Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04.
"Apa salahku sama kalian? Sampai tega berbuat kejam begini padaku?” bisiknya parau, napasnya tersengal menahan rasa sakit di dadanya. "Kalian... kalian benar-benar bukan manusia…,”
“Kamu tidak salah, hanya saja kamu itu sangat lugu dan bodoh. Menaruh kepercayaan penuh pada manusia, yang setiap saat bisa saja berubah pikiran," potong Ammar dingin.
"Awalnya memang kami tidak ada niat, tapi karena ada kesempatan... kenapa tidak? Dan kami sudah menguras semuanya, sampai habis.”
“Bahkan urusan perceraian pun sudah kami persiapkan dengan matang," tambahnya sedikit jumawa.
Lelaki tak punya hati itu lantas mengeluarkan selembar kertas dari dalam map, lalu melemparkannya ke arah Alfa. Kertas itu melayang jatuh tepat di dekat kakinya.
"Itu surat cerai sah yang sudah ditandatangani Davina. Kamu tinggal tandatangan saja, maka status kalian sudah resmi berpisah. Tak perlu ribet ke pengadilan, apalagi bertengkar soal hak asuh anak atau harta, karena semua itu sudah menjadi milik kami.”
“Kamu beruntung karena kami tidak melaporkanmu ke polisi atas tuduhan penganiayaan yang sudah kamu lakukan pada Mas Ammar. Jadi, pergilah sekarang sebelum kami berubah pikiran. Keluar dari rumah ini, lupakan segalanya, dan nikmati sisa hidupmu dalam penyesalan abadi karena terlalu naif sehingga mudah dimanfaatkan,” timpal Davina tak berperasaan.
Alfa menatap keduanya dengan pandangan kosong. Hatinya sudah mati. Tak ada lagi yang bisa dilakukan maupun diperjuangkan. Dirinya jatuh ke titik terendah dalam hidupnya, lebih dalam dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
"Kalian...kalian pasti akan menyesal telah melakukan ini padaku," ucapnya lirih.
Perlahan, dengan sisa tenaga yang hampir habis, Alfa mengambil surat cerai itu dari lantai. Dia menatap kertas itu lama, lalu menatap sekeliling ruangan itu—tempat yang dia kira surga, ternyata hanya neraka yang dibangun atas kebohongan indah.
"Menyesal...?" Davina tertawa pongah. "Kamu sekarang tak lebih dari seonggok sampah yang sudah tak punya apa-apa. Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?" cibirnya penuh penghinaan.
"Tak usah banyak bacot...segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" sambung Ammar dengan tak tahu diri.
Selesai berkata, dia langsung menarik kasar lengan Alfa membawanya keluar dari dalam rumah. Dan begitu sampai di teras, dia mendorong kuat pria sedang lara jiwa raga itu hingga tubuhnya tersungkur di atas paving blok.
Dari belakang Davina mengikuti lantas melempar tas pakaian serta kontak motor. "Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu," ujar wanita tersebut begitu arogan.
Masih dalam posisi tersungkur, Alfa mengepalkan tangannya kuat-kuat, wajahnya mengeras hingga bibirnya bergetar hebat berusaha menahan emosi menggelegak di dalam dada. Perlahan dia bangkit memungut kontak motor dan tas pakaian, lalu melangkah menghampiri motor butut yang biasa digunakan untuk keperluan operasional.
Sebelum benar-benar pergi Alfa menatap bangunan rumah itu dengan pandangan sulit diartikan. Setelah puas barulah menstarter motor, kemudian menjauh dari rumah tersebut. Meninggalkan segalanya: harta, istri, anak, sahabat, dan seluruh impiannya yang hancur lebur.
Di luar sana, malam yang gelap dan dingin seolah menyambutnya ke dalam kehampaan yang panjang. Namun, jauh di lubuk hati yang paling dalam, di balik rasa sakit yang luar biasa itu, ada satu janji yang tertanam kuat.
'Aku pergi hari ini bukan karena aku kalah dan merelakan semua yang kalian rampas dariku… tapi tunggu sampai aku bangkit kembali. Bila saat itu tiba… kalian akan membayar mahal setiap luka dan tetes airmata yang jatuh malam ini.'
.
.
.
Malam semakini larut, ketika motor Alfa terus melaju membelah jalanan nan sepi, menuju rumah orangtuanya. Angin dingin menusuk hingga ke tulang, tetapi rasa sakit di hatinya jauh lebih perih dari apa pun yang bisa dirasakan raganya. Dia tak tahu harus ke mana lagi selain ke sana -- tempat di mana dirinya selalu diterima apa adanya sebelum kepercayaan dan cinta butanya menghancurkan segalanya.
Tak butuh waktu lama hingga motor bututnya berhenti tepat di halaman rumah sederhana orangtuanya. Rumah yang dulu dia tinggalkan demi membangun istana kebohongan bersama wanita yang kini telah memporak-porandakan hidupnya. Alfa mematikan mesin, lalu turun dan berjalan dengan langkah gontai, mendekati pintu kayu yang masih tampak kokoh meski usianya sudah tua.
Tangannya terangkat, mengetuk pelan, tetapi cukup terdengar di dalam sana. Hening sejenak, hingga terdengar langkah kaki mendekat dari balik pintu.
Begitu pintu terbuka, terlihat sosok wanita paruh baya memakai daster rumahan, jilbab panjang menutupi kepalanya. Wajah sang ibu tampak terkejut luar biasa, saat melihat anak laki-laki kesayangannya berdiri di ambang pintu dalam keadaan sangat kacau balau.
“Alfa…” Bu Mala menatap anaknya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Larut malam begini kamu datang? Apa yang terjadi denganmu, Nak?Wajahmu memar, bajumu kotor dan sobek. Astaga...kenapa dirimu berantakan begini?” tanyanya dengan raut khawatir begitu kentara.
Alfa tak menjawab sepatah kata pun. Matanya yang merah dan sembab menatap wanita yang telah melahirkannya dengan pandangan nanar. Kemudian tubuh besar nan tegap itu perlahan menjatuhkan diri di lantai, berlutut tepat di hadapan ibunya. Kedua tangannya gemetar memeluk kaki sang ibu dengan erat seolah menjadi satu-satunya penopang hidupnya saat ini.
“Ibu...maafkan aku… Maafkan, anakmu yang durhaka ini, Bu.…” suaranya parau, tercekik oleh isak tangis yang akhirnya meledak tak terbendung. “Maafkan aku tak mendengar nasihat ibu dulu… Aku keras kepala… Aku terlalu sombong… Maafkan aku, Bu… aku bersalah sama Ibu...”
Bu Mala tampak tertegun, naluri keibuannya langsung mengambil alih. Ia merasakan getaran tubuh anaknya, mendengar kepedihan tersirat dalam setiap kata yang terucap. Perlahan, tangan keriputnya terulur, mengusap rambut Alfa dengan lembut, penuh kasih sayang yang tak berubah sedikit pun meski anaknya sudah dewasa.
“Ya ampun… Nak… Bangunlah, jangan seperti ini. Ceritakan pada ibu apa yang sebenarnya terjadi." Suaranya bergetar, campuran antara kaget dan sedih melihat anaknya yang tampak begitu terpuruk.
Keributan di depan pintu tersebut akhirnya menarik perhatian sang ayah yang berada di dalam kamar. Sosok pria paruh baya dengan postur tegap meski sudah menua itu keluar dengan wajah masih mengantuk. Kemudian menghampiri sang istri.
“Ada apa, Bu? Kenapa malam-malam begini..."
Ucapan Pak Ikhsan terhenti, ekspresi wajahnya seketika berubah serius, begitu melihat pemandangan di depannya,
"Alfa..." gumamnya saat menyadari keberadaan anaknya yang berlutut di kaki istrinya.
Alisnya langsung bertaut tajam, matanya menatap luka memar di wajah Alfa dan pakaian yang tampak berantakan.
“Apa yang terjadi denganmu, Alfa? Siapa yang berani berbuat seperti ini padamu, hahhh? Dan kenapa kamu ada di sini malam-malam begini? Di mana istrimu?" cecarnya bercampur kaget dan sedikit tersulut emosi.
Melihat ayahnya yang mulai naik pitam, Alfa melepaskan pelukannya pada ibunya. Kemudian mengusap kasar airmata di pipinya menggunakan punggung tangan. Dengan sisa tenaga yang ada, dia merangkak menghampiri sang ayah lalu memeluk kakinya erat.
"Maafkan anakmu yang pembangkang ini, Ayah. Mungkin ini balasan karena aku tidak menurut pada Ayah dan Ibu dulu. Aku tak mengindahkan nasehat kalian." Suaranya terdengar pilu, tangisnya kembali pecah oleh perasaan bersalah pada orangtuanya.