Terjebak dalam perjodohan, pasti membuat hati siapapun akan terasa mati!
Mungkin itulah sedikit gambaran tentang kisah hidup seorang wanita bernama Vinara.
Wanita yang memiliki paras cantik rupawan, dan mampu memikat pria manapun dengan kecantikannya.
Namun takdir berkata lain untuk Vinara, orang tuanya telah menjodohkan Vinara dengan seorang pria bernama Damar, laki-laki yang jauh dari kata sempurna.
Menikah dengan seseorang yang tidak pernah kau cintai, rasanya pasti sangatlah sulit.
Apalagi hatimu telah terpikat pada seseorang yang jauh lebih sempurna dibanding pria yang kau nikahi secara sah.
Lalu bagaimana kisah rumah tangga Vinara dan Damar?
Akankah pernikahan mereka bisa tetap bertahan, meskipun dimulai dari keterpaksaan, bukan berdasar pada cinta..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Am, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Jujur
"Ayo, Nak, kamu pilih yang mana? semuanya cantik-cantik ini, semuanya cocok di pakai kamu," ucap Mirna dengan sangat antusias melihat beberapa liontin di atas meja kaca di dalam toko perhiasan.
Namun berbeda dengan menantunya yang malah terlihat tidak terlalu bersemangat. Vinara nampak lesu dan tidak bergairah, ia memang masih merasa canggung jika harus dibelikan hadiah oleh ibu mertuanya yang sangat baik ini. Ia bahkan tak pernah merasa sempurna untuk keluarga sebaik mereka.
"Kamu kenapa sedih? kamu nggak suka sama liontin ini, ya?" tanya Mirna dengan sedih.
"Nggak, Bu, Vinara suka, hanya saja, apa nggak terlalu berlebihan kalau ibu memberi hadiah Vinara liontin semahal ini?" tanya Vinara langsung pada poinnya saja.
"Sayang, bagi ibu ini bukan hal berlebihan, lihatlah dirimu, kau adalah menantu yang sangat baik, kau sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri, ibu sangat senang padamu, jadi apa salah jika ibu mau memberi kamu hadiah?" tanya Mirna pada menantunya.
"Baiklah, ibu, terima kasih sudah memberi aku posisi yang paling nyaman di hati ibu, dan juga keluarga ibu, ibu memang sangat baik, Vinara sangat berterima kasih untuk segalanya," ucap Vinara sambil memegang kedua tangan ibu mertuanya, seolah merasa bersalah karena dia masih saja membenci putranya padahal Mirna sudah sangat baik padanya selama ini.
Dan entah mengapa, sejak saat itu, hati Vinara seolah bergetar dengan hebat, setiap kali dia ingin mengabaikan suaminya, ia kembali diingatkan oleh sebuah kebaikan dari tangan mertuanya.
Kini mereka harus pulang, kembali ke rumah Damar pada saat malam mendatang. Keduanya kembali setelah mengantarkan Mama Mirna ke rumahnya.
Dengan rasa penat, dan perasaan lainnya yang tak bisa dia mengerti, dilangkahkan saja kedua kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
Blam!
Pintu mobil ditutup oleh Damar, sementara istrinya sudah mulai bergerak menuju ke dalam rumah dengan lesu.
"Sayang, kamu kenapa? masih canggung sama ibu aku?" tanya Damar sambil berjalan memposisikan dirinya di samping Vinara.
Namun wanita itu malah terhenti di sofa ruang tamu, mendudukkan tubuhnya di sana, dan kemudian membuang nafasnya yang terlalu sesak.
Dia berpikir semakin dalam, bertengkar dengan otaknya apakah dia harus meluapkan semuanya pada Damar tentang apa yang tengah dia rasakan, atau lebih baik, dia pilih untuk diam saja.
"Kamu kenapa, si? lagi ada masalah?" tanya Damar sambil menyusul istrinya duduk.
"Mas, aku mau bicara, tapi aku takut kata-kata aku nanti bisa nyakitin kamu.." ucap Vinara masih dibuat ragu dengan keputusannya.
"Mau bilang apa? kalau kamu takut nyakitin aku, kenapa harus kamu omongin?" tanya Damar pada istrinya.
"Tapi, aku takut kalau kalian akan benci sama aku setelah tahu kenyataannya," ucap Vinara pada suaminya.
"Katakan saja, tidak ada yang bisa menyakiti hatiku kecuali kebohongan.."
Vinara menatap mata Damar dengan penuh kecemasan, kesedihan, dan entah rasa apa lagi, ia bahkan tak tahu.
Namun ia memang harus mengatakan semuanya pada Damar, ia harus berjata jujur pada Damar, sebelum hatinya kembali dibuat kacau dengan kebaikan mereka untuknya.
"Mas, sebenarnya, aku masih belum mencintai kamu.." ucap Vinara sambil terus menatap suaminya, ingin saja melihat bagaimana ekspresi wajah suaminya saat mendengar kejujuran itu.
Namun bukannya sedih, Damar malah terkekeh kala mendengarnya. Ia malah tersenyum dan tertawa mendengar kata-kata dari Vinara, membuat wanita itu pun tak bisa berkata-kata, hanya bisa menatap dengan penuh kebingungan.
Ha.. ha... ha..
"Lho? mas, kamu, kok, malah ketawa? apanya yang lucu?" tanya Vinara pada suaminya.
"Ya jelas lucu, lah, kamu ini paling mau bilang begitu, kok, ekspresinya dari sore tadi tegang terus, mirip seperti tersangka pembunuh yang mau di eksekusi tahu.."
"Kok kamu malah ngledek? dasar kamu, ya!" ucap wanita itu dengan kesal, melihat suaminya malah meledeknya dengan sangat puas.
"Lah terus? aku harus gimana? sedih? kenapa sedih? banyak, kok, di luar sana yang menikah sampai bertahun-tahun tidak saling mencintai, tapi mereka tidak bisa berpisah, karena mereka sudah ditakdirkan untuk bersama selamanya," ucap Damar.
"Kamu ini bicara apa, si? kalau suatu hari aku pergi, dan memilih mundur dari pernikahan kita, apa kamu nggak sedih?" tanya Vinara lagi, seakan-akan masih ingin tahu saja apa yang sebenarnya Damar rasakan padanya.
"Sayang, jika kita ditakdirkan untuk berpisah, mau sekuat apapun aku mencoba mempertahankan pernikahan kita, tetap saja kita tidak akan bersatu, tapi, mau seberapa jauh hati kita, bahkan jika kita tidak saling mencintai selama puluhan tahun, jika Allah sudah menakdirkan kamu untuk jadi milikku, aku yakin aku bisa mempertahankan pernikahan kita berdua.."
"Sampai sepercaya itu kamu sama aku?" tanya Vinara seolah tak yakin pada jawaban dari suaminya.
"Aku memang percaya sama kamu sejak awal, memangnya kenapa?"
"Hahh!" wanita itu membuang nafasnya dengan sangat kasar, seolah rasa sesak di dadanya kian bertambah berat, "aku pikir kau akan lekas menceraikan aku, dan memilih untuk hidup masing-masing setelah kau tahu aku masih belum mencintai kamu.." ucap Vinara dengan kecewa.
"Sudah aku katakan sejak awal, aku tak pernah mau menikah dua kali, dengan dua orang yang berbeda, kecuali, jika kau sudah tidak bisa aku perjuangkan.."
Deg!
Jantung Vinara mendadak terhenti, saat dia mendengar pengakuan langsung dari Damar soal keinginannya pada pernikahan paksa ini.
Pria itu bahkan tersenyum di depan matanya, namun senyuman itu, sama sekali tidak membuat Vinara merasa bahagia, justru senyuman itu, sedikit membuat hati Vinara terluka, terluka karena dia dengan bodohnya tak pernah bisa merasa pantas bersanding di samping Damar.
"Sudah sedihnya? apa perasaan kamu yang sekarang jauh lebih baik?" tanya Damar membuat sang istri hanya bisa mengangguk dengan pasrah.
"Baiklah, kalau sudah merasa lebih baik, aku akan tunjukkan sesuatu untuk kamu.."
Mendengar kalimat tersebut, Vinara langsung berbalik menatap kembali kedua mata suaminya, yang meskipun sudah dia sakiti sampai sejauh ini, tapi suaminya bahkan tak pernah merasa sedih dan kecewa seperti dugaannya.
"Sayang, meskipun kamu masih belum bisa mencintai aku, tapi setidaknya, aku tekan berusaha untuk membuat kamu bertahan di sini, di sampingku.."
Pria itu bahkan tak segan meraih kedua tangan Vinara dan kemudian menggenggamnya dengan sangat erat, seolah ia tak ingin kehilangan wanita itu.
"Aku minta maaf karena belum bisa membuat kamu jatuh cinta, juga tak pernah membuat kamu merasa senang, sejak perkawinan kita, aku hanya menghadiahkan kamu satu cincin, itu pun, cincin yang dibeli oleh ayahku, jadi sekarang, aku ingin kau mengenakan cincin yang kubeli dengan uangku sendiri.."
Pria itu menunjukkan cincin yang sengaja dia beli tadi sewaktu di toko perhiasan. Ia menunjukkannya pada Vinara, membuat wanita itu semakin merasa terluka.
*Kau bahkan masih sempat tersenyum dan memberi aku hadiah sesaat setelah kau tahu aku masih belum mencintai kamu, betapa bodohnya kamu, Mas*!?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
keras kepala ya si vinara ini..
gk ada lembut lembutnya....
hadehhhhhhhh
stresss nya...
marah2 mulu..
sing sabar, non....