Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Keesokan paginya, cahaya matahari perlahan menyelusup melalui celah tirai ruang VVIP, menerangi ruangan yang beraroma antiseptik itu.

Armand membuka matanya perlahan. Pandangannya yang masih sedikit buram menangkap sesosok wanita yang duduk di kursi sebelah ranjang dengan kepala tertunduk di atas tepi kasur—terlelap dalam posisi duduk karena kelelahan semalaman menjaga.

Armand mengerjap, menatap Nadya dengan sorot mata tak percaya.

"Wanita ini? Dia menungguku di sini sepanjang malam?" gumamnya lirih di dalam hati.

Tak berselang lama, pintu kamar terbuka pelan. Seorang perawat wanita masuk membawa alat pemeriksaan rutin dan langsung tersenyum ramah saat melihat pasiennya sudah sadar.

"Selamat pagi, Pak Armand," sapa perawat itu hangat.

Armand menganggukkan kepalanya pelan, mencoba membalas senyuman itu meski tenggorokannya masih terasa kering.

Di saat yang sama, pergerakan kecil di samping ranjang membuat Nadya terbangun.

Ia segera membuka matanya, menegakkan tubuh dengan cepat, dan langsung berdiri menghampiri perawat dengan wajah cemas.

"Bagaimana keadaannya, Sus?" tanya Nadya cepat, matanya meneliti wajah Armand yang masih tampak pucat.

"Alhamdulillah, semuanya sudah mulai membaik, Mbak. Tanda-tanda vitalnya stabil, dan tekanan darahnya juga sudah normal," jawab perawat itu menenangkan.

Perawat tersebut kemudian melirik ke arah Armand yang termenung.

"Pak Armand, apa pun beban hidup yang sedang dipikul, jalan keluar tidak pernah ditemukan pada keputusasaan semalam. Nyawa adalah titipan yang berharga. Jangan pernah mencoba menyia-nyiakannya lagi, ya, Pak. Masih banyak orang di luar sana yang peduli dan tulus mengkhawatirkan bapak."

Armand hanya bisa menunduk, meresapi nasihat bijak tersebut dalam diam.

Setelah merapikan selang infus, perawat pertama pun pamit keluar.

Namun, selang beberapa menit kemudian, perawat lain masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah nampan berisi makanan hangat—semangkuk nasi dan kuah sop mengepul yang menyebarkan aroma sedap.

"T-terima kasih, Mbak." ucap Armand pelan, lalu menatap Nadya dengan sorot mata penuh sesal.

"Maafkan saya. Saya benar-benar minta maaf karena semalam sudah melakukan tindakan yang sangat bodoh di depan Mbak Nadya."

Nadya menggelengkan kepalanya lembut, menarik sebuah kursi untuk duduk lebih dekat.

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Mas. Di sini aku juga salah. Maafkan aku, karena kehadiranku dan uang itu, aku ikut merusak pernikahan kalian."

Armand menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam mata Nadya dengan ketulusan yang terpancar dari balik luka hatinya.

"Mbak, jauh sebelum Mbak datang membawa uang itu, pernikahan saya sebenarnya memang sudah hancur," ucap Armand lirih, suaranya bergetar menahan getir.

"Saya, sadar, saya tidak pernah bisa menjadi imam yang baik untuk Sarah. Saya gagal membuatnya bahagia dengan kesederhanaan saya."

Nadya terpaku mendengar pengakuan jujur yang keluar dari bibir pria di hadapannya.

Kerendahan hati dan kepasrahan Armand makin memunculkan rasa hormat yang mendalam di dada Nadya.

"Jangan katakan kamu gagal, Mas," potong Nadya pelan namun mantap.

"Kamu sudah berjuang dengan cara yang paling terhormat. Hanya saja, Sarah yang membutakan matanya sendiri dari ketulusanmu."

Armand memalingkan wajahnya, menatap nampan berisi sop hangat di atas meja lipat.

Tangannya yang masih terpasang jarum infus bergerak pelan, berniat mengambil sendok, tetapi getaran di jemarinya membuat mangkuk kecil itu berdenting nyaring.

Ia terlalu lemas dan terpukul untuk sekadar menyuap makanan ke mulutnya sendiri.

Melihat hal itu, Nadya refleks mengulurkan tangan.

Tanpa ragu, ia mengambil alih mangkuk dan sendok tersebut.

"Biar aku bantu, Mas," ucap Nadya lembut.

Nadya mengambil sesuap nasi berkuah sop, meniupnya perlahan sampai uap panasnya mengurang, lalu mengarahkannya ke depan bibir Armand.

Pria itu sempat ragu dan menatap Nadya dengan canggung, namun kehangatan di mata Nadya meruntuhkan pertahanannya.

Armand membiarkan wanita kaya di depannya itu menyuapinya dengan penuh kesabaran.

"Mas Armand," panggil Nadya di sela-sela suapan ketiga.

Nadya meletakkan mangkuk itu sebentar ke atas meja, lalu menatap lurus ke dalam iris mata Armand.

"Pernikahanmu dengan Sarah mungkin sudah selesai. Tapi kehidupanmu belum berakhir di sini."

Armand menghela napas berat, senyum tipis yang pahit terukir di wajahnya.

"Hidup saya sudah hancur, Mbak Nadya. Saya tidak punya apa-apa lagi untuk ditatap di masa depan."

"Kamu punya aku," sahut Nadya cepat, tanpa keraguan sedikit pun.

Kalimat itu meluncur begitu saja, membuat Armand tersedak pelan dan membelalakkan matanya tak percaya.

"M-maksud Mbak Nadya?" tanya Armand terbata-bata.

"Nikahi aku, Mas Armand," ucap Nadya tegas. Tangannya terulur menggegam jemari Armand yang dingin di atas seprai.

"Aku yang membawa masalah ini ke hidupmu, dan aku juga yang ingin berada di sisimu. Aku tidak butuh pria kaya. Aku butuh seorang suami yang taat, tulus, dan menghargai arti sebuah komitmen. Semuanya ada pada dirimu."

Armand membeku di atas ranjangnya. Kata-kata Nadya bergema di dalam kepalanya, memicu perang batin yang dahsyat antara harga diri yang baru saja hancur dan uluran tangan takdir yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Armand menggelengkan kepalanya perlahan, memalingkan pandangan dari mata Nadya.

Suaranya terdengar makin serak dan parau, sarat akan ketidakberdayaan.

"Mbak, saya ini hanya seorang tukang jahit miskin. Dan harga diri saya, sudah tidak ada lagi sejak semalam," ucap Armand dengan nada penuh keputusasaan.

"Saya tidak pantas untuk wanita terpandang seperti Mbak Nadya."

"Mas," sela Nadya lembut.

Ia hendak meyakinkan Armand lebih jauh, namun kalimatnya terputus saat pendengarannya menangkap suara pegangan pintu yang diputar dari luar.

Ceklek...

Pintu ruang perawatan VVIP terbuka perlahan. Kedua orang tua Nadya melangkah masuk ke dalam ruangan.

Ayah Nadya tampak gagah dalam kehangatannya, sementara sang ibu menyunggingkan senyum tulus sambil membawa beberapa kotak nasi hangat di tangannya.

Melihat kedatangan sepasang suami istri paruh baya dengan wibawa terpancar kuat dari penampilan mereka, Armand bergegas mencoba menegakkan posisi duduknya.

Wajahnya diselimuti rasa canggung dan penyesalan yang membakar.

"M-maaf, Bapak, Ibu." bisik Armand gugup, tak berani menatap langsung mata kedua orang tua di hadapannya.

Ayah Nadya melangkah mendekati ranjang, lalu menepuk pelan bahu Armand dengan penuh kasih sayang seorang bapak.

"Mas Armand," potong Ayah Nadya dengan suara berat namun menenangkan.

"Saya, selaku orang tua Nadya, ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas segala kegaduhan dan kerumitan yang terjadi sejak semalam. Dan di hadapan kalian berdua hari ini, saya memberikan restu sepenuhnya untuk kalian."

Armand mendongak secara refleks, matanya membelalak tak percaya.

"Bapak... merestui saya?" tanya Armand terbata-bata.

"Tapi saya—"

"Saya tidak peduli Anda seorang tukang jahit atau bukan, Mas Armand," tegas sang ayah dengan senyum hangat melingkupi wajah bergaris tegasnya.

"Yang saya cari untuk putri saya bukanlah harta atau tahta, melainkan seorang lelaki yang memiliki akhlak, kejujuran, dan ketulusan hati untuk menjaga Nadya. Dan semua itu ada pada diri Anda."

Nadya menatap sang Ayah yang sedang berbicara dengan Armand.

"Yah, kita menikah sekarang saja di rumah sakit," ucap Nadya tiba-tiba, membuat seisi ruangan mendadak hening.

"Sekarang?" sahut sang ayah terkejut, menghentikan gerakannya yang hendak membuka kotak nasi.

Sang ibu pun ikut menatap putri tunggalnya dengan mata berbinar tak disangka.

Armand yang masih bersandar di ranjang rumah sakit membelalak kaget.

Panik dan rasa tidak enak hati kembali menyergap dadanya.

"Tapi, uang saya ada di rumah, Mbak. Itu pun hanya dua ratus ribu rupiah," bisik Armand terbata-bata dengan wajah menunduk dalam. Tangannya meremas seprai putih rumah sakit.

"Apa pantas... uang sebesar itu dijadikan mas kawin untuk wanita sesempurna Mbak Nadya?"

Nadya tersenyum lembut. Ia melangkah mendekati Armand, memandang pria itu dengan sorot mata hangat yang memancarkan ketulusan penuh.

"Mas Armand, dalam Islam, sebaik-baiknya mahar adalah yang tidak memberatkan pengantin pria dan dimuliakan oleh pengantin wanita," tutur Nadya pelan namun tegas.

"Dua ratus ribu rupiah yang Mas hasilkan dari keringat halalmu jauh lebih bernilai di mataku ketimbang miliaran rupiah yang tidak memiliki keberkahan."

Ayah Nadya tertawa pelan, mengangguk setuju dengan pernyataan putrinya.

Beliau menepuk bahu Armand mantap. "Benar kata Nadya, Mas Armand. Harta bisa dicari bersama, tapi ketulusan hati tidak bisa dibeli. Jika kamu bersedia, Saya sendiri yang akan mengurus penghulu dari KUA setempat agar pernikahan kalian sah secara agama dan hukum hari ini juga."

Mata Armand berkaca-kaca. Rasa dihargai dan diakui sebagai manusia seutuhnya membuncah di dalam dadanya, memutus sisa-sisa kepedihan masa lalu yang sempat menghancurkannya.

Dengan tenggorokan yang tercekat oleh keharuan, Armand akhirnya menganggukkan kepala pelan.

"Bismillah. Jika Bapak, Ibu, dan Mbak Nadya ridho, saya bersedia," ucap Armand tulus.

Sementara itu, di sisi lain kota yang gemerlap, Sarah benar-benar berada di puncak dunianya.

Uang dua miliar rupiah yang ia peroleh dari "menjual" Armand telah cair ke rekeningnya. Tanpa membuang sedetik pun, ia bergerak secepat kilat bak orang yang kesetanan.

Rumah mewah di kawasan elit, mobil sedan keluaran terbaru yang mengkilap, perhiasan berlian yang memenuhi jemarinya, serta koleksi pakaian desainer ternama kini menjadi miliknya.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar ruang tamunya yang luas, merasa seolah dirinya adalah ratu yang paling disegani.

"Akhirnya, aku jadi orang kaya," gumamnya di depan cermin.

Sarah kemudian tertawa terbahak-bahak, suara tawanya yang nyaring menggema di sudut-sudut ruangan yang megah namun terasa kosong.

Ia merasa tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, tidak ada lagi cicilan yang mencekik, dan tidak ada lagi Armand yang menurutnya hanya akan menyeretnya ke dalam kehidupan sederhana yang membosankan.

Ia mengambil ponsel mahalnya, membuka aplikasi media sosial, dan mulai memotret setiap sudut kemewahan yang ia beli.

Dengan penuh rasa bangga dan niat untuk memamerkan hidupnya pada dunia—terutama kepada teman-teman masa lalunya—ia mengunggah foto-foto tersebut dengan caption yang provokatif.

“Goodbye poverty. Hello, perfect life!” tulisnya, lalu menekan tombol post dengan senyum lebar yang angkuh.

Sarah memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam euforia harta.

Ia merasa telah menang melawan nasib, tanpa menyadari bahwa di sebuah kamar rumah sakit, pria yang dulu ia sia-siakan sedang merajut kehidupan baru yang jauh lebih bermakna bersama wanita yang jauh lebih menghargai harga dirinya.

Sarah benar-benar merasa telah meninggalkan kemiskinan, namun ia tidak sadar bahwa ia justru sedang membiarkan jiwanya terkikis oleh kesombongan yang fana.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!