Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PIJATAN PENAKLUK RATU IBLIS

SISTEM PIJATAN PENAKLUK RATU IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

"Woi, Arya! Tunggu sebentar, jangan buru-buru kabur begitu!" teriak pria paruh baya bertubuh gempal sambil memegang pinggangnya.

Arya menghentikan langkah kakinya lalu berbalik badan dengan alis terangkat sebelah.

"Ada apa, Pak Joko? Mau ikut mencibirku karena sudah dipecat istana juga?" tanya Arya ketus.

Pak Joko meringis kesakitan sambil membungkukkan badannya setengah meter ke depan.

"Duh, jangan ngomong begitu, pinggangku ini rasanya mau copot gara-gara ngangkat karung beras tadi pagi," keluh Pak Joko dengan napas tersengal.

"Makanya jangan sok kuat, umur sudah tua tapi gayanya masih kayak anak muda," sindir Arya tanpa rasa segan.

"Sialan kamu malah meledek, tabib istana yang baru itu menyuruhku minum ramuan pahit yang harganya selangit tapi sama sekali tidak mempan," curhat Pak Joko kesal.

Arya melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam pria paruh baya di depannya itu.

"Terus apa urusannya denganku? Kamu kan kemarin ikut bilang kalau keahlianku cuma pijitan murahan," balas Arya mengingatkan.

"Kemarin kan aku cuma ikutan omongan orang lain supaya tidak dikucilkan pedagang lain," elak Pak Joko dengan wajah memelas.

"Tolonglah, Arya, pijit sebentar saja pinggangku ini, aku beri bayaran dua kali lipat dari biasanya!" tawar Pak Joko mendesak.

Arya terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawaran yang cukup menggiurkan di tengah krisis dompetnya saat ini.

"Dua kali lipat? Jangan bohong ya, uangku buat beli beras sudah mau habis," ujar Arya memastikan.

"Beneran, sumpah! Asal pinggangku sembuh sekarang juga," jawab Pak Joko cepat-cepat.

Arya menoleh ke kanan dan kiri, mencari tempat yang agak sepi di sudut pasar tradisional yang hiruk-pikuk itu.

"Ya sudah, duduk di bangku kayu warung itu, jangan banyak gerak," perintah Arya.

Pak Joko langsung berjalan terpincang-pincang menuju bangku kayu panjang di samping warung kopi.

"Aduh... pelan-pelan ya, Arya, tulangnya rasanya mau copot," rintih Pak Joko sambil duduk membungkuk.

Arya mengeluarkan botol minyak pijit herbal dari dalam tas usang miliknya dengan gerakan terbiasa.

Ia meneteskan minyak hangat itu ke telapak tangannya lalu menggosokkannya hingga terasa panas.

"Tahan sebentar, ini pasti bakal kerasa agak ngilu di awal," ujar Arya memperingatkan.

"Iya, terserah kamu asal sembuh," jawab Pak Joko meringis menahan sakit.

Arya mulai menekan titik akupuntur di sekitar pinggang dan punggung bawah Pak Joko dengan presisi tinggi.

Krek...

Suara sendi punggung bergeser pelan terdengar di tengah bisingnya suasana pasar.

"Ugh... aduh sakit, tapi kok enak?!" pekik Pak Joko kaget setengah mati.

"Makanya diam jangan banyak komentar kalau sedang dipijit," omel Arya santai.

Arya terus memijat dengan teknik khusus yang dipelajarinya selama bertahun-tahun melayani para bangsawan.

[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi aktivitas pemijatan non-target.]

[Mendapatkan koin sistem: +20 koin emas kecil sebagai imbalan kerja keras.]

Suara dengungan sistem itu kembali berputar di kepala Arya tanpa bisa dicegah.

"Sistem sialan, cari tambahan penghasilan dikit doang langsung dikasih notifikasi," batin Arya mengeluh.

Lima menit kemudian, Arya menarik kedua tangannya dari punggung Pak Joko.

"Sudah selesai, coba berdiri pelan-pelan," kata Arya membereskan botol minyaknya.

Pak Joko berdiri dengan ragu-ragu sambil meluruskan punggungnya yang tadinya membungkuk parah.

"Eh? Rasanya enteng banget! Nyeri di pinggangku langsung hilang seketika!" seru Pak Joko takjub.

Ia melompat-lompat kecil di tempat untuk memastikan punggungnya benar-benar sudah pulih total.

"Hebat banget tanganmu, Arya! Kenapa istana bodoh itu sampai memecatmu?!" puji Pak Joko kagum.

"Sudahlah, yang penting bayarannya sesuai janjimu tadi," tagih Arya sambil menengadahkan tangan.

Pak Joko buru-buru merogoh kantong celananya dan mengeluarkan beberapa keping perak lalu menyerahkannya.

"Nih, ambil semua, kamu benar-benar penyelamat hidupku hari ini!" ucap Pak Joko sumringah.

Arya menerima kepingan perak itu dengan senyuman lebar yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

"Makasih banyak, Pak Joko, kalau ada yang sakit lagi suruh kesini ya," kata Arya ramah.

Setelah berpamitan, Arya segera berjalan menuju pasar untuk membeli bahan makanan dan beras.

"Akhirnya malam ini kita tidak perlu makan angin," gumam Arya senang sambil menghitung uang di sakunya.

Sementara itu, di dalam kontrakan sempit yang kumuh, Vanya sedang dilanda kebosanan tingkat dewa.

"Tempat ini benar-benar menyiksa batinku," keluh Vanya berjalan mondar-mandir di ruangan sempit.

Ia melihat sebuah buku catatan tua milik Arya yang tergeletak di atas meja kayu.

Vanya membuka lembaran buku itu dengan rasa penasaran yang mendalam terhadap kehidupan si manusia.

"Catatan keuangan? Pengeluaran bulan ini sisa sepuluh keping tembaga?" baca Vanya dengan alis berkerut.

Tiba-tiba, Vanya merasa ada rasa aneh yang mencubit dadanya saat membaca catatan harian Arya.

"Manusia bodoh ini ternyata banting tulang setiap hari cuma demi bertahan hidup di kota kejam ini," batin Vanya pelan.

Ia menutup kembali buku itu perlahan dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan maknanya.

"Kenapa aku jadi memikirkan nasib manusia rendahan itu?" gumam Vanya kesal pada dirinya sendiri.

[Peringatan Sistem: Jarak kedekatan emosional Host dan Target semakin menyatu.]

Vanya terlonjak kaget saat mendengar suara asing berdengung tiba-tiba di dalam kepalanya.

"Suara apa lagi ini?! Jangan bilang manusia itu menanam mantra pelacak di otakku!" murka Vanya panik.

Ia mencengkeram kepalanya erat-erat sambil menggigit bibirnya menahan amarah yang meluap.

Tidak lama kemudian, suara kunci pintu digeser dari luar dengan bunyi "klik".

Pintu kontrakan terbuka lebar, memperlihatkan Arya yang membawa kantong plastik berisi bahan makanan.

"Aku pulang! Jangan bilang kamu sudah merusak perabotku yang murah ini," sapa Arya langsung.

Vanya langsung memasang kembali ekspresi dingin dan angkuhnya seperti biasa.

"Lama sekali, apa kamu sengaja ingin membuatku kelaparan di sini?" semprot Vanya ketus.

Arya mendengus geli melihat tingkah gengsi setengah mati dari sang Ratu Iblis.

"Nih lihat, aku bawa beras dan sayur segar dari hasil kerja kerasku di pasar tadi," kata Arya memamerkan kantong belanjaannya.

Vanya melirik sekilas ke dalam kantong plastik hitam itu dengan sebelah alis terangkat tinggi.

"Cuma bahan makanan murah begini saja kau pamerkan seperti mendapat harta karun," cibir Vanya meremehkan.

"Bagi orang kaya sepertimu mungkin ini sampah, tapi buat pengangguran sepertiku ini adalah kemewahan mutlak," balas Arya santai.

Arya berjalan menuju sudut dapur kecil dan mulai meletakkan barang-barang belanjaannya di atas meja.

"Sini bantu aku cuci sayurnya, jangan cuma bisa mondar-mandir bikin pusing kepala," perintah Arya tanpa beban.

Vanya membelalakkan matanya lebar-lebar mendengar perintah yang sangat tidak sopan itu.

"Apa kamu bilang?! Menyuruh seorang Ratu Iblis agung mencuci sayuran kotor?!" murka Vanya dengan suara bergetar.

"Iya, Ratu Iblis yang sekarang lagi numpang makan dan tidur di kontrakan sempitku," balas Arya tanpa rasa takut sedikit pun.

Vanya mengepalkan tangannya kuat-kuat, ingin sekali menghancurkan kepala manusia di depannya menjadi serpihan debu.

Namun, lagi-lagi rasa sakit menusuk dadanya akibat ikatan sistem pijatan yang mengunci pergerakannya.

"Sialan... awas saja kalau kekuatanku sudah kembali sepenuhnya," ancam Vanya mendesis tajam.

"Iya iya simpan saja ancamannya buat nanti, sekarang cepat cuci sayurnya sebelum keburu malam," suruh Arya cuek.

Dengan wajah tertekuk masam dan bibir cemberut, Vanya berjalan mendekati baskom berisi air di sudut dapur.

Ia mengambil seikat sayuran hijau dengan jari-jarinya yang lentik dan bersih secara perlahan-lahan.

"Beginikah cara manusia rendahan bertahan hidup setiap hari?" batin Vanya merasa miris melihat kehidupannya kini.

Arya melirik sekilas ke arah Vanya dan tersenyum tipis melihat ratu galak itu akhirnya menuruti perintahnya.

"Nah, gitu dong, jadi cewek jangan galak-galak amat nanti cepat tua," ledek Arya sengaja memancing emosi.

"Diam kamu, tukang pijit kurang ajar!" balas Vanya melemparkan cipratan air ke muka Arya.

"Waduh, mainan air ya? Awas ya nanti kubalas," ancam Arya pura-pura kesal sambil mengelap wajahnya.

Suasana di dalam kontrakan sempit itu mendadak terasa jauh lebih hidup dari sebelumnya.

Tidak ada lagi ketegangan maut seperti malam pertama mereka bertemu di tengah hutan gelap.

Arya mulai menyalakan kompor portabel untuk memasak nasi dan merebus sup sederhana malam itu.

Gubrak...

Suara panci kecil hampir terjatuh karena disenggol siku Arya yang bergerak terlalu cepat.

"Hati-hati, kalau pancinya rusak kita tidak bisa masak lagi," tegur Vanya spontan.

Arya menoleh kaget mendengar perhatian kecil yang tak terduga keluar dari mulut Ratu Iblis itu.

"Wah, tumben banget ratu galak perhatian sama tukang pijit miskin kayak aku," puji Arya tersenyum mengejek.

Wajah Vanya langsung merona merah padam, ia buru-buru membuang muka ke arah dinding kotor.

"Jangan kegeeran, aku cuma tidak mau bau hangus mengganggu penciumanku!" elak Vanya sewot.

"Iya deh iya yang tidak mau ngaku," balas Arya terkekeh geli.

Beberapa menit kemudian, hidangan sederhana malam itu sudah siap disajikan di atas meja kayu kecil.

Aroma sup sayur hangat mengepul ke udara, memenuhi ruangan sempit dengan keharuman yang menggugah selera.

Mereka kembali duduk berhadap-hadapan di atas lantai beralas tikar usang tanpa banyak bicara.

Vanya mencicipi sesendok kuah sup buatan Arya dengan rasa penasaran yang tersembunyi.

"Bagaimana? Rasanya lumayan kan buat lidah bangsawanmu?" tanya Arya penasaran.

Vanya mengangguk kecil pelan, mengakui dalam hati bahwa masakan manusia itu tidak seburuk bayangannya.

"Biasa saja, tapi masih bisa dimakan," jawab Vanya gengsi setengah mati.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar keras dari luar kontrakan mereka.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan itu bergemuruh kasar mengagetkan mereka berdua.

Arya menghentikan suapannya, keningnya berkerut dalam penuh kecurigaan.

"Siapa malam-malam begini bertamu ke tempat kumuh?" gumam Arya bingung.

"Buka pintunya, Arya! Kami tahu kamu ada di dalam!" teriak suara asing berbadan tegap dari luar.

Vanya langsung menoleh tajam ke arah pintu dengan kilatan mata merah yang mulai menyala terang.

"Sepertinya ada tamu tidak diundang yang mau mencari mati," desis Vanya dengan nada berbahaya.

Arya menarik napas panjang, bersiap menghadapi masalah baru yang datang bertubi-tubi.

1
gofur
mantap kaka karya kamu🥰
Anton barly
💟💟💟💟
Shinta geol
🥰🥰🥰🥰🥰
nurul khusna
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
Antoni gergio
💞💓💗💖💝
samuel df
😍🤩🤩🤩🤩
Jangkar pion
iblis yg cantik😘
yudi permana
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
nabila
🤩🌹😘😍🥰
putri andini
😍🥰
asyifa fauziah
🌹😘🥰😘
setiawan
pijatan yang mematikan sang ratu
yani
keren kaka semangat berkarya🥰
sasa
💞💕💞💞💞💞💞
fitri
🥰😘🥰😘🥰🤩🤩
pricilia
🌹🌹🌹🌹🌹
Angel
🌟🥳🤠
clara
hebatkaka
Yono Haryono
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!