Seorang gadis muda bertubuh mungil dengan rambut panjang terurai indah,dengan seragam putih abu yang ia kenakan.
sosok pelajar yg tidak menonjol di sekolah dengan prestasi yang bisa di bilang di bawah peringkat atas.ingin sekali menghindari asmara selama sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leticia Arawinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Mira menceritakan semua tentang masalahnya dan sedang dalam posisi bimbang.
"Ani.."
"Apa aku putus aja dari Aldi?"
"Husshh"
"Ngomong apa sih kamu?"
"Hari ini aku gak mau ketemu sama dia" menyenderkan kepala di atas meja sambil menatap sahabat di sampingnya
"Mira.. kamu lagi sakit ya? kok pucat banget!" Ani menyentuh kening Mira dengan punggung tangannya
"Heh.. ng.. ngak kok"
"Jangan bohong! kamu tunggu disini sebentar"
"Hmm"
Ani berlari mencari Aldi, saat itu posisi sudah jam pulang sekolah.
"Aldi.. untung deh kamu disini"
"Ada apa kok kamu lari?"
"Itu.. Mira demam!"
"Hah.. dimana sekarang?"
"Ada..di kelasku"
Mereka berlari menghampiri Mira yang sedang lemas dengan suhu tubuh yang tinggi.
"Mira..."
Suara yang dia kenali memanggil dengan penuh kekhawatiran.
Mendengar suara dari kekasihnya, Mira justru menutupi wajahnya yang bersandar di atas meja. Sungguh hari itu Mira sangat tidak ingin bertemu dengannya.
"Mir.. Mira.."
Aldi meraih tangan yang menutupi wajah Mira tapi sangat kencang di genggam
"Hei.. Mira?! kamu kenapa?"
"Tolong.. lihat aku!"
Mira tidak menjawab pertanyaan apapun yang keluar dari mulut Aldi. Dia menahan tangis.
Akhirnya dia melepaskan tangan yang menutupi wajahnya tanpa menatap ke arah Aldi.
"A..aku gak apa-apa" menjawab dengan suara yang lirih dan tatapan kosong ke arah lain
Aldi menyentuh kening Mira untuk memastikan keadaannya.
"Mira.. kamu sakit..ini buktinya panas. Aku antar kamu pulang ya?"
"Gak usah, Aku mau pulang sendiri"
"Kamu lagi sakit Mira, jangan keras kepala"
"Gak aku gak mau"
"Hah..?! yasudah terserah kamu aja"
Aldi menjawab dengan nada yang tinggi dan kesal karena Mira menolak niat baiknya.
Bahkan hal itu juga membuat Mira terkejut karena baru kali ini melihat Aldi marah.
Air mata yang sudah tidak bisa terbendung lagi akhirnya jatuh membasahi wajahnya. Hati yang terluka karena kecewa ditambah dengan keadaan fisik yang sedang tidak sehat membuat Mira menangis lagi dan lagi.
Sahabat yang mendampinginya hanya bisa memeluk Mira dan mencoba menenangkannya.
Alasan Mira tidak mau bertemu Aldi dikarenakan rasa kecewa yang sangat besar dan kenapa Aldi yang selama ini tidak pernah menyembunyikan sesuatu, justru tidak jujur masalah perempuan itu yang sering datang ke rumahnya.
Bukannya menjelaskan atau pun menceritakan semua yang terjadi. Dia malah emosi dan pergi meninggalkan Mira yang sedang tidak berdaya.
Bahkan semua yang dia tahu itu terdengar dari mulut orang lain bukan dari kekasihnya sendiri.
Dalam benak Mira terbesit bahwa Aldi sudah berubah dan menyimpan rahasia yang membuat Mira marah.
"Hiks.."
"Hiks.."
"Mira.. kita pulang sekarang ya? Aku gak tega lihat kondisi kamu"
"Hiks.. baiklah"
Ani memapah Mira yang kondisinya semakin lemah dan suhu tubuh yang tinggi. Betapa kecewanya Ani kepada Aldi, tidak seharusnya dia marah dan pergi begitu saja bahkan tidak memperdulikan kondisi Mira.
Meskipun Mira dalam kondisi merajuk kepadanya, setidaknya dia mengalah dan tetap berada disamping Mira.
Melihat sahabatnya yang terluka hatinya membuat dia yakin bahwa Aldi tidak cukup baik untuk Mira.
Sampailah di rumah Mira.
"Mira..kita sudah sampai..kamu istirahat ya! Aku ada di sini buat temenin kamu"
"Ng.. ngak usah.. Ani! Aku mau langsung tidur kok"
"Yasudah.. tapi jangan lupa nanti makan terus minum obat! kalau ada apa-apa hubungi aku ya!"
"Makasih ya"
Mira tidak ingin membuat sahabatnya khawatir sehingga ia memutuskan untuk sendiri saja. Ani pun akhirnya pulang.
Mira sangat lelah hari ini, baik fisik maupun hatinya. Rasa lelah yang sudah menumpuk di tumpahkan dalam tangis hingga dia tertidur dengan lelapnya.
"Adakah hari tenang untukku"
"Kapan?"
"Aku akhirnya sendiri.."
"dan sendiri"
"Itulah hal yang lebih baik"
Aldi yang biasanya perhatian meskipun Mira sedang dalam kondisi marah, hari itu tidak ada kabarnya sama sekali. Seolah dia telah pergi meninggalkan Mira bahkan disaat dalam keterpurukan.
Tidak ada penghiburan, perhatian maupun kasih sayang. Entah apa yang sedang dia pikirkan hingga tidak peduli sama sekali dengan kekasihnya yang sedang kesulitan.
Setelah hari itu, Mira tidak berangkat sekolah karena masih dalam kondisi sakit.
Banyak orang yang masih merasa iba dan menerka bahwa sakitnya Mira karena pengaruh dari rumor yang beredar.
Banyak pihak yang marah terhadap perilaku Cindy, ada pula yang marah dengan sikap Aldi yang tidak tegas menghindari Cindy.
Ada juga yang berfikir bahwa Mira terlalu berlebihan dalam merasakan sakit hanya karena masalah cinta.
Mereka semua tidak tahu apapun tentang Mira, mereka hanya mampu menebak dan mengira tentang hal yang terjadi dalam hidup orang lain.
"Tok.. tok.. tok.."
Di bukalah pintu rumah yang berbunyi itu oleh perempuan renta,dia menjaga cucunya yang sedang terbaring di tempat tidurnya.
"Nek..Mira kondisinya gimana sekarang?"
"Sudah mendingan, sini masuk"
"Iya nek"
Ani berkunjung untuk melihat kondisi sahabatnya dan untungnya hari itu Mira dalam kondisi yang jauh lebih baik meski belum pulih sepenuhnya.
"Nenek istirahat aja dulu, biar aku yang gantian jagain Mira"
"Baiklah.. makasih ya nak"
Satu-satunya sahabat yang perhatian dan selalu ada saat Mira membutuhkan bahkan nenek Mira sudah menganggap Ani seperti cucunya sendiri sehingga Ani tidak merasa canggung sama sekali saat di rumah Mira.
Ani sangat khawatir melihat kondisi Mira yang tatapannya kosong seperti tidak ada keinginan untuk hidup.
"Mira sebenarnya kamu kenapa?" ungkapan yang tidak dapat ia sampaikan melihat kondisi sahabatnya yang terbaring
"Ani?"
Mira yang terbangun memanggil dengan suara yang lirih
"Iya.. ada yang kamu butuhkan?"
"Ng.. nggak ada Ani, makasih ya"
"Kamu makan bubur dulu ya?!"
"Hmm.. aku gak nafsu makan"
"Kalau gak makan, kapan sembuhnya? sedikit juga gak masalah, yah?"
"Iya deh"
Mira menuruti keinginan sahabatnya meski dia tidak ingin memakan apapun untuk saat ini. Setidaknya karena sahabatnya dia punya semangat untuk sembuh karena tidak ingin terus merepotkan orang lain.
Sampai sekarang pun Aldi tidak mengunjungi Mira meski tahu keadaannya tidak baik. Ani tidak bertanya apapun tentang Aldi karena tidak ingin membuat Mira semakin sedih.
Disaat yang bersamaan sebenarnya Aldi datang ke rumah Mira tapi karena rasa bersalahnya, dia mengurungkan niat nya untuk menjenguk Mira.
Dalam diamnya dia sangat ingin bertemu dengan Mira, ingin ada disampingnya tapi karena terakhir kali bertemu Mira tidak ingin melihat Aldi akhirnya dia menahan diri untuk menghargai keputusan Mira.
"Mira.. "
"Aku harap kamu baik-baik saja"
"Aku benar-benar telah bersalah dan tidak bisa menjagamu dengan baik''
" Maafkan aku Mira"
Kata-kata yang seharusnya dia ucapkan justru ditelan kembali seraya pergi dan hanya mampu melihat dari kejauhan serta berharap semua akan kembali seperti sebelumnya.
Mereka berdua hanya berharap semua baik-baik saja tanpa komunikasi, tanpa memperdulikan satu sama lain meskipun dalam hati mereka saling terhubung.
Keegoisan membuat mereka menerka perasaan masing-masing tanpa tahu itu mungkin hanya kesalahpahaman yang tidak terselesaikan dengan benar.