Indonesia
NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 - TUJUH BINTANG JIANGNAN DAN JANJI TUJUH TAHUN

Langit di atas Puncak Teratai Emas terbelah dua.

Bukan kiasan. Bukan ilusi tenaga dalam. Benar-benar terbelah. Seperti ada pedang tak terlihat yang membelah kain hitam, dan dari balik belahan itu, cahaya putih keperakan turun lurus ke arena.

Cahaya itu tidak panas seperti 9 Yang milik Yang Lie. Tidak dingin seperti racun Ouyang Lie. Cahayanya... tenang. Seperti permukaan Danau Tai di pagi hari saat tidak ada angin sama sekali.

Semua orang — bahkan Huang Yuchen yang masih berdiri di atas ranting bambu, bahkan Hong Wei Jun, Pengemis Utara, dengan 18 naga emasnya — menutup mata karena silau.

Hanya pria bertopeng perunggu dengan pedang kayu hitam yang tidak menutup mata. Di balik topeng itu, mulutnya yang terlihat tersenyum tipis.

"Akhirnya kalian datang juga. Terlambat 7 hari. Seperti biasa, orang Jiangnan memang suka dandan dulu sebelum perang."

Dari dalam cahaya keperakan itu, terdengar suara tawa yang jernih. Bukan satu, tapi tujuh tawa yang berbeda, yang bersahut-sahutan seperti air mengalir di atas batu.

Dan dari cahaya itu, tujuh sosok melayang turun.

Bukan terbang dengan tenaga dalam yang meledak-ledak. Mereka melayang seperti daun yang jatuh dari pohon willow di tepi Sungai Qinhuai. Ringan, indah, dan mematikan.

Tujuh jubah dengan tujuh warna berbeda. Putih, biru, hijau, merah muda, kuning muda, ungu, dan hitam. Tujuh wajah yang semuanya masih muda, tidak ada yang di atas 30 tahun.

Yang paling depan adalah yang sudah kita kenal.

Li Qingzhou, 24 tahun, jubah sutra biru-putih motif ombak Danau Tai, kipas besi berukir naga. Pemimpin. Otaknya adalah otak paling licik di Jiangnan.

Di sebelahnya, Su Meiyin, 22 tahun, gaun hijau giok, payung kertas berminyak bermotif tinta di bahu. Satu-satunya wanita di antara tujuh, tapi tidak ada yang berani meremehkannya karena di dalam payungnya ada 36 jarum dan pedang hujan.

Tidak ada yang tau bahwa 2 dari 7 pendekar jiangnan sudah hadir dari tadi

Lima lainnya, baru hari ini dunia persilatan melihat mereka bersama.

Shen Wuyou, 26 tahun, jubah putih bersih tanpa noda, memegang guqin — kecapi tujuh dawai — di pangkuannya. Jarinya tidak memetik, tapi setiap langkahnya, dawai guqin itu bergetar sendiri menghasilkan nada yang membuat jantung orang berdetak tidak beraturan. Dari Suzhou. Julukannya Qin Mo — Iblis Kecapi. Katanya, ia pernah membuat 30 bandit bunuh diri hanya dengan memainkan lagu tentang kampung halaman.

Xiao Yusheng, 23 tahun, jubah kuning muda, wajahnya tampan seperti anak orang kaya, tapi matanya mengantuk. Di tangannya, ia memegang kuas kaligrafi raksasa yang gagangnya terbuat dari bambu hitam. Ujung kuasnya meneteskan tinta hitam yang tidak pernah habis. Dari Hangzhou. Julukannya Hua Bi Pan Guan — Hakim Kuas Lukis. Lukisannya bisa menjadi nyata dan membunuh.

Lu Changan, 28 tahun, jubah hitam sederhana, wajahnya biasa saja, seperti penjual tahu di pasar. Tapi di pinggangnya ada 7 pedang kayu pendek dengan panjang yang berbeda-beda, tersusun seperti tangga. Dari Kota Jinling. Julukannya Qi Xing Jian — Pedang Tujuh Bintang. Tujuh pedang kayu yang jika dicabut bersamaan bisa memanggil bayangan Bintang Biduk.

Yan Beifei, 25 tahun, jubah merah tua, rambutnya diikat tinggi, wajahnya penuh bekas luka bakar. Di punggungnya, bukan pedang, tapi sebuah payung besar yang tertutup, terbuat dari besi hitam. Dari Wenzhou. Julukannya Huo Ya — Gagak Api. Payung besinya jika dibuka bisa mengeluarkan api yang tidak padam oleh air.

Dan yang terakhir, yang paling muda di antara tujuh, tapi auranya paling aneh.

Ye Liuxiang, 21 tahun, jubah ungu gelap, wajahnya pucat seperti orang sakit, terus-menerus batuk pelan dan menutup mulut dengan sapu tangan putih. Di sapu tangannya ada bercak darah. Tidak membawa senjata apa pun. Dari Yangzhou. Julukannya Bing Gongzi — Tuan Muda Sakit. Tidak ada yang tahu apa senjatanya, karena semua orang yang pernah melihatnya bertarung sudah mati karena penyakit aneh 7 hari kemudian.

Tujuh orang. Tujuh Pendekar Jiangnan Masa Kini. Jiangnan Qi Xing.

Mereka mendarat dengan ringan di arena, tepat di antara Mu Chen dan kerumunan ratusan pendekar. Li Qingzhou membuka kipas besinya dengan suara TAP! yang keras.

"Maaf, maaf, kami terlambat," kata Li Qingzhou dengan senyum liciknya, membungkuk sedikit pada Hong Wei Jun, Huang Yuchen, Ouyang Lie, Qiu Mingyu, dan Duan Zhen. "Jalan dari Jiangnan ke Huashan jauh. Kami harus mampir dulu membeli arak dan menyulam jubah baru. Tidak seperti kalian yang jorok-jorok dan bau racun."

Huang Yuchen di atas ranting bambu tertawa. Untuk pertama kalinya, tawanya terdengar tulus. "Kau masih saja mulutnya seperti ibumu, Qingzhou! Bagus! Akhirnya Jiangnan tidak hanya mengirim dua anak manja!"

Hong Wei Jun, Pengemis Utara, yang tadinya tegang, juga tertawa. "Ha! 7 Bintang Jiangnan! 10 tahun lalu kalian masih ingusan main layang-layang di Danau Tai, sekarang sudah berani naik ke Huashan! Bagus! Bagus!"

Tapi sebelum suasana menjadi ramah, dari belakang 7 Bintang Jiangnan itu, muncul satu orang lagi.

Seorang pemuda.

Usianya jauh lebih muda dari mereka. 16 tahun. Jauh lebih muda bahkan dari Mu Chen dan Yang Lie.

Jubahnya abu-abu sederhana, terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus. Wajahnya penuh dengan jerawat dan debu, seperti baru saja berjalan kaki dari desa yang sangat jauh. Di punggungnya, ia memikul karung goni yang jauh lebih besar dari tubuhnya, karung itu terlihat sangat berat, sampai-sampai punggungnya bungkuk.

Tidak ada aura. Tidak ada tenaga dalam. Tidak ada cahaya. Ia terlihat seperti... kuli panggul di pasar.

Tapi 7 Bintang Jiangnan memberinya jalan. Li Qingzhou bahkan mundur selangkah untuk membiarkannya lewat.

Pemuda 16 tahun itu berjalan dengan susah payah, karung di punggungnya berderak-derak, sampai di depan Mu Chen. Ia menatap Mu Chen, lalu menatap Yang Lie yang tubuhnya memancarkan hawa matahari, lalu menatap kitab emas Tai Chu yang melayang-layang.

Ia menjatuhkan karung goninya ke tanah. BRUK! Batu di bawahnya retak.

Dari dalam karung yang terbuka, terlihat isinya: bukan beras, bukan senjata. Isinya adalah batu-batu. Batu-batu biasa dari sungai. Ratusan batu sungai.

"Aku... aku namanya Shi Potian," katanya dengan suara yang terbata-bata, seperti anak yang tidak pernah bicara di depan orang banyak. "16 tahun. Dari Desa Batu di tepi Danau Tai. Guru... guru bilang, aku harus ke Huashan. Membawa batu-batu ini. Guru bilang, kalau aku tidak membawa batu ini, aku akan lupa jalan pulang."

Semua orang terdiam. Lalu beberapa pendekar dari Chang'an tertawa.

"Ha! Gila! Anak gila!"

Tapi tawa mereka berhenti saat Shen Wuyou, Iblis Kecapi dari 7 Bintang Jiangnan, tiba-tiba memetik satu dawai guqinnya dengan keras.

DENG!

Gelombang suara tak terlihat menghantam pemuda yang tertawa itu, membuatnya terpental dan pingsan.

Shen Wuyou menatap dingin. "Dia bukan orang gila. Dia adalah murid terakhir dari Shi Zhong Yu, Pertapa Batu Jiangnan yang 50 tahun lalu menghilang karena ingin memeluk Danau Tai. Batu-batu yang ia bawa adalah Batu Hati Danau. Satu batunya beratnya 100 kati, tapi hanya orang yang hatinya paling bersih yang bisa memikulnya. Anak ini memikul 108 batu."

108 batu, masing-masing 100 kati. 10.800 kati. Tanpa tenaga dalam.

Mu Chen menatap Shi Potian, dan untuk pertama kalinya hari ini, ia merasa tidak sendirian menjadi orang aneh.

Pria bertopeng perunggu dengan pedang kayu hitam yang sejak tadi diam, akhirnya melangkah maju. Ia berdiri di tengah-tengah semua legenda: Pengemis Utara Hong Wei Jun, Pemilik Pulau Bunga Persik Huang Yuchen di atas ranting bambu, Racun Barat Ouyang Lie, Ketua Quanzhen Qiu Mingyu, Murid Kaisar Selatan Duan Zhen, 7 Bintang Jiangnan, Yang Lie dengan 9 Yang-nya, dan Mu Chen dengan Tai Chu-nya, serta Shi Potian dengan karung batunya.

Pria bertopeng itu mengangkat tangannya. Dan saat ia mengangkat tangan, semua aura — naga emas, bunga persik, racun ungu, Taiji emas, hawa matahari — semua padam seketika. Seperti lilin yang ditiup.

Hening total.

"10 tahun lalu, di tempat ini juga," suara serak pria bertopeng itu bergema, "guru-guru kalian bertarung 7 hari 7 malam untuk menentukan siapa yang terkuat. Dan hasilnya adalah... tidak ada yang menang. Semua pulang dengan luka."

Ia menatap satu per satu.

"Hari ini, sejarah terulang. Kalian semua ingin bocah ini," ia menunjuk Mu Chen, "menjadi murid kalian. Huang Yuchen ingin Jari Dewa-nya punya penerus. Ouyang Lie ingin racunnya tidak punah. Qiu Mingyu ingin Quanzhen kembali berjaya. Hong Wei Jun ingin 18 Tapak tidak hilang. Duan Zhen ingin Satu Jari Matahari tetap untuk menyembuhkan."

Ia lalu menunjuk Yang Lie dan Shi Potian.

"Dan dua bocah ini, satu membawa matahari di dalam tubuhnya, satu membawa hati danau di punggungnya, juga takdirnya terikat dengan kitab itu."

Pria bertopeng itu lalu menghentakkan pedang kayu hitamnya ke tanah. Tidak keras, tapi seluruh Gunung Huashan bergetar.

"Jadi, aku, sebagai orang yang paling tidak penting di sini, memberikan usul. Kita tidak bertarung hari ini. Jika kita bertarung hari ini, Huashan akan runtuh, dan 300 pendekar di sini akan mati sia-sia."

Ia menatap Mu Chen, Yang Lie, dan Shi Potian.

"Tiga bocah ini, ditambah 7 Bintang Jiangnan yang masih muda, kita buat janji."

"Janji apa?" tanya Huang Yuchen dari atas ranting bambu, sulingnya masih di tangan.

"Janji 7 Tahun," kata pria bertopeng itu. "7 tahun dari sekarang, di tempat ini juga, Puncak Teratai Emas, Gunung Huashan. Murid-murid kalian, murid-murid kita, akan bertarung. Bukan kita yang bertarung. Tapi mereka."

"Yang menang," lanjutnya, suaranya menjadi dingin, "berhak membaca Kitab Tai Chu Hun Yuan Jing yang asli. Yang kalah... harus bersujud dan mengakui bahwa gurunya adalah yang terlemah."

Itu adalah tantangan yang tidak bisa ditolak.

Bagi Huang Yuchen, itu adalah kesempatan untuk membuktikan Pulau Bunga Persik lebih hebat dari Sekte Pengemis.

Bagi Ouyang Lie, itu adalah kesempatan untuk membuktikan racun lebih hebat dari musik.

Bagi Qiu Mingyu, itu adalah kesempatan untuk membuktikan Quanzhen adalah nomor satu.

Bagi Hong Wei Jun, Pengemis Utara, itu adalah harga diri.

Hong Wei Jun tertawa paling keras. "Ha ha ha! Bagus! Aku setuju! 7 tahun! Dalam 7 tahun, bocah goni Mu Chen ini akan kuajarkan 18 Tapak Penakluk Naga sampai 18 naganya bisa berak!"

Huang Yuchen mengibaskan lengan bajunya, ranting bambunya melayang lebih tinggi. "Aku setuju. Dalam 7 tahun, muridku akan membuat kalian semua menari karena sulingku. 7 Bintang Jiangnan, kalian juga ikut!"

Li Qingzhou membuka kipasnya, tersenyum licik. "Kami, 7 Bintang Jiangnan Masa Kini, menerima janji ini. Dalam 7 tahun, kami akan membuat Jiangnan menjadi pusat Wulin, bukan lagi Shaolin atau Wudang! Dan bocah Shi Potian ini," ia menepuk bahu Shi Potian yang masih memegangi karung batunya, "akan menjadi bintang kedelapan!"

Ouyang Lie menjilat bibirnya. "7 tahun... cukup untuk membuat racun yang bisa membunuh bahkan Pengemis Utara. Aku setuju."

Qiu Mingyu dan Duan Zhen saling pandang, lalu mengangguk bersamaan. "Quanzhen dan Dali setuju. Demi keadilan."

Yang Lie, pemuda 9 Yang, mengulurkan tangannya pada Mu Chen dan Shi Potian, matanya berapi-api.

"Mu Chen, Shi Potian! Kita bertiga! 7 tahun lagi! Kita buktikan siapa yang paling hebat di antara murid!"

Mu Chen menatap tangan Yang Lie yang hangat, menatap karung batu Shi Potian yang berat, menatap 7 Bintang Jiangnan yang tersenyum padanya, menatap pria bertopeng perunggu yang mengangguk pelan padanya.

Untuk pertama kalinya dalam 17 tahun hidupnya sebagai anak yatim yang tidak punya siapa-siapa, Mu Chen merasa... punya teman. Punya saudara.

Ia mengulurkan tangannya yang kotor, memegang tangan Yang Lie yang panas dan tangan Shi Potian yang kapalan karena memikul batu.

"7 tahun!" kata Mu Chen dengan suara gemetar tapi tegas.

Di atas langit Huashan yang terbelah dua, kalimat emas TAI CHU KAI, WULIN MIE perlahan-lahan memudar, dan digantikan oleh kalimat baru yang ditulis oleh cahaya dari pedang kayu hitam milik pria bertopeng.

Kalimat itu berbunyi:

TUJUH TAHUN LAGI, MURID MENENTUKAN LANGIT.

Dan janji itu, disaksikan oleh ratusan pendekar, oleh Pengemis Utara, oleh Pemilik Pulau Bunga Persik, oleh Racun Barat, oleh Ketua Quanzhen, oleh Murid Kaisar Selatan, dan oleh 7 Bintang Jiangnan, resmi terucap.

Perang besar tidak terjadi hari ini. Tapi perang yang lebih besar, perang antara murid-murid, baru saja dimulai.

Dan Mu Chen, bocah goni yang tadi pagi hanya ingin melihat Bendera Wulin, kini punya 7 tahun untuk belajar bagaimana cara tidak mati.

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!