Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:626
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. Langkah Pertama Menuju Beifeng

..."pedang terkuat bukan yang memotong, tapi yang memilih tidak memotong"...

setelah melewati desa Qinghe, jing Yue menerima pemberian dari warga desa, 1 bungkus nasi, 1 jubah kering, dan 3 koin tembaga.

dia berjalan menuju ke arah timur, kata warga desa Qinghe di sana ada kota yang di juluki kota pasar.

jalanan nya ramai di penuhi oleh pejalan kaki, pedagang, serta murid dari berbagai sekte.

Jing Yue berjalan dengan tenang, hingga sampai di tengah jembatan dia berpapasan dengan 3 murid dari 8 sekte besar.

Mereka mengenakan pakaian yang terbuat dari kain sutra, pedang nya berkualitas dan bagus, serta lambang sekte di dada mereka : matahari wudang, harimau huashan, dan awan Kunlun.

Seorang wanita yang berdiri di tengah dengan suara paling keras, dan rambut yang di kuncir tinggi, serta kipas di tangan nya, "minggir nona, jalan ini hanya bisa di lewati oleh orang yang penting saja"

Jing Yue menepi dan membungkuk "silakan"

tapi wanita kipas itu berhenti, dia menatap lambang emei yang pudar di dada jing Yue, "emei? ha ha ha" dia tertawa keras dan membuka kipas nya, "kata nya sudah punah, kenapa masih ada kecoa yang hidup?"

2 teman nya ikut tertawa.

"begini saja" kata wanita kipas "kau bilang emei hebat kan? berani duel dengan ku? kalau kau menang, aku akan memberikan mu 10 tael, kalau kau kalah... kau lepas jubah itu, terus bilang di depan semua orang emei sampah berani?"

Orang-orang di jembatan berhenti dan memperhatikan jing Yue dan 3 murid dari sekte besar itu.

Jing Yue menatap sungai di bawah, air nya sangat tenang, lalu dia mengangkat kepala nya.

"tidak" kata jing Yue pelan.

"hah? kau takut?"

"bukan takut, guru ku dulu bilang pedang emei tidak di cabut untuk harga dir" jing Yue membungkuk lagi "silakan lewat duluan"

Si wanita kipas muka nya merah, menahan malu karena di tolak, dia berjalan maju, ingin mendorong bahu jing Yue.

Tapi jing Yue menggeser tubuh nya setengah langkah, gerakan nya lembut seperti air.

Dorongan itu lewat begitu saja, dan si wanita kipas hampir terjatuh ke sungai sendiri, untung nya teman nya buru-buru nahan dia.

Sunyi.

Wanita kipas itu semakin marah dan mau teriak, tapi jing Yue sudah jalan duluan meninggal kan mereka, tanpa menoleh.

dari belakang terdengar teman nya mereka berbisik, "... itu jurus emei kan, gerakan menghindar yang lembut seperti air mengalir, kata nya sudah punah... "

Wanita itu mengepal kan kipas nya, tapi tidak mengejar.

malam nya jing Yue tidur di samping pasar, dengan 3 koin nya yang di pakai untuk membeli bubur.

Di samping tempat tidur nya, ada poster buronan, meskipun tidak ada wajah nya di dalam poster itu, tapi ada tulisan.

"waspada, sisa dari sekte emei berkeliaran"

Dia tersenyum tipis, dan membuat alas duduk dari poster itu.

3 murid dari 8 sekte besar hari ini pulang dengan 1 pertanyaan di kepala, "kenapa emei tiak marah waktu di hina"

dan di kota itu mulai ada bisik-bisik.

"emei belum mati, dia cuma tidak berisik"

Ketika pagi tiba, jing Yue melanjutkan perjalan kembali, tanpa terasa dia terus berjalan menyusuri hutan sampai malam, hujan gerimis mulai turun, membuat jalanan menjadi sapi.

Di ujung jalan dia melihat bangunan yang sudah cukup tua dengan atap nya yang sudah ambruk.

papan nama yang bertulis kan kuil Qingyun di depan nya sudah lapuk dan tidak berbentuk lagi.

Jing Yue berjalan memasuki kuil yang gelap dengan bau lembab dan dupa besi.

Jing Yue terus melangkah dan melihat sekitar nya, ada patung budha besar yang ke dua tangan nya sudah patah, dan di penuhi sarang laba-laba di mana-mana.

Jing Yue menyalakan lampu minyak dan membersihkan kan satu sudut di kuil, dia melepas jubah nya dan menjadikan nya alas tidur.

Di malam yang sepi, angin masuk dari jendela.

Kretek...

di bawah patung budha, ada sesuatu yang mengkilap.

Jing Yue mendekat dan memperhatikan sebuah kotak kayu kecil yang terkunci, di atas nya terdapat lambang.... bunga emei.

tangan jing Yue gemetar, sudah 5 tahun dia tidak melihat lambang itu di luar sekte.

Jing Yue membuka kotak tua itu pelan, kotak nya tidak di kunci rapat, cuma di ikat dengan benang merah.

Di dalam nya ada 1 surat, 1 jarum perak, dan setengah keping Giok.

Jing Yue mengambil surat itu, surat nya pendek, tulisan nya menggunakan tinta yang mudah luntur dan di tulis ter buru-buru.

"untuk murid emei yang masih hidup, kalau kau baca ini, berarti kau sudah turun gunung, jangan cari kami, jangan balas dendam, yang menyerang emei bukan 8 sekte, cari orang dengan 'cap harimau di leher kiri' dia ada di kota beifeng".

jing Yue membaca surat itu sampai 3 kali, tangan nya dingin.

Dia genggam jarum perka itu, yang merupakan jarum pengobatan emei, setengah Giok nya pas dengan liontin yang dia pakai, berarti ini milik seseorang dari sekte nya.

Tok tok.

Seseorang mengetuk pintu kuil.

Jing Yue langsung memadam kan lampu minyak nya dan sembunyi di balik patung.

Suara pria parau terdengar "ada orang? kami cuma mau berteduh"

Pria itu membuka pintu kuil, dan masuk lah 2 orang dengan membawa obor.

Mereka melihat sekeliling kuil, dan mereka menatap lampu minyak jing Yue yang masih hangat, "baru ada orang di sini" kata salah satu pria itu.

Di leher kiri nya... ada tato kecil, berbentuk kepala harimau.

jantung jing Yue berhenti "itu dia, orang yang ada di dalam surat"

Pria bertato itu duduk dan bergumam pelan "cari sampai mati juga tidak bisa ketemu, sisa emei itu licin seperti belut"

Mereka tidur sampai subuh, jing Yue menahan napas nya dan tidak bergerak sama sekali.

Saat matahari naik, 2 orang itu pergi, tanpa menyadari keberadaan jing Yue.

Jing Yue keluar dari kuil, dia meremas surat itu dan membakar nya, abu nya dia tabur ke angin.

jarum perka dan setengah Giok dia simpan rapat.

Dia menatap ke arah kota Haifeng, jing Yue akan menempuh 7 hari perjalanan dari kuil ini menuju kota baifeng, "guru... kita tidak di serang karena lemah, kita di serang karena ada yang takut"

dan untuk pertama kali nya dalam 5 tahun... jing Yue tahu dia tidak jalan tanpa arah lagi.

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!