajak pria itu untuk sekolah beladiri hingga akhirnya Galih memerintahkan Rio untuk menjadi bodyguard Mutiara untuk menjaga gadis itu.
Sejak kecil Rio begitu dekat dengan Mutiara. Bahkan tak jarang bodyguard nya itu memberikan hadiah untuk sang Nona muda.
Sayangnya sekarang, Rio sudah berubah. Semuanya berubah dengan hadirnya orang baru.
"Tiara.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua mata tertuju pada Mutiara yang berdiri disana. Wajah gadis itu masih sangat pucat, Tubuhnya juga sedikit kurus mungkin efek operasi dan dirawat dirumah sakit.
Mutiara memerhatikan satu persatu yang berada ditaman belakang itu. Semuanya berkumpul, Hanya Papanya saja yang tidak ada.
Entah kemana pria itu, Yang pasti Mutiara yakin kalau saat ini Papanya berada dikantor. Pria itu malas jika harus bergabung seperti ini. Terlebih pria itu pasti sedang khawatir padanya.
"Tiara? Sini gabung.. Kita lagi masak bareng-bareng.. " Ucap Jelita sok akrab. Sayangnya Mutiara hanya diam dan tak bereaksi apapun.
"Ngapain kamu ngajak dia? Dia gak perlu bergabung sama kita.." Kata Atta dengan sikap dinginnya. Jelita hanya tersenyum, Lebih tepatnya senyum yang penuh ejekan.
Mata Mutiara menatap sang Mama yang memalingkan wajahnya. Wanita itu sangat membenci dirinya, Melihatnya pasti membuat wanita paruh baya itu muak sekali.
Tatapan Mutiara kini beralih pada Kendra yang hanya diam saja. Sejak Mutiara berubah sikap, Pria itu juga hilang respek terhadapnya. Lihatlah, Pria itu sekarang selalu dekat dengan Hazel.
"Tiara, Ayo gabung aja gapapa.." Hazel juga mengajak Mutiara untuk bergabung. Suara gadis itu begitu lembut, Namun Mutiara tak mendengar kelembutan dari bibir Hazel.
"Tiara, Hazel ajak kamu buat gabung sama kita.. Kamu jawab dong, Jangan diam aja.." Kendra menegur Mutiara yang menurutnya tak menghargai ajakan Hazel. Padahal Mutiara hanya tidak menjawab dan ini mulai salah..
Gadis itu maju beberapa langkah, Mutiara berdiri dari jarak yang tak jauh dari pria yang merupakan calon tunangannya itu.
"Sepertinya mulai ada dia, Aku jadi serba salah ya, Ken..?" Mutiara menatap Hazel, Gadis itu selalu memasang wajah polos. Entah itu memang polos atau hanya pura-pura.
"Aku diam salah.. Aku jawab, Mungkin akan lebih salah lagi..
"Tiara.. Kenapa kau jadi lebay begini. Hanya karena aku tidak tahu kau sakit bukan berarti kau bisa seenaknya bicara..
"Tapi memang itu kenyataannya kan Ken? Semenjak kalian kenal dia, Aku seolah bukan siapa-siapa lagi bagi kalian..
"Tiara, Kamu cuma salah paham aja.. Mungkin bukan itu maksud Kendra..," Fathan angkat bicara. Pria itu membela keponakannya dan memang selalu seperti itu. Tapi kadang, Fathan juga kerap menyalahkan Kendra kalau pria itu bersalah.
"Aku gak mungkin salah paham, Dan tidak akan pernah salah paham.. Lagian aku kesini juga gak sengaja kok.. Ada banyak mobil didepan, Aku kira ada pesta didalam tapi ternyata bukan pesta.." Mutiara menghela nafas panjang. Raut wajah itu sangat dingin, Mutiara tidak boleh terlihat lemah didepan orang-orang itu. Dia harus terlihat tangguh dan kuat dihadapan orang-orang ini.
"Lagian beberapa hari ini kamu hilang kabar.. Nomor kamu juga gak bisa dihubungi sama sekali.. Kita semua khawatir. Kamu itu kemana aja sih? Main nya jangan jauh-jauh lah.." Kata Fathan, Daripada Kendra yang selalu terang-terangan membela Hazel, Fathan lebih punya rasa peduli Padanya.
"Aku gak main, Aku gak hilang.. Aku masuk rumah sakit.." Mutiara mengangkat tangan kirinya memperlihatkan bekas jarum infus yang terlihat masih baru pada semua yang ada disana. Tapi tetap saja tak ada yang peduli.
"Aku sengaja gak hubungi siapapun, Karena itu percuma.. Tapi, Dari kemarin aku udah hubungi satu orang, Sayangnya dia abai.. Sepertinya dia tengah sibuk dengan orang lain.." Ucap Mutiara melirik Rio yang mulai bereaksi.
Sejak kematian Mutiara tak tumbang menghubungi bodyguardnya itu. Tak ada respon apapun dadi pria itu seolah yang menghubunginya itu adalah angin lalu..
"Okey.. Sepertinya kehadiranku ganggu ya. Kalian lanjutkan saja acara makan-makannya.. Selamat bersenang-senang.." Mutiara tersenyum mengatakan itu. Namun senyum itu berubah dingin setelah ia baru memutar tubuhnya. Mutiara mulai pergi..
"Maafkan saya Nona.." Mutiara menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan. Gadis itu berdiri membelakangi Rio yang meminta maaf padanya.
"Saya bukannya tak peduli, Tapi saya masih sibuk dengan Nona Jelita. Dia lebih butuh saya.." Ucapan Rio membuat hati Mutiara mencelos.
" Kau ditugaskan untuk menjagaku kan? Tapi berhubung kau lebih suka menjaga dia.. Kau bisa bekerja dengannya saja.."
"Mak.. Maksud Nona?..
"Kau aku pecat!
•
•
•
TBC
😏😏😏 ,,
semoga ghazi bisa cepat menemukan mutiara ,
lanjut thor ditunggu kelanjutannya, semangattttt💪💪