Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:834
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4 — Jangan Baik-Baik Kepadaku

“Aku kira kamu sudah dapat mobil.”

“Belum. Masih nyari.”

Adrian berhenti di bawah atap halte. Bahu kemejanya basah. Nara memperhatikan titik-titik air di kerahnya, lalu kembali menatap layar.

“Biar aku antar.”

“Nggak usah. Sebentar lagi ada.”

Ia menekan tombol pencarian lagi, padahal aplikasi belum selesai.

Adrian tidak mengambil ponselnya. Tidak menyuruhnya ikut. Ia hanya berdiri di sebelah Nara, menjaga jarak ketika dua orang berjaket motor ikut berteduh.

Hal kecil itu membuat Nara semakin ingin menangis.

“Kamu sakit?”

“Nggak.”

“Sejak tadi pucat.”

“Kurang tidur.”

Adrian memandang wajahnya. Nara bisa merasakan ia belum percaya, tetapi laki-laki itu tidak memaksanya mengangkat kepala.

“Dimas tahu kamu masih menunggu?”

Nara mengangguk, meskipun belum memberi kabar.

Ia mengirim pesan bahwa pengecekan sudah selesai, sekarang menunggu taksi. Belum semenit, balasan datang.

Foto tempat kamu nunggu.

Nara mengangkat ponsel ke arah jalan.

“Bisa geser sedikit?” katanya kepada Adrian.

Laki-laki itu mundur. Nara memotret halte tanpa memasukkannya ke dalam bingkai.

Sesudah mengirim foto, ia menyimpan ponsel.

“Kamu harus kirim begitu?”

“Biar dia nggak khawatir.”

Adrian kembali memandang jalan tanpa bertanya lagi. Nara malah merasa malu pada jawabannya sendiri. Dimas memeriksanya, dan ia masih menyebut itu kekhawatiran.

“Kadang,” tambahnya.

Adrian menoleh.

Nara tertawa kecil, tanpa kegembiraan.

“Sering.”

Ia mengusap ujung hidung. Hujan semakin rapat di depan mereka.

“Tadi malam dia menelepon kurirku. Cuma karena nomornya belum kusimpan.”

Adrian tidak menyela.

“Untung diangkat. Kalau nggak, aku harus jelasin sampai dia puas. Kalau orangnya lupa pernah antar, lebih panjang lagi.”

“Kamu sudah bilang ke dia itu mengganggu?”

“Sudah.” Jawaban itu keluar tajam. Nara langsung menunduk. “Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku sudah bilang, Adrian.”

Ia membenci air mata yang mulai turun. Ia sedang mencoba menjelaskan sesuatu, bukan meminta dikasihani.

“Aku pernah bilang di rumah rasanya kayak menunggu salah. Dia jawab, kalau aku nggak salah, kenapa takut? Terus kalau aku capek jawab, berarti ada yang kusembunyikan.”

Seorang pengendara motor menoleh. Adrian bergeser sedikit, menutup pandangan orang itu tanpa mendekat ke Nara.

Nara semakin sulit mengatur napas.

“Di ruang tamu ada kamera. Awalnya buat keamanan. Lama-lama aku turun ambil makan saja ditanya kenapa baru makan, siapa yang datang, kenapa pintu terbuka. Kadang aku sudah dengar notifikasi sebelum sempat duduk.”

Ia berhenti, menggenggam tali tas.

“Yang bikin aku malu, kalau dia lagi baik aku langsung berharap. Besoknya dia bawa sarapan, aku pikir mungkin kali ini selesai. Padahal aku cuma mau bisa pegang ponsel tanpa buru-buru menyiapkan alasan.”

Adrian mengeluarkan tisu dari tas kerjanya. Nara mengambilnya.

Ia tidak mengatakan semua akan baik-baik saja.

Nara bersyukur. Ia sudah tidak sanggup mendengar janji lain.

“Aku lihat malam itu,” kata Adrian. “Waktu dia mau bawa lukisanmu.”

Nara menutup mata.

“Itu sebabnya aku nggak mau lihat kamu hari ini.”

“Kenapa?”

“Karena kamu lihat.”

Ia mengusap pipi terlalu keras sampai kulitnya perih.

“Di kantor aku bisa ngomong soal harga. Di rumah aku disuruh menjelaskan telepon tiga menit. Kamu baik sekali sama aku, lalu aku pulang dan…”

Kata-katanya habis. Adrian berdiri begitu dekat sehingga ia bisa meminta dipeluk. Ia nyaris mengatakannya.

“Jangan baik-baik kepadaku dulu.”

“Nara.”

“Aku jadi mikir macam-macam.”

Adrian terdiam.

Nara memandang tisu yang sudah remuk di tangannya. Mungkin Adrian mengira ia hanya perlu teman untuk bercerita. Padahal ia menginginkan lebih dari itu, dan semakin lama ia diam, semakin sulit rasanya mengaku.

“Maya pernah memperlihatkan video kalian.”

“Video apa?”

Nara tidak menjawab seketika. Wajah Adrian berubah sebelum ia sanggup mengatakannya.

“Yang di kamar. Waktu kamu pergi ke Bandung.”

Ia melihat rahang laki-laki itu menegang.

“Dia kirim?”

“Nggak. Di ponselnya. Aku nggak punya.”

Adrian memandang ke arah gedung. Beberapa detik ia tampak hendak mengatakan sesuatu, lalu urung.

Nara ingin berhenti, tetapi ia sudah menyebut video itu. Menutupi perasaannya sekarang pun percuma.

“Sesudah itu aku terus ingat kamu. Bukan karena pekerjaan.”

Ia menatap wajahnya untuk memastikan Adrian mendengar, lalu menyesal karena tatapan itu terlalu mirip permohonan.

“Malam kita makan, yang kubilang soal film itu… kamu.”

Laki-laki itu diam.

“Aku tahu Maya temanku. Aku tahu.” Napas Nara tersangkut. “Dia baik sama aku. Makanya aku coba berhenti. Lukisannya sudah selesai, nggak ada alasan lagi buat ngobrol. Harusnya gampang.”

Ia mencoba tersenyum, tetapi bibirnya masih gemetar.

“Ternyata aku masih berharap kamu nanya kenapa aku diam.”

* * *

Adrian mendengar hujan menghantam atap, tetapi tidak lagi bisa membedakan suara kendaraan yang lewat.

Ia seharusnya marah karena rekaman mereka diperlihatkan. Ia memang marah. Maya sudah berjanji, ketika mereka sepakat menyimpannya, bahwa tidak akan ada orang lain yang melihat.

Tetapi Nara baru mengatakan ia terus memikirkannya.

Di bawah keterkejutannya, ada rasa senang yang muncul terlalu cepat.

Adrian malu menyadarinya. Perempuan di depannya sedang menangis, dan sebagian dirinya ingin mendengar kalimat itu sekali lagi.

Ia mengingat pesan singkat yang dibukanya berulang kali saat makan siang. Jawaban tentang kopi tumpah yang membuatnya tertawa sendirian. Wajah Nara sore tadi yang kaku ketika memanggilnya Pak. Ia tidak suka diperlakukan seperti orang asing setelah dua minggu begitu mudah berbicara dengannya.

Adrian ingin menariknya mendekat. Menyuruhnya berhenti meminta maaf. Ia ingin melihat Nara duduk tenang menyantap makanannya tanpa memeriksa apakah seseorang sedang mengawasi.

Keinginan itu terlalu pribadi untuk disebut sekadar prihatin kepada teman istrinya.

Ia melihat tangan Nara. Cincin di jari perempuan itu basah.

Adrian menunduk ke cincin di tangannya sendiri. Ia juga masih punya istri.

Di rumah, Maya mungkin sudah menanak nasi. Ia akan bertanya mengapa Adrian basah, mengambilkan handuk, menyentuh pipinya tanpa perlu takut ada orang yang melihat.

Jika Adrian sekarang memeluk Nara, perempuan itu akan memercayainya.

Lalu apa yang bisa ia berikan besok pagi? Pesan yang harus disembunyikan? Janji bertemu ketika istrinya pergi? Satu alasan lagi bagi Dimas untuk memeriksa ponsel Nara?

Adrian mengangkat tangan, lalu berhenti sebelum menyentuhnya.

“Nara, aku…”

Ia ingin meminta Nara tetap di sini. Tetapi sesudah itu? Ia sendiri masih akan pulang kepada Maya.

* * *

Nara melihat tangan yang turun kembali ke sisi tubuh Adrian.

Ia mengangguk cepat, seolah sudah menerima jawaban yang belum diucapkan.

“Nggak usah. Aku ngerti.”

“Nara, tunggu.”

Taksi kosong mendekat. Nara melangkah ke tepi atap dan mengangkat tangan.

Ia sudah cukup mempermalukan diri hari ini. Ia tidak sanggup mendengar Adrian menolaknya baik-baik. Nanti ia akan mengingat setiap katanya, mencari-cari harapan yang mungkin memang tidak ada.

Mobil berhenti. Nara membuka pintunya.

“Makasih tisunya.”

Adrian maju satu langkah, tetapi Nara sudah masuk.

Ia menyebut alamat rumah sebelum pengemudi bertanya, lalu memeluk tas di pangkuan.

Di luar jendela, Adrian berdiri tanpa mengangkat tangan lagi.

Ketika mobil berjalan, Nara membuang pandangan ke seberang jalan.

Adrian tetap di halte sampai taksi itu tidak terlihat.

Bungkus tisu masih di tangannya. Ia meremasnya, menyesal membiarkan Nara pergi sebelum sempat mengatakan bahwa ia pun ingin dekat dengannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!