Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Bukan Guling yang Kupeluk
🌸happy reading🌸
Suara sayup azan terdengar, menyapa lembut telingaku. Seolah sedang berbisik untuk segera bangkit memenuhi panggilan dari Sang Pencipta, yang akan melimpahkan dan mengatur seluruh kehidupan kita hari ini.
Aku membuka mata perlahan. Suasana kamar masih terlihat remang-remang.
Hari ini genap satu minggu sudah aku menjadi seorang istri Kak Revan. Tentu bukan atas dasar kesadaran pria itu untuk menikahiku, melainkan karena dorongan sang ibu yang sangat ia sayangi dan hormati.
Tanganku meraba sisi tempat tidur, mencari guling yang menjadi batas kami saat tertidur. Namun, mengapa guling ini terasa begitu keras? Bahkan, terasa hembusan angin yang menerpa lembut puncak kepalaku.
Aku mulai melebarkan kedua mata, dengan pandangan yang masih terlihat buram.
Deg.
Ternyata bukan guling pembatas yang sedang kupeluk, melainkan tubuh Kak Revan yang masih tertidur pulas. Mengapa bisa aku sampai pada posisi seperti ini? Melewati batas guling yang sengaja aku simpan di bagian tengah ranjang.
Aduh... jika Kak Revan sadar akan posisi yang sedang memeluknya ini, pasti matanya akan menatapku tajam.
Aku mulai mendongakkan wajah, menatap lekat wajah seorang pria yang masih terpejam dan larut dalam mimpinya. Dengan cahaya remang-remang, aku bisa menangkap guratan wajah yang begitu teduh saat terpejam.
Kak Revan, kamu sangat sempurna.
Walaupun kamu menikahiku atas dasar keterpaksaan, aku berharap suatu saat nanti kamu bisa menerima kehadiranku dalam kehidupanmu.
Aku berniat untuk segera bangkit, takut jika Kak Revan keburu bangun dari tidurnya. Aku menggerakkan tubuh secara perlahan, mulai dari bahu, lengan atas, kemudian kepala yang perlahan bergeser dari bahu Kak Revan.
Sampai pada akhirnya...
“Aww... aww....”
Ternyata aku tidur dengan menindih tangan kiriku sendiri. Rasanya pegal, sakit, dan mati rasa. Seperti bagian lengan itu sudah hilang dari tubuhku. Bahkan, untuk digerakkan pun sangat sulit.
Teriakan dan gerakan kecil akibat kepanikan itu tanpa sengaja mengusik tidur Kak Revan. Pria itu terbangun dengan wajah bingung dan dahi berkerut, beberapa kali mengerjapkan mata.
“Kenapa kamu tidur menghimpit jarak dengan bagian tempat tidurku?”
Kak Revan langsung bangkit, tatapan tajamnya masih tertuju padaku.
“Aww... namanya juga tidur, Kak. Aku nggak sadar kalau bergerak. Maaf, tapi memang aku benar-benar tidak sengaja,” ucapku pelan, sambil menepuk-nepuk lengan kiri yang masih tidak terasa apa-apa.
Pria itu berdecak pelan. Kemudian tangannya bergerak untuk menyalakan sakelar lampu kamar.
Seketika kamar menjadi begitu terang. Aku masih meringis sambil menepuk-nepuk lengan, berharap aliran darah segera kembali normal dan mati rasa itu segera menghilang.
Aku panik bukan kepalang. Takut jika terjadi sesuatu pada tubuhku.
“Kenapa tanganmu?” tanyanya dengan suara yang sedikit serak.
Aku mengangkat tangan kiri dengan tangan kananku karena memang benar-benar tidak bisa digerakkan sama sekali.
Kak Revan melirik telapak tanganku sekilas yang tampak pucat.
“Mati rasa dan pegal....”
“Sejak kapan seperti itu?” Kini pria itu menegakkan punggungnya. Tatapannya tertuju pada tanganku.
“Tidak tahu pasti, tapi waktu bangun sudah mati rasa,” ucapku pelan sambil meringis.
Kak Revan meraba denyut nadi pada pergelangan tanganku, dengan alis yang tampak berkerut. Kemudian, ia memeriksa jemariku, terutama pada bagian kuku.
“Coba gerakkan lagi.”
“Masih tidak bisa, Kak....”
Aku mendengar decakan pelan dari pria itu. Kemudian Kak Revan mengangkat tanganku dengan gerakan perlahan. Ia menaikkan dan menurunkan lenganku, membuat otot yang tegang perlahan menjadi lebih rileks. Setelah itu, ia melakukan gerakan ringan pada pergelangan tangan dan siku.
Kemudian, Kak Revan mengusap dan memijat perlahan dari lengan bawah hingga telapak tangan, dengan gerakan yang begitu tertata dan teratur.
Perlahan, aku mulai merasakan sensasi hangat menjalar di sepanjang lenganku. Rasa mati rasa yang tadi begitu menakutkan mulai berkurang.
“Gerakkan perlahan,” perintahnya.
Lenganku kini mulai kembali bertenaga.
Namun, rasa hangat yang perlahan kembali itu berubah menjadi kesemutan yang begitu kuat.
“Auw... malah jadi kesemutan, Kak.”
Rasanya seperti urat-urat di tangan itu ditarik paksa dan telapak tanganku ditusuk-tusuk jarum.
Tidak terasa air mataku menetes. Entah karena rasa sakit atau karena terbawa suasana atas perhatian kecil yang Kak Revan berikan.
Aku menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan air mata yang sudah mengalir di pipi. Kemudian, aku membalikkan tubuh seraya mengucapkan terima kasih kepada Kak Revan.
Aku langsung memasuki kamar mandi, bersandar di balik pintu sambil memegang erat tangan kiri yang tadi sudah disentuh Kak Revan.
Memejamkan mata, air mata semakin berderai. Aku menahan isak tangis sekuat tenaga agar Kak Revan tidak mendengar tangisanku hingga berpikir aneh terhadapku.
Ya Tuhan, aku begitu mencintai Kak Revan.
Namun, pria itu sudah memiliki nama lain di hatinya, bahkan sebelum aku menjadi istrinya.
Kak Revan sudah menjalin hubungan dengan wanita lain.
Lalu, bagaimana dengan perasaan wanita itu sekarang?
🌸🌸🌸
Pagi hari, kondisi rumah tampak hening. Mungkin para penghuninya belum ada yang bangun. Termasuk Dona, sepupu Kak Revan yang bermulut tajam. Ia akan tinggal beberapa bulan di sini karena ditinggal tugas oleh kedua orang tuanya.
Karena beberapa mbak di rumah sebagian pulang, pagi ini aku memutuskan untuk membantu memasak di dapur. Sekalian membuat bekal makan siang untuk Kak Revan.
“Alya... Revan itu suka banget dengan paru goreng dan sambal kentang. Kapan-kapan bisa kamu buatkan dia makan siang, biar hubungan kalian semakin dekat juga.”
Aku ingat perkataan Bu Rahayu dua hari yang lalu.
Pada akhirnya, hari ini aku disibukkan dengan memasak di dapur. Membuat sambal kentang dan menggoreng paru yang sebelumnya sudah dibumbui oleh Mbak Jum.
Saking fokusnya, aku sampai tidak mendengar derap langkah yang masuk ke dalam dapur.
“Al... memang pantasnya kamu itu jadi penghuni tetap di dapur, bukan ikut makan sambil angkat kaki di meja makan keluarga Kak Revan.”
Deg.
Dona tiba-tiba muncul begitu saja. Ia berbisik dengan hentakan kata yang terdengar tajam di telingaku.
Aku menghela napas ringan, tersenyum manis ke arah Dona yang masih menatapku dengan tatapan meremehkan.
“Dona... sejak kapan memasak di dapur bisa menurunkan harga diri seseorang? Bahkan profesi koki itu kuliahnya mahal, lho. Apa mereka terlihat rendah di matamu?”
Dona hanya nyengir kuda melihat masakan yang sudah selesai aku masak dan tersusun rapi di dalam kotak bekal.
“Yakin Kak Revan akan menerima kotak bekal dari kamu? Bahkan selama ini....”
“Dona.....”
Tiba-tiba saja, Bu Rahayu datang dan segera menegur Dona.
Bersambung.