GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mobil Pikap, Operasi Penyelamatan, dan Teror Bunga Harian
Keesokan paginya, realitas menampar Gala dan Senja lebih keras dari pukulan preman semalam. Restoran L'Amour menuntut ganti rugi atas kerusakan perabotan, dan karena Rian kabur lebih dulu dengan mobil mewahnya karena trauma, tagihan itu jatuh ke tangan Gala dan Senja. Ditambah dengan tagihan freelance Siska, total utang Gala malam itu mencapai delapan belas juta rupiah.
Bagi dua pekerja kelas menengah yang gajinya pas-pasan, angka itu adalah bencana finansial berskala kiamat.
Di teras indekos Gala, mereka berdua duduk berjejer, meratapi deretan angka di buku tabungan masing-masing. Gengsi mereka telah menguap bersama angin pagi. Mereka secara tak resmi telah menyatakan gencatan senjata demi menghadapi musuh bersama: kemiskinan dan Siska si penagih utang berdarah dingin.
"Gajiku baru turun dua minggu lagi, Nja. Itupun dipotong cicilan motor," keluh Gala sambil memijat keningnya.
Senja menghela napas, menyodorkan es teh plastiknya ke Gala. "Aku juga cuma punya sisa dua juta dari stunt terakhir. Sisanya harus buat bayar sewa apartemen. Gal, Siska itu manusia atau cyborg sih? Dia beneran menagih kita setiap hari dengan cara yang tidak masuk akal."
Ucapan Senja terbukti benar. Tiga hari berturut-turut, Siska menerapkan teror psikologis untuk menagih utang. Di hari Senin, Senja memesan ojek online. Ketika driver-nya membuka kaca helm pelindung, wajah datar Siska muncul. Sepanjang jalan tol, Siska mengendarai motor dengan kecepatan 100 km/jam sambil membisikkan hitungan bunga harian di telinga Senja. Di hari Rabu, Gala yang sedang sembunyi di toilet kantor tiba-tiba melihat selembar kertas tagihan meluncur dari bawah pintu bilik, disertai suara monoton, "Jangan pura-pura sembelit. Transfer sekarang."
Namun, masalah uang tiba-tiba menjadi tidak penting ketika sebuah insiden besar terjadi pada hari Kamis sore.
Gala, dengan insting jurnalisnya yang pantang menyerah, berhasil menelusuri identitas para penyerang di restoran. Ia menemukan bahwa preman tersebut adalah kelompok bayaran dari sindikat lawan yang ingin menjatuhkan Bos Naga Hitam (ayah Rian). Gala telah menulis draf artikel investigasi sepanjang sepuluh halaman yang membongkar jalur penyelundupan senjata kedua geng tersebut. Rencananya, ia akan menyerahkannya ke redaksi besok pagi.
Sialnya, draf itu bocor. Sore itu, saat Gala sedang membeli galon air mineral di warung depan gang kosnya, sebuah mobil van hitam berhenti mendadak. Empat pria bertopeng melompat keluar, memukul tengkuk Gala hingga pingsan, memasukkannya ke dalam van, dan menculiknya. Galon airnya menggelinding begitu saja di jalan aspal.
Ketika malam tiba dan pesan Senja tak kunjung dibalas, insting Senja mengatakan ada yang salah. Ia mendatangi kos Gala, menemukan galon pecah di depan gang, dan mendengar kesaksian pemilik warung. Senja tidak lapor polisi—dalam dunia bawah tanah kota ini, polisi akan bertindak terlalu lambat. Ia butuh aksi cepat. Dan satu-satunya bantuan yang sangat kompeten, meski materialistis, adalah Siska.
Senja menemukan Siska sedang menghitung uang receh di pangkalan ojek. "Siska! Gala diculik anak buah Naga Hitam. Aku butuh bantuanmu buat nyerbu markas mereka sekarang juga!" seru Senja panik.
Siska menatap Senja lambat. "Paket penyerbuan markas mafia. Level risiko merah. Biaya dasar sepuluh juta. Belum termasuk uang peluru dan asuransi jiwa."
"Persetan dengan uang! Aku akan bayar semuanya, aku akan ngutang sampai tua, aku akan kasih sertifikat rumah nenekku! Pokoknya bantu aku bawa Gala pulang hidup-hidup malam ini!" teriak Senja dengan mata berkaca-kaca. Ego dan gengsinya sudah tidak tersisa. Ia benar-benar takut kehilangan pria tengil itu.
Melihat keputusasaan di mata Senja, sistem algoritma di otak Siska sepertinya mengalami glitch sesaat. Ia mengangguk. "Deal. Saya bawa mobilnya."
Satu jam kemudian, sebuah mobil pikap tua yang entah dari mana didapatkan Siska, melaju membelah malam menuju kawasan industri terbengkalai di pinggiran kota—markas operasi Naga Hitam. Siska mengemudi dengan wajah tenang, sementara Senja duduk di kursi penumpang, membalut kedua kepalan tangannya dengan perban putih dan menyiapkan sebuah tongkat bisbol aluminium.
Rencana mereka sederhana, konyol, tapi efektif: Hit, grab, and run.
"Pegangan. Kecepatan benturan: 80 kilometer per jam," ucap Siska monoton.
Mobil pikap itu tidak mengurangi kecepatannya sama sekali saat mendekati gerbang baja gudang tua tersebut. CRAAASH!! Gerbang itu jebol, engselnya patah, dan mobil meluncur masuk ke area dalam gudang yang dipenuhi puluhan preman yang sedang bermain judi dan minum-minum.
Kepanikan meledak. Siska mengerem mendadak, membuat mobil berputar 180 derajat dan berhenti persis di tengah ruangan.
"Waktu kita dua menit sebelum bala bantuan mereka dari lantai atas turun. Eksekusi," komando Siska.
Senja melompat dari mobil bagai singa betina yang marah. Ia mengayunkan tongkat bisbolnya dengan kecepatan mengerikan. Pukulan pertama menghantam lutut penjaga terdekat, pukulan kedua meremukkan rahang penjaga lainnya. Ia bergerak layaknya penari mematikan, mencari celah di antara kerumunan preman yang masih terkejut.
Di sudut gudang, Gala terikat di kursi kayu dengan wajah lebam. Ia menatap tak percaya melihat kekasihnya membabat habis musuh bagaikan pahlawan super.
Siska menyusul, menggunakan pistol stun gun beraliran listrik tinggi untuk melumpuhkan musuh-musuh yang mencoba menyergap Senja dari belakang. Dengan langkah efisien, Siska mendekati panel listrik utama dan menghancurkannya. Seluruh gudang gelap gulita seketika, hanya diterangi lampu sorot dari mobil pikap.
Senja memanfaatkan kegelapan untuk menerobos barikade, mencapai Gala, dan memotong tali ikatannya dengan pisau lipat. "Kamu gak apa-apa, orang bodoh?!" seru Senja, suaranya bergetar antara marah dan lega.
Gala terbatuk darah sedikit, tapi ia memaksakan senyum tengilnya. "Gue tahu lo nggak bisa hidup tanpa gue, Nja."
"Diam dan lari!" Senja menarik lengan Gala.
Mereka bertiga melompat ke bagian belakang bak mobil pikap terbuka, saat tembakan senapan mulai meletus dari arah lantai dua gudang. Siska melompat ke kursi kemudi, menginjak pedal gas dalam-dalam. Roda mobil berdecit keras, memutar, dan melesat keluar menembus gerbang yang sudah hancur, meninggalkan markas mafia yang porak-poranda.
Di atas bak mobil pikap yang melaju kencang membelah angin malam yang dingin, Gala bersandar lemas. Senja merangkulnya erat, memeriksa luka memar di wajah pria itu.
"Maaf, aku selalu narik kamu ke situasi gila kayak gini, Nja," bisik Gala parau. Ia menatap mata Senja, menyadari betapa berharganya wanita ini. Perjanjian sebulan mencari pacar baru itu terasa sangat kekanak-kanakan sekarang.
Senja tersenyum kecil, air mata lega menetes di pipinya. "Aku ini stuntwoman, Gal. Bahaya itu makanan sehari-hariku. Selama bahayanya kulewati bareng kamu, aku nggak akan pernah takut."
Gala menarik tengkuk Senja dan mencium dahi wanita itu dalam-dalam, sebuah janji tanpa kata bahwa ia tidak akan pernah melepaskannya lagi. Suasana romantis di bawah langit berbintang itu nyaris sempurna...
Tiba-tiba, suara mekanis Siska terdengar dari celah jendela kabin kemudi yang terbuka. "Paket Getaway Car malam hari, bonus menghancurkan properti musuh, dan biaya bahan bakar ekstra... Total penambahan utang: lima belas juta. Saya sarankan kalian mulai mencari pekerjaan sampingan besok pagi."
Gala dan Senja hanya bisa tertawa pasrah. Cinta mereka mungkin tidak normal, mahal, dan penuh kekerasan, tapi ini adalah cinta mereka.