Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Yang Berbeda

Ada teori yang pernah aku baca di suatu forum diskusi anime, teori tentang gimana tiap karakter dalam sebuah cerita hidup di "dunia" mereka masing masing, dan konflik terjadi bukan karena ada pihak yang jahat, tapi karena dua dunia yang beda coba nempatin ruang yang sama di waktu yang sama.

Aku baru bener bener ngerti teori itu di minggu pertama kuliah reguler.

Dan ironisnya, yang bikin aku ngerti bukan anime.

Tapi Cahaya.

Senin pagi, tujuh lima belas.

Ruang kuliah Pengantar Pemrograman ada di gedung C lantai dua, kapasitas empat puluh orang, AC yang kerjanya lumayan bagus buat ukuran gedung yang umurnya udah lebih dari dua dekade. Aku sampai dua puluh menit sebelum jadwal, bukan karena aku tipe orang yang rajin datang duluan, tapi karena bus kampus lebih cepet dari estimasi dan aku enggak punya rencana ngabisin dua puluh menit di kantin sama orang orang yang belum cukup aku kenal buat ngobrol tanpa canggung.

Ruangan masih sepi pas aku masuk. Tiga orang udah duduk, dua di barisan tengah, satu di pojok belakang kanan. Aku milih barisan ketiga dari depan, sisi kiri, posisi yang secara strategis enggak terlalu menonjol tapi enggak terlalu sembunyi juga biar enggak keliatan kayak lagi menghindar dari sesuatu.

Aku keluarin laptop, buka, dan, dengan pertimbangan matang bahwa sesi kuliah belum mulai dan ini secara teknis masih waktu bebas, buka chapter manga yang udah aku tunda tiga hari.

"Kamu Rendy kan? Dari PKKMB kelompok dua belas?"

Aku dongak.

Bimo berdiri di lorong sebelah kiriku dengan tas selempang dan ekspresi orang yang enggak nyangka nemuin wajah yang dikenalnya di tempat ini. Atau mungkin nyangka, tapi tetep ngerasa perlu konfirmasi.

"Iya." Aku ngerutin dahi. "Kamu Manajemen kan, bukannya?"

"Manajemen ambil mata kuliah lintas jurusan." Dia angkat bahu. "Pengantar Pemrograman masuk daftar pilihannya. Kursi sebelahmu kosong?"

"Kosong."

Bimo duduk, keluarin buku catatan fisik dari tasnya, buku sampul biru dengan tulisan tangan di covernya yang aku enggak bisa baca dari sudut ini. Dia taruh di meja, keluarin dua pulpen beda warna, nata semuanya dengan presisi yang nunjukin ini sistem yang udah dia bangun sebelumnya, bukan improvisasi.

"Kamu bawa laptop tapi buka manga," komentarnya tanpa noleh, nadanya netral, bukan negur, lebih kayak nyatet fakta.

"Kuliah belum mulai."

"Masuk akal." Dia buka buku catatannya ke halaman pertama yang masih kosong. "Manga apa?"

Aku miringin layar dikit ke arahnya.

Bimo liat sebentar. "Yang tentang anak SMA jago shogi itu?"

"Kamu tau?"

"Adikku baca. Katanya bagus tapi bikin nangis di akhir."

"Arc terakhirnya emang..." Aku berhenti. "Kamu udah tau endingnya?"

"Aku enggak bilang apa apa soal endingnya."

"Kamu bilang 'bikin nangis di akhir'."

"Itu bisa berarti banyak hal."

"Bimo."

"Nikmatin prosesnya, Ren."

Aku tutup laptop dengan gerakan yang mungkin agak lebih keras dari yang diperluin. Di depan ruangan, papan tulis putih masih kosong, dosen belum datang, dan beberapa mahasiswa lain mulai berdatangan ngisi kursi kursi sisa.

Senin pagi. Minggu pertama kuliah. Semester satu.

Dari semua variabel yang ada, minimal satu hal kerasa kayak posisi yang tepat: aku ada di ruangan yang bener, di jurusan yang aku pilih dengan pertimbangan panjang, siap mulai empat tahun berikutnya belajar sesuatu yang emang udah lama aku minati.

Variabel lainnya bisa nyusul.

Dosen Pengantar Pemrograman namanya Pak Hendra, umur pertengahan empat puluhan, kacamata kotak, ngomong dengan kecepatan yang konsisten, enggak terlalu cepet atau terlalu lambat. Dia buka kuliah dengan peta perjalanan satu semester, jelasin sistem penilaian, terus langsung masuk materi tanpa basa basi berkepanjangan yang biasanya makan sepertiga sesi pertama.

Aku nyatet. Bukan karena biasanya aku nyatet dengan semangat, tapi karena Pak Hendra ternyata ngomong dengan kepadatan informasi yang cukup buat bikin tanganku gerak secara refleks.

Di sebelahku, Bimo nyatet dengan sistem dua warna yang ternyata punya logika: hitam buat poin utama, merah buat pertanyaan yang mau dia tanyain nanti. Sejauh ini di kolom merah udah ada tiga entri.

"Kamu catet pertanyaan?" bisikku di sela jeda penjelasan Pak Hendra.

"Biar enggak lupa," balas Bimo dengan suara sama pelannya. "Aku sering mikirin pertanyaan bagus tapi pas gilirannya udah lupa."

"Itu sistem yang efisien."

"Aku pelajarin dari kakakku. Dia PhD sekarang." Sedetik jeda. "Jangan terlalu kagum, dia juga pernah salah masuk kelas dan duduk dua puluh menit sebelum sadar."

"Itu enggak ada hubungannya."

"Aku cuma mau bilang bahwa orang pinter juga manusia."

Pak Hendra berhenti sebentar jelasinnya, natap ke arah kami berdua dengan ekspresi netral yang enggak bisa dibaca apakah itu tanda peringatan atau sekadar mastiin mahasiswanya masih sadar. Kami langsung noleh ke papan tulis dengan sinkronisasi yang enggak direncanain tapi kerasa sangat terkoordinasi.

Tiga detik. Pak Hendra lanjutin materinya.

Di sebelahku, Bimo nambahin satu entri lagi di kolom merah.

Jam dua belas tepat, langit atas kampus udah berubah jadi putih terang yang merata, tanda matahari lagi di titik tertingginya dan siapapun yang jalan di luar tanpa atap dalam rentang satu jam ini bakal nyesel.

Aku udah nemuin meja di pojok kantin dengan pemandangan ke arah taman kecil di samping gedung B, pemandangan yang enggak terlalu istimewa tapi cukup nenangin buat ukuran kantin yang hari ini dipadatin kira kira tiga ratus orang dari berbagai jurusan. Nasi ayam geprek dan segelas es jeruk udah di depanku. Bimo udah balik ke gedung Manajemen buat kelas siang.

Aku buka buku di sebelah piring, nemuin halaman terakhir yang aku baca, dan nikmatin makan siang pertama di kantin kampus dengan cara paling alami buatku: sendiri, tapi enggak kesepian.

Ada beda di antara dua hal itu. Beda yang butuh waktu buat aku pahami dan lebih banyak waktu lagi buat aku bisa jelasin ke orang lain tanpa kedengeran kayak karakter antagonis sebuah romance manga yang lagi bangun backstory.

"RENDY."

Suara yang frekuensinya udah aku kenal dengan sangat baik.

Aku dongak dari buku.

Cahaya lambaiin tangan dari arah pintu masuk kantin, dan di belakangnya ada, aku itung cepet, lima orang. Empat cewek satu cowok, semuanya keliatan dari jurusan yang sama berdasarkan buku dan alat tulis yang mereka bawa, semuanya natap ke arahku dengan ekspresi campuran penasaran dan ragu.

Aku balik natap buku.

Dua belas detik kemudian, kursi di sebelahku ditarik keluar dan Cahaya duduk tanpa basa basi, diikuti kelima orang di belakangnya yang nempatin kursi kursi sisa di meja yang tadinya aku tempatin sendirian.

"Kamu makan di sini?" tanya Cahaya, natap ke piring nasi ayam gepreku.

"Kayak yang keliatan, iya."

"Sama siapa?"

"Sendiri."

Cahaya ngerutin dahi dengan ekspresi orang yang secara fundamental enggak bisa mahamin kenapa pilihan itu dibuat secara sukarela. "Di sini aja ya, aku ketemuan sama temen temen dari Komunikasi. Kenalin," dia noleh ke kelima orang di mejanya, "ini Rendy, temen aku dari kecil. Informatika."

Lima pasang mata natap ke arahku.

Aku tutup buku.

"Halo," kataku, dengan nada yang aku usahain kedengeran lebih kayak sapaan daripada pernyataan bahwa aku lebih nyaman kalau situasi ini enggak kejadian.

Perkenalan berjalan gantian, nama, jurusan, asal kota. Aku dengerin dan simpen informasi itu di bagian kepala yang ditandain "mungkin relevan nanti", sambil lanjut makan dengan kecepatan yang lebih lambat dari biasanya karena sekarang ada enam pasang mata di sekitarku dan makan cepet di depan orang yang baru dikenal kerasa kayak sesuatu yang bakal jadi topik obrolan yang enggak aku pengenin.

"Kalian dari kecil bareng? Dari TK?" tanya salah satu dari mereka, namanya Tiara, Komunikasi, rambut pendek, keliatan tipe yang gampang akrab. "Serius?"

"TK sampe SMA satu sekolah," jawab Cahaya dengan nada yang kedengeran kayak sesuatu yang sering dia ceritain karena emang sering ditanyain. "Satu komplek juga."

"Ih, cute banget." Tiara natap ke arahku. "Kalian kayak drama Korea dong."

"Bukan," jawabku.

"Rendy." Cahaya nendang kaki mejaku ringan di bawah permukaan. "Jangan to the point banget."

"Itu jawaban yang jujur."

"Ada cara yang lebih halus buat nyampein jawaban yang jujur."

"Contohnya?"

"Contohnya bilang 'belum sampe situ' bukan 'bukan'."

"Tapi..."

"Rendy."

Aku diam.

Tiara dan temen temennya saling lirik dengan ekspresi yang enggak bisa aku decode sepenuhnya tapi secara umum keliatan kayak sekumpulan orang yang lagi nyaksiin sesuatu yang mereka temuin menghibur tapi enggak terlalu yakin harus ikut ketawa atau enggak.

"Lucu ya kalian," kata yang lain, Nadia kayaknya, atau mungkin Nadine, aku enggak sepenuhnya yakin, dengan senyum yang kerasa genuine. "Beneran kayak pasang..."

"Kami teman lama," potongku.

"Teman dekat," tambah Cahaya, dengan penekanan di kata kedua yang aku enggak yakin apa maksudnya dan enggak cukup berani buat nanya langsung.

"Bedanya apa?" tanya Tiara.

"Teman dekat itu artinya aku tau Rendy alergi debu, enggak bisa makan pedas level di atas tiga, dan pernah nangis karena ending anime nya sad." Cahaya nyendokin nasinya dengan ekspresi netral. "Teman biasa enggak tau hal hal itu."

"Aku enggak nangis," kataku.

"Matamu merah."

"Itu iritasi."

"Iritasi karena nangis."

"Cahaya..."

"Rendy." Dia natap aku dengan ekspresi yang keliatan sabar di permukaan tapi ngandung lapisan peringatan di bawahnya. "Biarin aku cerita."

Aku balik ke ayam gepreku.

Di sekeliling meja, dinamika obrolan geser dengan kecepatan yang bikin aku kagum sekaligus agak enggak nyaman: dalam waktu kurang dari lima menit, Cahaya udah berhasil bawa semua orang di meja itu terlibat dalam obrolan yang ngalir natural, gantian cerita soal jurusan masing masing, keluhan soal jadwal kuliah pertama, dan rencana rencana kecil soal kegiatan kampus yang bakal datang.

Aku makan. Dengerin. Sesekali jawab kalau ada pertanyaan yang langsung diarahin ke aku.

Ini bukan situasi yang buruk. Temen temen Cahaya keliatannya orang orang baik, enggak ada yang kerasa maksa atau enggak nyaman secara aktif. Cuma ada perasaan tertentu waktu berada di kelompok sosial yang belum bener bener jadi milikku, semacam perasaan jadi karakter tamu yang muncul satu episode dan enggak balik lagi.

Bukan enggak menyenangkan. Tapi enggak sepenuhnya aku.

"Rendy," panggil Cahaya tiba tiba, di sela obrolan yang lagi berlangsung antara Tiara dan yang lain.

"Hm?"

Dia sodorin satu potong ayam goreng dari piringnya ke pinggir piringku. "Kamu cuma makan nasi sama kuah dari tadi."

"Aku udah hampir selesai."

"Makan yang bener."

"Cahaya, ini kan punyamu..."

"Aku udah kenyang." Dia balik ke obrolan yang lagi berlangsung di sisi mejanya dengan perpindahan yang sangat mulus, seolah gerakan tadi cuma interupsi kecil dan bukan sesuatu yang dia pikirin lebih dari dua detik.

Aku natap potongan ayam goreng di pinggir piringku.

Di seberang meja, Tiara natap aku dengan sudut bibir yang terangkat dikit. Aku pura pura enggak liat dan makan ayam gorengnya.

Sore, jam tiga lebih dua puluh.

Kelas terakhirku hari itu, Matematika Diskrit, satu jam setengah yang kerasa kayak tiga karena materinya padat dan dosennya ngomong dengan kecepatan orang yang udah ngajarin hal yang sama selama dua puluh tahun dan udah enggak ngerasa perlu ngasih jeda buat napas, akhirnya selesai.

Aku keluar dari gedung C dengan tas di punggung dan kepala yang penuh notasi himpunan yang belum sepenuhnya mengendap.

Bimo udah enggak ada, kelasnya selesai lebih awal dan dia udah pergi. Aku kirim pesan singkat soal pertanyaan di materi tadi yang belum sempet aku tanyain ke dosen, dan dia bales dalam dua menit dengan jawaban yang cukup jelas, diikuti emoji buku yang aku artiin sebagai tanda bahwa dia udah cukup terbiasa dengan sistem pertemanan yang sebagian besar berlangsung lewat teks.

Aku jalan ke arah parkiran bus kampus dengan kecepatan yang bisa disebut "enggak buru buru tapi enggak santai juga", kecepatan defaultku waktu enggak ada tujuan spesifik selain sampe di suatu tempat.

"Ren! Tunggu!"

Aku berhenti.

Cahaya lari kecil dari arah gedung A, gedung Komunikasi, dengan tas yang agak berantakan dan ekspresi orang yang baru aja selesai dari sesuatu yang nguras energi tapi enggak cukup banyak buat bikin dia berhenti gerak.

"Bareng?" tanyanya pas udah cukup deket buat enggak perlu teriak.

"Bus nya bentar lagi."

"Aku tau." Dia jatuhin langkah di sebelahku, nyesuain ritme. "Tadi ada rapat dadakan di kelas, minta relawan buat jadi koordinator acara jurusan. Aku kebablasan ngacung."

"Kamu jadi koordinator?"

"Entah kenapa iya."

"Kamu yang ngacung."

"Karena enggak ada yang mau ngacung dan situasinya jadi canggung." Dia rapiin tali tasnya yang miring. "Lagian aku pernah jadi ketua OSIS, harusnya bisa."

"Dua hal yang beda."

"Enggak terlalu beda. Sama sama koordinasi orang dan deadline."

Aku enggak punya bantahan buat itu karena, secara struktural, dia bener. "Kapan acaranya?"

"Bulan depan. Masih ada waktu." Dia hela napas, tapi bukan napas yang berat, lebih kayak napas orang yang ngelepasin energi yang enggak terpakai. "Kamu sendiri gimana? Hari pertama kelasnya oke?"

"Pak Hendra bagus. Matematika Diskritnya padat tapi materinya menarik."

"Kamu bilang 'menarik' buat mata kuliah yang bikin orang lain ngeluh."

"Notasi himpunan emang menarik kalau diliat dari..."

"Ren."

"Apa?"

"Aku enggak butuh penjelasannya." Cahaya senyum, senyum kecil yang ada di sudut bibirnya, artinya dia lagi geli tapi enggak mau sepenuhnya nunjukin. "Aku seneng kalau kamu seneng sama jurusannya."

Aku enggak langsung jawab.

Ada sesuatu di kalimat itu yang kerasa terlalu sederhana buat ngandung sesuatu yang lebih, tapi terlalu spesifik buat sekadar basa basi. Aku milih enggak mprosesnya lebih jauh dan cuma ngangguk.

Bus kampus datang persis pas kami sampe di halte, penuh tapi enggak sampe enggak ada ruang. Kami naik, nemuin dua tempat berdiri deket pintu tengah, dan perjalanan pulang dimulai.

Bus kampus di jam pulang sore itu ekosistem sendiri.

Ada cluster obrolan di bagian belakang yang volumenya konsisten dengan tingkat kebisingan yang aku identifikasi sebagai "anak anak yang udah kebentuk grup temen sejak hari pertama PKKMB dan sekarang lagi fase konsolidasi identitas kelompok". Ada yang sibuk sama hape masing masing. Ada yang tidur berdiri dengan teknik yang aku enggak sepenuhnya ngerti secara fisika.

Aku berdiri dengan satu tangan pegang pegangan di atas, natap keluar jendela yang pemandangannya gantian antara gedung kampus, jalan raya, pohon pohon, dan sesekali becak yang dengan teguh nempatin satu lajur di tengah arus kendaraan yang jauh lebih gede.

Di sebelahku, Cahaya lagi bales pesan, aku enggak liat isinya, tapi dari kecepatan jarinya dan sekali dua ekspresinya yang berubah dari serius ke senyum ke serius lagi, itu kayaknya grup chat yang aktif.

"Grup kelasmu?" tanyaku.

"Grup kelas plus grup kepanitiaan yang baru dibuat setengah jam lalu." Dia enggak angkat mata dari layar. "Ternyata kalau jadi koordinator itu langsung dapet tiga grup baru dalam waktu dua puluh menit."

"Itu efisien."

"Atau overwhelming, tergantung sudut pandang." Dia kunci hapenya, masukin ke saku. "Kamu punya grup kelas?"

"Ada. Tapi belum terlalu aktif."

"Kamu terlibat di grupnya?"

"Aku baca pesannya."

"Itu beda sama terlibat, Ren."

"Aku terlibat secara pasif."

Cahaya natap aku dengan ekspresi yang aku kenal sebagai "aku pengen berargumen soal ini tapi mutusin bahwa energinya enggak sebanding sama hasilnya". Dia sandarin punggung ke dinding bus, natap ke depan.

"Temen temen tadi gimana menurutmu?" tanyanya setelah beberapa detik.

"Yang di kantin?"

"Iya."

"Mereka baik baik."

"Itu evaluasi yang sangat minimal."

"Aku baru kenal mereka dua jam yang lalu."

"Aku baru kenal Tiara tiga hari yang lalu dan udah tau dia punya kucing tiga ekor dan takut sama kecoa."

"Kamu dan aku punya kecepatan proses sosial yang beda."

Cahaya diam sebentar, natap keluar jendela di sisi bus yang lain. Di luar, jalanan udah mulai padet, jam pulang kantor kepotong sama jam pulang kampus dalam kemacetan yang kayaknya udah jadi fitur tetap kota ini dan bukan anomali yang perlu dibenerin.

"Ren," katanya akhirnya.

"Hm?"

"Kamu enggak ngerasa kesulitan kan? Di kampus."

Pertanyaan yang kedengeran ringan tapi enggak sepenuhnya ringan.

Aku mikirinnya serius sebelum jawab. Kesulitan dalam arti apa, akademis? Enggak. Mata kuliah pertama kerasa kayak fondasi yang emang seharusnya ada di situ. Sosial? Itu pertanyaan yang jawabannya lebih bernuansa.

"Enggak kesulitan," jawabku. "Cuma beda ritme."

"Ritme dari aku?"

"Bukan dari kamu spesifik. Dari..." Aku cari kata yang pas. "Dari cara kampus ini bergerak secara sosial. Semua orang kayak udah punya kecepatan tertentu buat bangun koneksi, dan kecepatanku beda."

Cahaya noleh ke arahku. Ada ekspresi di wajahnya yang aku enggak bisa baca dengan tepat dari sudut pandang ini, sesuatu di antara khawatir dan pengen ngomong sesuatu tapi enggak yakin caranya.

"Kamu enggak harus ikutin kecepatan orang lain," katanya akhirnya.

"Aku tau."

"Beneran tau, atau 'iya iya'nya Rendy yang artinya kamu sebenernya enggak yakin?"

"Ada bedanya?"

"Ada. Yang pertama bunyi naturalnya kayak sekarang. Yang kedua biasanya diikutin kamu ngalihin topik ke anime."

Aku buka mulut.

Tutup lagi.

"...Poinmu valid," akuiku.

Cahaya ketawa kecil, tawa yang pelan dan hangat, yang enggak butuh penonton selain aku buat tetep genuine. "Aku serius, Ren. Kamu enggak harus jadi aku atau Tiara atau siapapun. Kamu baik baik aja jadi kayak kamu."

Ada sesuatu di cara dia ngomong itu yang bikin aku diam lebih lama dari yang biasanya aku butuhin buat mproses kalimat sederhana.

Bukan karena aku enggak ngerti maksudnya. Tapi karena cara dia ngomongnya, dengan nada yang kerasa kayak sesuatu yang udah lama dia pikirin dan akhirnya mutusin buat diucapin, bikin kalimat itu kerasa punya bobot lebih dari kata katanya sendiri.

"Aku tau," kataku akhirnya, buat kedua kalinya.

"Beneran tau kali ini?"

"Iya."

"Yakin?"

"Cahaya."

"Apa?"

"Kalau kamu nanya sekali lagi, aku bakal mulai meragukan jawabanku sendiri."

Dia ketawa, kali ini lebih keras, satu dua kepala di sekitar kami noleh sebentar. Cahaya enggak terlalu peduli sama itu, enggak pernah peduli, kemampuan buat ketawa tulus tanpa khawatir diliatin orang adalah satu dari banyak hal yang dia punya dan yang aku enggak pernah berhasil tiru.

Bus berhenti di halte ketiga, halte terdeket dari komplek perumahan kami, empat menit jalan kaki dari gerbang depan. Kami turun bareng, masuk ke ritme perjalanan pulang yang udah sangat hafal.

Gang belakang menuju komplek udah familiar kayak bagian dari sistem memori yang enggak perlu diaktifin secara sadar, kaki gerak sendiri, mata bebas liat ke mana aja, dan kepala bisa sibuk mikirin hal lain tanpa risiko nyasar.

"Eh." Cahaya berhenti tiba tiba.

Aku berhenti setengah langkah di belakangnya. "Apa?"

Dia nunjuk ke arah tembok di sisi kanan gang, tembok bata tua yang udah ada selama aku bisa inget, tapi sekarang ada sesuatu yang beda. Ada yang lukis mural di situ, enggak gede, mungkin selebar dua meter, gambar dua anak kecil berdiri berhadapan di bawah satu pohon besar. Warnanya belum sepenuhnya kelar, beberapa bagian masih berbentuk sketsa, tapi yang udah jadi keliatan bagus dengan cara yang kerasa enggak berusaha terlalu keras.

"Baru ada ini," kata Cahaya pelan.

"Iya."

"Bagus."

Aku natap muralnya sebentar. Dua anak kecil itu enggak punya detail wajah yang jelas, cuma siluet dan pakaian, tapi ada sesuatu di posisi mereka yang kerasa familiar. Satu sedikit lebih pendek, satu netapin arah, dan keduanya berada di ruang yang sama di bawah pohon yang sama.

"Kapan dibuatnya ya?" tanya Cahaya, natap mural itu dengan kepala sedikit miring.

"Enggak tau. Mungkin minggu ini."

"Kerennya." Dia keluarin hape, ambil foto, satu, terus satu lagi dari sudut yang beda. "Nanti aku kirim ke grup."

"Grup yang mana dari tiga grup barumu?"

"Yang kira kira orangnya suka hal hal kayak gini." Dia masukin hape balik ke saku, lanjut jalan. "Ayo, keburu sore."

Aku ikutin, lewatin mural itu dengan satu tatapan terakhir ke belakang.

Dua anak kecil di bawah pohon besar.

Aku enggak mikirin lebih jauh dari itu.

Di persimpangan yang udah sangat hafal, persimpangan yang udah jadi titik perpisahan kami sejak kelas tiga SD, titik di mana jalan bercabang dan masing masing menuju pulang ke arah beda, Cahaya berhenti kayak biasa.

Tapi kali ini enggak langsung balik ke kanan.

"Ren." Dia natap aku dengan ekspresi yang aku enggak bisa kategoriin dengan sempurna, campuran dari beberapa hal beda dalam proporsi yang aku enggak tau cara ngukurnya. "Tadi di kantin... kamu oke kan? Enggak terlalu meh sama temen temenku?"

"Enggak meh."

"Beneran?"

"Mereka baik. Aku cuma butuh waktu lebih lama buat nyaman sama orang baru. Itu bukan soal mereka."

Cahaya ngangguk pelan. Ada sedetik di mana dia keliatan pengen ngomong sesuatu lagi, bibirnya gerak dikit, kayak ada kalimat yang udah ada di ujung lidah tapi terus mutusin buat enggak keluar.

"Kalau gitu bagus," katanya akhirnya, dengan nada yang kedengeran kayak penutup dari sesuatu yang lebih panjang yang enggak dia ucapin.

"Cahaya."

"Hm?"

"Tadi kamu hampir bilang sesuatu."

"Enggak."

"Bibir kamu gerak."

"Aku nguap."

"Itu bukan gerakan nguap."

Cahaya natap aku dengan ekspresi yang aku identifikasi dengan sangat baik sebagai "aku enggak akan ngaku ini", ekspresi yang udah aku kenal sejak TK dan udah cukup sering aku terima buat tau bahwa mendesaknya lebih jauh enggak bakal ngasilin apa apa.

"Aku pulang dulu," katanya, balik badan ke kanan.

"Oke."

"Besok berangkat jam yang sama ya."

"Iya."

"Jangan kesiangan."

"Enggak akan."

"Kamu bilang itu kemarin juga dan tetep kesiangan."

"Itu karena..."

"Selamat malam, Rendy."

"...Selamat malam."

Dia jalan ke kanan, kunciran rambutnya goyang sekali dalam angin sore yang udah lebih sejuk dari siang tadi. Aku berdiri di persimpangan itu sebentar, kayak yang selalu aku lakuin, sebelum balik badan ke arah lurus.

Malam itu, aku duduk di meja belajar dengan catatan Matematika Diskrit di depan, laptop kebuka di sisi kiri buat referensi, dan notasi notasi yang tadi kerasa terlalu padat mulai mengendap jadi pola yang lebih masuk akal.

Ada sesuatu yang menarik dari cara matematika kerja, gimana sesuatu yang awalnya keliatan kayak kekacauan simbol pelan pelan bentuk struktur yang punya aturan dan logika yang konsisten. Sesuatu yang bisa dipelajarin, dipahamin, dan pada akhirnya diprediksi.

Aku lebih nyaman dalam sistem kayak gitu.

Hapeku bergetar. Notifikasi dari grup kelas, seseorang baru aja kirim foto jadwal kuliah minggu depan plus komentar panjang soal distribusinya yang enggak ideal. Lima orang bales dalam waktu dua menit. Aku baca semuanya, enggak bales, tapi tandain informasi jadwalnya sebagai hal yang perlu diperhatiin.

Notifikasi kedua, pesan pribadi.

Cahaya: "Eh Ren."

Cahaya: "Serius deh."

Cahaya: "Makasih ya udah mau makan siang sama temen temenku tadi. Aku tau kamu lebih nyaman sendirian."

Aku baca tiga pesan itu dua kali.

Terus ngetik: "Enggak apa apa. Temen temenmu baik."

Tiga titik muncul sebentar.

Cahaya: "Iya tapi tetep aja. Aku tau itu bukan comfort zone mu."

Cahaya: "Jadi makasih."

Aku natap pesan itu beberapa detik.

Ada sesuatu yang aneh di cara pesan itu bikin aku ngerasa, bukan enggak nyaman, tapi lebih kayak... diperhatiin dalam cara yang lebih spesifik dari yang biasa. Bukan Cahaya merhatiin aku secara umum, yang udah kejadian belasan tahun, tapi Cahaya merhatiin hal yang spesifik, bahwa tadi siang aku enggak sepenuhnya nyaman, bahwa dia nyadarin itu, dan bahwa dia milih buat ngomonginnya sekarang walau udah berjam jam berlalu.

Informasi itu kesimpen di suatu tempat di kepalaku. Bukan di bagian yang aktif diproses. Lebih di bagian background, kayak proses yang jalan di belakang layar tanpa jendela yang keliatan.

Aku ketik: "Aku enggak ngerasa terpaksa. Beneran."

Sedetik.

Cahaya: "Oke deh."

Cahaya kirim stiker, beda dari kemarin, kali ini karakter yang sama tapi senyum dengan satu mata tertutup, yang berdasarkan konteks aku artiin sebagai sesuatu di antara "percaya" dan "oke, aku terima jawabanmu".

Aku taruh hape, balik ke catatan Matematika Diskrit.

Di luar, malam udah penuh, suara kendaraan yang lebih jarang, suara jangkrik dari taman kecil di belakang rumah, dan dari kejauhan samar samar suara TV yang aku enggak tau dari rumah mana.

Hari pertama minggu pertama kuliah reguler.

Bukan hari yang luar biasa dalam pengertian dramatis. Enggak ada plot twist, enggak ada revelation besar, enggak ada momen yang kalau dijadiin anime bakal dikasih insert song. Cuma hari biasa dengan kelas kelas pertama yang menarik, satu makan siang yang lebih rame dari yang aku rencanain, bus yang penuh, gang dengan mural baru, dan persimpangan yang selalu sama.

Dunia Cahaya dan duniaku emang beda, kecepatannya, lingkarannya, cara dia ngisi ruang di manapun dia berada versus caraku milih pojok yang cukup jauh dari pusat keramaian. Tapi ada sesuatu yang udah berlangsung cukup lama dan cukup konsisten buat enggak kepengaruh sama perbedaan itu.

Sesuatu yang enggak aku kasih nama malam itu.

Karena beberapa hal kerasa cukup stabil buat enggak perlu dikasih nama biar tetep ada.

Aku buka lagi catatan di depanku, nemuin bagian yang tadi belum sempet aku selesain, dan lanjutin dari titik terakhir.

Malam ini masih panjang. Ada hal hal yang perlu dipahamin.

Itu udah lebih dari cukup buat sekarang.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!