Indonesia
NovelToon NovelToon
Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Lari Saat Hamil / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nova sari

Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.

Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.

Sejak itu Lorenzo mengurungnya.

"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."

Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Masa lalu Elena

Pelukan Lorenzo terasa sangat hangat. Elena masih menangis di dada Lorenzo yang bidang. Bau parfum Lorenzo yang mahal bercampur dengan bau tato naga yang samar-samar tercium.

Elena tidak menyangka. Tuan Muda Mafia yang terkenal kejam dan dingin di New York ini ternyata adalah anak laki-laki kecil yang pernah dia tolong 5 tahun yang lalu di panti asuhan.

"Lorenzo... benarkah itu kamu? Anak laki-laki yang babak belur di belakang panti asuhan St. Maria itu?" tanya Elena dengan suara bergetar.

Lorenzo melepaskan pelukannya perlahan. Dia menatap mata biru Elena yang masih basah oleh air mata. Mata yang sama seperti 5 tahun yang lalu.

"Masih ingat panti asuhan itu, Elena? Panti asuhan yang kumuh di pinggiran Bronx?" tanya Lorenzo.

Elena mengangguk. Air matanya makin deras. Dia ingat semuanya.

*5 TAHUN YANG LALU*

Waktu itu Elena masih berumur 16 tahun. Dia tinggal di panti asuhan St. Maria setelah ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan mobil. Elena adalah anak paling besar di panti itu, jadi dia sering membantu Suster Maria memasak dan menjaga adik-adik panti yang lain.

Hidup di panti sangat susah. Makanan sering tidak cukup. Kadang mereka hanya makan roti kering dan air putih seharian.

Suatu sore yang hujan deras, Elena disuruh Suster Maria untuk membuang sampah di belakang panti. Di belakang panti itu gelap dan sepi, banyak preman yang sering nongkrong.

Di sanalah Elena melihat seorang anak laki-laki seumuran dia, mungkin 17 tahun, sedang dipukuli oleh 3 orang preman besar.

Anak laki-laki itu sudah babak belur. Wajahnya berdarah, bajunya robek-robek. Tapi dia tidak menangis sama sekali. Dia hanya menatap para preman itu dengan tatapan marah.

"Heh bocah, mana uangnya! Katanya anak bos Mafia De Luca kaya raya! Mana!" bentak salah satu preman sambil menendang perut anak itu.

Elena ketakutan melihatnya. Dia mau lari memanggil Suster Maria, tapi dia kasihan melihat anak itu.

Dengan memberanikan diri, Elena berteriak, "HEH! LEPASKAN DIA!"

Tiga preman itu menoleh. Melihat hanya seorang gadis pirang kurus dengan roti di tangan, mereka tertawa.

"Apaan nih gadis kecil? Mau ikut dipukuli juga?" kata preman itu.

Elena gemetar, tapi dia maju. "Tolong jangan pukuli dia! Dia masih anak-anak!"

Salah satu preman mendorong Elena sampai jatuh. Roti yang dia pegang jatuh ke tanah yang becek.

"Gadis miskin berani sok pahlawan!" kata preman itu lalu mereka pergi meninggalkan anak laki-laki itu karena melihat Suster Maria datang dari jauh membawa sapu.

Setelah para preman pergi, Elena merangkak mendekati anak laki-laki itu.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Elena dengan suara lembut.

Anak laki-laki itu menatap Elena dengan mata hitamnya yang tajam. Wajahnya penuh darah tapi tetap terlihat tampan.

"Kenapa kamu menolong saya? Kamu bisa mati," kata anak itu dengan suara serak.

Elena mengambil roti yang jatuh tadi. Roti itu sudah kotor terkena tanah becek, tapi itu adalah jatah makan malam Elena satu-satunya hari itu.

Elena membersihkan roti itu dengan bajunya yang sudah robek.

"Ini... makan ini. Kamu pasti lapar," kata Elena sambil menyodorkan roti itu.

Anak laki-laki itu kaget. Tidak pernah ada orang yang memberinya makanan dengan tulus seperti itu. Sejak kecil dia hidup di dunia Mafia yang kejam, semua orang hanya mendekatinya karena takut atau karena ingin uang.

"Roti kamu kotor," kata anak itu.

"Tidak apa-apa, bagian yang kotornya sudah aku buang. Yang tengahnya masih bersih kok," kata Elena sambil tersenyum. Senyum pertama yang dilihat anak itu setelah sekian lama tidak pernah tersenyum.

Anak itu mengambil roti itu dan memakannya dengan lahap. Dia sangat lapar.

"Siapa namamu?" tanya Elena.

"Lorenzo," jawab anak itu singkat.

"Lorenzo... nama yang keren. Seperti nama pangeran. Kalau begitu kamu harus kuat seperti naga! Naga itu kan kuat dan keren, bisa melindungi semua orang!" kata Elena dengan polos sambil menunjuk gambar naga di buku dongengnya yang sudah lusuh.

Lorenzo menatap gadis pirang di depannya itu. Gadis yang memberinya roti terakhirnya. Gadis yang tersenyum padanya saat semua orang memukulinya.

"Terima kasih... gadis pirang," kata Lorenzo.

"Namaku Elena! Elena Rossi!" kata Elena.

Malam itu, Lorenzo dibawa pergi oleh mobil hitam mewah yang tiba-tiba datang. Ternyata dia memang anak bos Mafia besar De Luca yang sedang kabur dari rumah karena tidak mau menjadi Mafia.

Sebelum pergi, Lorenzo berbalik dan berkata, "Elena Rossi, suatu hari nanti saya akan kembali. Saya akan menjadi naga yang kuat seperti yang kamu bilang. Dan saya akan melindungimu."

Elena hanya melambaikan tangan. Dia pikir itu hanya janji anak kecil.

Setelah itu, panti asuhan St. Maria kebakaran. Semua anak panti dipisah-pisahkan. Elena diadopsi oleh keluarga miskin yang ternyata adalah keluarga yang jahat dan menjualnya sebagai pembantu untuk membayar hutang.

Elena tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Lorenzo.

*KEMBALI KE MASA SEKARANG - GEDUNG DE LUCA*

Elena menangis sejadi-jadinya di ruang meeting lantai 50 itu. Dia baru ingat semuanya.

"Jadi... jadi Tuan benar-benar Lorenzo yang dulu? Anak yang aku kasih roti becek itu?" tanya Elena sambil memegang wajah Lorenzo.

Lorenzo mengangguk. Dia melepas jas hitamnya. Dia menunjukkan punggungnya yang berotot. Di punggungnya ada tato naga besar yang sangat indah dan gagah.

"Tato ini aku buat 3 tahun yang lalu, setelah ayah saya meninggal dan saya menjadi Bos Mafia. Saya ingat kata-kata kamu, Elena. Kamu bilang naga itu keren dan kuat. Jadi saya buat tato naga ini supaya saya selalu ingat kamu," kata Lorenzo.

Elena menyentuh tato naga di leher Lorenzo yang kecil itu dengan jarinya yang gemetar.

"Tato ini..."

"Yang di leher ini saya buat pertama kali, tepat setelah saya berhasil menemukan keberadaan kamu setahun yang lalu. Saya tahu ayah angkat kamu punya hutang 500 ribu dollar. Jadi saya sengaja membeli hutang itu, supaya kamu bisa datang ke mansion saya dan menjadi milik saya," kata Lorenzo dengan jujur.

Elena kaget. "Jadi... jadi Tuan sengaja? Semua ini rencana Tuan? Menjadikan saya pembantu tawanan?"

Lorenzo mengangguk. Wajahnya kembali dingin tapi ada rasa bersalah.

"Maafkan saya, Elena. Saya tahu cara saya salah. Saya seharusnya datang dan melamar kamu baik-baik. Tapi saya takut kamu menolak saya. Saya takut kamu sudah punya pacar. Dunia saya terlalu berbahaya, Elena. Kalau saya mendekati kamu dengan cara biasa, musuh-musuh saya akan mengincar kamu. Jadi saya harus menjadikan kamu tawanan saya, supaya tidak ada yang berani menyentuh kamu. Karena kamu berada di bawah perlindungan langsung Lorenzo De Luca," jelas Lorenzo.

Elena terdiam. Dia bingung harus marah atau harus terharu. Pria di depannya ini melakukan semua kejahatan ini karena cinta yang sudah dia pendam selama 5 tahun.

"Lalu... lalu kenapa Tuan membunuh dua orang semalam di lantai tiga? Saya melihat darah..." tanya Elena dengan suara pelan.

Lorenzo menarik napas panjang. Dia kembali memeluk Elena.

"Dua orang itu adalah pengkhianat yang mau menjual informasi tentang kamu ke keluarga mafia lain. Mereka mau menculik kamu untuk menjatuhkan saya. Saya tidak bisa membiarkan itu terjadi, Elena. Siapa pun yang berani menyentuh kamu, akan saya habisi," kata Lorenzo dengan suara posesif.

Elena memeluk Lorenzo balik. Untuk pertama kalinya, pelukan itu bukan karena takut, tapi karena dia mulai merasakan aman di pelukan Lorenzo.

"Lorenzo... saya takut. Dunia Tuan terlalu menakutkan untuk saya," bisik Elena.

Lorenzo mencium kening Elena dengan lembut.

"Jangan takut. Mulai sekarang, naga ini akan selalu melindungi kamu. Seperti janji saya 5 tahun yang lalu. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup berada di samping saya, menjadi Pembantu Tawanan Tuan Muda Mafia yang paling saya cintai," kata Lorenzo.

Di luar ruang meeting, matahari New York mulai terbit. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menerangi dua orang yang berpelukan itu.

Elena yang tadinya hanya seorang pembantu miskin yang ketakutan, sekarang berada di pelukan pria paling berkuasa di New York.

Dan dia tidak tahu, bahwa di luar gedung, Isabella sedang menatap mereka dari mobilnya dengan tatapan penuh dendam dan kebencian. Isabella menelepon seseorang.

"Halo Ayah, Lorenzo lebih memilih pembantu murahan itu daripada aku. Kita harus habisi pembantu itu sekarang juga!" kata Isabella dengan marah.

Bahaya baru akan datang untuk Elena.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!