"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: BENTENG ES ABADI DAN LUKA DANTIAN
Namun, sebelum Xue Qingyue sempat mengaktifkan formasi dimensi secara penuh, jeritan menyayat hati dari pemuda di sampingnya memecah kesunyian badai.
"Akkkkkhhhhhhhhhh!"
Mo Xie jatuh berlutut dengan keras di atas tanah yang membeku.
Pedang hitam yang baru saja terserap kembali ke dalam kulitnya ternyata meninggalkan racun kegelapan yang menyebar melalui jalur darah, mengalir deras menuju Dantiannya. Urat-urat hitam di lengannya berdenyut kencang, memancarkan cahaya ungu pekat yang merusak jaringan sel tubuhnya sendiri.
Rasa sakit itu begitu hebat, seolah-olah jiwanya sedang ditarik paksa keluar dari raganya oleh ribuan tangan tak terlihat.
Pandangan Mo Xie mengabur. Langit merah di atasnya berputar hebat sebelum perlahan-lahan berubah menjadi kegelapan total. Tubuhnya ambruk, tidak sadarkan diri di atas lapisan es dingin.
Xue Qingyue segera berbalik, ekspresi wajahnya yang semula datar kini menegang.
Ia berlutut di samping tubuh Mo Xie yang gemetar hebat dalam kondisi pingsan, meletakkan jemari tangannya yang dingin di atas dada pemuda itu untuk memeriksa detak jantungnya yang melemah drastis.
"Bodoh... mengikat kekuatan Qi Kehampaan tanpa wadah Dantian yang memadai," gumam Xue Qingyue, giginya menggeram kecil saat merasakan penolakan energi hitam dari tubuh Mo Xie yang mencoba membakar telapak tangannya.
Xue Qingyue segera mengalirkan hukum esnya, membiarkan Qi murninya mengalir masuk ke dalam tubuh Mo Xie untuk menekan laju racun kegelapan tersebut agar tidak merusak Dantiannya.
Dengan cepat, ia merangkul tubuh Mo Xie yang tak berdaya, lalu menghentakkan kaki kanannya ke tanah.
CRAAAK!
Lingkaran formasi di bawah mereka meledak dalam cahaya biru menyilaukan, membungkus tubuh mereka berdua dan membawa mereka melesat menembus dimensi—meninggalkan Lembah Yunlan yang kini sepenuhnya runtuh menjadi abu.
Dalam sekejap, mereka sampai di sebuah ruangan.
Setelah beberapa hari berlalu, Mo Xie akhirnya membuka matanya perlahan. Ia tidak tahu sedang berada di mana.
Mo Xie memaksakan tubuhnya yang kaku untuk bergeser, bersandar pada dinginnya dinding batu pahat yang menjadi sandaran ranjangnya. Napasnya masih terasa berat dan pendek, meninggalkan jejak uap tipis di udara yang dingin.
Saat kesadaran Mo Xie perlahan-lahan kembali, hal pertama yang ia rasakan bukanlah kehangatan, melainkan rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Rasa sakit yang sebelumnya membakar jalur darah dan Dantiannya kini telah mereda menjadi denyutan tumpul yang konstan di lengan kanannya.
Pandangannya perlahan menangkap langit-langit batu tinggi yang dilapisi oleh kristal es. Kristal-kristal itu memancarkan cahaya biru redup, menerangi ruangan luas yang tampak seperti aula kastil kuno yang dipahat langsung dari dalam gunung es.
Mo Xie mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa kaku dan mati rasa.
Saat ia melihat ke arah lengan kanannya, ia mendapati lengan tersebut kini dibalut oleh kain putih yang ditulisi aksara segel kuno. Urat-urat hitam di balik kulitnya masih terlihat samar, namun denyut liarnya telah ditekan oleh hawa dingin yang mengalir dari kain tersebut.
"Jangan banyak bergerak jika kau masih ingin menggunakan lenganmu," sebuah suara jernih dan dingin bergema dari kegelapan di sudut ruangan.
Xue Qingyue melangkah keluar dari balik pilar es besar.
Di tangannya, ia membawa sebuah mangkuk kecil terbuat dari perak yang mengepulkan uap tipis beraroma herbal spiritual. Ia mendekati ranjang batu tempat Mo Xie berbaring, lalu meletakkan mangkuk itu di meja kecil di dekatnya.
Tatapan matanya yang sewarna gletser menilai kondisi Mo Xie dengan ketajaman yang tak berkurang sedikit pun.
"Kau beruntung hukum esku mampu membekukan aliran racun dari pedang itu sebelum mencapai Dantian dan jantungmu," ucap Xue Qingyue datar, menyilangkan tangannya di dada.
"Senjata yang kau panggil tadi... itu bukan Qi biasa. Itu adalah Pedang Kehampaan. Menggunakannya tanpa persiapan sama saja dengan membiarkan jiwamu dikikis hidup-hidup dari dalam."
Mo Xie memaksakan dirinya untuk duduk, mengabaikan rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia menatap Xue Qingyue dengan mata hitamnya yang kini kembali dipenuhi oleh tekad yang dingin dan keras.
"Di mana kita?" tanya Mo Xie, suaranya parau dan kering. "Dan berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
"Kau berada di Benteng Es Abadi, benteng terakhir Sekte Es Abadi di ujung benua utara yang tersisa," jawab Xue Qingyue, berbalik menghadap jendela besar yang memperlihatkan badai salju abadi yang mengamuk di luar sana.
"Kau telah tertidur selama tiga hari. Dan selama tiga hari itu, dunia di luar sana... terus meluruh menjadi abu."
Xue Qingyue kemudian berbalik kembali, menatap Mo Xie dengan ekspresi serius yang menuntut jawaban pasti.
"Sekarang kau sudah bangun. Katakan padaku, Mo Xie... setelah merasakan sendiri bagaimana kekuatan itu hampir merenggut nyawamu, apakah kau masih berniat melanjutkan kegilaanmu untuk menantang langit?"
Mo Xie terdiam sejenak.
"Kau tahu..." suara Mo Xie parau, membawa kehangatan masa lalu yang kini terasa asing di tengah kastil es ini. "Yurou adalah gadis yang dari kecil selalu bersamaku. Kami telah banyak melakukan hal bersama, dan bermimpi suatu saat bisa hidup dengan damai."
Ia menjeda kalimatnya, membiarkan kenangan tentang tawa murni Chu Yurou dan hamparan bunga matahari di bawah pohon oak raksasa melintas sekali lagi—mengisi rongga dadanya yang hampa sebelum akhirnya ingatan itu hancur, digantikan oleh gambaran langit yang terbelah merah darah.
Mo Xie memutar kepalanya, menatap lurus ke arah jendela besar yang memperlihatkan kegelapan badai salju di luar sana. Matanya yang hitam kini tidak lagi memancarkan keputusasaan, melainkan sebuah obsesi yang dingin, tajam, dan absolut.
"Aku tidak bisa berhenti di sini," lanjut Mo Xie, suaranya merendah namun bergetar dengan keyakinan yang sanggup meretakkan es di sekeliling mereka. "Aku akan menemukannya. Bahkan jika aku harus menyeret para Dewa turun dari langit mereka dan membakar dunia ini hingga menjadi debu."
Xue Qingyue yang berdiri di dekat jendela hanya terdiam mendengarkan. Ia tidak menyela, tidak pula menunjukkan simpati. Wajahnya tetap sedingin pahatan es, namun matanya yang sewarna gletser menatap Mo Xie dengan intensitas yang berbeda. Ada pemahaman yang rumit di balik tatapan itu—sebuah pengakuan bahwa pemuda di hadapannya bukan lagi sekadar manusia biasa yang bisa dihentikan dengan kata-kata peringatan.
"Menemukannya?" Xue Qingyue melangkah mendekati ranjang, suaranya memecah kesunyian aula batu dengan nada yang tajam.
"Jika jiwanya telah memudar di celah dimensi saat langit pecah, kau tidak akan menemukannya di dunia fana ini, Mo Xie. Satu-satunya tempat di mana jiwa yang hilang berkumpul adalah di balik Gerbang Astral—wilayah yang dijaga ketat oleh para utusan langit."
Ia berhenti tepat di sisi ranjang, menunduk menatap perban segel di lengan kanan Mo Xie yang mulai memancarkan pendar ungu samar, bereaksi terhadap emosi dan tekad pemuda itu yang kembali bergejolak.
"Kau ingin menantang mereka dengan tubuh yang rapuh ini?" Xue Qingyue mengulurkan tangannya, menyentuh perban di lengan Mo Xie dengan ujung jemarinya yang dingin, seketika memicu hawa es yang menekan kembali gejolak energi kegelapan di dalamnya.
"Jika kau memaksakan diri pergi sekarang, kau akan mati sebelum sempat melewati perbatasan benua utara."
Mo Xie hanya terdiam mendengarkan.
"Jika kau benar-benar ingin menuntut takdirmu... pulihkan dirimu dan kuasai kekuatan terkutuk itu terlebih dahulu," lanjut Xue Qingyue. "Dan dakilah puncak kekuatan sampai kau layak berdiri melawan para Dewa."
Xue Qingyue menatap lurus ke dalam mata Mo Xie.
"Sekte kami memiliki cara untuk menjinakkan Kepingan Kehampaan di lenganmu—namun itu membutuhkan harga yang harus kau bayar."