Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
***
Malam kembali merayap, membungkus Mansion Elard dalam keheningan yang mencekam. Di dalam kamar utama yang luas dan bernuansa gelap keemasan, cahaya remang dari dua lampu tidur di sudut ruangan menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding marmer. Suasana di dalam kamar terasa sangat kaku, menyimpan ketegangan terselubung setelah kepulangan keluarga besar tadi pagi.
Alana baru saja selesai membasuh wajahnya di kamar mandi. Ia berdiri di dekat meja rias, mengenakan gaun tidur bahan sutra berwarna krem yang menutup hingga sebatas lutut. Jemari tangannya mengusap perlahan bekas suntikan di lengannya akibat pemeriksaan kesehatan tadi pagi. Rasa perih dan mual dari suplemen yang harus ia telan masih tersisa di dasar tenggorokannya.
Suara engsel pintu kamar mandi utama terbuka memecah keheningan. Kenzo melangkah keluar hanya dengan mengenakan celana tidur kain berwarna hitam. Tubuh bagian atasnya bertelanjang dada, menyingkap dada bidang, bahu kokoh, dan otot perut yang terbentuk sempurna. Pria itu baru saja selesai mandi usai menyelesaikan setumpuk berkas kantor di meja kerjanya. Rambut hitamnya yang setengah basah dibiarkan berantakan, menyisakan aura kelelahan sekaligus dominasi yang kian pekat.
Tekanan dari Kakek Elard—Kakek Hendra Elard—serta ayahnya, Bramantyo Elard, mengenai performa saham dan posisi direksi di Elard Group terus bergema di kepala Kenzo. Pembicaraan sarapan pagi tadi dan rapat maraton di kantor membuat pundaknya sangat terbeban. Syarat mutlak menghadirkan seorang putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun menjadi tuntutan tanpa kompromi.
Kenzo melangkah mendekati meja rias. Tatapan matanya yang tajam mengunci Alana melalui pantulan cermin.
"Mas Kenzo..." bisik Alana pelan. Ia refleks membalikkan badan, memegang pinggiran meja rias untuk menopang tubuhnya yang masih terasa menyengat akibat malam pertama mereka. "Apakah Mas butuh sesuatu sebelum tidur di sofa?"
Kenzo tidak langsung menjawab. Langkah kakinya yang mantap justru memangkas jarak di antara mereka hingga aroma sabun maskulin bercampur harum tembakau dari kulitnya menyerbu indra penciuman Alana. Pria itu menghentikan langkah tepat di hadapan Alana, membedah wajah pucat istrinya dengan tatapan yang penuh intimidasi dan emosi campur aduk.
"Sofa?" Kenzo terkekeh rendah, suara beratnya terdengar seperti bisikan bahaya. "Siapa yang bilang saya akan tidur di sofa malam ini, Alana?"
Jantung Alana berdegup kencang secara refleks. "Tapi... semalam Mas bilang—"
"Semalam baru permulaan," potong Kenzo tanpa kompromi. Jemari tangannya yang panjang dan dingin terulur, menangkup rahang Alana dan memaksa wanita itu mendongak menatap matanya. "Kamu mendengar sendiri tekanan Kakek Hendra dan Ayah Bramantyo tadi. Perusahaan butuh kepastian pewaris secepatnya, dan saya tidak punya waktu untuk membuang-buang kesempatan."
Alana menggigit bibir bawahnya, menahan rasa getir yang membakar batinnya. "Mas Kenzo... tubuh saya masih terasa sakit dari semalam. Dan tadi pagi Ibu Helena dan dokter sudah mengambil darah saya—"
"Itu tugasmu di rumah ini, Alana!" sela Kenzo tegas, suaranya makin merendah namun dipenuhi dominasi yang pekat. "Kamu menandatangani kontrak itu. Kamu ada di mansion ini demi melahirkan pewaris Elard Group. Apakah kamu berniat ingkar?"
Setitik air mata menggenang di pelupuk mata Alana, namun kali ini ia menahannya sekuat tenaga agar tidak menetes. Tatapan matanya yang biasanya memancarkan ketakutan dan sikap penurut, perlahan berubah. Sorot mata Alana meredup, menjadi tenang, dingin, dan benar-benar hampa tanpa ekspresi.
Tanpa mengucap sepatah kata pun untuk memohon atau menangis seperti semalam, Alana hanya menatap tepat ke dalam manik mata hitam Kenzo. Keheningan dan pandangan kosong dari Alana membuat Kenzo tertegun sejenak. Ada sesuatu yang tak biasa dari tatapan itu—sebuah benteng pertahanan dingin yang mendadak berdiri kokoh di jiwa Alana, seolah wanita di hadapannya ini telah menarik seluruh perasaannya pergi jauh.
Kenzo merasa terusik. Ada rasa asing yang mengganjal di dadanya melihat perubahan raut wanita penurut ini. Namun, emosi yang tertekan oleh tuntutan Kakek Hendra dan Ayah Bramantyo membuat Kenzo menepis perasaan tersebut.
Tanpa basa-basi lagi, Kenzo merengkuh pinggang Alana dan mengangkat tubuh kecil wanita itu, membawanya langsung ke atas ranjang berukuran king-size.
Alana dibaringkan di atas kasur yang empuk. Gaun sutra krem yang dikenakannya disingkirkan dengan gerakan menuntut. Ketika Kenzo bergerak mengurung tubuhnya di bawah bayangan bahunya yang lebar, Alana tidak berontak sama sekali. Ia membiarkan tubuhnya pasrah, namun matanya tetap terbuka lebar, menatap Kenzo dengan pandangan datar yang mati rasa.
"Jangan menatap saya seperti itu, Alana!" bisik Kenzo dengan suara parau yang dipenuhi dominasi. Tatapan hampa Alana justru memprovokasi emosinya yang campur aduk.
Kenzo menunduk, menautkan bibirnya pada leher dan perpotongan bahu Alana dengan sentuhan yang jauh lebih dalam dan agresif dibanding semalam. Ia berniat menuntaskan kewajiban ini secepat mungkin seperti sebuah transaksi bisnis biasa. Namun, saat kulit mereka bersentuhan erat dan kehangatan tubuh Alana merambat naik, sesuatu yang tidak terduga meledak di dalam diri Kenzo.
Sensasi penyatuan malam ini terasa sangat berbeda. Kelembutan kulit Alana, kepasrahan tubuhnya yang halus, serta kehangatan yang mendekap Kenzo mendadak menghantarkan gelombang gairah yang belum pernah ia rasakan dari wanita manapun di masa lalunya. Rasa nikmat yang teramat luar biasa dan pekat menguasai kesadarannya secara intens.
Kenzo terhenyak dalam sapuan kenikmatan yang membakar. Akal sehatnya yang biasanya selalu rasional dan dingin kini runtuh seketika. Gerakannya yang semula kaku dan dipaksakan demi formalitas kontrak, berubah menjadi semakin dalam, menuntut, dan penuh gairah yang tak terkendali.
"Ah... s-hh..." Kenzo mengerang rendah saat ritme penyatuan mereka makin memuncak. Suara beratnya yang biasanya penuh wibawa dan kaku kini pecah oleh desahan kenikmatan yang tak sanggup ia tahan.
Kenzo meremas jemari tangan Alana di atas kasur, menautkan buku-buku jari mereka dengan sangat erat. Pria yang biasanya memegang kendali penuh atas emosinya itu kini benar-benar kehilangan kontrol. Kenikmatan dari tubuh Alana terasa bagaikan candu yang merusak seluruh pertahanannya. Setiap sentuhan dan gesekan gairah malam itu membuatnya serasa hilang arah, terjerat dalam sensasi memabukkan yang ditawarkan oleh istri kontraknya.
"Alana... ghh... kamu... kenapa terasa begitu luar biasa... nghh..." gumam Kenzo parau di dekat telinga Alana, diselingi erangan kenikmatan yang keluar dari tenggorokannya secara refleks. Suaranya tak lagi dingin, melainkan berat, serak, dan dipenuhi gairah tiada tara. "Ahhh... sshh... kamu membuat saya gila, Alana..."
"Nghh... s-sakit, Mas..." rintih Alana pelan, tenggorokannya tercekat menahan perih yang kembali mendera bagian bawah tubuhnya. Ia mencengkeram sprei sutra di bawahnya, memalingkan wajah ke samping saat rasa nyeri yang tajam bertubrukan dengan dominasi suaminya yang kian liar. "Tolong... sshh... pelan-pelan..."
Bukannya melambat, rintihan pasrah Alana yang berbaur dengan napas hangatnya justru makin membakar gairah Kenzo. Erangan nikmat pria itu kian menjadi-jadi, menggema rendah di keheningan kamar yang temaram.
"Ghh... tahan, Alana... ahhh... jangan minta saya berhenti sekarang..." erang Kenzo parau di leher Alana, mendesahkan kepuasan saat kenikmatan yang menyiksa itu membawanya makin jauh dari kesadaran rasionalnya.
Kenzo makin gila malam itu. Ia terus memburu kenikmatan itu hingga larut malam, mengerang dan mendesah menuntaskan candunya pada tubuh Alana, mengabaikan rintihan perih istrinya yang perlahan memudar menjadi kepasrahan hampa. Pria itu melupakan sejenak perjanjian dingin yang dipatoknya sendiri, melupakan fakta bahwa Kakek Hendra dan Ayah Bramantyo menuntutnya atas nama bisnis. Di bawah temaram lampu tidur dan keheningan kamar utama Mansion Elard, Kenzo benar-benar dibuat berlutut oleh nikmatnya gairah yang meruntuhkan benteng kesombongannya.
Sementara itu, Alana tetap berbaring membisu di dalam pelukan hangat suaminya usai segalanya meredup. Meski tubuhnya didekap erat oleh Kenzo yang terengah-engah dalam kepuasan dan candu gairah, mata Alana menatap hampa ke kegelapan malam. Di balik erangan nikmat suaminya yang masih membekas di keheningan kamar, Alana sadar... hatinya telah benar-benar mati rasa.
Bersambung