Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pagi itu, Amira kembali duduk di ruang keluarga bersama seluruh anggota keluarganya. Entah mengapa, sejak tadi hatinya merasa tidak nyaman.
Setelah mengetahui Ricki akan bertunangan dengan Alika, Amira sudah tidak berharap apa pun dari rumah ini. Baginya, rumah itu hanya tempat untuk tinggal, bukan tempat untuk pulang.
Ganjar duduk di sofa utama dengan wajah serius. Di sampingnya, Ambar tampak tenang, sementara Alika duduk tidak jauh dari mereka.
Amira menatap satu per satu wajah di hadapannya.
"Ada apa, Pi?" tanyanya.
Ganjar tidak langsung menjawab. Pria itu menarik napas sebelum akhirnya berkata, "Papi ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu."
Amira mengernyit. "Apa?"
"Kamu akan dijodohkan."
Amira terdiam. Untuk sesaat, ia bahkan tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa.
"Siapa?" tanyanya lirih.
"Anak Tuan Abraham."
Amira menatap ayahnya dengan wajah tidak percaya. Nama itu tidak asing baginya. Hampir semua orang dari kalangan keluarga berada mengenal siapa anak Tuan Abraham.
Seorang pria yang terkenal dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bahkan setelah mengalami kecelakaan yang membuatnya lumpuh, namanya tetap menjadi sosok yang membuat banyak orang memilih untuk menjaga jarak.
Amira menelan rasa sesak di dadanya. "Kenapa harus aku?"
Belum sempat Ganjar menjawab, Alika tiba-tiba bangkit dari duduknya.
"Pi, jangan begitu." Suara Alika terdengar lembut. Wajahnya bahkan berubah seperti orang yang sangat bersedih.
"Kasihan Amira." Ia menoleh kepada adiknya.
"Pria itu terkenal kejam. Meskipun sekarang dia sudah lumpuh, dia tetap bukan pria yang mudah dihadapi."
Alika menunduk, seolah sedang menahan kesedihan. "Belum lagi..." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "wajahnya juga..."
Alika tidak menyelesaikan kalimatnya. Namun, tatapan yang diberikannya kepada Amira sudah cukup untuk menjelaskan maksudnya.
"Rasanya tidak sebanding dengan Amira."
Amira terdiam. Entah kenapa, kalimat itu justru membuat dadanya semakin sakit. Bukan karena Alika membelanya. Tetapi karena untuk pertama kalinya Alika terdengar seperti seseorang yang benar-benar mengkhawatirkan dirinya. Andai saja Amira tahu bahwa kepedulian itu hanyalah sebuah kepura-puraan.
"Alika!" tegur Ganjar.
Alika segera menundukkan kepala. "Maaf, Pi. Aku cuma merasa kasihan sama Amira."
Ganjar menghela napas. "Memangnya Papi punya pilihan lain?"
"Pi..."
"Tidak ada lagi yang bisa dilakukan." Ganjar menatap Amira dengan wajah tegas.
"Bisnis Papi sedang berada dalam masalah besar. Kalau perjodohan ini gagal, keluarga kita bisa kehilangan semuanya."
Amira semakin mengeratkan jemarinya. "Lalu?"
Ganjar berkata tanpa sedikit pun keraguan. "Kamu harus menerima perjodohan ini."
Amira membeku.
"Amira, demi menyelamatkan bisnis Papi, aku mau kamu menerima perjodohan itu."
Kalimat tersebut terasa seperti pukulan. Bukan sekali lagi Amira mendengar bahwa keberadaannya harus menjadi penyelamat bagi keluarga yang bahkan tidak pernah benar-benar menerimanya.
Ia menunduk. Tangan yang berada di atas pahanya perlahan mengepal.
Ambar yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara. "Iya. Lagipula, sudah saatnya kamu membalas kebaikan keluarga kami."
Amira mengangkat wajah. "Kebaikan?"
Ambar tersenyum sinis. "Selama ini siapa yang membesarkanmu? Siapa yang memberimu tempat tinggal? Kamu pikir hidupmu gratis?"
Amira terdiam.
"Kalau bukan karena keluarga ini, mungkin sejak dulu kamu sudah hidup terlunta-lunta."
Ambar menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Jadi jangan banyak menuntut."
Tatapannya berubah dingin. "Kalau kamu menolak, jangan salahkan kami kalau akhirnya kamu kami buang ke jalanan."
Hening. Tidak ada seorang pun yang membela Amira. Alika bahkan hanya menatapnya dengan wajah prihatin. Namun, kali ini Amira tidak mampu lagi mempercayai kepedulian siapa pun.
Ia mengepalkan tangannya semakin kuat. Andai saja dirinya boleh memilih... kalau saja sejak awal ia diberikan kesempatan untuk menentukan hidupnya sendiri... ka tidak akan pernah memilih hidup di keluarga ini.
Keluarga yang selalu membuatnya merasa seperti orang asing. Keluarga yang tidak pernah menginginkannya, bahkan menjadikan kelahirannya sebagai kesalahan yang harus terus ia bayar. Namun, sekarang Amira tidak punya tempat lain untuk berteduh.
Setelah Ricki pergi dan keluarganya sendiri mengancam akan mengusirnya. Ke mana lagi ia harus pergi?
Pagi ini saja, jika ia meninggalkan rumah itu, mungkin ia bahkan tidak tahu harus tidur di mana. Amira menundukkan kepala. Air matanya hampir jatuh, tetapi ia menahannya. Ia tidak ingin menangis di hadapan mereka.
"Aku terima."
Semua orang terdiam, seolah tidak percaya secepat itu Amira akan menerima perjodohan itu. Ganjar menatapnya.
"Kamu yakin?"
Amira mengangguk pelan. "Iya."
Bukan karena ia menginginkan pria itu apalagi percaya perjodohan tersebut akan membuat hidupnya bahagia. Tetapi karena untuk pertama kalinya, Amira sadar bahwa rumah ini sudah tidak lagi aman untuknya.
Jika harus memilih antara hidup bersama pria yang tidak dikenalnya atau kembali bertahan di rumah yang setiap hari membuatnya merasa tidak diinginkan...
Amira memilih pergi. Setidaknya, ia ingin mencari tempat di mana dirinya tidak lagi diperlakukan seperti beban.
Alika menatap Amira cukup lama. Lalu, perlahan, ia menghampiri adiknya dan menggenggam tangannya.
"Mira..." Suara Alika terdengar penuh iba. "Kalau memang ini yang terbaik untukmu, aku akan selalu mendukungmu."
Amira menatap tangan kakaknya yang menggenggam tangannya. Untuk sesaat, ia ingin percaya. Namun, entah mengapa, ada sesuatu di dalam hatinya yang terasa asing.
Sesuatu yang membuatnya sadar... mungkin mulai hari ini, ia benar-benar harus berhenti berharap kepada siapa pun.
Kabar bahwa Amira menerima perjodohan dengan anak Tuan Abraham akhirnya sampai kepada Ricki. Pria itu terdiam ketika mendengarnya.
"Amira menerima?"
Ricki mengulang perkataan orang di hadapannya dengan suara pelan.
"Ya."
Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Entah mengapa, ia tidak rela. Membayangkan Amira menjadi istri pria yang terkenal kejam itu membuat pikirannya kacau.
Pria yang selama ini hanya dikenal melalui cerita-cerita mengerikan. Pria yang kini lumpuh. Pria yang wajahnya menyisakan bekas luka.
Kenapa Amira harus menikah dengannya?
Ricki mengepalkan tangan. Andai saja dirinya berani melawan orang tuanya... kalau saja sejak awal ia memilih Amira dan tidak menyerah begitu saja... Mungkin sampai sekarang mereka masih bersama.
Namun, semua itu hanya andaian. Ricki tahu, keluarganya tidak pernah benar-benar menerima Amira. Bagi mereka, status kelahiran Amira adalah masalah.
Andai saja Amira terlahir dari pernikahan yang sah... dan tidak ada masa lalu yang membuat keluarganya memandang rendah gadis itu... Mungkin mereka akan menyetujui hubungan mereka.
Ricki menundukkan kepala entah kenapa ia merasa takut kehilangan Amira sepenuhnya.
Selama ini ia berpikir masih ada waktu. Namun sekarang... gadis yang pernah mencintainya selama tiga tahun itu akan menjadi milik pria lain.
Dan yang paling membuatnya tidak tenang adalah satu hal. Amira akan menikah dengan pria yang bahkan tidak pernah Ricki kenal sebagai pria baik.
"Aku tidak rela..." Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Ricki menatap kosong ke depan. Entah apa yang akan dilakukannya setelah ini. Tetapi satu hal yang pasti... Ricki merasa ingin menarik kembali keputusan yang pernah ia buat dan sayangnya, semuanya sudah terlambat.
Bersambung .....